CINDERELLA : RELIVING DISNEY’S MAGIC

CINDERELLA

Sutradara: Kenneth Branagh

Produksi: Walt Disney Pictures, 2015

cinderella

            Seakan mendapatkan kekuatan mereka kembali lewat ‘Frozen’, apalagi dengan kesuksesan ‘Maleficent’, Disney terus melaju dengan versi live action animated classics-nya. Walau mereka tak mau menyebut lineup live action-nya sebagai remake, dengan berbagai inovasi atas fairy tale source aslinya (mostly lebih ke versi Charles Perrault ketimbang Brothers Grimm), ‘Cinderella’ versi 2015 ini memang lebih setia ke animated classic tahun 1950-nya. Dibesut oleh Kenneth Branagh lewat skrip Chris Weitz, bukan sama sekali tak punya modifikasi, namun yang terlihat benar-benar seperti animasi klasik yang dipindahkan ke live action. So does that mean bad? Oh, nanti dulu.

            Di sisi lain, divisi marketing Disney memang layak diacungi jempol. Trik pemasaran ‘Cinderella’ yang dibandrol dengan animated shortsFrozen Fever’, memanfaatkan fever atas franchise baru yang masih terus bertahan sebagai salah satu produk Disney paling sukses, lebih juara lagi. Tepat ketika hari rilisnya terbukti bisa mendatangkan begitu banyak sambutan penonton, ‘Cinderella’ juga mereka jadikan vehicle untuk langsung mengumumkan lampu hijau ke sekuel ‘Frozen’ yang sangat mungkin sudah direncanakan sejak awal. Melihat sambutannya di beberapa negara yang sudah merilis ‘Cinderella’, bahkan bukan tak mungkin ini akan menjadi ‘Frozen’ tahun ini dalam konteks perolehan box office.

            And yes, this is the classic tale we already knew all these times. Walau bukan seorang putri dari keluarga bangsawan, Ella (Eloise Webb) hidup bahagia di kerajaan kecilnya sendiri bersama ayah-ibu (Ben ChaplinHayley Atwell) dan seluruh penghuni rumah termasuk tikus Jaq and Gus yang menyayanginya. Sayang, beberapa tahun setelah ibunya menderita sakit parah dan meninggal dunia, setelah Ella beranjak remaja (diperankan Lily James), sang ayah menikah lagi dengan janda berhati culas Lady Tremaine (Cate Blanchett) yang memboyong dua putrinya, Anastasia (Holliday Grainger) – Drizella (Sophie McShera) berikut kucing Lucifer yang sama jahatnya. Dan keadaan malah semakin buruk kala ayahnya juga meninggal dalam sebuah perjalanan. Ella pun terpaksa menerima nasibnya diperlakukan tak lebih dari pembantu yang mereka panggil dengan nama ejekan Cinderella (Cinder = abu, sisa arang). Dalam kesedihannya, Ella yang menyendiri ke hutan bertemu dengan Kit (Richard Madden) yang ternyata seorang Pangeran yang bakal menggantikan ayahnya (Derek Jacobi) menjadi Raja. Didorong kesehatannya yang memburuk, sang Raja pun memerintahkan Kit untuk menggelar pesta dansa buat mencari pasangannya. Demi menemukan Cinderella, Kit membujuk penasehat ayahnya (Stellan Skarsgård) untuk mengundang seluruh gadis di wilayah kerajaannya. Namun lagi-lagi rencana Cinderella untuk menghadiri pesta itu kandas akibat ulah ibu dan adik-adik tirinya. Disinilah akhirnya ia disambangi Ibu Peri/fairy godmother (Helena Bonham Carter) yang memberi Cinderella kesempatan dengan kostum cantik, kereta labu lengkap dengan pengawal dan tentu saja, sepatu kaca. The rest, kita semua sudah tahu jalinan kisahnya.

            Apa yang dilakukan Weitz dan Branagh sebenarnya kurang lazim untuk trend sinema sekarang. Selagi semua remake terutama live action revisiting dari dongeng-dongeng klasik berlomba mencoba menciptakan inovasi berbeda seperti yang sudah kita saksikan dalam ‘Snow White and the Huntsman’, produk-produk studio lain bahkan ‘Maleficent’ yang datang dari Disney sendiri (sementara ‘Mirror Mirror’ dari Relativity yang memindahkan Snow White ke live action dengan kesetiaan lebih justru mendapat banyak review negatif), pendekatan mereka malah lebih setia lagi ke source aslinya. Mirip seperti apa yang dilakukan Cannon Films dalam lineup Cannon Movie Tales-nya di tahun ’90-an, mengangkat dongeng-dongeng terkenal ke dalam live action secara linear, walau tetap punya beberapa modifikasi, secara keseluruhan, ini masih sangat berada dalam pakem animated classic-nya.

            Tapi bukan lantas berarti ‘Cinderella’ jadi tak kreatif. Justru Weitz dan Branagh tahu, classic value ceritanya yang memang melebihi fairy tales lain. Oh ya, ini serius, dari referensi yang belakangan diberikannya ke banyak bentuk pop culture termasuk film-film bergenre apapun yang disebut sebagai ‘Cinderella Story’, dari ‘Pretty Woman’ bahkan ‘Fifty Shades of Grey’ hingga masuk ke dalam penelusuran ilmu psikologi, kisah Cinderella memang sudah menjadi sebuah template sama seperti pakem ‘zero to hero’ di ribuan bahkan jutaan cerita. Sebuah dongeng yang tak pernah lekang ditelan zaman. Thus, ketimbang merombak fairy tale-nya disana-sini sebagai sebuah produk reinvention, mereka mungkin lebih merasa perlu untuk ‘mengingatkan’ pemirsanya, untuk lantas memuat blend yang kuat dengan elemen-elemen keajaiban khas yang hanya bisa kita dapatkan di produk-produk Disney sekaligus melengkapi animated classic-nya. Like one of a kind – kingdom yang menemani jutaan anak-anak seluruh dunia tumbuh dewasa dan masih terus menikmati keajaibannya melintasi berbagai generasi, walau sempat hilang dalam sederet filmnya sebelum ‘Frozen’ berhasil mengembalikan kejayaan itu.

            Dan disana pula, moral-moral klise ala fairy tale, here, ‘Have courage and be kind’, yang di tangan orang lain bisa jadi sesuatu yang sangat menjemukan bila diulang-ulang, not even Pixar’s with their latest animation technologies, justru bisa bekerja sebagai remarkable punchline bersama keseluruhan kisahnya. Pemilihan cast-nya adalah satu hal lain yang sangat krusial untuk tendensi-tendensi ini, dan Branagh’sCinderella’ bukan juga punya lineup yang benar-benar sempurna. Di luar Cate Blanchett dan penampilan singkat Helena Bonham Carter yang benar-benar jadi highlight, walau bermain dengan pesona inner beauty secara ekspresif, Lily James, yang sangat mengingatkan kita pada Kate Winslet muda, bukan pula Anne Hathaway dalam ‘Ella Enchanted’ atau Drew Barrymore dalam ‘Ever After’ yang juga pernah menokohkan karakter live action sama dan jelas-jelas lebih punya daya jual, begitu juga halnya dengan Richard Madden. Tapi sebagai sebuah ensemble, termasuk Stellan Skarsgård dan Nonso Anozie, semuanya bisa bekerja dengan bagus mengiringi kekuatan terbesar yang dimiliki Weitz dan Branagh dalam membangun keseluruhan filmnya : Disney’s magic.

            Inilah yang jadi hal terbaik dalam ‘Cinderella’ versi Branagh. Tampil se-magical animated classic-nya, scene demi scene yang dihadirkan sejak awal setelah kita dibuat begitu terpesona dengan ‘Frozen Fever’ yang sama sekali belum kehilangan sisi magisnya, yang dibangun diatas effort luarbiasa production design, Oscar-winning costume designer Sandy Powell, wonderful scoring Patrick Doyle berikut eye-popping VFX-nya, memang benar-benar bisa menerjemahkan keajaiban-keajaiban ala Disney. Begitu mempesona dan membawa pemirsanya ke sebuah dunia dongeng dengan visual experience sungguh berbeda dari yang lain, sekaligus menjelaskan kenapa kita tak pernah bosan mengunjungi Disneyland dengan segala excitement ke closing fireworks atau menonton ulang animasi-animasi klasiknya hingga sekarang. And do stay through the end credits dengan dua lagu yang tetap menorehkan kekuatan Disney dalam pemilihannya, ‘Strong’ dari Sonna Rele dan versi baru theme song klasiknya, ‘A Dream is a Wish Your Heart Makes’ yang dibawakan sendiri oleh Lily James. So enchanting with all Disney’s magic, thisCinderellawill sweep you off your feet. Now go take your loved ones to relive this Disney’s magic! (dan)

~ by danieldokter on March 15, 2015.

2 Responses to “CINDERELLA : RELIVING DISNEY’S MAGIC”

  1. Ini film yg bagus. Gak nyangka aja bisa sebagus ini. Awalnya datang ke bioskop sendirian utk buang2 waktu. Ternyata malah suka. Sayangnya, saya ga sempat mendengar lagu nya Lily James di end credit. Bioskop langsung mematikan layar sih. Oh ya, film ini aman buat ditonton anak kecil. Adegan kissing alias “Cipokan” nya cuman sekali, itu pun gak vulgar.

  2. sangat setuju, film yang mewujudkan keindahan imajinasi. …yang. tertanam. dalam. ingatan. tentang. sebuah. negeri. dongeng……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: