WHIPLASH : JUST LIKE JAZZ, IT’S IMPROVISING

WHIPLASH

Sutradara : Damien Chazelle

Produksi : Sierra/Affinity, Bold Films, Blumhouse Productions, Right of Way Films, Sony Pictures Classics, 2014

whiplash

            Entah ada apa antara Oscar dengan jazz drums tahun ini, tapi ‘Whiplash’ jelas ada di referensi wajib jazz movies terlebih bagi penggemarnya. Walau bukan straightly ada di genre musikal, otak dibalik semuanya, Damien Chazelle (penulis skrip ‘Grand Piano’, yang juga punya racikan tak jauh) lewat perjalanan panjangnya dari daftar ‘Black List’ 2012 menjadi film pendek yang dibintangi J.K. Simmons dan Johnny Simmons (no, they were not related) dan memperoleh perhatian besar di Sundance 2013 hingga akhirnya menarik investor untuk memproduksi versi panjangnya, memang mengembangkan plot yang lebih dekat ke sebuah psychological thriller dengan latar genre jazz yang sangat kental.

            Pendekatan psikologis mentor vs protege ala drill sergeant menggembleng trainee-nya dengan kekerasan luarbiasa juga bukan lagi sesuatu yang baru dalam konteks film. Dari ‘An Officer and a Gentleman’, many sports movies ke ‘Training Day’ sampai satu yang paling haunting dan memorable, ‘Full Metal Jacket’, sudah pernah menampilkan itu. Bedanya disini, Chazelle yang memang kabarnya terinspirasi dari pengalaman pribadinya saat tergabung dalam sebuah jazz band di Princeton semasa sekolah, membesut jazz drums dalam hubungan mentor vs protege-nya hingga mirip extreme sports yang penuh pacuan adrenalin dibalik isu-isu bullying dan misconducted education. Membentuknya sebagai sebuah ide baru yang terasa sangat fresh, tak heran kalau ‘Whiplash’ memperoleh resepsi luarbiasa dari sebagian besar pemirsanya, walau juga, dari beberapa kalangan termasuk penggemar jazz bahkan drummer atau big band / ensemble player, kritik demi kritik terus berdatangan. Tentu saja, dalam banyak sudut pandang, ini tetap sangat relatif.

            Masuk ke sekolah musik prestigius Shaffer Conservatory, New York, drummer muda berbakat Andrew Neiman (Miles Teller) tak memerlukan waktu lama untuk menarik perhatian Terence Fletcher (J.K. Simmons), konduktor jazz ensemble sekaligus pencari bakat berpengaruh buat menerimanya sebagai cadangan ke core drummer Carl Tanner (Nate Lang). Namun disana juga ia menyadari cara Fletcher menggembleng dirinya untuk bisa mengeluarkan kemampuan terbaik itu sama sekali tak seperti yang dibayangkannya. Perang urat syaraf mentor vs protege ini pun berkecamuk melanggar batas konflik pribadi masing-masing.

            Bukan Damien Chazelle tak membesut skrip jenius-nya itu tak dengan referensi dan penghormatan ke genre musik yang ia angkat, no. Seperti judulnya, ‘Whiplash’ yang juga punya arti terhadap premis utamanya diwarnai dengan dua nomor jazz legendaris yang jadi partitur terkuat penggambaran ensemble-nya, komposisi berjudul sama dari Hank Levy dan ‘Caravan’-nya Juan Tizol yang pertama kali dipopulerkan oleh Duke Ellington. Dari sini, Chazelle membidik fokus terhadap drum skills yang jadi elemen konflik utamanya, dalam hal tempo dan kecepatan yang memang jadi dua hal terpenting yang harus dimiliki seorang drummer profesional.

            Disana juga ia menyempalkan referensi-referensi lain soal jazz dari tokoh-tokoh legendaris macam Jo Jones, Charlie ‘Bird’ Parker and mostly Buddy Rich, juga seorang drummer jazz yang terkenal karena kecepatannya, hingga sejarah karir sebagian diantaranya. Oke, mungkin sisi historis soal Jo Jones yang melempar simbal yang nyaris memenggal kepala Charlie Parker hingga membuatnya sebenar-benarnya menjadi ‘Bird’ itu juga tak seakurat yang kita dengar dalam dialognya, begitu pula soal protes-protes sebagian penggemar jazz yang menganggap masih banyak nama lain yang lebih layak dari Buddy Rich, berikut tetek-bengek lain soal relevansi karakternya, tapi lagi, ini jelas pilihan. Yang jelas, Chazelle sama sekali tak tengah terlihat sedang mengkhianati genre musiknya sendiri.

            Pun begitu halnya dengan bombastic attempt untuk terus menaikkan intensitas perseteruan dua karakter utamanya hingga melewati kewajaran yang pasti bisa dirasakan oleh pemain instrumen sentralnya (baca=drum). Call it necessary roughness, apa yang dilakukan Chazelle terhadap tiap tetesan hingga kucuran darah yang justru bekerja buat jadi highlight konfliknya toh tak jauh beda dengan apa yang dilakukan Sylvester Stallone ke franchiseRocky’ dan banyak lagi film-film sejenisnya. It’s often hyperbolic, unrealistic, tapi dalam batas-batas dramatisasi sinematis, juga sangat diperlukan dan bisa dimaklumi.

            Dan jauh dibalik dialog-dialog cerdas, efektif  dan penuh punchlines yang ditampilkan Chazelle bersama tarikan batas yang pas buat subplot dan karakter-karakter sampingannya, dari yang dibintangi Melissa Benoist, Paul Reiser, Nate Lang dan Austin Stowell, yang semuanya punya relevansi untuk memperkuat masing-masing karakter utamanya, membuat pace-nya jadi berjalan sekencang pacuan adrenalin dibalik genre musik yang seharusnya punya efek bertolak belakang itu, ada sisi penggarapan yang menunjukkan bahwa Chazelle memang sepenuhnya memahami, dan bisa benar-benar menerjemahkan musik, terutama elemen drum, ke dalam filmnya.

            Mempertahankan tiap elemen instrumen untuk menghadirkan permainan sempurna terhadap komposisinya jelas tak sesulit itu, namun menuangkan kesalahan-kesalahan detil ke dalam penerjemahan partitur untuk bisa lebih jauh berbicara soal rushing or dragging in drums bersama kesalahan permainan tempo dan aspek lainnya dalam sebuah ensembel musik, itu jelas perlu kecermatan jauh lebih. Setiap telinga yang punya kemampuan lebih detil mengenali musik jelas bisa memperkirakan sulitnya menggagas batasan-batasan ini dalam tampilan tiap musical scene-nya, yang juga menyangkut kemampuan DoP Sharone Meir dan editor Tom Cross, keduanya bukan nama-nama yang sangat dikenal, berikut tiap kru dalam tata suaranya, dengan maksimal. Dan disitu pula, intensitas emosinya benar-benar punya alasan yang relevan untuk sewaktu-waktu bisa meledak ke permukaan.

            However, highlight terbaik dalam ‘Whiplash’ tentulah ada pada J.K. Simmons. Menokohkan sosok Fletcher diatas desain karakter yang sangat detil hingga ke pemilihan kostum dan tiap gestur tampilannya, intensitas akting luarbiasa dengan motivasi tak tertebak itu benar-benar hadir dengan sempurna. Bahkan dalam hitungan detik, kita bisa begitu percaya dengan goyangan kepalanya menerjemahkan musik sebagai seorang konduktor handal. Kontrasnya ke karakter Neiman, yang juga dimainkan sangat bagus oleh Miles Teller di luar kemampuan aslinya menggebuk drum, sekaligus menjadi penempatan part paling pas dalam sejarah karirnya yang lebih sering diisi peran-peran (walau sebagai lead sekalipun) tak penting, juga luarbiasa. Ini juga yang membuat durasinya bisa terasa berjalan sekencang itu dibalik interaksi Simmons dan Teller yang unpredictable.

        So yes, film-film yang diisi perang psikologis mentor vs protege mungkin banyak, begitu pula yang menggunakan jazz sebagai elemen terkuatnya. Tapi memainkannya bagai metronom untuk menyemat psychological thriller-nya buat meledak sewaktu-waktu, going through hell and back again, bahkan nyaris seperti horror, ‘Whiplash’ memang tak sekalipun memberi isyarat kita akan dibawa kearah mana menuju ending yang meski bagi sebagian orang masih membutuhkan penjelasan lebih namun punya makna sangat dalam dari tiap bagian ide terkecil yang diusungnya. Just like jazz, it’s improvising. Mesmerizing, astounding, exhilarating, electrifying atau apapun sebutannya, ‘Whiplash’, dalam tiap sentuhan hingga dentuman pukulan tiap drum parts-nya, adalah sebuah one of a kind-masterpiece yang benar-benar luarbiasa. Luarbiasa! (dan)

~ by danieldokter on February 20, 2015.

5 Responses to “WHIPLASH : JUST LIKE JAZZ, IT’S IMPROVISING”

  1. saya add link-nya ya gan di blog saya. thanks🙂

  2. […] WHIPLASH – Jason Blum, Helen Estabrook and David Lancaster, Producers […]

  3. jujur saja aq bkn pecinta musik jazz, tp aq bs menikmati film ini. melalui flm ini qt jd mengetahui bhwa untuk menjadi bnr2 jago brmain drum trnyta tdk mdh, sprti brlth instrumen lainnya, endingnya luar biasa trtma permainan drummnya, wl trsa agak mnggntng, tp flm ini mmng bnr2 bgs&krn

  4. sejujurnya masih bingung sama endingnya, intinya gimana si dengan hubungan neyman dengan fletcher, kelanjutannya gimana? nicole datang apa engga?

  5. […] WHIPLASH […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: