CINTA SELAMANYA : A MEMOIR OF LOVE AND LOSS

CINTA SELAMANYA 

Sutradara : Fajar Nugros

Produksi : Demi Istri Production, Kaninga Pictures, Wardah, 2015

cinta selamanya

            Fokus ke kisah perjalanan cinta dalam sebuah biopik memang sudah merupakan hal biasa. Bahkan dalam biopik yang menempatkan tokoh-tokoh pahlawan atau pemerintahan sebagai subjeknya, lovestory seringkali jadi elemen penarik yang tak bisa dilepaskan dalam kepentingan jualannya. Namun ‘Cinta Selamanya’ sedikit berbeda. Lebih terus terang sebagai sebuah love memoir ketimbang biopik meskipun subjeknya merupakan tokoh nyata yang juga dikenal cukup luas di skup media dan entertainment, ‘Cinta Selamanya’ memang diangkat dari novel memoir Fira Basuki dengan mendiang suaminya, ‘Fira dan Hafez’.

            Yang lantas membuat memoir ini menjadi begitu menarik bukan saja karena sosok Fira sebagai public figure dibalik kesibukannya sebagai single mother yang berkarir sebagai penulis sekaligus pemred majalah Cosmopolitan, namun berisi penceritaan cukup unik yang sebagiannya tersusun dari interaksi mereka lewat twitter, di atas sebuah ujung tragis yang membuat memoir itu punya penyampaian lebih dalam serta intim. Ada bait-bait puitis serta penelusuran firasat yang jelas relatable bagi kalangan pembacanya. So yes, kisah Fira memang sangat memenuhi syarat untuk diangkat jadi sebuah film layar lebar dengan romantic tone yang jelas tergambar sejak promo-promonya mulai dipublikasi. Kehadiran pasangan suami istri Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan sebagai cast-nya, tentu juga merupakan daya tarik tersendiri. Selain sudah cukup sering muncul bersama dalam satu film, pemilihan Atiqah dibalik kemiripan fisiknya dengan Fira, juga pas.

            Status Fira Basuki (Atiqah Hasiholan) sebagai single mother di tengah kesibukan berkarir sebagai novelis sekaligus pemred sebuah majalah lifestyle membuatnya tak mudah untuk mendapatkan pasangan kembali. Merasa sudah cukup bahagia hidup bersama putrinya, Syaza (Shaloom Razade), lewat sebuah event pencarian bakat, Fira lantas bertemu dengan Hafez Agung Baskoro (Rio Dewanto), pria yang meski berusia jauh lebih muda darinya namun sungguh-sungguh menunjukkan keseriusannya. Namun kebahagiaan yang berlanjut hingga pernikahan itu tak berlangsung lama. Di tengah penantian anak pertama mereka, ada sebuah tragedi yang meluluhlantakkan semuanya.

            Masalah utama yang dipikul ‘Cinta Selamanya’ sebagai adaptasi sebuah love memoir adalah storytelling. Selagi novel Fira dengan jeli memanfaatkan penggalan-penggalan 140 karakter lewat tweet-tweet mereka dengan sensitivitas lebih diatas bahasa-bahasa puitis yang memang menunjukkan kehilangan yang begitu besar seperti yang kita lihat di tagline kuatnya (‘Mata menatap, hati menetap’), skrip yang ditulis Piu Syarif (segmen ‘Otot’ dalam ‘Pintu Harmonika’) sayangnya tak bisa secara sempurna memindahkan gap bahasa novel dan film untuk penceritaannya. Belum lagi konten luas menyangkut benang merah konflik-konfliknya yang terpaksa dipangkas untuk kepentingan durasi. Tampilan-tampilan tweet itu pun kerap terlewat begitu saja hingga tak mampu memberi penekanan lebih terhadap penceritaannya.

           Apa yang hadir ke layar jadinya lebih mirip penggalan-penggalan sketsa yang kurang utuh, menyisakan hanya pengenalan karakter yang memang cukup baik berikut eksplorasi budaya Jawa yang berperan kuat dalam hubungan mereka, namun tak pernah cukup membangun detil-detil motivasi tiap karakternya secara benar-benar solid. Di tengah begitu banyaknya konflik potensial yang bisa diangkat lebih dalam termasuk soal karir atau rentang usia dalam hubungan, skrip itu kerap bergerak linear bercerita soal ‘boy meets girl’ dengan cliche aftermaths. Bagian-bagian akhir yang sebenarnya bisa jauh lebih emosional itu juga sedikit terseret-seret menuju konklusi penting soal love and loss di pengujungnya.

            Minimnya konflik ini akhirnya membuat storytelling Fajar Nugros jadi terkesan bertumpu hampir sepenuhnya pada scoring Tya Subiakto, yang seperti biasa, tampil majestis dan punya fungsi penuh mengisi kekosongan ruang dalam bangunan emosinya. Bersama scoring Tya, juga ada tembang campursari milik Didi Kempot yang aslinya memang jadi lagu penting dalam hubungan Fira & Hafez, ‘Kangen Kowe’ yang dinyanyikan langsung oleh Rio Dewanto dalam aransemen ulang yang jauh lebih modern. Sayangnya lagi, modern rendition dari lagu dengan nafas tradisional yang kuat ini sedikit kelewat sering dimunculkan, padahal mungkin akan menarik juga bila diselingi dengan versi asli dalam kontras loyalitas budaya Jawa Fira dan Hafez terhadap visual dan kehidupan serba modern yang menggambarkan hiruk-pikuk world fashion scenes dengan background negara-negara Eropa.

            However, secara visual, ‘Cinta Selamanya’ memang menyajikan tampilan sinematis yang sangat enak untuk dilihat. Tata kamera Yadi Sugandi bisa menutupi kekurangan storytelling itu lewat sinematografi cantik termasuk berhasil merekam setting luar negerinya dengan baik bersama tata teknis lainnya, terutama tata kostum dari Wandahara, tata rias dari Retno Ratih Damayanti dan artistik dari Benny Lauda, yang sedikit banyak bisa menyajikan blend cukup kuat terhadap latar dunia fashion dan lifestyle dalam karir Fira.

            Departemen aktingnya juga jelas punya kelebihan. Dibalik adanya sedikit kemiripan fisik mereka, Atiqah secara luwes menerjemahkan gestur Fira sebagai subjeknya dengan sangat baik. Bersama Rio Dewanto yang juga tampil bagus dibalik romantic chemistry yang kuat, seperti seorang model yang jadi pusat perhatian di atas sebuah catwalk, Atiqah benar-benar berhasil jadi fokus utama diantara ensemble lain yang juga diisi oleh nama-nama terkenal seperti Tio Pakusadewo, Dewi Irawan, Nungky Kusumastuti, Widi Mulia, Joanna Alexandra, Arumi BachsinAmanda Soekasah, Janna Joesoef dan Muhadkly Acho berikut cameo Dwi SasonoAgus Kuncoro dan Lukman Sardi. Sementara ada Tantry Agung Dewani, adik Hafez yang memerankan dirinya sendiri berikut penampilan debut yang cukup baik dari Shaloom Razade, putri Wulan Guritno, yang memerankan Syaza dengan lepas.

            Kelebihan visual, scoring dan teknis lain serta akting inilah yang akhirnya bisa menyelamatkan ‘Cinta Selamanya’ dari beberapa kelemahan dalam penceritaannya. Jangan lupakan juga theme song bagus berjudul sama dari Rieka Roeslan. Paling tidak, tetap ada atmosfer romantis yang pada akhirnya tetap bisa mengiringi konklusinya dalam berbicara bukan saja hanya soal cinta dan kehilangan, tapi juga persepsi-persepsi untuk bangkit dan meneruskan hidup. Not that strong, but still, a moving love memoir. (dan)

~ by danieldokter on May 4, 2015.

3 Responses to “CINTA SELAMANYA : A MEMOIR OF LOVE AND LOSS”

  1. bukunya bagus, sangat menyentuh

  2. One of my favorite Indonesian writers. Cari bukunya ah. :’)

  3. Keren ceritanya , Harus nonoton nih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: