DRAGON BLADE (天将雄狮) : A GRAND BUT OVERBEARING HISTORICAL EPIC

DRAGON BLADE (天将雄狮) 

Sutradara : Daniel Lee

Produksi : Visualizer Films, Huayi Brothers, Shanghai Film Group, Sparkle Roll Cultural Media, Beijing Cultural Assets, Chinese Film & Television Fund, 2015

dragon blade

            Meski tetap ditunggu, film-film Jackie Chan belakangan memang tak lagi sehebat dulu. Dan di luar faktor usia, mungkin, entah mengapa, ia lebih suka mengeksplorasi emosi akting yang justru jadi bumerang terhadap ekspektasi banyak fans-nya. ‘Dragon Blade’ ini juga kurang lebih seperti itu. Dibalik ambisi besarnya menjadi sebuah epik sejarah dengan latar inspirasi kisah nyata yang menarik dalam menggabungkan budaya Barat dengan Timur, ada banyak sekali distraksi di seputar keberadaannya.

            Pertama adalah imbas dari film-film medioker bernafas sama seperti ‘Outcast’ yang hadir lebih dulu, belum lama ini, dan memang tak didasari dengan penggarapan yang benar-benar serius. Kedua, sama seperti kredibilitas Nicolas Cage dan Hayden Christensen sebagai bintang internasional di ‘Outcast’, nama John Cusack dan Adrien Brody pun harus diakui tak lagi berada di puncak karir mereka. Sama-sama lebih sering tampil dalam produksi studio kecil di film-film DTV, ‘Dragon Blade’ jadinya agak sulit memancing ekspektasi banyak orang. Padahal, ambisinya tak main-main. Sekaligus jadi proyek pertama film yang didanai salah satu funding program baru pemerintah Cina, bujetnya tak digagas dengan sembarangan. Di tangan sutradara Daniel Lee (‘Three Kingdoms’, ’14 Blades’) yang punya kredibilitas cukup baik, penggarapannya juga sama sekali tak berada di kelas ‘Outcast’, lengkap dengan format IMAX 3D.

            Sebagai pimpinan dari Satuan Pengaman Jalan Sutra dari perseteruan puluhan suku yang punya kepentingan disana pada masa Dinasti Han, Huo An (Jackie Chan) selalu berpegang pada niat seorang Jendral yang mengasuhnya sejak kecil, untuk menegakkan perdamaian di seluruh wilayahnya. Sayang, fitnah yang kemudian menimpanya membuat Huo An dan satuannya terpaksa diasingkan ke daerah perbatasan, dimana seluruh tahanan bekerja membangun gerbang kota yang mereka namakan Wild Geese Gate. Disana, Huo An kemudian tak bisa menolak keinginan sekelompok serdadu Romawi dibawah pimpinan Lucius (John Cusack) yang awalnya berniat menduduki kota. Sebagai ganti jasa Huo An yang memberi mereka perlindungan, Lucius memerintahkan anak buahnya membantu seluruh penghuni Wild Geese Gate menyelesaikan pembangunan gerbang kota. Hubungan keduanya meningkat menjadi sebuah persahabatan ketika Huo An akhirnya menyadari bahwa Lucius tengah mengemban niat mulia di tengah pelarian dari negaranya untuk menyelamatkan seorang putra mahkota kecil (Jozef Waite) dari tindakan makar kakaknya, Tiberius (Adrien Brody). Apalagi setelah mengetahui konspirasi Tiberius dengan atasannya, Yin Po (Choi Siwon) yang berada dibalik fitnah itu. Kini bukan saja mempertahankan Wild Geese Gate, perseteruannya dengan Tiberius juga menjadi perang pribadi dibalik sebuah perang tak seimbang bersama serbuan serdadu Romawi.

            Sebagai sebuah epik sejarah, skrip yang ditulis Daniel Lee sendiri sebenarnya sudah punya latar yang bagus untuk East meets West universe building-nya. Mencoba memberi dasar ketimbang mengundang pertanyaan dibalik anggapan mengada-ada antara hubungan kerajaan Barat dan Timur masa lalu. Setup, latar dan motivasi-motivasi karakternya pun disertai dengan detil-detil yang sangat diperhatikan, misalnya dibalik kewajaran penggunaan bahasa dan culture bumps lainnya. Walaupun tak sepenuhnya sempurna, disana, friendship story yang mendasari konflik serta interaksi masing-masing karakter utama maupun sampingannya sudah terbangun baik dengan sendirinya.

            Sayangnya, usaha yang sudah baik itu agak terdistraksi dengan niat Daniel Lee menyempalkan anti-war message serta peace and harmony-nya secara berlebih. Tak ada yang salah dengan penggambaran komikal karena ‘Dragon Blade’, seperti sederet film-film Daniel Lee lainnya, adalah historical action yang dibangun diatas latar sejarah bangsanya. Namun adegan-adegan yang memuat semangat persatuan antar suku hingga bangsa yang terkesan repetitif dan bertele-tele diatas dialog verbal dan cenderung preachy membuat ‘Dragon Blade’ terasa sangat pretensius mengedepankan pesan baiknya. Berkali-kali, moral mengajak musuh menjadi teman secara terus-menerus itu menjadi terasa naif luar biasa, lengkap dengan adegan menyanyikan lagu kebangsaan dan perjuangan masing-masing. Sudah begitu, dominasinya justru menekan subplot serta penokohan karakter-karakter sampingan yang seharusnya lebih baik dijadikan fokus dalam mengeksplor dramatisasinya.

            Dan ini mau tak mau ikut juga menggerus kepentingan ‘Dragon Blade’ untuk bisa jadi action showcase khas Jackie Chan yang layak. Nantilah dulu soal elemen komedi yang juga diharapkan oleh fans Jackie Chan bersama pameran aksinya, namun membangun karakternya lebih ke arah martir dibalik persahabatannya dengan Lucius ketimbang seorang jagoan tangguh yang sebenarnya sudah disematkan sejak awal lewat sebuah adegan pertarungan jenaka, satu scene terbaik dari ‘Dragon Blade’ yang masih sangat Jackie Chan, akhirnya membuat tak satupun yang berada dalam taraf seimbang. Lee tetap terlihat berusaha membuat karakter-karakter sampingannya, yang sebenarnya diperankan dengan baik diantaranya oleh Mika Wang, berikut duo penyanyi Chopsticks Brothers (Xiao Yang dan Wang Taili) terutama aktris Lin Peng yang sangat mencuri perhatian, namun skrip itu lagi-lagi terlalu asyik bermain-main dengan pesan moralnya. Yang terparah tentu saja penampilan Choi Siwon dari Super Junior yang seharusnya bisa jadi highlight, malah tersia-sia begitu saja, begitu juga dengan aktris Amerika Sharni Vinson yang tampil tak lebih sekedar cameo.

            However, baik Jackie Chan, John Cusack dan once an Oscar winner Adrien Brody, bermain dengan baik membuat kolaborasi mereka dalam ‘Dragon Blade’ paling tidak bekerja memberi penekanan lebih pada kelas produksinya. Chemistry Chan dan Cusack tergelar bersama eksplorasi dramatis yang bagus di penampilan keduanya, sementara walaupun emosinya terkadang agak komikal, Adrien Brody bisa menjadi lawan seimbang Chan di final showdown-nya, walaupun menempatkan Chan di posisi kelewat lemah, tak seperti yang diharapkan banyak fans-nya. Penampilan singkat dari Vanness Wu dan Karena Lam juga mengisi prolog dan epilog yang sangat lumayan dalam memberi kesan lebih.

            And above all, presentasi terbaik dalam ‘Dragon Blade’ adalah desain produksinya. Memberikan tampilan yang sepadan dengan bujet gigantis produksinya, baik dalam bangunan set dan heavy costumes, tata artistik dari Jia Neng Huang, scoring dari Henry Lai serta grand / colosssal look di sinematografi bersama sejumlah battle scenes yang cukup seru, paling tidak kelebihan-kelebihan ini tetap membuat ‘Dragon Blade’ tetap secara solid ada di kelas blockbuster, bukan film-film kelas B seperti ‘Outcast’. A grand but overbearing historical epic. Lagi-lagi, bukan action showcase Jackie Chan yang diharapkan banyak orang terutama fans-nya, tapi jelas bukan sama sekali jelek, terlebih sebagai sajian khusus menyambut hari raya Imlek tahun ini. Now to those who celebrate, I’m wishing you a very happy Chinese New Year. Gong Xi Fa Cai! . (dan)

~ by danieldokter on February 18, 2015.

3 Responses to “DRAGON BLADE (天将雄狮) : A GRAND BUT OVERBEARING HISTORICAL EPIC”

  1. Nama lagu yang dinyanyikan bangsa roma,apa judulnya?

  2. Film yg sangat menarik menurut saya, dg menggabungkan unsur barat dan timur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: