TOBA DREAMS : LIFE’S TRUE LINE OF COMMAND

TOBA DREAMS

Sutradara : Benni Setiawan

Produksi : TB Silalahi Center, Semesta Production, 2015

toba dreams

            Dengan potensi pariwisata cukup besar yang dimilikinya, Danau Toba memang pernah beberapa kali menjadi lokasi set film kita sejak dulu. Sebut diantaranya, ‘Bulan di Atas Kuburan’, ‘Sorta’, ‘Secangkir Kopi Pahit’ sampai ‘Tapi Bukan Aku’ dan ‘Rokkap’ yang keduanya sayang kurang punya penggarapan layak. Menyusul remakeBulan di Atas Kuburan’ barusan, ‘Toba Dreams’ yang digagas oleh T.B. Silalahi, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Kabinet Pembangunan VI sebagai adaptasi dari novel fiksi berjudul sama karyanya, kembali mengangkat latar set itu di tengah penelusuran budaya Batak yang sama-sama kental. Oh ya, walaupun menggunakan namanya sebagai karakter utama yang diperani Mathias Muchus, ‘Toba Dreams’ bukanlah sebuah biopik.

            Sebagai karya ambisius yang memang ditangani langsung oleh T.B. Silalahi dalam porsi co-director bersama sutradara Benni Setiawan, ‘Toba Dreams’ yang berbicara soal cinta, ambisi terutama mimpi seperti judulnya, memang dipenuhi banyak gagasan. Dalam karir panjangnya termasuk di luar militer, tak heran kalau T.B. menuangkan banyak pesan moral dari perjuangan prajurit TNI dalam memegang nilai-nilai hidup, toleransi agama, kampanye anti narkoba hingga lingkungan yang menyangkut daerah sekitar tempat kelahirannya keatas sebuah family drama dengan racikan-racikan tambahan.

        Ada lovestory, father to son conflict, komedi sampai action bahkan PSA (Public Service Announcement) yang membaur di dalamnya. Sedikit banyak, dengan bumbu penuh sesak itu, percampuran rasa dalam durasi yang mencapai 144 menit ini memang mirip seperti film India, tanpa sekalipun mencoba pretensius dalam storytelling yang dipaparkan Benni. Semua mengalir dengan ringan bahkan cenderung klise, tapi bukan berarti tak punya kelebihan. Malah, bagi sebagian orang, terutama bagi etnis yang jadi fokus, karakternya bisajadi sangat relatable.

            Seusai menunaikan masa baktinya sebagai prajurit TNI-AD, Sersan T.B./Tebe (Mathias Muchus) memilih melanjutkan perjuangan ke daerah kelahirannya di punggiran Danau Toba, Sumatera Utara. Selagi istrinya (Tri Yudiman) dan dua putra putrinya Sumurung (Haykal Kamil) – Taruli (Vinessa Inez) mau tak mau menyetujui kepindahan ini, putra sulung Tebe, Ronggur (Vino G. Bastian) awalnya menolak mentah-mentah. Ideologi yang berbeda, apalagi hubungan yang tengah dijalin Ronggur dengan Andini (Marsha Timothy) tanpa restu orangtua Andini dan diatas semua, keinginan Ronggur untuk bisa mengubah nasibnya, kemudian melebarkan konflik diantara ayah otoriter dan anak pemberontak ini. Ronggur yang tak betah berlama-lama tinggal di rumah neneknya (Jajang C. Noer) di kampung lantas diam-diam kembali ke Jakarta untuk meraih mimpinya. Tapi cara yang dipilihnya tak lantas bisa begitu saja memenangkan respek yang sebenarnya ia idamkan dari sang Ayah. Batas tipis cinta dan kebencian itu pun memuncak kala keduanya sama-sama menyadari tak ada lagi titik balik dari kesalahan demi kesalahan yang sudah mereka mulai sejak lama.

            Memuat begitu banyak gagasan yang ada dalam novel berikut ambisi T.B. untuk mengetengahkan pesan moral kuat atas banyak aspek, Benni Setiawan untungnya bisa menampung semua itu lewat pencapaian storytelling yang sudah cukup lama hilang dari karya-karyanya sejak ‘3 Hati 2 Dunia 1 Cinta’. Skripnya bisa jadi tak sempurna menyusun kisah yang meski klise namun kompleks dalam rentang timeline cukup melebar, namun karakter-karakter yang bergantian menjadi fokusnya tetap terbangun dengan baik dibalik penekanan budaya dan latar prinsip-prinsip militer secara kental bersama dialog-dialog penuh punchlines dan tampilan emosi campur aduk dalam pengadeganan sama kuat.

            Memang benar, ada kompromi yang tak bisa terhindarkan dalam kepentingan-kepentingan PSA termasuk soal sekolah unggulan Soposurung dan latar karakter yang sulit juga tanpa melewati relative details dalam penekanannya, seperti bumbu lovestory yang harus berklise-klise di pertentangan orangtua atau economic rivalry, bahkan kampanye antinarkoba penuh konsep karma, namun tak sampai merusak tatanan keseluruhannya. Malah, sebagian besarnya bisa secara substansial menampar pemirsanya dengan pendekatan dan konklusi yang masih jarang-jarang ada di film lain dengan elemen-elemen yang mirip. Beberapa adegannya juga bisa dinobatkan menjadi deretan adegan terkuat yang ada dalam sejarah film kita, termasuk drunk scene, toleransi doa sebelum makan malam dan adegan perkawinan Batak dengan detil tampilan budaya khasnya yang unik.

            Keberhasilan ini juga sangat didukung oleh akting bersama chemistry kuat para pendukungnya. Sebagai karakter utama, Vino G. Bastian dan Mathias Muchus bertransformasi dengan sangat baik menerjemahkan nafas karakter dalam konflik father to son-nya. Di tengah interaksi penuh emosi yang kerap tampil meledak-ledak tapi tak sekalipun terasa berlebih, gestur dan sorot mata mereka tak pernah gagal meyakinkan kita akan harapan-harapan yang ada dibalik kerusakan hubungan anggota keluarga diatas keteguhan prinsip yang sulit untuk menemukan kompromi.

           Supporting characters lainnya pun sama kuat. Ada Marsha Timothy yang dengan chemistry-nya bersama Vino, her real life spouse, bisa menciptakan love scenes yang sangat believable, Haykal Kamil yang bertransformasi dengan baik menokohkan turnover-nya sebagai seorang pendeta, the right use of Ramon Y. Tungka dan Tri Yudiman, masing-masing dengan sisi temperamen dan melankolisnya, hingga aktor cilik Fadhel Reyhan yang memenangkan hati kita di bagian-bagian pengujungnya. Apalagi Jajang C. Noer yang meski tampil singkat tapi diserahi adegan tepat, dan ultimate scene stealer-nya, standup comedian Boris Bokir yang memerankan Togar, sahabat Ronggur. Almost in every scenes, celotehan-celotehan berdialek Batak itu berhasil mengisi highlight komedik di adegan-adegan yang melibatkan dirinya.

            Lalu jangan lupakan presentasi teknisnya. ‘Toba Dreams’ dipenuhi oleh keindahan shot dari DoP senior Roy Lolang , yang berhasil merekam tiap atmosfer set-nya untuk ikutserta sebagai pemeran penting ketimbang sekedar latar, kadang simbolik secara religius pula. Tata artistik dari Oscart Firdaus juga cukup baik, editing Andhy Pulung dan scoring Viky Sianipar yang tak sekalipun terpeleset menjadi stirring atau kelewat bombastis, tapi tetap memberi penekanan etnisnya hingga ke pemilihan lagu yang ikut dibubuhi teks untuk lebih bisa diserap penonton di luar etnis Batak.

            Namun pada akhirnya, yang benar-benar membuat ‘Toba Dreams’ menjadi karya yang bagus secara keseluruhan tetaplah bagaimana storytelling itu bisa mengemas semua elemen-elemen yang berpotensi sebaliknya dalam durasi panjang yang sama sekali tak terasa melelahkan. Bersama kombinasi genre yang masing-masing bisa mencapai sasarannya – tertawa keras melihat cultural bumps sekaligus luarbiasa tersentuh dengan airmata mengambang saat drama keluarganya tampil begitu menghujam, menyemat moral demi moral dari cinta, ambisi, agama hingga lingkungan yang menyentuh aspek teramat luas dalam kehadiran karakter-karakter lintas generasi diatas penggambaran keteguhan prinsip serta akar budayanya, ia tak sekalipun menghakimi secara hitam atau putih, tapi tetap terasa sangat humanis.

              Di lapisan terdalamnya, ‘Toba Dreams’ tetap menyeruak diatas ide pembentukan manusia dari generasi pendahulunya, yang pada akhirnya akan memunculkan sosok-sosok dengan harapan serta tujuan berbeda untuk jadi lebih baik, atau justru sebaliknya. Bahwa diatas semua garis komando atau pertentangan prinsip yang ada, keluarga tetap menjadi kunci terkuatnya. Life’s true line of command. (dan)

~ by danieldokter on May 2, 2015.

3 Responses to “TOBA DREAMS : LIFE’S TRUE LINE OF COMMAND”

  1. film ini “kampret” emang …. bikin ngakak di awal, bikin nangis lalu bikin kita semakin mencintai orang tua dan kekasih🙂
    salam kenal mas, saya juga penonton toba dream🙂

  2. Kerennnnn filmnya , sukses terus bro di tunggu film-film selanjutnya

  3. […] TOBA DREAMS (TB Silalahi Center, Semesta Production; BENNI […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: