2014: A COMPELLING, FEARLESS AND RELEVANT POLITICAL THRILLER

2014

Sutradara: Hanung Bramantyo & Rahabi Mandra

Produksi: Mahaka Pictures, Dapur Film Production, 2013/ 2014 (final cut)

2014 film

            Walaupun masih punya elemen drama keluarga, love story serta bumbu action, not that I remembered, no, belum ada film Indonesia yang secara murni, atau paling tidak jauh lebih kuat ketimbang yang lain, untuk berdiri sebagai sebuah political thriller. Seperti yang sudah dipublikasi sejak jauh hari, ‘2014’ memang layak digolongkan ke genre itu, dan bicara soal tema politik dalam aspek-aspek kenegaraan subjek yang dibahas, terlebih karena ini juga terus-terang bicara soal Indonesia meski fiktif, penggambaran-penggambaran berani dengan potensi menyinggung banyak pihak tentu bukan sesuatu yang bisa dihindari. Disana, nama Hanung Bramantyo memang jadi salah satu kandidat yang pantas. One of the first name that comes to everyone’s mind.

            Itu juga mungkin, mungkin, yang membuat jadwal rilisnya sempat tertunda sekian lama setelah sempat melanglang buana hingga ke Balinale 2013 dan Osaka Asian International Film Festival tahun lalu. Sempat terkatung-katung setelah publikasi trailer dan berita-berita simpang-siur, setelah batal lagi dari jadwal rilis di Agustus 2014, awal tahun ini ternyata filmnya dirilis juga ke bioskop-bioskop kita. Bisa jadi, menunggu proses pemilihan Presiden selesai, dalam banyak alasan politis, mungkin merupakan pilihan yang lebih bijaksana. Kenyataannya, ‘2014’ memang punya sejumlah relevansi kuat terhadap keadaan politik yang sama carut-marutnya disini. Ekses-ekses kontroversial, yang entah disengaja atau tidak, kerap mewarnai beberapa film-film yang digagas Hanung Bramantyo, baik dalam karir solo maupun kolaborasinya bersama para protege-nya di Dapur Film.

            Bagas Notolegowo (Ray Sahetapy), capres pilihan rakyat yang tengah berjuang mendekati Pemilu 2014 untuk menggantikan Presiden Jusuf Syahrir (Deddy Sutomo), tiba-tiba tersandung oleh skandal pembunuhan salah seorang pejabat negara. Menjadi seorang tersangka dengan ancaman hukuman mati, kasusnya mau tak mau mengganggu hubungan Bagas dengan putranya, Ricky Bagaskoro (Rizky Nazar), remaja yang punya mimpi menjadi petugas sosial buat anak-anak terlantar, yang sejak awal tak mendukung niat ayahnya walaupun ikut didorong Ningrum (Donna Harun), ibunya. Mencurigai bahwa kasus ini adalah sebuah rekayasa oleh saingan-saingan politik Bagas, terutama Faisal Abdul Hakim (Rudy Salam), Ricky memulai investigasi pribadinya sambil mendekati pengacara idealis Krishna Dorojatun (Donny Damara) untuk bersedia membela ayahnya. Diatas kecurigaan yang sama apalagi setelah penyerangan terhadap Bagas di penjara, Iptu Astri (Atiqah Hasiholan) pun melawan tekanan dari atasannya untuk membongkar kasus ini. Di tengah proses itu pula, hubungan Ricky dengan Laras (Maudy Ayunda), putri Dorojatun satu-satunya menjadi sangat dekat. Menggunakan semua kemampuan mereka untuk membawa konspirasi politik itu ke ranah publik, ancaman nyawa juga menjadi resikonya. Sekarang pertanyaannya, Siapa Di Atas Presiden?

            Keunggulan utama ‘2014’ adalah skrip yang dibesut oleh Rahabi Mandra, Ben Sihombing dan Hanung sendiri. Menggunakan step-step yang tepat dalam koridor genrenya, menunjukkan mereka memang cukup menguasai elemen-elemen genre itu dari banyak film luar sejenis, plot yang ada memang tak menjadi sepenuhnya realistis, kadang over the top dan punya sempalan komedi yang tak ada pun tak mengapa, but on the other hand, juga sangat filmis dengan keberaniannya menyemat modus-modus intelijen, detil peradilan hingga aspek forensik tanpa sekalipun pernah kehilangan benang merah relevansinya memuat sindiran dan referensi terhadap sejumlah tokoh politik yang mewarnai kehidupan bangsa kita akhir-akhir ini. Sebagai nama baru di kredit sutradara, walau masih ada nama Hanung, Rahabi Mandra juga harus diakui punya storytelling yang oke.

         Dialog-dialognya bagus, diatas bangunan karakter inti dengan setup dan motivasi yang kuat pula, terutama terhadap karakter Krishna Dorojatun yang diperankan oleh Donny Damara dengan sangat baik. Bentukan karakter yang sungguh jarang ada di film kita, mencuri empati dalam memuat esensi sekaligus berfungsi secara maksimal sebagai titik tolak turnover karakter utama berikut interaksi dan chemistry setelahnya dengan rapi. Atiqah Hasiholan yang bertransformasi menjadi sesosok tough female heroine dengan ketangguhan meng-handle tiap koreografi aksinya pun sangat melewati ekspektasi. Bersama Donny, karakter mereka yang sebenarnya bukan berada di lini paling utama justru bisa melangkah jauh melebihi yang lain.

           Dan bukan berarti pendukung lainnya tak bermain dengan baik. Dari aktor-aktor senior seperti Ray Sahetapy, Rudy Salam, Deddy Sutomo hingga duo young lead-nya, Rizky Nazar dan Maudy Ayunda, semuanya kuat. Karakter-karakter sampingannya yang diperankan oleh duo pentolan ‘Tabula Rasa’ (walau dibuat sebelumnya), Yayu Unru dan Ozzol Ramdan (credited as Ozzol Ram) serta Akri Patrio juga sama, plus Rio Dewanto yang membuat tampilan action-nya jadi semakin seru terutama dalam action scenes yang menghadapkannya dengan Atiqah sebagai real life spouse-nya. Dan masih ada Fadika R. sebagai Bripka Wishnu dan Fauzan Smith yang cukup mencuri perhatian. Setelah kiprahnya di ‘Perahu Kertas’, walau penempatan karakternya bisa jadi terasa agak melebar namun mungkin punya alasan untuk menyemat informasi, Fauzan menokohkan Memey dengan sama baiknya.

       Presentasi teknisnya, di sisi lain, juga punya keunggulan yang secara variatif, baik. Sinematografi Faozan Rizal mungkin bukan sesuatu yang benar-benar konseptual seperti apa yang dilakukannya dalam ‘Hijab’, namun tata artistik Ezra Tampubolon dan tata kostum/rias Retno Ratih Damayanti sedikit banyak bisa memberi penekanan terhadap karakter-karakter serta set-nya. Editing Cesa David Lukmansyah bekerja cukup baik membangun pace-nya bersama koreografi aksi dan tata suara dari Satrio Budiono terutama di fighting scenes-nya. Dan meski scoring Hario Patih kadang kelewat stirring, penempatan recycled hit MetallicaNothing Else Matters’ dengan aransemen ulang yang dibawakan Maudy Ayunda benar-benar terasa bagus buat penekanan emosinya.

          So, usually stays just as elements, dalam genre-genre utama yang beragam serta kebanyakan lebih mengarah ke drama atau komedi, sekarang kita benar-benar punya entry film Indonesia dalam genre political thriller, yang diwarnai dengan presentasi aksi yang cukup mumpuni pula. Namun yang lebih baik adalah dengan sejumlah kelebihan tadi, ‘2014’ juga bukan jadi sesuatu yang serba tanggung. Yes, feels a bit over the top at times, meskipun masih bisa ditolerir dalam koridor-koridor tampilan filmis bak sejumlah film luar dengan genre sejenis, kekurangannya bukan tak ada, namun semua bisa tertutupi terutama dengan keberanian Hanung-Rahabi menarik garis eksplorasi tema politiknya secara benar-benar relevan, dari referensi karakter, konflik hingga persis seperti tagline-nya, mungkin satu yang terbaik dalam khazanah film kita; ‘Siapa Di Atas Presiden?‘, untuk jadi semakin menarik, seru sekaligus menegangkan. A compelling, fearless and relevant political thriller! (dan)

2014 c

~ by danieldokter on February 27, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: