UNBROKEN : AN OVERBLOWN TALE OF MIRACLES

UNBROKEN

Sutradara : Angelina Jolie

Produksi : Legendary Pictures, Jolie Pas, 3 Arts Entertainment, Universal Pictures, 2014

unbroken

            It’s true, kalau ‘Unbroken’, karya penyutradaraan Angelina Jolie yang banyak diramalkan jadi salah satu award contender di akhir tahun kemarin ini, diangkat dari sebuah kisah nyata berdasar buku karya Laura Hillenbrand, ‘Unbroken: A World War II Story of Survival, Resilience and Redemption’. Berisi biografi kepahlawanan seorang Louis ‘Louie’ Zamperini, atlit pelari olimpiade AS berdarah Italia yang juga seorang saksi hidup Perang Dunia II lewat pengalamannya sebagai P.O.W. (Prisoner of War) kamp Jepang, ‘Unbroken’ memang merupakan kisah inspiratif dibalik status Zamperini di sisa hidupnya sebagai seorang Christian inspirational speaker.

            It’s true, too, kalau novel serta adaptasi filmnya juga lantas banyak dimasukkan ke dalam Christian literature atas pendekatan-pendekatan testimonial Zamperini yang mengalami begitu banyak mukjizat selama jatuh bangun masa-masa tersulitnya sepanjang perang. Okay, tak ada yang salah dengan itu. Secara kisah-kisah sejati seperti ini memang bertujuan menyebarkan inspirasi pada tiap pemirsanya. Sementara agama mungkin hanya jadi sebuah simbol, tapi pesannya terhadap sebuah penghargaan hidup, luarbiasa universal. Apalagi, baik Jolie maupun Hillenbrand adalah aktivis-aktivis perdamaian yang masih aktif berjuang hingga sekarang.

            Tumbuh besar sebagai anak bengal di lingkungannya, Torrance, California, atas temuan kakaknya, Louie Zamperini (Jack O’Connell) meraih kesuksesan di usia remaja sebagai pelari olimpiade yang bukan hanya masuk ke dalam kualifikasi Olimpiade Musim Panas di Berlin, Jerman, tahun 1936, tapi juga mencetak rekor putaran terakhir dalam lomba lari 5000 meter. Sayang pecahnya Perang Dunia II tak membiarkannya berlama-lama mengecap karir gemilang itu. Bergabung bersama US Air Force sebagai pembom pesawat bombardir, sebuah kecelakaan kemudian membuat Louie dan dua kru yang tersisa, Mac (Finn Wittrock) dan Phil (Domhnall Gleeson) terkatung-katung selama 49 hari di tengah lautan. Melawan hiu hingga pesawat bombardir Jepang hingga akhirnya menjalani hari-harinya sebagai tawanan perang di sebuah kamp Jepang bersama Phil. Terpisah dengan Phil setelah mengalami penyiksaan berat, penderitaannya tak berhenti disini. Kamp-nya di Tokyo malah dikepalai tentara Jepang Mutsuhiro ‘The Bird’ Watanabe (Takamasa Ishihara a.k.a. Miyavi, gitaris dan penyanyi terkenal Jepang) yang kejamnya tak kepalang, apalagi setelah mengetahui latar Louie sebagai pelari olimpiade. Dan ia tetap tak bisa melepaskan diri dari The Bird bahkan setelah kampnya dibom Amerika. Namun justru disinilah Louie mendapat pencerahan baru yang membuatnya bisa terus bertahan menempuh saat-saat tergelap dalam hidupnya.

            Tak ada yang sebenarnya terlalu salah dengan pendekatan tipikal kisah-kisah sejati tawanan perang berbalut kepahlawanan yang bukan baru sekali ini juga diangkat ke layar lebar. Mau berada di kelas apapun sejauh tak lebih segmented dari tipe-tipe Oscar contender, dari ‘Bridge on the River Kwai’, ‘Merry Christmas Mr. Lawrence’ sampai ‘Schindler’s List’ termasuk film-film tawanan perang kelas dua sampai tiga, film-film dalam genre sejenis tetap menampilkan elemen-elemen yang sama. Cenderung mengeksploitasi penderitaan karakter utamanya lewat karakter antagonis prajurit musuh yang kejamnya luarbiasa, dan mengakhirinya dengan moral penting, sesekali dengan unsur redemption seperti yang baru kita saksikan lewat ‘The Railway Man’ tahun lalu.

            Namun sulit dipungkiri juga bahwa pendekatan testimonial terhadap source-nya, yang jauh lebih terus terang menyentuh batas-batas inspiratif sebuah kisah penuh simbol-simbol reliji diatas pengalaman pribadi Zamperini untuk beralih menjadi God’s servant, memang membuat ‘Unbroken’ sedikit banyak jadi terasa pretensius luarbiasa. Bahkan 4 kredit penulis, kesemuanya punya kredibilitas kelas satu, dari Oscar winner ke nominee, Coen Brothers (Joel Coen & Ethan Coen), Richard La Gravanese (‘The Fisher King’, ‘The Bridges of Madison County’ dan ‘Behind the Candelabra’) dan William Nicholson (‘Gladiator’, ‘Les Miserables’ dan ‘Mandela: Long Walk to Freedom’) tak bisa menyelamatkan plot-nya untuk tak sedikitpun mencoba menelusuri sisi lebih wajar ketimbang terus-menerus selama dua jam lebih mengedepankan mukjizat yang terjadi sepanjang penderitaan Zamperini.

            Berulang kali, skrip dan penyutradaraan Angelina Jolie, yang meskipun tak jelek, terasa overblown dalam penyampaian ide ‘If you can take it, you can make it’ yang selain repetitif juga ikut tersampaikan dalam dialog preachy yang benar-benar harafiah. Ini terus dan terus hingga ke batas, sorry if this might sounds cruel, dimana penontonnya secara universal harusnya bisa tergugah tapi malah bergumam ‘yeah, right’ dan ‘oh come on’ dengan senyuman atau tawa di sepanjang film. Bukannya skeptis, tapi apa yang digambarkan Jolie dalam pengadeganannya mau tak mau membuat sebagian jadi balik mempertanyakan kebenaran true story-nya sendiri. ‘Unbelievabletrue story in a much different ways. Dan ini masih diperparah lagi dengan konklusi klise yang lagi-lagi, walaupun bermaksud menggugah menggunakan simbol-simbol reliji yang seharusnya bisa menyentuh, jadi jatuh sangat ridiculous seperti antagonis yang tiba-tiba bisa menangis di depan ratusan tawanannya.

            Bukannya Jack O’Connell, the rising English actor yang melesat bagaikan komet dengan 3 respectable showcase (‘Starred Up’, ‘71’ dan ‘Unbroken’) plus sebuah blockbuster (‘300: Rise of an Empire’) dari akhir 2013 ke 2014, tak bermain bagus. Dibalik fisiknya yang sangat memenuhi syarat bahkan sebagai seorang bintang, O’Connell benar-benar berhasil meng-handle porsi lead-nya dengan kuat, meyakinkan kita bahwa karirnya ke depan punya kans jauh lebih besar lagi. Pendukungnya yang rata-rata diisi nama-nama aktor muda cukup dikenal, dari yang punya porsi lumayan seperti Garrett Hedlund, Domhnall Gleeson, Finn Wittrock hingga yang sekedar numpang lewat seperti Jai Courtney, Luke Treadaway dan Alex Russell pun punya andil menambah dayatariknya. Takamasa Ishihara, gitaris-penyanyi Jepang yang lebih dikenal dengan nama Miyavi pun sebenarnya sama sekali tak jelek, malah punya fungsi penting membangun karakternya sebagai salah satu highlightUnbroken’ yang bakal diingat banyak pemirsanya setelah ini. Aktingnya kuat, sama baiknya dengan apa yang dilakukan Ryuichi Sakamoto (juga musisi terkenal Jepang) dalam ‘Merry Christmas Mr. Lawrence‘), hanya saja, pendekatan yang terlalu komikal ini tak sepenuhnya membentuk blend yang bagus dengan toneUnbroken’ sebagai sebuah inspirational true story, dan ini membuat beberapa adegannya terasa begitu over.

            Tapi jangan debat soal presentasi teknisnya. Production design ‘Unbroken’ memang tak digagas sekedar main-main oleh Jolie, jauh melebihi debut penyutradaraannya di ‘In the Land of Blood and Honey’, dan jelas-jelas menorehkan tulisan ‘award contender’ di segala sisinya. Di tangan Roger Deakins, sinematografinya tampil dengan luarbiasa sejak air raid opening scene yang meskipun sedikit terlalu singkat namun menampilkan detil-detil POV yang jarang-jarang kita lihat di adegan-adegan serupa sekaligus satu yang terbaik dalam sejarah sinemanya, dan tetap konsisten di sepanjang film. Editing dari Tim Squyres pun cukup baik, bahkan scoring Alexandre Desplat yang walau dituding banyak pihak kelewat stirring itu tetap bisa bekerja sebaik dan se-majestis komposisi Desplat lainnya. At least, tak seperti ‘The Railway Man‘, ‘Unbroken‘ masih punya emosi yang cukup solid. Masih ada juga theme songMiracles’ dari Coldplay yang mengiringi epilog berisi potret asli kehidupan Zamperini pasca Perang Dunia II dan masa-masa akhir hidupnya sebagai salah satu bagian paling menyentuh dari filmnya.

            So, begitulah. ‘Unbroken’ jelas bukan sebuah film yang gagal, terlebih dari kekuatan ekstra di presentasi teknisnya. Sebagai sutradara, storytelling Jolie pun secara keseluruhan tak jelek serta menunjukkan pengembangan dari debutnya. Hanya saja, sebagai inspirational true story yang digagas diatas sisi testimonial yang begitu mendominasi, gambaran mukjizat dan keajaiban terus-menerus secara verbal dan cenderung preachy hingga harus lewat dialog itu mau tak mau membuat ‘Unbroken’ jadi mirip sebuah khotbah panjang tentang perjalanan spiritual yang sangat pretensius, hingga tak heran kalau dampaknya, di luar hal-hal teknis, ia justru tak berhasil jadi award contender di major categories se-solid seperti yang diperkirakan sebelumnya. An overblown tale of miracles. Really, really, overblown. (dan)

~ by danieldokter on February 17, 2015.

One Response to “UNBROKEN : AN OVERBLOWN TALE OF MIRACLES”

  1. […] UNBROKEN – Jon Taylor, Frank A. Montaño and David Lee […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: