SHAUN THE SHEEP MOVIE: AARDMAN’S RETURN TO THEIR CLASSIC CLAYMATION

SHAUN THE SHEEP MOVIE

Sutradara: Richard Starzak & Mark Burton

Produksi: Aardman Animations & Studio Canal, 2015

shaun the sheep

            Okay. Ini mungkin banyak luput dari perhatian pemirsa dewasa. Tak seperti ‘Wallace & Gromit’ series yang masih lebih akrab bagi all-ages audience, paling tidak di negeri asalnya, ‘Shaun The Sheep’ yang tak kalah populer dan sebenarnya masih berstatus spin-off-nya ini mungkin lebih dianggap sebagai milik pangsa pemirsa anak-anak. Dibawah bendera Aardman Animations yang merupakan studio animasi terbesar di Inggris dan terkenal dengan teknik claymation, lengkapnya stop-motion clay animation, Aardman memang sudah banyak sekali menghasilkan animasi-animasi yang dikenal ke seluruh dunia.

      Karena itu juga tak sulit bagi mereka untuk menggandeng divisi-divisi animasi Hollywood buat berkiprah di layar lebar. ‘Chicken Run’ dan ‘Wallace & Gromit: The Curse of Were-Rabbit’ dengan DreamWorks, ‘Arthur Christmas’ yang meninggalkan sama sekali teknik animasi klasik mereka dan ‘The Pirates! Band of Misfits’, yang meski masih berupa stop-motion claymation namun punya polesan jauh lebih modern bersama Sony Pictures Animation, dan kini, bersama Studio Canal yang baru saja mengeruk keuntungan besar dalam kelas tontonan keluarga lewat ‘Paddington’. Tak ada memang alasan untuk tak mengangkat franchise sebesar ‘Shaun The Sheep’ untuk menjadi sebuah tontonan layar lebar, dan yang lebih menarik, mempertahankan bentuk original series-nya, mereka kembali ke teknik animasi paling klasiknya. ‘Shaun The Sheep’ yang lebih digagas sebagai silent animation dalam konteks tanpa dialog meski punya voice cast ini memang membawa feel nostalgia ke animasi-animasi klasik ala mereka.

       Kenakalan domba Shaun (Justin Fletcher) dan rekan-rekannya mengelabui the Farmer (John Sparkes) untuk bisa melarikan diri sejenak dari peternakannya ternyata berujung pada sebuah kekacauan. Bersama Bitzer the Sheepdog (juga disuarakan John Sparkes) yang menyadarinya belakangan, mereka yang akhirnya kehilangan jejak the Farmer menemukan kenyataan bahwa majikannya yang didiagnosis amnesia atas kecelakaan akibat ulah Shaun kini telah beralih profesi sebagai hair-stylist terkenal akibat sebuah kesalahpahaman. Shaun, Bitzer dan rekan-rekannya pun merancang sebuah misi untuk membawa the Farmer kembali ke rumah mereka, namun petugas Animal Control yang sempat menangkap mereka juga tak begitu saja mau menyerah.

        Memulai filmnya dengan opening sequence soal kesepian the Farmer yang sedikit lebih dalam ketimbang apa yang selama ini ada dalam original series-nya sekaligus jadi setup yang kuat ke motivasi Shaun dan rekan-rekannya nanti, duo Richard Starzak (a.k.a. Richard Goleszowski), salah satu kreator asli serialnya bersama Mark Burton yang sudah bekerja bersama Aardman di ‘Chicken Run’ dan ‘Wallace & Gromit: The Curse of Were-Rabbit’ tak memerlukan waktu terlalu lama untuk memulai seru-seruan trail comedy-nya. Dan benar, mereka juga masih menggunakan resep baku original series itu untuk membangun semuanya. Semua elemen aslinya termasuk kejar-kejaran di jalan peternakan juga masih muncul. Hanya saja, ‘Shaun The Sheep Movie’ ini mereka garap dengan intensitas jauh lebih bersama jarak tambah perjalanan yang ditempuh para karakternya.

       Hasilnya adalah ‘Shaun The Sheep’ dengan elemen yang jauh lebih seru seperti apa yang kita saksikan dalam ‘Chicken Run’. Ada strategic mission, chaos comedy dan keseruan lain sampai karakter antagonis penangkap hewan yang walaupun tak segila ‘Chicken Run’, memang sudah memberi penekanan jelas bahwa ini bukan sekedar ‘Shaun The Sheep’ bersama karakter-karakter tetap yang kita saksikan sehari-hari lewat original series itu, lengkap bersama sekumpulan babi perusuh dan The Bull si banteng galak.

        Dan jauh diatas semuanya, konstruksi penceritaan yang sangat rapi meskipun dihadirkan hanya dengan grunts, squakes and snorts tanpa dialog ini, plus scoring dari Ilan Eshkeri, composer yang karyanya sudah kita nikmati dari ‘Stardust’, ‘Kick-Ass’ ke ‘Still Alice’ barusan, benar-benar berhasil memberikan kelucuan dan petualangan seru melebihi voiced animation yang digagas dengan penggarapan teknis jauh lebih canggih. It’s freakin’ hilarious, sekaligus jadi satu lagi karya animasi bagus yang terus mengingatkan kita, bahwa kembali ke bentuk paling klasik, bukan lantas membuat hasilnya jadi tak asyik. Now grown-ups, go see this with your little loved ones, and enjoy the sheer-experience! (dan)

~ by danieldokter on February 25, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: