CHAPPIE : BLOMKAMP’S NICE EFFORT, BUT WASN’T ENOUGH

CHAPPIE

Sutradara : Neill Blomkamp

Produksi : Media Rights Capital, Columbia Pictures, 2015

chappie 2

            Tak ada yang menyangkal bahwa hanya lewat satu karya saja, ‘District 9’, Neill Blomkamp, sineas berdarah Afrika Selatan – Kanada sudah menjadi high profile director di genre sci-fi, sekaligus juga membawa aktor Afsel Sharlto Copley merambah popularitasnya di Hollywood. Apa yang dilakukan Blomkamp di ‘District 9’ memang luarbiasa inovatif. Bukan hanya dalam hal teknis efek CGI yang secara berbeda dan terlihat sangat natural membentuk blend sempurna dengan idenya menggagas sebuah sci-fi dengan multiaspek dari sosiokultural dengan latar kedekatan budaya hingga politik negara asalnya, nyaris menyerupai style dokumenter, ‘District 9’ juga menjadi satu dari segelintir sci-fi dengan nafas humanis yang teramat kuat, bertabur hati dibalik fantasinya.

            Bahkan film keduanya, ‘Elysium’ yang dibesut dengan bujet jauh lebih besar atas kepercayaan yang melambung itu, walau bagi sebagian besar penonton hingga kritikus dianggap sebagai ‘sophomore slump’, tak lantas menghentikan Blomkamp menjadi orang selanjutnya untuk meneruskan franchise ‘Alien’ dengan konsep yang benar-benar terlihat sangat wah sekaligus menampung antusiasme fans-nya. Ada di tengah-tengahnya, ‘Chappie’ pun menjadi sebuah presentasi yang sangat ditunggu dari Blomkamp sejak press release-nya diluncurkan, apalagi dengan prequel shorts-nya sebagai companion. Pertanyaannya sekarang tentulah bagaimana ‘Chappie’ bisa jadi landasan terhadap banyak ekspektasi itu. Di satu sisi, bagus, namun di sisi lain juga sangat menentukan kiprahnya nanti dalam sekuel ‘Alien’ berikutnya.

            Hi-tech police force berbasis teknologi robotik dari perusahaan penghasilnya, Tetravaal, terbukti bisa mengurangi angka kejahatan di Johannesburg. Namun di tubuh perusahaannya sendiri, kesuksesan proyek ini memicu kecemburuan Vincent Moore (Hugh Jackman), pemilik proyek MOOSE yang merasa dikalahkan oleh Deon Wilson (Dev Patel), penemu robot-robot ini. Melanggar larangan atasannya, Michelle Bradley (Sigourney Weaver), Wilson lantas melangkah lebih jauh untuk menciptakan prototype baru dengan A.I. seperti manusia, namun niat ini berujung pada sebuah kekacauan ketika prototype baru itu diculik oleh sekumpulan gangster lokal; Ninja (Ninja), Yolandi (Yolandi Visser) dan Yankie (Jose Pablo Cantillo), yang mengharapkan solusi atas hutang mereka pada Hippo (Watkin Tudor Jones), gangster yang jauh lebih kuat. Seperti seorang bayi baru, prototype yang kemudian mereka namakan Chappie (Sharlto Copley) itu kemudian mereka didik dengan tujuan-tujuan berbeda. Selagi Yolandi membesarkannya bagai seorang ibu di bawah campur tangan Wilson, Ninja dan Yankie malah melatihnya menjadi gangster. Sementara Moore yang belakangan mengetahui keberadaan Chappie di tengah sabotasenya terhadap Tetravaal jelas tak tinggal diam.

            Menggunakan banyak kombinasi formulaik dalam genre sejenis, dari ‘King Kong’ versi robotik, ‘A.I.’ yang dikembangkan dari existence fantasy humanis ala ‘Pinnochio’ ke ‘RoboCop‘ diatas sci-fi ala Blomkamp yang tak juga berubah terlalu jauh sejak ‘District 9’ ke ‘Elysium’, tetap dengan multi POV menyentuh ranah-ranah sosiokultural, ekonomi hingga politik, ‘Chappie’ memang menunjukkan sebuah kekuatan ide yang walaupun dalam konteks karya Blomkamp kerap terasa ‘itu-itu lagi’ namun punya banyak sisi baru untuk bisa jadi sci-fi yang sangat menarik.

            Dan bagusnya, entah mungkin merasa bujet gede dalam ‘Elysium’ cenderung menghilangkan indie factor dalam style naturalistik yang jadi kekuatan terbesar dalam ‘District 9’, Blomkamp yang kembali berkolaborasi dengan partner writer-nya di ‘District 9’, Terri Tatchell beserta segenap kru teknikalnya, termasuk DoP Trent Opaloch, mengembalikan pakem ‘Chappie’ secara sangat indie dan naturalistik. Disini, pendekatannya memang terasa sangat berbeda dengan sci-fi blockbuster studio-studio besar Hollywood, apalagi dengan sentuhan kultural Afrika Selatan, salah satunya lewat dialek, gambaran sosial masyarakatnya yang khas berikut menempatkan dua personil grup rap-rave Afsel ‘Die Antwoord’, Ninja dan Yolandi Visser sebagai cast-nya.

            Sayangnya, ini juga jadi bumerang terhadap storytelling dan presentasi aktingnya. Bukan penempatan cast itu tak sejalan dengan karakter yang diciptakan Blomkamp dan Tatchell dalam skripnya, tapi lebih dari akting Ninja dan Yolandi yang cenderung lemah dalam pendekatan-pendekatan emosional karakter mereka, Blomkamp seakan lupa kepentingan utama tema-tema seperti ini dalam bangunan empatinya. Okay, benar juga bahwa tema-tema yang menjadi dasar formula-nya, dari ‘King Kong’ hingga ‘Pinnochio’ atau ‘RoboCop’ memang kerap dihadapkan dengan unlikely characters dalam batas abu-abu protagonis – antagonis, disini ia menyorot thug life, tak salah, namun sayangnya, baik NinjaYolandi plus Cantillo yang memerankan Yankie, walau secara fisik bisa menyita perhatian, malah jatuh jadi kelewat annoying ketimbang lovable untuk dibenturkan ke aspek-aspek sosio-edukatif perkembangan anak sebagai moral terkuat yang sebenarnya sudah baik sekali di-handle oleh Sharlto Copley dalam voice and motion capture act-nya sebagai ‘Chappie’.

            Dan ini juga tak sepenuhnya terbantu oleh trio Dev PatelHugh Jackman dan Sigourney Weaver dalam komposisi keseluruhan karakterisasinya. Selagi Dev Patel cenderung sangat lemah memerankan Wilson, sang inventor, nyaris gagal menerjemahkan sisi-sisi dramatis yang seharusnya bisa jadi sangat menyentuh, Sigourney Weaver pun tak mendapat porsi cukup atas popularitas namanya. Hugh Jackman cukup bagus, namun sayang juga kelewat dangkal dibentuk sebagai villain tanpa motivasi yang lebih kuat. Nyaris minus dalam sejumlah emosinya, walaupun sudah ada scoring yang bagus dari Hans Zimmer, kekurangan-kekurangan inilah yang akhirnya gagal membangun ‘Chappie’ sebagai sci-fi dalam tema-tema sejenis yang benar-benar kelihatan meyakinkan secara keseluruhan.

            Begitupun, presentasi efek CGI yang digunakan Blomkamp dalam membangun ‘Chappie’ dengan elemen-elemen aksinya, tak lantas begitu saja bisa dikesampingkan. Dengan blend yang bagus terhadap atmosfer sci-fi naturalistik yang membuat kita begitu mencintai ‘District 9’, paling tidak, ‘Chappie’ tetap bisa menjadi sebuah kisah fantasi yang tetap tergelar dengan humanisme yang kuat, serta menjelaskan signature Blomkamp juga di tiap aspeknya. Nice effort, nevertheless, hanya saja, memang belum cukup untuk memenuhi ekspektasi atas kiprah Blomkamp yang diharapkan banyak orang. (dan)

~ by danieldokter on March 11, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: