RUN ALL NIGHT : A BADASS ACTION WITH UNDERCOOKED EMOTIONS

RUN ALL NIGHT

Sutradara: Jaume Collet-Serra

Produksi: Vertigo Entertainment, Energy Entertainment, Warner Bros, 2015

run all night

            Setelah ‘Taken’ yang merubah predikatnya sebagai badass oldcrack, hukum ‘Don’t mess with Liam Neeson’ tampaknya masih terus berlaku di film-film luar. Sekaligus jadi resep baku action modern yang kebanyakan ditangani oleh sineas-sineas dalam circle-nya Luc Besson, ‘Run All Night’ juga masih salah satu diantaranya. Datang dari sutradara Jaume Collet-Serra, sineas Perancis yang sudah teruji menangani Neeson dalam ‘Unknown’ dan ‘Non-Stop’, dibalik dominasi adegan aksinya sebagai genre action, ‘Run All Night’ secara mendasar sebenarnya lebih digagas sebagai sebuah crime thriller.

            Hal menarik lain dalam racikannya adalah ensemble cast. Meski tak terlalu dipenuhi bintang, namun menggabungkan Neeson dengan aktor senior yang sama-sama punya suara khas dalam penekanan maskulinitas action characters, Ed Harris, benar-benar memberikan potensi yang sangat menjanjikan. Di tengah mereka, masih ada Joel Kinnaman, aktor Swedia yang menanjak lewat ‘Snabba Cash’ dan cukup sukses meng-handle estafet franchiseRoboCop’ tahun kemarin. Dan dalam trend menarik pangsa penonton dari kalangan African-American, ada rapper Common pula yang turut dijual cukup gede di promonya, selain juga Nick Nolte dan Vincent D’Onofrio.

            Bekerja sebagai algojo sewaan sekaligus berteman sejak lama dengan mantan gembong mafia Irlandia Shawn Maguire (Ed Harris), Jimmy Conlon (Liam Neeson) yang digelari ‘The Gravedigger’ mulai merasa kesepian di hari tuanya dan makin terseret dalam kecanduannya terhadap alkohol. Sepak terjangnya di dunia kejahatan membuat putra satu-satunya, Michael (Joel Kinnaman), mantan petinju profesional yang bekerja sambilan sebagai supir limosin, menolak untuk menerima Jimmy sebagai kakek dari dua putrinya bersama Gabriela (Génesis Rodríguez). Namun semuanya berubah akibat ulah Danny (Boyd Holbrook), putra Shawn, yang memaksa ayahnya kembali melakukan bisnis heroin. Shawn dengan tegas menolak walaupun Danny keburu menerima uang dari kelompok mafia Albania. Michael yang secara tak sengaja menjadi saksi pembunuhan yang dilakukan Danny menyambut kemarahan mafia-mafia Albania itu pun diburu oleh Danny. Demi menyelamatkan Michael, Jimmy terpaksa menghabisi nyawa Danny. Konsekuensinya jelas, bahkan tak lagi memandang persahabatan erat mereka, Shawn meminta hutang nyawa dibayar nyawa. Membawa Michael melarikan diri termasuk dari Detektif polisi Harding (Vincent D’Onofrio) yang sejak lama ingin meringkus Jimmy dengan bukti-bukti kejahatannya selama ini, persahabatan inipun berubah menjadi perang.

            Dibanding franchiseTaken’ yang sudah terlihat capek mengulang-ulang formula ataupun sejumlah action showcase Neeson lainnya, premis dari skrip ‘Run All Night’ yang ditulis oleh Brad Ingelsby sebenarnya cukup potensial menyajikan konten berbeda lewat tema-tema ‘honor and code between mob families’ yang meski sudah jadi template namun bisa dikembangkan jadi elemen drama dengan emosi kuat buat mengiringi action-nya.

            Sayangnya, skrip Ingelsby nyaris tak pernah sekalipun terlihat berhasil memberikan setup dan motivasi yang benar-benar kuat terhadap para karakternya. Jelas tak ada yang salah dengan klise-klise elemen yang sama dalam genre sejenis, ataupun dalam konteks action yang tak mementingkan plot yang lebih berisi. Namun masalahnya plot dasar ‘Run All Night’ membuat keberadaan emosi itu jadi tak begitu saja bisa dilepaskan, dan makin diperparah oleh sejumlah karakter yang dikembangkan cukup sebatas garis-garis tipis di permukaannya saja tanpa pernah dieksplorasi sedikit lebih dalam, termasuk salah satu yang harus susah-payah menampilkan seorang Nick Nolte. Sudah penuh sesak, namun terus ditambah tanpa pengembangan lebih layak dengan masing-masing motivasi redemption dibalik perputaran karma yang lemah. Bukan deretan pemeran intinya tak bermain dengan baik, namun bangunan karakter dalam skrip itu memang mau tak mau mementahkan semua termasuk chemistry baik dalam sempalan dramatisasi father to son antara Neeson – Kinnaman maupun friends become enemies antara Neeson – Harris yang seharusnya bisa meningkat dengan intensitas tajam menuju klimaksnya.

            Ok, usaha ke arah sana memang cukup terlihat dari setup konflik yang dihadirkan Ingelsby lewat penceritaan Jaume Collet-Serra terutama di bagian-bagian awal. Namun mungkin lebih memilih menggampangkan semua demi menyemat predikatnya sebagai genre action, Collet-Serra jadi kerap kehilangan momentum dramatis yang harusnya turut jadi salah satu elemen utama di tema-tema seperti ini. Belum lagi dengan subplot yang penuh sesak dan seperti muncul sedikit dipaksakan. Satu yang terparah adalah kompromisme perolehan penonton dengan menampilkan karakter Common yang sungguh terasa sama sekali tak penting dengan tampilan over the top-nya.

            Begitupun, dalam presentasi action-nya, ‘Run All Night’ tak bisa dibilang gagal. Walaupun nyaris tanpa jiwa, ‘Run All Night’ tetap menyisakan action scenes yang seru, full packed dari car chase, shootouts ke hand to hand combats. Penggarapan teknisnya pun bukan sembarangan, dengan sinematografi yang sangat mendukung atmosfer badass serba maskulin dari Martin Ruhe (‘The American’) serta scoring Junkie XL yang agak berbeda dari biasanya. Badass action yang seru, namun sayang, minim emosi. (dan)

~ by danieldokter on March 26, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: