TUYUL PART 1 : A DIFFERENT TAKE ON OUR LOCAL HORROR GENRE

TUYUL PART 1 

Sutradara : Billy Christian

Produksi : Renee Pictures

tuyul part 1 film

            Sebagai salah satu genre paling digemari disini, sayangnya kita hanya punya segelintir horor lokal dengan pencapaian bagus dalam standar rating-nya, bahkan cukup sulit untuk menyebutkan 10 saja film terbaiknya dalam beberapa dasawarsa terakhir. Selain sebagian besar asal jadi dalam hal kepentingan jualan semata, kebanyakan juga melulu diisi oleh elemen seks atau komedi yang makin membuat eksistensi genre-nya benar-benar buruk dalam perfilman nasional kita.

         Tapi ‘Tuyul Part 1’, yang direncanakan menjadi bagian pembuka dari sebuah trilogi oleh Gandhi Fernando dan Renee Pictures, memang punya inovasi yang agak beda dari yang sudah-sudah. Sejak trailer-nya diluncurkan, ada effort yang sudah terlihat dari cara mereka mengemas mitos klasik terhadap subjeknya. Bila sebelumnya digambarkan sebagai orang kerdil berkepala gundul yang dihidupkan dari patung batu dalam gua misterius lewat ‘Tuyul’ (1978 ; arahan Pitrajaya Burnama yang cukup unik mengkombinasikan komedian Darto Helm dan aktor Muni Cader), berlanjut ke ‘Tuyul Perempuan’ (1979, Sofyan Sharna dengan skrip masih dipegang Pitrajaya Burnama) dan ‘Tuyul E’eh Ketemu Lagi’ (1979, Lilik Sudjio) yang meski punya tone lebih komedik bersama sejumlah sinetron-sinetronnya, disini pendekatannya adalah sebuah creature feature yang masih cukup jarang ada di genre horor kita.

             Mitos asal Tuyul dari janin ibu yang keguguran juga mereka pindahkan ke nafas ‘Rosemary’s Baby’ (1968, Roman Polanski) yang sudah berkembang menjadi template thriller psikologis dalam genre horor, plus latar belakang budaya Jawa sebagai asal mitosnya dengan sedikit bumbu baru soal ‘genie in a bottle’. So yes, ditambah tampilan efek dan creature mock-up yang cukup rapi, ‘Tuyul Part 1’ ini memang menarik untuk disimak lebih jauh.

             Memperjuangkan posisinya sebagai kepala proyek di sekitar perkebunan teh daerah pegunungan, Daniel (Gandhi Fernando) dan istrinya Mia (Dinda Kanya Dewi) yang tengah mengandung anak pertama terpaksa pindah ke rumah peninggalan orangtua Mia disana. Keanehan-keanehan mulai terjadi setelah penemuan botol misterius di salah satu kamar rumah itu. Merasa keanehan-keanehan yang juga melibatkan tetangganya, Karina (Citra Prima) dan Bi Inah (Inggrid Widjanarko), abdi setia keluarga mereka hingga Daniel sendiri mulai mengancam keselamatan bayinya, Mia pun mulai menyelidiki rahasia yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh almarhumah ibunya (Karina Nadila).

           Selain effort penyutradaraan Billy Christian yang memang ada di level berbeda dari kebanyakan sutradara yang kerap menangani genre sejenis, usaha lebih juga terasa sekali datang dari skrip yang ditulis keroyokan oleh Luvie Melati, Gandhi dan Billy sendiri. Di tangan mereka, kombinasi antara pendekatan creature feature dan thriller psikologis ala ‘Rosemary’s Baby’ tadi memang bisa membentuk racikan yang berbeda. Plot yang memuat bangunan-bangunan suspense hingga sepenggal twist yang menjadi jalan pembuka ke sekuelnya dikemas cukup rapi, mengundang rasa penasaran dengan tahapan-tahapan yang juga wajar. Ada respek lebih terhadap genrenya disana, termasuk dengan elemen penting mitosnya soal yuyu yang tak pernah lupa ditampilkan di sebagian versi pendahulunya. Tak juga serba melompat-lompat dengan sekedar menawarkan jumpscares seperti rata-rata film di genre yang sama, tapi cukup solid memainkan genrenya lewat atmosfer.

             Penggarapan teknisnya juga tampil sama baiknya. Selain tata kamera Gunung Nusa Pelita yang bisa memanfaatkan dominasi ruang sempit set-nya lewat angle-angle yang ikut membangun atmosfer horor secara cukup mencekam, tata artistik dari Aek Bewafa juga sangat layak mendapat kredit lebih. Scoring Andhika Triyadi boleh jadi kelihatan agak generik di bagian-bagian awal, namun berubah drastis di perempat akhir, scoring dengan permainan shrieking strings, juga sesuatu yang masih jarang ada di film-film horor lokal, justru sangat memperkuat atmosfernya secara keseluruhan. Selebihnya, tentulah creature mock-ups dan tambahan efek yang lagi-lagi, dalam ukuran film horor kita rata-rata, selain punya proporsi pas untuk digeber di bagian-bagian akhir, jelas juga berhasil memberikan interpretasi baru buat tampilan subjeknya.

            Begitupun, bukan berarti ‘Tuyul Part 1’ tak punya kekurangan. Akting kuat Dinda Kanya Dewi yang memang jadi poin krusial untuk menghidupkan pendekatan thriller psikologisnya, begitu juga Citra Prima dan Inggrid Widjanarko yang cukup baik sebagai template characters dalam konteks genrenya, sayangnya tak bisa sepenuhnya diimbangi secara sempurna oleh Gandhi, terutama di bagian-bagian turnover karakternya. Untungnya, kekurangan ini tak sampai membuat pencapaian-pencapaian storytelling, bangunan atmosfer serta teknis tadi jadi tertinggal di belakang. Tetap menjadi elemen-elemen yang remarkable dalam kebanyakan horor lokal kita, ‘Tuyul Part 1’ jelas ada di kelas yang berbeda. A different take on our local horror genre. (dan)

~ by danieldokter on April 16, 2015.

2 Responses to “TUYUL PART 1 : A DIFFERENT TAKE ON OUR LOCAL HORROR GENRE”

  1. OMG ini horor terseram keren-keren

  2. […] horor yang biasanya lebih banyak diwarnai flaws dalam deretan film-film kita, baik ’Badoet’, ’Tuyul Part 1’, dan surprisingly, sebuah claustrophobic – almost a single set horror ber-subjudul agak nakal, […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: