BULAN DI ATAS KUBURAN : AN IRONICALLY RELEVANT ‘BIG VILLAGE’ SARCASM

BULAN DI ATAS KUBURAN 

Sutradara : Edo W.F. Sitanggang

Produksi : MAV Production, Sunshine Pictures, FireBird Films, 2015

bulan di atas kuburan

            Sejak ‘Big Village’ (1969) -nya Usmar Ismail yang begitu berhasil dikemas sebagai kritik sosial berisi sketsa Jakarta dengan gambaran keresahan masyarakat ibukota di zaman itu, ada banyak sekali film-film yang menggunakan template yang sama dari era ’70 ke ‘80an. Kritik sosialnya kemudian semakin meluas dengan sasaran yang sama ; kekejaman ibukota, yang rata-rata dilihat dari kacamata kaum pendatang. Kebanyakan dibalut konklusi tragis dimana impian-impian karakternya diluluhlantakkan oleh kerasnya perjuangan kehidupan. Walau belakangan tergelincir ke tema-tema pelacuran demi kepentingan jualan, sebagian masih ada yang tampil baik. But really, tak banyak yang bisa menampilkan subjeknya, Jakarta, lebih dari sekedar latar, sebagai pemeran antagonis melebihi karakter-karakternya.

            ‘Bulan di Atas Kuburan’ film tahun 1973 karya Asrul Sani yang diinspirasi oleh sajak ‘Malam Lebaran’ buah tangan penyair legendaris Sitor Situmorang, bukan hanya menjadi salah satu diantara segelintir yang punya pencapaian itu, sekaligus boleh dikatakan salah satu pionir tema urbanisasi dalam sudut pandang kaum pendatang. Sama uniknya dengan hanya sebaris larik, ‘Bulan di Atas Kuburan’, film yang diproduseri Syuman Djaya itu mengangkat latar belakang budaya Batak Toba Samosir, daerah asal Sitor dengan kuat lewat tiga karakter sentralnya.

        Benar-benar mengalir seperti kuburan dengan eksplorasi konflik yang luarbiasa gelap serta pesimistis, mungkin ada alasan mengapa Tim Matindas dengan Sunshine Pictures bersama MAV Production dalam film produksi mereka yang kedua setelah ‘Toilet Blues’ begitu tertarik untuk menggagas remake-nya. Yang jelas, dari publisitas-publisitas pendahulunya, kita bisa melihat bahwa pendekatannya mereka lakukan dengan penuh respek ke film tahun 1973 tersebut. Plotnya boleh dikembangkan tak persis sama dengan tambahan karakter serta penyesuaian kritik sosialnya ke masa sekarang, namun screen shots deretan cast yang mereka sandingkan dengan versi lamanya sudah menunjukkan, bahwa benang merah terkuat yang menjadi motivasi pembuatan ulangnya, adalah sebuah relevansi.

               Melihat Sabar (Tio Pakusadewo) yang memamerkan kesuksesannya sebagai pengusaha batu bara setelah merantau ke Jakarta, Tigor (Donny Alamsyah) dan Sahat (Rio Dewanto), dua pemuda kampung dari Samosir yang punya impian masing-masing pun tergiur untuk mengikuti jejaknya. Namun Jakarta sama sekali tak seperti yang mereka pikirkan. Walau bersedia menampung mereka setelah ditolak oleh kerabat Sahat (Dayu Wijanto), Sabar ternyata hanyalah pengangguran oportunis yang hidup di gang kumuh bersama istrinya, Minar (Ria Irawan). Tigor dan Sahat pun bertahan di tengah kerasnya kehidupan ibukota dengan cara masing-masing. Bekerja sebagai sopir angkot, Tigor kemudian terjebak menjadi preman di tengah hubungannya dengan seorang PSK, Annisa (Annisa Pagih), sementara Sahat yang berambisi menjadi seorang penulis terkenal terombang-ambing dibalik kehidupan kelas atasnya setelah menikahi Mona (Atiqah Hasiholan), tak lebih sebagai alat politik mertuanya, Maruli (Arthur Tobing) yang juga merupakan sapi perahan seorang politikus calon presiden (Remy Sylado). Di satu titik saat mereka merasa berhasil menaklukkan Jakarta, semua berbalik merampas satu-persatu harapan itu.

          Lebih dari sekedar satire, interpretasi ke larik singkat puisi yang menjadi judulnya memang membuat ‘Bulan di Atas Kuburan’ menjadi sebuah sarkasme dengan darkest turnover terhadap hampir semua karakter-karakter utamanya. Skrip baru yang ditulis oleh Dirmawan Hatta (sutradara ‘Toilet Blues’ dan ‘Optatissimus’) dengan cermat memproyeksikan konflik-konflik di film aslinya ke dalam situasi sosial-ekonomi dan politik sekarang. Walau terasa sedikit kelewat padat dengan penambahan karakter dan subplot yang membuat durasi panjangnya seakan tak cukup menampung semua hingga menyisakan beberapa pergerakan plot yang agak melompat, tapi caranya menangkap lapis demi lapis kultur Batak yang diwarnai asimilasi bersama dialog penuh punchline sebagai sentilan kasar dan kritik-kritik sosialnya, harus diakui cukup luarbiasa. Tak hanya menambahkan carut-marut politik partai hingga proposal fiktif, bangunan karakter-karakter itu pun terasa related, baik bagi sebagian pemirsanya atau orang-orang di sekitar mereka dengan permasalahan yang sama.

       And surprisingly, penyutradaraan Edo W.F. Sitanggang yang sebelumnya menjabat banyak departemen dari penata suara (‘Emak Ingin Naik Haji’, ‘Radit dan Jani’, ‘Selamat Pagi, Malam’) hingga produser (‘Toilet Blues’) secara dinamis berhasil mengemas subplot penuh sesak itu dengan storytelling yang lancar dan tak segelap versi 1973-nya. Ditambah scoring bagus Viky Sianipar bersama beberapa lagu Batak beraransemen modern yang kadang terasa menyayat emosinya, diantaranya dibawakan oleh Tongam Sirait dan Putri Ayu Silaen, nuansa tradisional Bataknya juga jadi jauh lebih kental. Even better, bersama tata artistik Kekev Marlov, tata rias dan kostum dari Zaenal Zhein dan sinematografi Donny H. Himawan NasutionSamuel Uneputty, mereka melakukan semua dengan respek penuh dalam eksistensi filmnya sebagai sebuah remake. Ada feel ’70-an yang sangat terasa dari beberapa atmosfer set (lihat bar/night clubs dengan interior set-nya) berikut homage ke adegan-adegan aslinya yang pada akhirnya menjadi benang merah dengan relevansi sangat kuat sebagai penekanan penting metaforanya. Bahwa berselang 42 tahun, Indonesia, khususnya Jakarta, masih punya permasalahan sama yang belum juga terselesaikan. Tetap menjadi sasaran mimpi kaum perantau tapi seringkali berakhir seperti kuburan yang jauh dari harapan.

               Diatas semuanya, ‘Bulan di Atas Kuburan’ punya kekuatan penuh di ensemble cast hingga guest appearance-nya, sama bahkan di beberapa sisi bahkan lebih baik dari pendahulunya. Memerankan Sabar yang di film lamanya membuahkan Piala Citra FFI 1975 untuk aktor Aedy Moward, Tio Pakusadewo bermain luwes sekali dalam salah satu akting terbaiknya, sementara Rio Dewanto dan Donny Alamsyah, masing-masing mengisi part yang dulu diperankan Rachmat Hidayat dan Muni Cader dengan usaha dialek yang sangat baik, menunjukkan ketepatan pemilihan cast atas tampilan fisik dan garis wajah yang memang believable sebagai etnis Batak. Dengan tambahan karakter Annisa, yang diperankan sama baiknya oleh Annisa Pagih, karakter Donny juga jadi jauh lebih kuat dari Muni Cader di versi 1973-nya. Sementara Atiqah Hasiholan, dibalik dialog-dialog yang menyemat sebagian konklusi metafora itu tampil penuh respek menyambung legacy-nya bersama penampilan khusus Mutiara Sani ; Ria Irawan, Ray Sahetapy, Remy Sylado serta Alfridus Godfred dan secara tak terduga, Andre Hehanusa, sangat kuat mengisi highlight ensemble-nya lewat screen presence mereka. Lantas masih ada Nungki Kusumastuti, Arthur Tobing, Adi Kurdi (yang meski selalu punya gestur bagus namun sayang dialek Batak-nya masih terdistraksi cengkok Jawa yang kental) dan penampilan singkat Ferry Salim, Dayu Wijanto, Aming, Denada Tambunan, rising actress Mentari De Marelle hingga Meriam Bellina.

               So there you go. Being more than just a remake, tapi lebih berupa sebuah rendition yang digagas dengan respek tinggi ke penerjemahan Asrul Sani terhadap source-nya, sajak satu larik Sitor Situmorang yang bukan main uniknya, ‘Bulan di Atas Kuburan’ adalah sebuah pencapaian sangat mengagumkan yang jarang-jarang kita dapatkan dari sebuah reka ulang. Not only brought us revisit one of our strongest culture, but also harsh mocks to our society. An ironically relevant ‘Big Village’ sarcasm. (dan)

~ by danieldokter on April 17, 2015.

3 Responses to “BULAN DI ATAS KUBURAN : AN IRONICALLY RELEVANT ‘BIG VILLAGE’ SARCASM”

  1. bulan di atas kuburan,,seru,,jadi pengen nonton,,

  2. Seru banget kayanya sukses terus bro🙂

  3. […] BULAN DI ATAS KUBURAN (MAV Production, Sunshine Pictures, FireBird Films; EDO W.F. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: