MAD MAX: FURY ROAD ; AN OUT OF THIS WORLD-ACTION MADNESS

MAD MAX: FURY ROAD

Sutradara : George Miller

Produksi : Kennedy Miller Mitchell, Village Roadshow Pictures, Warner Bros, 2015

madmaxfuryroad

            Walaupun memang merupakan proyek ambisius untuk memulai debutnya di ranah fiksi perfilman layar lebar Australia, bersama rekannya – produser Byron Kennedy yang meninggal dalam kecelakaan helikopter tak lama setelah filmnya dirilis, George Miller mungkin tak pernah meramalkan bahwa ‘Mad Max’ akan jadi seperti sekarang. Menembus perfilman dunia, breaking box office record, melambungkan nama Mel Gibson sebagai international action star sekaligus membuka jalan bagi genre Australian new wave. Sekuelnya bahkan menelurkan rip-off post-apocalyptic theme yang marak di era ’80-an dari industri film kelas B Amerika hingga Eropa. Action dengan plot polisi kontra geng motor mungkin sudah banyak, begitu juga revenge story dalam banyak pakem yang serupa, butMad Maxis one of its kind.

            Letak kesuksesannya jelas. Selain latar belakang karir George Miller sebagai seorang dokter yang lama bertugas di instalasi gawat darurat dan menangani banyak kasus kecelakaan jalan raya (ini sekaligus jadi caranya mengumpulkan dana untuk pembuatan ‘Mad Max’, sebagai on-call medical doctor bagi komunitas motorbike) membuat Miller bisa menggambarkan kesadisan verbal itu terlihat nyata, ‘Mad Max’ digagas di sebuah subtext yang relevan terhadap awal-awal krisis bahan bakar yang marak di era itu berikut prediksi-prediksi eksesnya di masa depan. Setelah ‘Mad Max’, Miller juga masih menunjukkan kiprah yang mirip di film-filmnya; termasuk ‘Happy Feet’ yang terang-terang menggambarkan global effect diatas sebuah animasi musikal untuk keluarga.

            Kesuksesan ‘Mad Max’ lantas membuka jalan untuk jadi sebuah franchise lewat ‘Mad Max 2a.k.a.The Road Warrior’ (international title) yang jauh lebih sukses lagi. Memindahkan pakem (pseudodystopian revenge story menjadi kisah petualangan seorang lone drifter on the wasteland, yang atas tempat dan waktu yang salah menjadi savior dalam batas tipis super – antihero, tetap diatas subtext humanitas yang jelas, ‘The Road Warrior’ menciptakan keajaiban visual dalam genre post-apocalyptic road action yang sulit tertandingi oleh film manapun. Bersama dentuman aksi dahsyatnya, penggarapan teknis termasuk tata kostumnya pun menjadi reference yang mewarnai perkembangan berbagai kultur pop dunia terus hingga sekarang.

           Memang, semua seakan berakhir di instalmen ketiganya, ‘Mad Max: Beyond Thunderdome’ yang selain melanjutkan kesuksesan ‘Mad Max’ juga menggamit ladyrocker Tina Turner di tahun 1985. Bukan film itu tak bagus, namun diatas konsep visionernya terhadap world events dan ekses-ekses tadi, sayangnya, tak ada pencapaian yang baru dalam sisi aksi serta teknisnya. Sempat dikabarkan akan berlanjut di awal-awal 2000-an, dengan kembalinya Gibson sebagai ‘Mad Max’, rencananya baru terwujud tepat 30 tahun setelah ‘Thunderdome’.

         Tertunda berkali-kali bahkan nyaris jatuh ke development hell, trailer yang akhirnya muncul dengan Tom Hardy sebagai Max baru, kita sudah melihat pencapaian ala ‘The Road Warrior’, tentu saja dengan perbandingan teknologi sinematis yang ada sekarang. But way beyond that, ada gritty realism yang membuat semua pemirsanya berdecak kagum, dan bagi generasi sekarang, a real tease to explore the franchise. And oh yeah. Ini sebagai kisah petualangan Max yang lain, dibalik benang merah ke instalmen-instalmen yang jelas diselipkan Miller disana-sini walau tak mesti mengharuskan pemirsa barunya menonton dulu film-film itu, this is absolutely a sequel. Benar bahwa ia me-refresh legenda ‘Mad Max’ yang selalu muncul di ending dua film terdahulunya, tapi sama sekali bukan sebuah reboot.

         Masih terus bertahan hidup di tengah gurun pasir tandus setelah kepunahan peradaban, Max Rockatansky (Tom Hardy) seketika mendapatkan dirinya ditawan oleh War Boys, serdadu-serdadu mutan King Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne) yang didewakan pengikut-pengikutnya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan darah Max sebagai donor universal, salah satunya bagi Nux (Nicholas Hoult). Sebelum sempat melepaskan diri, panglima Joe, Furiosa (Charlize Theron), wanita tangguh bertangan satu, keburu melakukan pemberontakan. Melarikan lima istri Joe (Rosie Huntington-WhiteleyRiley KeoughZoë KravitzAbbey LeeCourtney Eaton), mantan tawanan-tawanan cantik yang dijadikan Joe tak lebih dari alat perkembangbiakan ke tengah gurun diatas sebuah War Rig dengan persenjataan lengkap, Joe pun segera mengerahkan seluruh pasukannya untuk menghentikan Furiosa. Terikat bersama kendaraan Nux yang masih membutuhkan darahnya, Max mau tak mau terlibat ke tengah-tengah pertikaian ini. Sekali lagi, ia mesti memilih untuk meneruskan pengembaraannya, atau justru berbalik membantu Furiosa yang menyimpan rahasia masa lalu dibalik perjuangan itu. A reason called humanity.

            Okay. No matter how good, George Miller punya satu masalah dalam menggarap sekuel film-filmnya. Ia pernah terjatuh dalam ‘Babe: A Pig in The City’, ‘Happy Feet Two’ bahkan ‘Beyond Thunderdome’ atas beberapa effort yang mengakibatkan perubahan cukup drastis yang meski tak jelek namun bukan seperti yang diinginkan kebanyakan penontonnya. Tapi ‘Fury Road’ jelas bukan satu diantaranya. Treating the movie as his baby, ‘Fury Road’ yang memang sudah melalui jatuh bangun pengembangannya sejak lama ini seolah sebuah mimpi panjang untuk menghidupkan kembali karakter yang sangat dihargai Miller sebagai debut karir yang memulai segalanya.

            Menggamit Brendan McCarthy, artis komik Inggris yang memang menggemari genre post apocalyptic dalam komik-komiknya sekaligus banyak terinspirasi oleh ‘The Road Warrior’ dan Nico Lathouris (juga bermain dalam ‘Mad Max’), skrip ‘Fury Road’ memang diarahkan untuk pameran aksi, tapi tak sekalipun meninggalkan humanity subtexts-nya. Ini hebat, karena di tengah minimnya dialog, mereka bisa mengedepankan konsep dalam storytelling yang mengemas semuanya dengan rapi. Ada banyak film futuristik dengan subtext humanitas yang sama, dari ‘Handmaid’s Tale’ ke ‘Children of Men’ tapi yang bisa menonjolkan drama dari pameran aksinya, dimana hampir tiap adegan itu bisa bercerita lewat bahasa visual secara universal, lagi-lagi, Miller sudah membuat ‘one of its kindachievement.

            Miller malah melangkah ke penggambaran karakter yang jauh lebih ekstrim lagi, dari tampilan anak-anak ke nafas feminisme sangat kuat sebagai sentral konfliknya. Thanks to the cast, semua karakter wanita itu tak sekalipun menjadi ‘damsels in distress’, tapi malah menyeruak sekuat karakter Max sebagai titular character-nya. Lima pemeran ‘the wives’ dari Kravitz ke Huntington-Whiteley, Jason Stathams real life supermodel partner yang berkembang jauh sejak penampilannya dalam ‘Transformers: Dark of the Moon’ tampil dengan screen presence tak main-main, tapi diatas semuanya, Charlize Theron-lah yang paling bersinar menokohkan Furiosa yang memang memegang kunci dari plot yang disiapkan Miller sejak lama bahkan sempat disiapkan sebagai subjudulnya. Gestur dan sorot mata itu tampil sama kuat dengan transformasi akting Theron di film-film drama di tengah kualitas yang menyamai (bahkan mungkin melebihi) kegilaan aksi Max.

            Menerima estafet perannya dari Mel Gibson, physically, jelas tak ada yang salah dengan Tom Hardy. Ia mungkin tak punya ekspresi gila sekuat Gibson yang belakangan membuat karakter Martin Riggs dalam ‘Lethal Weapon’ dalam banyak similaritas dengan Max Rockatansky jadi begitu hidup dalam action characters bible, namun paling tidak, sisi melankolis Max yang tak pernah tertinggal dari raut wajahnya, tergelar dengan sangat meyakinkan. Cerdasnya Miller, ia mengemas ide refresh karakter ini dengan trivia-trivia yang jelas akan sangat bisa dikenali fans franchise-nya, dari character flashbacks ke jaket ikonik Max, termasuk villain yang diperankan aktor yang sama dengan pemeran Toecutter di instalmen pertama, Hugh Keays-Byrne (tanpa tampilan wajah yang jelas namun cukup mengerikan), hingga membuat Hardy benar-benar terlihat sebagai pilihan sempurna buat menggantikan Gibson. Di luar itu, masih ada Nicholas Hoult sebagai Nux yang tak kalah hebat mencuri perhatian, serta jangan lupakan musisi/gitaris/dancer/stage actor asal Australia, Sean Hape a.k.a. iOTA sebagai salah satu highlight paling gila (sekaligus paling asyik) dalam mengiringi bombardir adegan aksi itu seolah sebuah live rock soundtracks.

            But above all, sisi paling luarbiasa dalam ‘Mad Max: Fury Road’ memang sama, bahkan mungkin melampaui pencapaian Miller dalam ‘Mad Max’ atau ‘The Road Warrior’ di eranya dulu. Sebuah action extravaganza yang luarbiasa impresif hingga hanya bisa diterjemahkan dengan decak kagum tak henti-henti selama durasinya yang sedikit melewati 120 menit. Saat rata-rata film aksi menghibur kita lewat kemasan CGI mutakhir, Miller dan timnya membawa nama aksi kembali ke dalam pameran practical stunts yang seolah dikemas minim efek, padahal berisi lebih dari 1500 effect shots, jauh diatas ‘The Road Warrior’ dulu. Begitu hebatnya presentasi aksi dengan detil-detil luarbiasa tadi hingga membuat pemirsanya menahan nafas dan bertanya-tanya bagaimana tiap adegan aksi bisa dikemas Miller yang sudah menginjak usia 70 tahun jadi sedahsyat itu, tanpa lantas membuat penonton jadi lelah dengan bombardir over the top – boom & bang yang nyaris nonstop tanpa jeda.

            Selain sinematografi ke setting yang digelar di gurun Namibia itu, bersama fast paced editing dari Margaret Sixel dan award winning Jason Ballantine, kiprah John Seale (‘BMX Bandits’, ‘Dead Poets Society‘, ‘The English Patient’, ‘The Perfect Storm’; diantara karya-karya terbaiknya), yang kembali dari istirahat panjangnya sebagai DoP veteran berusia 71 tahun, juga asal Australia, benar-benar menerjemahkan konsep Miller dalam menggelar tiap adegan aksi termasuk monstrous vehicles dan crash sequence sebagai elemen wajibnya secara ajaib. Plus detil-detil teknis dalam menghadirkan 3D-nya bukan jadi sekedar gimmick, dan sentuhan musik yang tak pernah jadi bagian tak penting dalam franchise-nya, dari Brian May (Australian film composer) ke Maurice Jarre dan kini Junkie XL, sulit rasanya menghitung ada berapa banyak ‘never before seen-action sequence’ yang dihadirkan Miller bersama timnya dalam ‘Fury Road’. Raised every bars in the genre, hingga sulit untuk memperhitungkan akan seperti apa effort lebihnya nanti kalaupun ada.

           So yes. Sama seperti bagaimana Miller membuat generasi penontonnya begitu takjub menyaksikan ‘Mad Max’ dan ‘The Road Warrior’ di eranya dulu, ‘Fury Road’ bahkan punya pencapaian lebih lagi. It’s like Miller has dared everyone, you won’t get something like this in action genre even in a decade or more. Sebuah hype diatas seabrek bahasa puitis penuh pujian di tiap review-review bombastis dari lokal hingga internasional yang tak bisa tidak harus kita yakini. Bahwa presentasi-presentasi ‘overblown’ atau ‘over the top’ dalam genre aksi bukan berarti tak bisa menghasilkan resepsi yang positif. An out of this world – action madness. Now hold on to your seats, and witness! (dan)

~ by danieldokter on May 17, 2015.

One Response to “MAD MAX: FURY ROAD ; AN OUT OF THIS WORLD-ACTION MADNESS”

  1. […] MAD MAX: FURY ROAD […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: