FILOSOFI KOPI : A FULL-FLAVORED CUP CALLED LIFE

FILOSOFI KOPI 

Sutradara : Angga Dwimas Sasongko

Produksi : Visinema Pictures, 2015

filosofi kopi

            Lebih dari sekedar minuman, kopi memang sudah berkembang jadi sebuah kultur. Bukan saja bagi lapis demi lapis skup industri dan penikmatnya, tapi juga bagi sebutan ‘barista‘ dibalik orang-orang yang berjasa meracik rasa di dalamnya. Diangkat dari cerpen karya Dewi Lestari alias Dee yang termuat dalam novel kumpulan cerpen berjudul sama, ‘Filosofi Kopi’ mungkin merupakan coffeeporn pertama dalam konteks film cerita fiksi. Seperti novelnya yang memuat banyak filosofi hidup dalam quote-quote sejenis ‘life is like a cup of coffee’, berdasar genre, ia tetaplah sebuah drama. Namun penggagasnya, sutradara Angga Dwimas Sasongko memang tak pernah bercanda dalam penyajian visual buat menyemat semua filosofi itu ke dalamnya. Tak salah bila Dee mengatakan bahwa ceritanya telah menemukan jodoh yang tepat di tangan Angga yang kemudian tak sekedar mengadaptasi, tapi mengembangkan cerita pendek itu ke dalam interpretasi-interpretasi baru ke dalam skrip yang ditulis oleh Jenny Jusuf.

            Melalui riset cukup panjang yang membawa sebagian cast utamanya mempelajari seluk-beluk pengenalan hingga pembuatan kopi selama berbulan-bulan, ‘Filosofi Kopi’ juga hadir dengan terobosan baru ‘user generated movie’ berupa aplikasi-aplikasi berbasis internet smartphone yang melibatkan kontribusi para penggunanya dalam penentuan visual lewat properti dan elemen-elemen artistik sampai meracik musik, roadshow, concept OST album, live concert hingga coffee truck dan kedai kopi permanen di bilangan Blok M, Jakarta. So yes, lebih dari deretan cast utamanya yang memang sangat menjual, effort-effort itu memang membuat film dengan tagline catchy, ‘Temukan Dirimu Disini’ ini jadi sangat menarik.

            Walau bersahabat sejak kecil, Jody (Rio Dewanto) dan Ben (Chicco Jerikho) kerap berseberangan soal nyawa kedai kopi ‘Filosofi Kopi’ yang mereka bangun bersama-sama. Selagi Jody yang penuh presisi selalu memikirkan pergerakan modal yang sudah ditanamkannya sejak awal, Ben yang berjiwa bebas punya idealisme tak kenal kompromi dalam racikan rasa yang sempurna. Dibalik semuanya, Jody juga harus berjuang dengan hutang yang ditinggalkan almarhum ayahnya, sementara Ben menyimpan trauma panjang terhadap sang ayah (Otig Pakis) yang mewariskannya keahlian itu. Ketika seorang pengusaha (Ronny P. Tjandra) datang memberikan tantangan dengan jumlah imbalan yang bisa menyelesaikan semuanya,  muncullah El (Julie Estelle), internationally acclaimed food blogger – pakar kopi ke tengah-tengah mereka. Mempertentangkan racikan Ben yang selama ini dianggapnya sebagai signature-nya yang sempurna dengan Kopi Tiwus racikan sederhana keluarga Seno (Slamet Rahardjo DjarotJajang C. Noer) yang ada di sebuah pelosok pegunungan, sebuah perjalanan penuh konflik pun dimulai. Resikonya adalah persahabatan panjang Ben dan Jody diatas rahasia-rahasia masa lalu yang mulai terkuak satu-persatu.

            Oke. ‘Jelangkung 3’ mungkin hanyalah sebuah awal. Namun lewat ‘Hari Untuk Amanda’ dan last year’s award-winning hit, ‘Cahaya dari Timur : Beta Maluku’, Angga Dwimas Sasongko sudah menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang storyteller terbaik yang kita miliki di perfilman Indonesia. Walau dibingkai dengan visual coffeeporn penuh passion sekaligus luarbiasa informatif lewat skrip Jenny Jusuf yang sangat detil dan penuh punchlines, kisah simpel tentang pertentangan obsesi dan cinta diatas friendship bromance, father to sons/daughter dan making peace with the painful past ini tak sekalipun meninggalkan emosinya di belakang.

         Dengan keseimbangan yang pas, kedua elemen ini bergerak diatas sinergi luarbiasa memaparkan tiap metafora dan interkoneksinya dengan sangat baik. Selagi Angga menyajikan visual penuh rasa yang menggugah indera pengecap kita saat menyaksikan adegan-adegan karakternya menyeruput kopi serta aromanya sebagai sebuah coffeeporn yang kuat dan jarang-jarang ada, menerjemahkan ide dasar Dee tentang kopi dengan ragam rasa berbeda diatas biji yang sama bersama benturan-benturan kehidupan, skrip Jenny Jusuf melakukan semuanya tak kalah baik. Pengenalan karakternya dibalut dengan bingkai komedi yang renyah sebelum konfliknya dimunculkan secara bertahap buat menjelaskan masing-masing background konflik itu secara detil dengan adukan emosi, semuanya  dalam batasan realita yang masih terasa wajar bersama relatable characters dan penyampaian yang sangat komunikatif. Like coffee and life with its bittersweet reality, seperti secangkir kopi yang lebih punya cinta ketimbang obsesi, kombinasi racikan ini muncul tak hanya penuh warna, tapi juga rasa. Terkadang emosional, tapi secara keseluruhan, heartwarming.

            Dalam penggarapan teknis, ‘Filosofi Kopi’ juga hadir dengan sejumlah keunggulan. Sinematografi dari Roby Taswin, tata artistik dari Keris Kwan, Rio Aldanto dan Yusuf Kaisuku, walaupun bukan nama-nama yang biasa menghiasi film kita, berhasil menyajikan tampilan sinematis dengan kombinasi rasa yang berbeda. Dan jangan lupakan juga betapa scoring dari Glenn Fredly bersama pilihan-pilihan soundtrack-nya yang diisi oleh Dewi Lestari, Maliq and d’Essentials, Sidepony, Gilbert Pohan, serta Svarna, folk band yang terpilih lewat audisi user generated #NgeracikMusik –nya dan Glenn sendiri juga turut menyumbang ragam terhadap keseluruhan rasanya, bahkan sampai ke dua additional scene di kredit akhirnya.

            Lantas tentu saja komposisi cast yang tepat. Bersama cameo-cameo menarik yang menampilkan Joko Anwar, Baim Wong, Tara Basro, Bebeto Leutualy (pemeran Salembe dalam ‘Cahaya Dari Timur’), Ronny P. Tjandra and mostly Tanta Ginting sebagai juaranya, karakter Pak Seno yang diperankan Slamet Rahardjo Djarot memberi sentuhan kuat sebagai penyeimbang perspektif dalam tema konflik ayah – anak-nya, plus Jajang C. Noer dan walau sedikit kelewat teatrikal, Otig Pakis. Sebagai El, Julie Estelle juga tampil sangat atraktif seperti biasanya. Namun hal terbaik dalam ‘Filosofi Kopi’ jelas ada pada performa Chicco Jerikho dan Rio Dewanto. Tampil dengan no holds-barred chemistry menerjemahkan friendship gestures berikut ledakan-ledakan konflik utama dibalik kekuatan karakter masing-masing yang bekerja membentuk konklusi akhirnya, bahkan mungkin satu yang terbaik dan pernah ada dalam sinema kita, flow storytelling Angga yang sudah kuat jadi benar-benar sempurna lewat chemistry mereka. Just like the famous coffee quote, ‘Good coffee is a pleasure, good friends are a treasure’, chemistry ini benar-benar sebuah treasure.

            So welcome to one of the finest Indonesian movie so far this year, yang lagi-lagi datang dari kolaborasi Angga dan Chicco seperti ‘Cahaya dari Timur’ tahun kemarin. Di tengah perjuangan film kita untuk terus mempertahankan eksistensinya dari kepercayaan penonton dan gempuran blockbuster luar, ‘Filosofi Kopi’ sudah hadir tak hanya dengan inovasi konten tapi juga pemasaran yang unik. Mari tak begitu saja melewatkannya. Like a smooth blend in your favorite cup of coffee, ‘Filosofi Kopinot only warm your heart and feed your soul, but also will knock you full-flavored. The ultimate one called life. (dan)

~ by danieldokter on April 10, 2015.

2 Responses to “FILOSOFI KOPI : A FULL-FLAVORED CUP CALLED LIFE”

  1. yang jadi kasir nya (yang suaminya kecelakaan ) itu siapa ya?

  2. […] FILOSOFI KOPI (Visinema Pictures; ANGGA DWIMAS […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: