CJR THE MOVIE: AN ENTERTAINING SHOWCASE THAT FAILED TO DIG MORE

CJR THE MOVIE

Sutradara: Patrick Effendy

Produksi: Falcon Pictures, 2015

CJR

            Resepsi box office yang bagus, apalagi di tengah carut-marutnya jumlah penonton film Indonesia sekarang ini, jelas sudah bisa jadi alasan bagus untuk membuat sekuel. But even a potential one needs more reasons. Walau bagi subjeknya, dibalik eksistensi mereka sebagai salah satu boyband terpopuler di Indonesia, ‘Coboy Junior The Movie’ (Anggy Umbara, 2013) sudah berhasil menyajikan konten lebih dari sekedar gimmick showcase yang terbatas hanya bagi fans-nya, toh jalan untuk menuju kesana tak lantas jadi mulus-mulus saja.

            Oke, nanti dulu soal masalah perizinan untuk menggagas lokasi awalnya yang direncanakan digelar di Amerika dengan judul awal ‘Road Trip USA’. Namun dibalik problem lain keluarnya salah satu anggota mereka yang juga punya fanbase besar, Bastian Bintang Simbolon, grup musik yang akhirnya di-rebrand menjadi CJR ini sebenarnya justru mendapat konten yang sangat potensial. Tagline yang berbunyi ‘Lawan Rasa Takutmu’ itu sebenarnya sudah menunjukkan, bahwa sekuel yang akhirnya kebanyakan bersetting di Melbourne, Australia ini punya sisi bagus untuk membangun konflik dan dramatisasinya. Satu hal yang selalu menjadi ketakutan terbesar band-band atau entertainment group populer dimanapun juga, soal keutuhan dan kekompakan personilnya.

            ‘CJR The Movie’ pun memulai semuanya dari sana. Kelangsungan karir CJR sepeninggal Bastian mau tak mau sangat mengganggu Iqbal (Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan), Aldi (Alvaro Maldini Siregar) dan Kiki (Teuku Ryzki Muhammad). Karena itu, founder dan produser CJR, Patrick Effendy (Abimana Aryasatya) mengajak mereka melakukan perjalanan keliling Australia ditemani Jimmy (Arie Kriting). Dari bertemu Emmanuel Kelly, kontestan X-Factor Australia 2011 yang terus berkarya di tengah keterbatasan fisiknya hingga berlatih vokal dengan D-Doc (Rio Dewanto) dan physical trainer Melissa (Brittany Rose Scrivner), perjalanan itu akhirnya menjadi pelajaran sangat berharga buat melawan rasa takut mereka menggelar konser pertama dengan formasi baru sekembalinya ke Indonesia.

            Dibawah penyutradaraan Patrick Effendy yang menggantikan Anggy Umbara, sementara naskah tetap digarap oleh Hilman Mutasi (kali ini bersama Yanto Prawoto dan Arif Rahman), tone-nya sebenarnya tak banyak berubah kecuali dalam sempalan dakwah ala Anggy yang ada di film pertama, yang memang membentuk blend yang baik dengan success story perjalanan awal karir mereka. Ketiga personil CJR juga masih tetap bermain dengan baik, menunjukkan bahwa mereka memang punya talenta lebih untuk menekuni karir showbiz-nya dengan solid. Tambahan sejumlah aktor dari film pertama, Abimana Aryasatya, Irgi Fahrezi, Astri Nurdin, Ersa MayoriJoe P. Project dan sejumlah penampilan nama-nama lain baik sebagai supporting actors atau guest stars; Arie Kriting, Rio Dewanto, Surya Saputra, Ernest Prakasa, Anggy Umbara plus Emmanuel Kelly dan Brittany Rose, walaupun tak seramai film pertama masih tetap bisa jadi nilai tambah yang cukup bagus.

            Hanya sayangnya, skrip itu ternyata tak cukup mampu menggali potensinya lebih dalam. Selain konflik yang sebenarnya bisa dieksplorasi lebih dalam jadi kerap hanya mengambang di permukaan saja, road trip yang sebenarnya bisa jadi latar setup dan jembatan motivasi kuat menuju menit-menit terakhir stage scene yang lebih intens  malah cenderung tergelar seperti road trip biasa yang melulu hanya disematkan sebagai hiburan belaka. Bukan Rio Dewanto tak bermain menarik sebagai D-Doc dibalik mocking Australian accent-nya, namun gambarannya yang digagas kelewat karikatural justru semakin melemahkan potensi mereka menggali potensi yang sudah dimilikinya sejak awal. Padahal comedic timing-nya sebenarnya sudah cukup pas diisi oleh penampilan Arie Kriting dengan celotehan-celotehannya.

            However, ditambah presentasi sejumlah lagu-lagunya, bukan hanya oleh CJR tapi juga diisi oleh banyak grup/musisi seperti Gamaliel-Audrey-Cantika (GAC), BIP dengan lagu ‘Pelangi dan Matahari’ berikut duet CJR dengan Emmanuel Kelly di lagu ‘Happy To Be Me’ yang bergulir mengiringi end credits-nya, ‘CJR The Movie’ tetap bisa menjadi showcase yang masih cukup menghibur. Tapi selebihnya, sekuel ini memang akhirnya lebih mirip sebuah gimmick yang lebih terbatas buat dinikmati para Comate, fans setia CJR dan tak lebih dari itu. Sayang sekali. (dan)

~ by danieldokter on February 26, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: