TOMORROWLAND : A GRAND CONCEPT THAT FAILED TO IGNITE

TOMORROWLAND 

Sutradara : Brad Bird

Produksi : Walt Disney Studios Motion Pictures, 2015

tomorrowland

            Sebut salah satu film yang paling memicu rasa penasaran saat publikasinya diluncurkan, ‘Tomorrowland’ pasti ada diantaranya. Through the teasers, then, kita mulai bisa membaca bahwa film unggulan Disney untuk musim panas ini memang digagas dibalik sebuah kekuatan konsep, a grand one, yang membuatnya dikemas dengan penuh kerahasiaan. Oh yes, walau judulnya sudah mengisyaratkan sebuah theme park – inspired, area tepatnya, yang kini menghias bagian terbesar rata-rata Disneyland buat menampung inspirasi futuristik/ sci-fi dalam produk-produk mereka, dari traditional Space Mountain hingga Star Tours, ada hints yang mengacu pada sejarah Disneyland dan most likely, Walt Disney sendiri.

            For those who loved them more than life, this could be Disney’s highest inventiveness, apalagi yang tahu sejarah dan latarbelakang berdirinya area itu berdasar visi Walt Disney terhadap filosofi dan inovasi masa depan di tahun 1955. Bukan juga sekedar transformasi theme park – rides excitement seperti ‘Pirates of the Caribbean’ atau ‘The Haunted Mansion’, tapi ada potensi yang jauh lebih dari itu. Nanti dulu soal keikutsertaan Damon Lindelof di skrip dan George Clooney sebagai main cast-nya, tapi nama Brad Bird yang jelas ada di lini kedua pemegang legacy terbesarnya setelah John Lasseter, jelas sangat menjanjikan.

            Dibuka dengan bumper Disney yang luarbiasa menarik dalam nafas sci-fi futuristiknya, opening scenes-nya, yang boleh jadi terasa awkward dan tak biasa lantas mengantarkan kita pada keberadaan dunia futuristik dibalik sebuah theme park dalam event kompetisi teknologi tahun 1964. Bocah Frank Walker (Thomas Robinson) yang memamerkan jetpack buatannya pada ilmuwan Nix (Hugh Laurie) langsung menarik perhatian gadis kecil bernama Athena (Raffey Cassidy) yang lantas memberikannya sebuah pin misterius bersimbol ‘T’, mengantarkan Frank ke sebuah dunia yang belum pernah dibayangkannya. Melompat ke masa sekarang, Casey (Britt Robertson), gadis remaja cerdas putri ilmuwan NASA Eddie Newton (Tim McGraw) secara tak sengaja menemukan pin misterius sama yang seketika mentransportasikannya ke dunia futuristik tersebut. Dibantu adiknya Nate (Pierce Gagnon), Casey pun mencoba menyelidiki hal ini ke sebuah toko sci-fi memorabilia dimana ia bertemu dengan Athena yang tiba-tiba datang menyelamatkannya. Belum sepenuhnya menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Athena membawa Casey ke rumah Frank dewasa (George Clooney), dimana satu demi satu rahasia itu terbuka, menghubungkan Casey dan Frank ke sebuah impian panjang yang sempat terputus, demi menyelamatkan dunia ke masa depan yang lebih baik.

            Lebih dari sekedar mentransformasikan berbagai bentuk theme park’s excitements-nya ke dalam sebuah kisah futuristik yang meneruskan sebuah Utopian Dream, mimpi Walt Disney terhadap dunia idealis masa depan, kita bisa melihat betapa usaha Brad Bird menggagas tema penuh inspirasi ini berdiri begitu imajinatif diatas desain produksi yang cermat serta seabrek tribute ke elemen-elemen Disney dari theme park area, film-film sci-fi Disney dari ‘The Blackholeke newly owned ‘Star Wars‘, hingga karya-karyanya bersama Disney selama ini. Konsep yang terpapar dengan jelas, penuh trivia hingga banyak set piece dan sequence yang sudah memulai ‘Tomorrowland’ dengan luarbiasa menarik bersama theme song Disneyland ciptaan The Sherman Brothers, ‘It’s a Small World (After All)’.

            Sayangnya, visual excitements yang digelar bersama puzzle menarik terhadap kisah paralel yang menemukan titik intertwine-nya menuju paruh kedua masa putar ‘Tomorrowland’ tak dibarengi dengan koherensi penuh dari skrip yang ditulis Bird bersama Damon Lindelof. Di satu sisi imajinasi Bird yang sudah membuat baik ‘The Iron Giant’, ‘Ratatouille’ serta tentu saja ‘The Incredibles’ dibalik beda-beda gayanya ada di deretan klasik karya-karya Disney begitu terasa, pendekatan layered twists Lindelof secara perlahan mulai membuat ‘Tomorrowland’ kehilangan pace bersama magical approach-nya. Di titik ini, mereka seakan lupa apa alasan semua orang rela mengantri panjang untuk menikmati wahana-wahana yang ada Disneyland. Sisi fun, jauh lebih dari sekedar pembelajaran, yang tak pernah boleh dilupakan.

            Seperti kolaborasi yang berbalik saling menenggelamkan potensi utamanya, sentuhan heartful Bird yang begitu sensitif di paruh awal terasa semakin tergerus oleh gaya penceritaan Lindelof yang sudah kita saksikan di banyak filmnya, sedikit slow burn, dan ini benar-benar tak bisa menyatu dengan baik. Layered mysteries yang digelar diatas gaya Lindelof, yang pada titik paling dasar seakan mau melayangkan protes terhadap banyak Young Adults yang bernada pesimistis terhadap distopia masa depan, seolah mendominasi storytelling dan visualisasi Bird serta perlahan mulai merusak semua, menghilangkan feel Disney dengan segala magical excitement-nya, semakin melencengkan relevansi tema penuh inspirasi itu ke ranah-ranah gagasan worldpeace yang kelewat preachy hingga tak lagi punya sedikitpun elemen child-friendly, kehilangan homage, komunikasi yang melemah dan yang cukup parah, membuat pendekatan terhadap satu-persatu cover-up dibalik interaksi beda usia tiga karakter utamanya muncul dengan chemistry yang bukan erat tapi luarbiasa awkward.

             Potensi besar yang ada di subplot boy meets girl ataupun father to daughter, yang seharusnya bisa menjaga sensibilitas paruh awalnya terus berjalan dengan konsisten, benar-benar berlalu begitu saja dengan character-arch maupun konklusi yang terkesan dangkal tanpa koherensi logika sci-fi yang ketat, membuat semua metafora-metafora harapan dan optimisme yang ada dibalik desain set-nya ikut menjadi kabur. Bird masih terlihat mencoba mengembalikan konsistensi itu ke sekuens-sekuens klimaks ‘Tomorrowland’, tried to be more fun, namun sayang, semuanya sudah terasa sangat terlambat. Bahkan homage ke jetpack scene alaThe Rocketeer’ yang sudah di-set-up dengan menarik di bagian-bagian awal pun tak bisa lagi mengimbangi ketimpangannya, dan meski penutupnya masih bisa mempertahankan uplifting tone ide-idenya dengan kuat, wrapping third act ini tak lagi bisa menjadi payoff yang benar-benar layak.

             Di departemen akting, sungguh tak ada yang spesial dari George Clooney. Menokohkan Frank Walker dewasa sebagai estafet dari akting pemeran kecilnya, Thomas Robinson yang jauh lebih ekspresif, dibalik rahasia masa lalu dan penolakannya terhadap potret mimpi yang digagas bersama ide imajinatif Bird, Clooney seolah tampil malas-malasan, kelewat nyata tanpa sedikitpun spirit Disney-lead dengan kualitas comically attractive. Untunglah Britt Robertson yang memulai debut dibalik kemiripan nama depan dan sosoknya dengan aktris Brit Marling masih cukup kuat menyelamatkan ‘Tomorrowland’, apalagi Raffey Cassidy yang paling juara dan luarbiasa lovable sebagai Athena yang meski ada dibalik mereka namun tampil dengan potensi key character yang sangat memorable. Masih ada penampilan menarik dari musisi country Tim McGraw dan Kathryn HahnKeegan-Michael Key sebagai duo pemilik toko sci-fi memorabilia yang jadi salah satu highlight dalam ‘Tomorrowland’ dalam homage-nya ke old fashioned sci-fi, lengkap dengan comical violent approach-nya, dan ini lebih dari Hugh Laurie yang hanya mengandalkan different looks tanpa character-arch yang memadai.

             Dalam penggarapan teknis selebihnya, scoring Michael Giacchino serta sinematografi Claudio Miranda juga tak bisa disepelekan. Selagi scoring itu masih bisa menahan ketidakkonsistenan kolaborasi BirdLindelof di atmosfir yang tetap terasa sangat Disney, sinematografi Miranda juga berhasil menerjemahkan tiap perpindahan set-nya lebih ke imaginative tone ala Bird ketimbang pendekatan-pendekatan kaku Lindelof.

             So, begitulah. ‘Tomorrowland’ jelas tak lantas jatuh ke karya Disney yang sepenuhnya gagal. In many missed opportunities-nya buat memindahkan relevansi theme park existence bersama sejarah Walt Disney, ‘Tomorrowland’ masih tetap punya banyak trivia-trivia informatif sekaligus imajinatif yang cukup menarik buat disimak. Hanya saja, as a theme park – inspired film for all ages yang harusnya digagas dengan penuh respek ke dunia Disney yang penuh keajaiban, terlebih Disneyland, it doesn’t have enough visual excitements. A grand concept that failed to ignite. (dan)

~ by danieldokter on May 24, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: