GURU BANGSA TJOKROAMINOTO : A LAVISH, GRAND AND EFFECTIVE HISTORICAL OPERA

GURU BANGSA TJOKROAMINOTO 

Sutradara : Garin Nugroho

Produksi : Pic[k]lock Production, Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto, MSH Films, 2015

tjokroaminoto

            Kecenderungan tema biopik dalam industri film kita tanpa konsistensi hasil yang baik mungkin membuat sebagian penonton jadi skeptis terhadap genre-nya. Selagi rata-rata mempermasalahkan durasi yang hampir selalu panjang hingga dianggap melelahkan, masalah utamanya sebenarnya ada di batasan-batasan penceritaan yang dipenuhi keraguan antara efektifitas atas interpretasi dan tujuan, sementara tetap ada kepentingan jualan dibaliknya. Belum lagi distraksi-distraksi atas keberadaannya sebagai film ‘pesanan’, meski ini tak juga berarti selalu salah.

        Okay. Nama Yayasan Keluarga Besar subjeknya memang menandakan bahwa ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’, lagi-lagi adalah sebuah ‘pesanan’. Soal cast yang lagi-lagi harus melulu diisi deretan aktor terkenal tanpa memikirkan kemiripan demi kepentingan jualan juga seringkali jadi sandungan. Tapi jangan lupa, sejarah, apalagi yang menyangkut orang-orang yang sudah bersusah payah memberikan sumbangannya untuk kelahiran bangsa ini, tetap merupakan sesuatu yang penting untuk dibahas. Dalam skup rasa kebangsaan kita yang masih sangat kurang, terlebih pendidikan sejarah perjuangan bangsa yang jadi pelajaran wajib di tiap fasilitas pendidikan formal bernama sekolah, seringkali berakhir sebatas masuk kiri keluar kanan, efektifitas informasi dan relevansi-relevansi penceritaannya pada akhirnya menjadi concern terbesar buat hasil keseluruhannya.

            Masalahnya lagi, ini adalah filmnya Garin Nugroho, yang meski sebagai sineas diakui sampai kemana-mana, tapi kenyataannya, punya masalah komunikatif ke rata-rata penonton awam yang jelas jadi sasaran terbesar buat tendensi film-film seperti ini. Bukan Garin tak pernah mencoba, tapi ‘Soegija’, di luar sekedar keindahan tampilan, juga harus diakui sebagai sebuah kegagalan bercerita. Tapi untunglah, dengan semua elemen-elemen tadi, termasuk gaya bertutur Garin yang juga tetap tak lantas jadi berubah drastis, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ sepenuhnya adalah sebuah kasus beda. Menyemat riwayat panjang kehidupan, ideologi hingga perjuangan Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto sebagai sentralnya, ini ada di pencapaian yang jauh berbeda dengan ‘Soegija‘, sekaligus usaha yang konsisten dalam menghasilkan karya yang baik dari produser Dewi Umaya bersama Pic[k]lock Production-nya (‘Minggu Pagi di Victoria Park‘, ‘Rayya: Cahaya di Atas Cahaya‘)

            Meski lahir sebagai kaum bangsawan Jawa dengan latar keislaman yang kuat, Tjokroaminoto (dewasanya diperankan Reza Rahadian) tak lantas menjadi tidak peduli terhadap kondisi rakyat yang terjajah pada masa kolonialisme Belanda tahun 1900-an semasa ia bekerja dengan Belanda. Kemiskinan dan kesenjangan sosial selepas Tanam Paksa dan awal Politik Etis membuat Tjokro memilih melawan keinginan orangtuanya (Sudjiwo TejoMaia Estianty) bahkan meninggalkan istrinya, Suharsikin (Putri Ayudya) untuk berhijrah, kata yang kemudian menjadi kata kunci perjuangannya, dengan ikut memperjuangkan nasib, hak serta martabat bangsanya. Ketimbang mengangkat senjata, ia lebih memilih perjuangan ideologi lewat tulisan-tulisannya di surat kabar serta orasinya di depan rakyat. Namun puncaknya adalah pembentukan organisasi Sarekat Islam dari Sarekat Dagang Islam yang menjadi organisasi bumiputera pertama berdasar paham-paham Islam di tanah Hindia Belanda. Bukan saja jadi organisasi terbesar dengan lebih dari dua juta anggota, perjuangan Tjokro juga jadi awal lahirnya tokoh sekaligus pelopor pergerakan kebangsaan. Di tengah kekhawatiran pihak kolonial, pengaruh berbagai ideologi luar dan ancaman perpecahan dari dalam akibat perbedaan pemikiran tiap lapis kaum yang bergabung di dalam Sarekat Islam, rumah sederhana Tjokro di Gang Peneleh, Surabaya, menjadi cikal bakal para pengikutnya untuk meneruskan cita-cita Tjokro membentuk bangsa dengan rakyat yang sejahtera dan penuh martabat.

            Dengan penceritaan kronologis serta durasi yang memakan waktu 160 menit, yang memang sulit dihindari dalam genre sejenis, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ tak lantas terlepas sepenuhnya dari gaya tutur Garin yang tak biasa. Namun memilih untuk menggelar biopik ini dengan gaya historical opera, lengkap dengan adegan-adegan musikal yang disemat secara tak terduga namun cantik luarbiasa dibalik tata koreografi tak kalah bagus, bahkan sempalan humor, filmnya tak lantas menjadi sesuatu yang kelihatan absurd. Seolah sekali ini mau berkompromi lebih jauh dengan kemauan orang-orang yang ada dibalik produksinya,  di tangan yang tepat, Garin justru menemukan formula yang pas bersama visi uniknya selama ini. Disini, akting-akting teatrikal, komikal hingga adegan-adegan musikalnya bisa menyatu dengan baik dengan sisi lain yang lebih realistis diatas bangunan karakter-karakter utama hingga sampingan yang semuanya ikut menjelaskan latar historis berikut ekses kolonialisme tanpa lepas terlalu jauh menjadi gaya parabel tanpa fokus kuat ke subjeknya. Bahkan di ‘Mata Tertutup’ yang penceritaannya sangat komunikatif dibanding film-filmnya yang biasa, Garin belum pernah sesempurna ini mengkombinasikan elemen-elemennya buat jadi sesuatu yang benar-benar berbeda.

           Setup ke karakter Tjokro sendiri benar-benar dibangun dengan sangat baik lewat naskah yang ditulis oleh alm. Ari Syarif dan Erik Supit berdasar ide cerita yang dikembangkan bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh, Kemal Pasha Hidayat dan Garin sendiri, tanpa harus berinovasi kelewat idealis hingga berpotensi membuatnya jadi tak komunikatif terhadap pemirsanya. Kekejaman pihak kolonial Belanda yang digambarkan gamblang dibalik trauma masa kecil Tjokro yang memberi motivasi kuat untuk perjuangannya digelar bertahap ke pandangan-pandangan egaliter, antifeodalisme, pluralis serta antikekerasan diatas dasar ideologi Islami yang kuat tanpa lantas kelihatan pretensius, preachy ataupun jatuh jadi kelewat klise. Sebagian ledakan-ledakan emosinya boleh jadi terlihat komikal dibalik dialog-dialog yang juga terkadang cukup verbal termasuk soal hijrah sebagai kunci, tapi juga berada di batas serba humanis dengan penekanan kuat terhadap ajarannya dibalik gelar ‘guru bangsa’ yang disandang Tjokro. Sementara karakter-karakter sampingannya, baik yang nyata maupun fiktif terus memberikan perspektif dan metafora yang tak perlu jadi terlalu njelimet buat mendistraksi karakter Tjokro yang sudah sangat kuat sebagai fokus utamanya. Semua berada dalam batasan informasi yang sangat nyaman buat diikuti diatas dialog-dialog penuh punchlines membuat kita lebih mengenal sosok subjek berikut tokoh-tokoh hingga pahlawan penting yang ada di dalamnya, bahkan lebih dari sekedar pelajaran sejarah perjuangan bangsa yang selama ini diajarkan lewat buku teks. Yang tak rajin membaca pasti tak tahu bahwa Soekarno adalah salah satu murid Tjokro, bahkan menikah dengan putrinya. Selain itu, ia masih pula punya relevansi memetakan politik dan kehidupan bangsa serta integritas pemimpin yang terus dipertanyakan banyak orang hingga saat ini.

            Namun hal terbaik dalam ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ tetaplah sebuah kesempurnaan penggarapan dengan kerapian yang luarbiasa. Production values dibalik rancangan produksi Ong Hari Wahyu sangat menjelaskan bujet besar pembuatannya dengan pantas, digagas dengan kecermatan tinggi sekaligus membawa seluruh kru ke level pencapaian terbaik dalam karir mereka. Tata kamera dari Ipung Rachmat Syaiful seolah berpuisi dengan bahasa-bahasa gambar. Tata artistik Allan Sebastian, tata rias Didin Syamsuddin dan kostum dari Retno Ratih Damayanti memberikan detil-detil mengagumkan dibalik set yang penuh akurasi. Editing Wawan I. Wibowo, scoring Andi Rianto bahkan efek khusus oleh Satria Bayangkara yang tak perlu berusaha kelihatan bombastis tapi secara proporsional ditempatkan dalam kepentingan yang layak, semuanya hadir luarbiasa remarkable.

            Bersama pencapaian teknis itu, komposisi cast-nya pun membentuk sinergisme dengan blend tak terbayangkan dari yang serius, komikal hingga teatrikal, dari karakter nyata ke karakter-karakter fiktif yang membingkai kisah utamanya, menjadi sebuah pameran akting yang sangat mumpuni. Reza Rahadian lagi-lagi menunjukkan unpredictable result dari kekuatan aktingnya dengan gestur dan dialek yang pas, didukung permainan terkuat dari pendatang baru Putri Ayudya yang memerankan Suharsikin. Sementara Deva Mahenra sebagai Koesno/Soekarno muda, Tanta Ginting sebagai Semaoen dan Chelsea Islan yang sangat kuat di bagian-bagian akhir penampilannya sebagai Stella yang mempertanyakan ambiguitas identitas penting yang masih relevan hingga sekarang bersama sederet dialog-dialog memorable-nya ada di lini berikutnya. Lantas masih ada Christoffer Nelwan sebagai Tjokro muda, Ade Firman Hakim (Musso), Ibnu Jamil (Agus Salim), Sudjiwo Tejo dan Maia Estianty, Egy Fedly, Didi Petet ke karakter-karakter fiktif yang diperankan Alex AbbadChristine Hakim dan Gunawan Maryanto sebagai Cindil bersama seniman ludruk Jawa Timur sebagai scene stealer terkuatnya, Unit yang memerankan Mbok Tun. Jangan lupakan juga sematan penghargaan terakhir buat alm. Ari Syarif dan Alex Komang.

            Dengan semua remarkable elements, rata-rata dengan dedikasi sebaik ini, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ memang berhasil membentuk sebuah ensemble dengan tampilan sinematis yang luarbiasa mengagumkan. Lihat bagaimana perjalanan menuju konklusinya diakhiri dengan kalimat penutup yang hadir dengan begitu menggetarkan. “Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni tauhid”, diikuti epilog dengan guliran old photographs yang benar-benar bisa menggugah pemirsanya terhadap apa yang sudah dimulai Tjokroaminoto bagi bangsanya.  In years, seriously, kita sudah cukup lama tak punya biopik sejarah dengan pencapaian setinggi ini. Lavishly made, effectively told and wonderfully acted, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ is simply a classic. A cinematic grandeur! (dan)

~ by danieldokter on April 14, 2015.

4 Responses to “GURU BANGSA TJOKROAMINOTO : A LAVISH, GRAND AND EFFECTIVE HISTORICAL OPERA”

  1. Dear Mas Daniel,
    Review diatas menghilangkan keraguan, dan jadi semangat mengajak anak ! Thank you……

  2. My pleasure. Sama-sama.

  3. […] Read the full review here. […]

  4. […] GURU BANGSA TJOKROAMINOTO (Pic[k]lock Productions, Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto, MSH Films; GARIN […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: