THE GUNMAN : SEAN PENN’S REBRANDING ATTEMPT AS MIDDLE-AGED ACTION HERO

THE GUNMAN 

Sutradara : Pierre Morel

Produksi : Anton Capital Entertainment, Canal+, Nostromo Pictures, Silver Pictures,, TF1 Films Production, Open Road Films, 2015

the gunman

            Tak bisa disangkal kalau lewat ‘Taken’ yang juga disutradarai Pierre Morel, Liam Neeson sudah berhasil merubah citra sekaligus memunculkan trend middle-aged badass action hero yang diikuti banyak formula serupa. Tak heran kalau lantas banyak aging actors yang dilirik produser untuk mengikuti jejaknya. Namun ‘The Gunman’ adalah kasus yang sedikit berbeda. Datang dari Sean Penn sendiri yang masuk sebagai penulis sekaligus salah satu produser bersama Joel Silver berdasar novel ‘The Prone Gunman’ karya Jean-Patrick Manchette, ini memang seperti ambisi pribadinya buat jadi satu dari kontender genre tadi. However, dalam histori karirnya di genre aksi, Penn sebenarnya memang jauh lebih potensial dibandingkan Neeson. Dari ‘Bad Boys’ di awal-awal karirnya hingga ‘Colors’ yang jelas sangat badass, Penn jelas punya bakat itu, walaupun posturnya yang bukan tinggi besar mungkin kalah meyakinkan.

            ‘The Gunman’ dimulai dengan plot cinta segitiga yang sangat generik antara Jim Terrier (Sean Penn), tentara bayaran yang diupah menjaga aktifitas pertambangan di tengah kerusuhan Kongo tahun 2006, kekasihnya Annie (Jasmine Trinca) yang bertugas sebagai relawan medis dan Felix (Javier Bardem), pengusaha sekaligus kontraktor yang diam-diam menginginkan Annie. Mengumpankan Terrier ke sebuah misi rahasia pembunuhan seorang menteri, Felix akhirnya berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. Yang tertinggal adalah Terrier yang dengan terpaksa harus meninggalkan Kongo dan Annie tanpa jejak hingga beberapa tahun kemudian saat ia kembali ke Kongo sebagai relawan, misi masa lalu itu balik menjadikan Terrier dan rekan-rekannya sebagai sasaran balik. Sadar satu-persatu dari mereka menjadi buruan, Terrier pun menggunakan seluruh kemampuannya untuk mengungkap konspirasi yang terjadi.

            Sebagai adaptasi dari novel, mau tak mau ‘The Gunman’ memang berhadapan dengan subplot yang sangat penuh sesak untuk dituangkan dalam durasi film, dari soal persahabatan, kisah cinta, kisah-kisah mercenaries di tengah politik negara dunia ketiga ala ‘The Wild Geese’ hingga civil war dan intrik spionase sebagai lapisan teratasnya. Sementara dalam tendensi utama, bangunan action-nya juga menjadi concern yang tak mungkin bisa ditinggalkan bersama sederet ensemble cast yang memang cukup menjual.

            However, skrip yang ditulis oleh Penn sendiri bersama Don Macpherson, penulis Inggris senior yang dalam waktu dekat bakal berkolaborasi bareng John Woo, Terrence Malick hingga Martin Scorsese, dan Pete Travis dari ‘Vantage Point’ dan ‘Dredd’ sebenarnya sudah membangun kerangkanya dengan cukup rapi. Dalam banyak hal bisa jadi terasa seperti dua atau tiga genre thriller dan action berbeda yang dijahit jadi satu meninggalkan satu-dua diantaranya hanya sebatas tempelan, namun juga punya pace dan keterkaitan yang tak kalah bagus. Subplot berlatar medis soal PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)-nya juga masuk dengan baik bersama satu hal baru soal penggunaan ammoniac inhalant / smelling salts di final showdown-nya, which is really, really, badass.

            Selagi Pierre Morel jelas tak diragukan lagi membesut badass middle-aged action dalam style action kontemporer ala film-film Luc Besson, salah satu kredit lebihnya harus diberikan pada DoP Flavio Martinez Labiano yang belum punya banyak kredit dalam karirnya. Membesut badass action dengan detil-detil shot bagus yang juga sangat memberi penekanan terhadap latar belakang karakter-karakternya, grainy looks dengan shaky-cam ala franchise Bourne membuat adegan-adegan aksi lintas negara dalam ‘The Gunman’ menjadi sangat intens menuju klimaks seru di arena matador. Tight paced editing dari Frédéric Thoraval juga sama baiknya dalam menghadirkan sisi ini hingga ke no holds barred climax-nya.

            Di deretan cast-nya, baik Ray Winstone, Mark Rylance hingga Javier Bardem dan Idris Elba yang walaupun lagi-lagi mendapat perlakuan spesial dalam sisi jualan ke pangsa penggemarnya, menyenggol inisial JB atas opini-opini yang menganggapnya sangat pantas jadi kontender African-American James Bond, masing-masing punya sisi kuat menambah dayatariknya secara keseluruhan. As the only female lead di tengah pria-pria gaek tapi badass ini, Jasmine Trinca juga hadir dengan pesona lebih ke tampilan fisiknya.

           Namun hal terbaik dalam ‘The Gunman’ tetaplah Sean Penn yang secara cukup mengejutkan bisa bertransformasi dengan best looking shape di tengah usianya yang sudah kelihatan sangat menua. Muncul dengan konsistensi penuh diatas ambisi tadi, bermain dengan kualitas action hero yang tangguh tanpa meninggalkan kemampuan award-winning acting seperti biasanya, Penn menunjukkan bahwa dirinya bisa menyaingi aktor-aktor old crack lain yang sudah lebih dulu terjun sebagai action lead ke genre baru yang tengah jadi trend ini. So yes, if you’re really looking for a middle-aged badass action, ‘The Gunman’ adalah salah satu juara yang tak boleh begitu saja dilewatkan. Bagus! (dan)

~ by danieldokter on April 5, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: