KINGSMAN: THE SECRET SERVICE : A ROYAL HOMAGE TO ESPIONAGE CLASSICS

KINGSMAN: THE SECRET SERVICE

Sutradara : Matthew Vaughn

Produksi : Marv Films, 20th Century Fox, 2015

Kingsman

            Ketika film-film adaptasi komik atau karakter-karakter fantasi digagas dengan pendekatan dark, gritty and realistic sebagai sebuah trend sekarang, sebagian filmmaker, terutama true fans ke pop cultures ini, memilih untuk melakukan pendekatan yang berbeda. Tetap mempertahankan pakem klasiknya, mereka memilih satu atau dua elemen baru untuk menciptakan balance yang lebih baik. Nama Matthew Vaughn agaknya ada di ranah yang terakhir ini. Deretan filmografinya baik sebagai produser, penulis dan sutradara, sudah menunjukkan bahwa ia adalah sineas yang senang bermain-main dengan reference. Dari sanalah lahir karya-karya hebat seperti ‘Layer Cake’, ‘Stardust’ hingga ‘Kick-Ass’ dan tentu saja ‘X-Men: First Class’ yang mengkombinasikan genre superhero dengan classic spy flicks ala James Bond era ’60-‘70an, membawa instalmen ‘X-Men‘ ke puncak yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dan bagusnya, ia punya partner yang bagus dalam gagasan-gagasan itu, scriptwriter Jane Goldman, yang juga punya pendekatan reference yang sangat kental.

            Dengan kredibilitas itu, Vaughn jelas jadi orang paling tepat untuk film yang diadaptasi dari comic series berjudul ‘The Secret Service’ besutan Mark Millar dan Dave Gibbons. Sama seperti source-nya yang sangat terasa diilhami James Bond dan spy thrillers lain, visi Mark Millar dengan kegilaannya jelas sejalan dengan apa yang sudah dilakukan Vaughn dengan gore presentation-nya dari ‘Layer Cake’ dan makin meningkat lagi di ‘Kick-Ass’ yang ajaib dan ‘one of a kind’ itu. Bersama Goldman, ia memilih pendekatan yang lebih ke sebuah loose adaptation dengan perombakan plot dan nama-nama karakternya, selain juga menambah goriness level-nya. Katakanlah, ini seperti dua special signature seorang Matthew Vaughn yang menemukan jalannya lewat source yang tepat.

            Merasa berhutang budi dengan rekannya sesama agen rahasia yang tewas saat menyelamatkan dalam sebuah misi di Timur Tengah, Harry Hart (Colin Firth) berjanji untuk menjaga keluarga sang kolega termasuk putra kecilnya, Eggsy (dewasanya diperankan Taron Egerton) yang malah tumbuh besar menjadi remaja bermasalah. Sementara itu kegagalan seorang agen rahasia dari agensi mereka, Lancelot (Jack Davenport) dalam menyelamatkan penculikan ilmuwan Professor James Arnold (Mark Hamill ; source-nya memang menggunakan Hamill sebagai karakter asli bersama selebritis terkenal lainnya) membuat agensi mereka memutuskan untuk merekrut bakat-bakat muda secara rahasia. Eggsy kemudian direkrut Hart menjadi salah satu kandidat buat agensi yang belakangan dikenalnya sebagai ‘Kingsman’ berkedok tailor shop (penyamaran yang lazim digunakan kisah-kisah spionase klasik). Disana, dibawah bimbingan Merlin (Mark Strong), Eggsy pun bersaing bersama kandidat lain, diantaranya Roxy (Sophie Cookson) dan Charlie (Edward Holcroft) dan menemukan dirinya tak lama kemudian berada dalam intrik spionase dibalik rencana jahat tech-tycoon Richmond Valentine (Samuel L. Jackson) dan tangan kanannya, sword-legged assassin Gazelle (Sofia Boutella) untuk mengacaukan dunia.

            ‘Kingsman: The Secret Service’ adalah sebenar-benarnya kecerdikan visi Vaughn dan Goldman meracik kombinasi yang ada di dalamnya, membawa adaptasinya bahkan lebih lagi dari source-nya yang memang sudah dipenuhi homage dan reference. Walaupun film-film spy spoof bukan tak ada selama ini, dari ‘Casino Royale’ lama, dwilogi ‘Our Man FlintIn Like Flint’, ke ‘Austin Powers’ franchise bahkan ‘Mortdecai’-nya Johnny Depp yang hadir hampir bersamaan, ‘Kingsman’ bisa dibilang adalah juaranya.

            Tak hanya menggelar nods-nya ke elemen-elemen old-fashioned british spy flicks (tak hanya James Bond seorang) dari pakem plot (opening action sequence and naughty closing) serta plot logic ke desain karakter, set, kostum, gadgets, teaser dan official poster hingga production values lainnya (yes, that includes space suit and snowy mountain) termasuk scoring dari Henry Jackman – Matthew Margeson dan sinematografi George Richmond, reference-reference ke pop kultur klasik dari film ke lagu yang terentang dari era ’60-an ke ’90-an juga turut mewarnai keseluruhan filmnya. Ada alunan soundtrack dari Dire Straits, KC & The Sunshine Band dan Lynyrd Skynyrd, sementara dalam salah satu nods terbaiknya, film-film seperti ‘Trading Places’, ‘Pretty Woman’, ‘La Femme Nikita’ dan ‘My Fair Lady’ juga ikut disempalkan dalam relevansi dialog-dialognya. Belum lagi nama-nama agen rahasia Kingsman yang mengacu pada Excalibur legend. Dan ini semua dipadukan dengan gory and comical signature Vaughn dalam membesut action scenes intens dengan koreografi aksi bukan sekedar main-main ala ‘Kick-Ass’ sebagai modern approach-nya plus theme songGet Ready For It’ dari Take That. Sayang church massacre scene-nya yang mungkin dikhawatirkan sensitif bagi sebagian pihak namun sebenarnya punya poin sangat penting terhadap turnover karakter utamanya, disini disensor kasar atas aturan baru LSF hingga mencapai durasi 12  menit.

            Pemilihan cast-nya pun juara. Vaughn sudah membuat kita sadar bahwa Colin Firth yang lebih sering tampil di film-film romance punya potensi untuk jadi setangguh James Bond, lantas ada Michael Caine, aktor Inggris legendaris yang lekat sekali dengan genre-nya hingga Jack Davenport dalam penampilan singkatnya sebagai Lancelot. Samuel L. Jackson sudah jelas pas sebagai comical villain, Mark Strong was strong, sementara Taron Egerton yang baru memulai debut layar lebarnya bermain baik sekali sebagai Eggsy dan yang paling menyita perhatian, Sofia Boutella yang sebelumnya tampil di ‘Street Dance 2’ sebagai Gazelle.

            So yes, seolah jadi penggabungan antara ‘X-Men: First Class’ di classic superspy tribute dengan ‘Kick-Ass’ di presentasi action – comedy yang fun tapi juga punya sisi emosional yang tertata tak kalah baiknya, ‘Kingsman: The Secret Service’ memang cukup luarbiasa. Sepenggal tribute note dari Vaughn untuk sang Ibu di awal end credits-nya pun jadi penutup sempurna setelah after credit scene yang jadi repetisi penting ke titik tolak origin story-nya. Bukan mustahil kalau adaptasi ini akan berkembang menjadi franchise Vaughn berikutnya. Now this goes ‘For Your Eyes Only’ : Being all old fashioned british spy flicks rolled into one, with more first class style, ‘Kingsmanreally kicks ass. A royal homage to espionage classics. Keren sekali! (dan)

~ by danieldokter on February 12, 2015.

2 Responses to “KINGSMAN: THE SECRET SERVICE : A ROYAL HOMAGE TO ESPIONAGE CLASSICS”

  1. Sangat2 puas dengan film ini, seperti terbayar ntn flm2 sblmnya di sepanjang bln Januari s/d awal febuari 2015 yg mengecewekan or g terlalu istimewa (kecuali bbrp flm bgs yg g bs aq tntn krn g ditayang sprti the imitation game&amrcn sniper). flm yg sangat fun&menyenangkan untuk ditntn, y mngkn trlu sadis di beberp scene. Tp scra ksluruhan, Presentasi Kingsman mrpkan yang plng istimewa diawal tahun 2015,& jd kandidat film tervavorit untuk tahun 2015. Bravo Kingsman bravo Matthew Vaughn yang menyutrasarai flm ini, smg ada sequelnya&ttp fun

  2. […] KINGSMAN: THE SECRET SERVICE – THE MAN FROM U.N.C.L.E. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: