ROMEO + RINJANI : A FRESH IDEA WITH RUGGED MIX OF GENRES

ROMEO + RINJANI 

Sutradara : Fajar Bustomi

Produksi : Starvision, 2015

romeo rinjani

            Genre, lagi-lagi, adalah sebuah keterbatasan dalam sinema kita. Ketimbang menggali wilayah-wilayah baru, PH dan sineas kita kerap lebih senang bermain di ranah yang sama demi kepentingan jualan. Walau bujet dan resepsi rata-rata jumlah penonton memang sering ada dibalik alasannya, satu-dua ada tetap ada yang mencoba sedikit lebih kreatif. ‘Romeo + Rinjani’ bisa dibilang ada di wilayah itu. Walau dasarnya tetap berupa sebuah drama, tampilan promo dari poster hingga trailer-nya sudah menyiratkan sesuatu yang berbeda. Selagi posternya tak memberi cukup informasi genre tersebut, kita bisa melihat banyak elemen yang digabungkan dalam trailer-nya. Dari lovestory, adventure hingga sepenggal tone yang mengarah ke thriller dengan twist.

            Storytelling awalnya dengan lancar memperkenalkan kita pada sosok Romeo (Deva Mahenra), fotografer playboy yang ternyata menyimpan sebuah trauma masa kecil dengan sebuah kelemahan. Lewat kelemahan ini, salah seorang kekasihnya, Raline (Kimberly Ryder), akhirnya mulai bisa meluluhkan hati Romeo yang sebenarnya belum terlalu yakin untuk menikahinya. Berangkat menuju Rinjani untuk menyelesaikan kontrak tugas fotografinya, Romeo bertemu dengan Sharon (Alexa Key), cewek seksi yang membawa Romeo pada sebuah petualangan baru namun berakhir tak diduga. Raline yang muncul sebagai dewa penyelamat membuat Romeo akhirnya yakin untuk mengakhiri petualangannya, namun cerita tak lantas berakhir sampai disini.

            Keberadaan twist dalam sebuah bangunan plot jelas merupakan hal menarik, even a layered one. Namun masalah dalam skrip ‘Romeo + Rinjani’ yang ditulis oleh Angling Sagaran ini adalah usaha terlalu berlebih yang akhirnya membuat storytelling Fajar Bustomi jadi sulit untuk benar-benar rapi, apalagi untuk meracik genre crossover-nya dengan lancar. Dalam jarak sangat dekat, Angling menyemat kelewat banyak turnover ‘ternyata dan ternyata’ yang sebagiannya disusun lewat flashback sequence agak tumpang tindih pula, memuat penjelasan demi penjelasan jalinan plotnya hingga jadi sedikit menggelikan buat diikuti.

            Belum lagi sejumlah ‘suspension of disbelief’ yang bisajadi agak mengganggu pemirsa yang lebih memahami detil-detil dalam elemen pendakian gunung itu. Meski tak lantas jadi terlalu mengganggu keseluruhan universe penceritaan yang walau ada di kehidupan nyata tapi dari awal tetap digagas Fajar secara komikal, ‘Romeo + Rinjani’ kerap terlihat ragu-ragu untuk menyajikan subgenre lebih ekstrim yang seharusnya bisa menutupi bolong-bolong plot demi menyemat layered twist tersebut. Salah satunya adalah belokan ke subgenre thriller, a glimpse yang sebenarnya sudah dimulai dengan potensial tapi kemudian ditahan hanya sebatas pengiring singkat tanpa pernah sekalipun muncul seimbang dan malah didistraksi dengan unnecessary comedy.

            Padahal, secara mendasar idenya cukup fresh buat film kita. Berdiri diatas konklusi yang menghadirkan ‘common fears of marriage’s bad aftermath’ dimana masing-masing pasangan berubah dari malaikat menjadi monster berikut ekses-ekses ke krisis kepercayaan dan hubungan anggota keluarga, kehadiran twist demi twist itu sebenarnya bisa digagas jauh lebih kuat dari apa yang kita saksikan sebagai hasilnya. ‘Romeo + Rinjani’ sayangnya lebih memilih selling factors-nya yang kemudian terlalu cepat pula disambung dengan benang merah komedi ngalor-ngidul serta drama keluarga dan love conlusion yang terus terang, tak punya fondasi yang kuat, sekaligus meluluhlantakkan bangunan karakter Romeo yang sudah dimulai cukup baik sejak awal.

            However, ada estetika sinematis lewat tata teknis cukup lumayan serta pameran ‘pretty faces’ yang akhirnya tetap membuat ‘Romeo + Rinjani’ menjadi ‘feast for the eye‘ yang bisa bekerja dalam durasinya yang singkat. Akting dan chemistry tiga karakter utamanya, termasuk Deva Mahenra yang terlihat masih sangat melekat dengan karakternya di sebuah sitcom salah satu stasiun televisi kita, meski tak spesial, tetap masing-masing bisa memberi dayatarik lewat tampilan fisik mereka. Apalagi Alexa Key yang memang dieksploitasi sebagaimana mestinya serta sederet supporting characters yang diisi standup comedians seperti Sammy Notaslimboy, Fico Fachriza, Uus, dua personil Cherrybelle plus Donna Harun dan Gary Iskak. Tak spesial, namun tetap menarik.

        Sinematografi Paps Bill Siregar pun begitu. Ia tak pernah jadi terlalu remarkable dalam mengeksplorasi panorama lokasi aslinya di Rinjani, namun bukan sama sekali membuat sempalan judul itu jadi tak berarti. Dan scoring Tya Subiakto, walau jauh dari kesan megah yang biasa ia tampilkan, masih lebih baik daripada kiprahnya di film pesaing minggu ini. Jadi begitulah. Diatas ide cukup fresh dan penggabungan genre tadi, walau tak sepenuhnya halus, paling tidak, ‘Romeo + Rinjani’ mencoba untuk tampil beda. (dan)

~ by danieldokter on April 28, 2015.

One Response to “ROMEO + RINJANI : A FRESH IDEA WITH RUGGED MIX OF GENRES”

  1. waaah keren banget nih cerita , gak kalah darib filmnya lebih seru aku udah nonoton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: