AVENGERS: AGE OF ULTRON : THE CONCEPT OF UPRISING WONDERS

AVENGERS: AGE OF ULTRON 

Sutradara : Joss Whedon

Produksi : Marvel Studios, 2015

avengers age of ultron

         Marvel Cinematic Universe (MCU), again, adalah sebuah kekuatan konsep. Dalam pencapaian keajaiban sinematisnya di tangan visi hebat Kevin Feige, produser sekaligus orang teratas Marvel Studios, adaptasi karakter-karakter superhero yang dikenal dengan julukan ‘Earth’s Mightiest Heroes’ ini terus melaju dengan banyak effort yang mungkin sangat sulit ditandingi studio lain, terlebih pesaing terberatnya, DC – Warner Bros.

         Phase 2 MCU yang sudah dimulai dari ‘Iron Man 3’, berlanjut ke ‘Thor: The Dark World’, ‘Captain America: The Winter Soldier’ plus jangan lupa, ‘Guardians of the Galaxyand the upcomingAnt-Man’ yang juga ada di dalamnya, semakin memperluas universe Marvel, kini kembali mencapai puncaknya di petualangan kedua ensemble superhero ini. Tetap ditangani Joss Whedon di tengah proses re-signing Robert Downey, Jr. yang sempat mengkhawatirkan fans-nya, ‘Age of Ultron’ digagas sebagai penghubung ke Phase 3 yang bakal diawali dengan ‘Captain America: Civil War’ dimana pertikaian para superhero ini akan semakin meruncing. Like whatEmpire Strikes Backdid toStar Warsfranchise, ada resiko jelas yang tergambar disana terhadap universe serba fun & light di Phase 1 yang akan bergerak ke tone lebih gelap secara perlahan, seperti yang sudah dimulai di sebagian film solo-nya. Tapi inilah Marvel. Seperti nama yang diusungnya, dibalik lebih lagi crossover-crossover-nya, walau kotak besarnya tetap ada di adaptasi superhero, masing-masing secara solid membawa feel dan referensi terhadap subgenre-subgenre berbeda. Diatas semuanya, tetap ada core yang tetap mereka pertahankan, dan ini sudah terlihat jelas dari rangkaian promosinya.

            Tiga tahun setelah serangan aliens Chitauri di New York, The Avengers ; Tony Stark / Iron Man (Robert Downey, Jr.), Steve Rogers / Captain America (Chris Evans), Thor (Chris Hemsworth), Bruce Banner / Hulk (Mark Ruffalo) plus Natasha Romanoff / Black Widow (Scarlett Johansson) dan Clint Barton / Hawkeye (Jeremy Renner) bergabung kembali untuk merebut scepter Loki dari tangan ilmuwan HYDRA Baron Wolfgang von Strucker (Thomas Kretschmann) di Sokovia. Tugas itu berhasil, namun pertemuan mereka dengan dua manusia super hasil eksperimen von Strucker, kembar Pietro dan Wanda Maximoff / Quicksilver & Scarlet Witch (Aaron Taylor-Johnson & Elizabeth Olsen) mendorong Stark mengajak Banner untuk menciptakan sebuah A.I. yang lebih sempurna dari J.A.R.V.I.S. (disuarakan Paul Bettany) yang mereka namakan ‘Ultron’ (disuarakan James Spader) di luar sepengetahuan kolega lainnya. Eksperimen ini berbalik menjadi bumerang kala Ultron yang lepas kontrol menyerang mereka semua, merebut scepter dan lantas menuju Afrika Selatan bersama Quicksilver dan Scarlet Witch untuk memperoleh logam terkuat vibranium dari tangan pemasok senjata Ulysses Klaue (Andy Serkis). Lebih lagi, Ultron memaksa ilmuwan Korea Dr. Helen Cho (Claudia Kim) menggunakan penemuan jaringan tubuh sintetisnya untuk menciptakan ‘Vision’ (Paul Bettany) sebagai fisik sempurnanya, dengan tujuan akhir memicu kehancuran dunia di tengah-tengah Sokovia. Di tengah pertikaian dari dalam tubuh The Avengers yang dipicu oleh kekacauan akibat ulah Stark hingga harus mengungsi ke safehouse milik Barton di sebuah peternakan suburban, Nick Fury (Samuel L. Jackson) muncul untuk memberi bantuan. Sekarang, sekali lagi mereka harus menuju Sokovia untuk menghentikan ambisi Ultron.

              Masuk lebih dalam untuk mengeksplorasi karakter dan konflik intern para personilnya, skrip Joss Whedon harus diakui mampu menggali detil-detil bagus sebagai solid character serve terhadap tim superhero terkuat ini. Mulai dari romantisme hubungan Romanoff dan Banner, ketakutan-ketakutan lebih para superhero ini terhadap alterego mereka diantara batas tipis superpower dengan monster, Barton’s secret life and family, asal-usul penciptaan Ultron dan Vision yang sedikit dimodifikasi berikut Quicksilver dan Scarlet Witch. Semua digagas dengan benang merah kuat yang sudah dimulai lewat pengenalan-pengenalan dari singkat maupun panjang serta melibatkan lintas karakter di instalmen-instalmen sebelumnya.

             Namun diatas itu, bagian terkuat yang dimunculkan Whedon ada di ambiguitas kepemimpinan Rogers dan Stark lewat kontras karakter sangat kuat sebagai fondasi yang bakal memuncak di ‘Captain America: Civil War’ nanti, bersama penekanan penting terhadap eksistensi ‘The Avengers’ sebagai superhero yang berjuang dengan motivasi kuat lebih pada alasan kemanusiaan ketimbang diri mereka sendiri. No matter how destructive, mereka tak melupakan apa yang ketinggalan dari adaptasi-adaptasi DC terutama ‘Man of Steel’, bahwa seperti dialog Captain America ; “Our first priority is getting the civilians out“, penghancuran kota yang mereka lakukan dalam tiap adegannya selalu bisa ditampilkan dengan ciri kuat, lihat betapa detilnya adegan penyelamatan itu ditampilkan, bahkan dengan setup kuat di adegan pembukanya ; all in the name of mankind. Semuanya tanpa sekalipun beranjak dari core yang selama ini memberi identitas MCU ; punchlines penuh humor dalam interaksi karakter yang selalu menyeruak dengan kuat di tengah-tengah mindblowing actions bersama efek CGI seru, yang masing-masing masih memberi superpower details buat para karakter intinya.

             Tata teknis lain pun sama baiknya. Sinematografi Ben Davis dari ‘Guardians of the Galaxy’ bisa memberikan sinergi ke sejumlah perpindahan lokasi antar negaranya dengan kuat, dengan penekanan lebih bersama pace editing Jeffrey FordLisa Lassek yang sangat terasa di action shots yang tak pernah ketinggalan detil-detil penting, juga scoring yang berpindah dari Alan Silvestri ke Brian Tyler dan Danny Elfman dengan respek penuh ke aransemen-aransemen main theme pendahulunya, malah dengan crossover ke film-film soloThe Avengers’ terutama salah satu main theme terbaik franchise-nya, score melodius dan anthemic Silvestri dari ‘Captain America : The First Avenger’. Effort ILM (Industrial Light & Magic) dalam penanganan efek spesialnya pun salah satu yang tak boleh dilupakan terutama dalam penciptaan final showdown yang dalam banyak konteks berbeda punya kekuatan paling tidak sama dahsyatnya dengan film pertama. Dengan gimmick 3D yang rata-rata hanya menghasilkan depth cukup kuat, adegan-adegan highlights-nya tetap terasa sangat eye-popping.

                Hebatnya lagi, Whedon juga masih menyempalkan lebih lagi karakter, membawa kembali James ‘Rhodey’ Rhodes / War Machine (Don Cheadle), S.H.I.E.L.D.s Maria Hill (Cobie Smulders), Sam Wilson / Falcon (Anthony Mackie), Dr. Erik Selvig (Stellan Skarsgård) hingga Peggy Carter (Hayley Atwell) dan Asgardian’s Heimdall (Idris Elba) di dreamy sequence berikut karakter-karakter baru yang diperankan Julie Delpy (Madame B), Linda Cardellini (Laura, Barton’s wife) serta tak ketinggalan cameo Stan Lee dengan pembagian porsi yang pas bersama karakter-karakter lainnya. Bukan lantas jadi penuh sesak tanpa fungsi, hampir semuanya bisa memberi penekanan yang pas terhadap penceritaan keseluruhannya. Bahkan Claudia Kim, South Korean actress yang dikemas bersama lokasi syuting di Korsel buat membidik pasar lokalnya, mendapat porsi yang cukup memorable, begitu pula Andy Serkis. Jeremy Renner meng-handle porsi lebih besarnya dengan baik, sementara Mark Ruffalo tampil makin solid sebagai Bruce Banner, membuat kita menginginkan Hulk bisa kembali menjadi instalmen solo franchise-nya.

            Namun di luar karakter-karakter tetapnya, Aaron Taylor-Johnson dan Elizabeth Olsen benar-benar bisa mencuri perhatian sebagai Quicksilver dan Scarlet Witch, sementara sebagai pengisi suara Ultron, James Spader adalah pilihan yang juga sangat tepat. Lihat bagaimana voice cast-nya meng-handle lagu Disney klasik ‘I’ve Got No Strings’ dari ‘Pinocchio’ sebagai penekanan sangat efektif sekaligus haunting buat karakternya. Jangan lupakan pula penampilan solid Paul Bettany dari pengisi suara J.A.R.V.I.S. menjadi Vision, salah satu tokoh cukup penting dalam original universe-nya.

           However, bukan berarti ‘Age of Ultron’ sama sekali terbebas dari ekses atas resiko yang ditanggungnya menjadi seolah jembatan buat mengalihkan fun & light tone menjadi lebih dark dalam keseluruhan universe-nya. Dalam durasi yang sudah mencapai lebih dari dua jam dan kabarnya masih akan dipanjangkan lagi di rilis homevideo-nya nanti, detil-detil penceritaan atas bangunan setup-setup konfliknya mau tak mau membuat pace di paruh awalnya berjalan agak turun naik. Meski bukan lantas jadi tak konsisten ataupun minus action sebagai pengisi tahap demi tahap itu, apalagi dengan fun punchlines yang tetap dipertahankan dalam mendistraksi keseriusan konfliknya dengan humor-humor segar, bagi sebagian penonton, ini bisa jadi sebuah letdown, terlebih bila dibandingkan dengan pace film pertamanya. Whedon malah masih sempat bermain-main dengan sentilannya terhadap trend pendewasaan genre superhero dengan arthouse cliches yang cerdas dari ballet scene ke panoramic landscape shots. Tapi apapun itu, pace di paruh kedua yang berjalan makin kencang tetap berhasil mengatasi semuanya dengan baik, malah bagi sebagian yang menganggap ‘The Avengers’ kekanak-kanakan, ‘Age of Ultron’ hadir dengan kedewasaan lebih, bahkan dalam feel ke subgenre sci-fi horror-nya, an experiment gone awry, bisa dipandang menyerupai sebuah leksia sosial tentang situasi dan bentuk-bentuk ketakutan dalam harapan perdamaian dunia.

             So, inilah digdaya Marvel dalam effort mereka memindahkan universe komiknya ke layar lebar. Di saat para pesaingnya masih terseok-seok memikirkan konsep, itupun hampir seluruhnya masih kerap ditanggapi dengan meme-meme lucu penuh mocking di social media, mereka sudah melesat jauh lebih dari itu. Sebuah kekuatan konsep yang memang membuat bahkan kubu penggemar saingannya pun punya antusiasme luarbiasa tinggi buat memenuhi antrian bioskop di masa-masa awal penayangannya. While others still try to accomplish wonders, Marvel already overcome it. Now they’re in the stage of uprising wonders, and for that, ‘Age of Ultron’ soars! (dan)

~ by danieldokter on April 26, 2015.

5 Responses to “AVENGERS: AGE OF ULTRON : THE CONCEPT OF UPRISING WONDERS”

  1. Aku nonton ini dalam 3D. Berhubung belum terbiasa dgn efeknya, jadi agak terganggu saat menonton. Apalagi banyak penonton cilik yg mondar mandir ke toilet. Saya suka filmnya cuman… Agar lebih menikmati, Next time, lebih baik nonton versi 2D aja.

  2. Duel paling keren y antara Hulkbuster vs Angry Hulk, krn pokoknya!! Apakah Vision nantinga mati??? krn infinity stonenya kn tertanam dikepalanya, dmn kemungkinan besar akan direbut oleh Thanos!!!

  3. ini film emng keren banget🙂

  4. Om Dan, I’m an avid reader of your reviews. Ada satu saran nih om tapi, gimana kalo di setiap review nya bikin agregat/bintang (semacam score) kayak imdb atau metascore as a final verdict supaya ngerangkum penilaian filmnya secara general… thanks a lot!

  5. Thanks banget buat usulannya🙂. Personally untuk blog kurang suka pake star rating utk review krn tujuannya emang buat ngasih pertimbangan buat pembaca sebisa mungkin tanpa judgment, tapi tiap akhir tahun ada kompilasinya kok. Disitu semua film yg udah di-review dan sekedar short review di TL twitter ada rekapannya pake star rating. Atau bisa ke idfilmcritics.com, disitu link ke kutipan tiap review saya ada star rating-nya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: