PITCH PERFECT 2: AN ACA-AWESOME PITCH & POWER-PACKED SEQUEL

PITCH PERFECT 2

Sutradara : Elizabeth Banks

Produksi : Gold Circle Films, Universal Pictures, 2015

pitch perfect 2

            Tak seperti genre lain, in terms of blockbusters, genre musikal yang jauh lebih sederhana ketimbang gempuran efek atau CGI, seringkali muncul dengan prestasi tak terduga. ‘Pitch Perfect’, komedi musikal tahun 2012 sutradara Jason Moore yang diangkat sebagai adaptasi bebas dari buku non-fiksi ‘Pitch Perfect: The Quest for Collegiate A Capella Glory’ karya Mickey Rapkin, melejit sebagai sleeper hit dengan worldwide B.O. melebihi 100 juta dolar AS dari bujet tak sampai seperlima-nya, sekaligus sebagai musikal tersukses kedua dibawah ‘School of Rock’.

            And no, kesuksesannya bukanlah semata karena tema acapella masih jarang-jarang diangkat dalam genre-nya. Lebih dari itu, lagi-lagi, ‘Pitch Perfect’ adalah film tentang musik yang benar-benar tahu menerjemahkan musik terutama subgenre-nya. Benar juga, faktor Anna Kendrick dan Rebel Wilson ada dibalik penyumbang terbesar kesuksesannya, namun tanpa bisa dilupakan, ada girl-chemistry begitu kuat dibalik nafas teen-feminism serta komedi yang memang punya pangsa pasar kuat dalam industrinya, and moreover, bersama referensi musik lintas generasinya, luarbiasa komunikatif tanpa harus mencoba-coba tampil beda dalam formula. Jadi jelas, jalan buat sekuel bahkan menjadi sebuah franchise, is inevitable.

            Dengan ensemble cast yang rata-rata tampil kembali mengulang peran mereka, ‘Pitch Perfect 2’ yang sudah tahu letak kekuatannya ada dimana, bahkan tak lagi gentar untuk bertarung bersama summer blockbusters tahun ini, yang rata-rata didominasi high-selling franchise. Disutradarai aktris Elizabeth Banks yang berpindah posisi dengan Jason Moore ke kursi produser, bujetnya ditambah hampir dua kali lipat, dengan skrip yang tetap digawangi oleh Kay Cannon (’30 Rockseries) dari film pertama. Sekarang pertanyaannya, dibalik ketidaktahuan banyak orang akan ambisi Banks berkiprah sebagai produser dan sutradara film pendek selama ini (termasuk salah satu segmen dalam ‘Movie 43’ yang penuh hujatan itu), sejauh mana Banks bisa menyamai ketepatan pitch yang sudah dicapai begitu baik dalam film pertamanya?

            Tiga tahun setelah kesuksesan The Barden Bellas di film pertamanya, mereka berada di ambang kehancuran atas sebuah showcase berujung kekacauan dengan Fat Amy sebagai sentralnya. Oleh pihak universitas dan dua komentator acapella, John Smith (John Michael Higgins) dan Gail Abernathy McKadden (Elizabeth Banks), mereka terpaksa menerima hukuman skors dari showcase-showcase selanjutnya, kecuali dalam turnamen dunia karena selama ini tim Amerika tak pernah dianggap sebagai kandidat penting. Di saat hubungan intern mereka juga terancam akibat rahasia Beca Mitchell (Anna Kendrick), leader The Barden Bellas yang diam-diam mengikuti internship di sebuah studio rekaman atas dukungan kekasihnya Jesse Swanson (Skylar Astin) dari The Treblemakers, masuk pula freshman Emily Junk (Hailee Steinfeld) yang memegang legacy dari Bellas generasi pertama. Apalagi, saingan terkuat yang menggantikan tur dunia mereka, Das Sound Machine dari Jerman, juga jadi ketakutan terbesar bagi The Barden Bellas buat mengikuti turnamen dunia yang akan berlangsung di Copenhagen.

            Meski sebagian film musikal punya pencapaian tak terduga dalam kesuksesannya, kebanyakan sekuelnya memang mendarat tak lebih dari sekedar aji mumpung tanpa pencapaian sama kuat. In those rare scenes, ‘Pitch Perfect 2’ adalah sebuah pengecualian. Langkah Kay Cannon menggarap skrip dengan kontinuitas kuat tanpa pernah melepas elemen-elemen kesuksesan film pertamanya adalah satu hal yang sangat berhasil tampil dalam ‘Pitch Perfect 2’. Dengan cermat, Cannon memindahkan konflik-konflik internal ke ranah yang sangat relevan sebagai sebuah sekuel. Di saat film pertamanya berfokus ke proses fusi para karakternya untuk menyatu ke Barden Bellas, ‘Pitch Perfect 2’ mengetengahkan konflik sama yang tak lari kelewat jauh dari sana, namun bertransformasi menjadi proses-proses untuk mempertahankan eksistensi The Barden Bellas, hingga satu eksplorasi terbaik yang disiapkan di klimaks yang juga memuat various world styles of acapellas. Dan di fondasi dasarnya, ada light comedy hingga hilarious sickjokes yang tetap terbagi dengan porsi yang sama hebohnya.

              Tanpa pernah juga kelewat berusaha mencoba tampil beda, elemen-elemen tambahannya digagas dengan pemikiran simpel namun tetap menarik. Ada persaingan yang lebih ketat dengan penggambaran Das Sound Machine yang punya lebih dari sekedar kekuatan grup acapella, dan tentu saja, fokus lebih ke karakter Kendrick serta love sideplot untuk mengeksploitasi ‘Fat Amy’ yang legendaris itu secara lebih lagi bersama Bumper Allen yang diperankan komedian Adam DeVine, male scene stealer dari sisi The Treblemakers. Sebagai kekuatan ekstra untuk membuatnya kelihatan lebih fresh, beruntung mereka mendapatkan Hailee Steinfeld, the rising actress – Oscar nominee yang kemarin tampil dengan talenta musikal lebihnya di ‘Begin Again’. Bersama konsep ini, Banks dan timnya juga tak lantas melupakan Brittany Snow, Ester Dean, Alexis Knapp dan Chrissie Fit yang memang punya latar musik kuat, plus Anna Camp dari film pertama, buat lebih mendorong kolaborasi asli suara mereka dalam pertarungan acapella ini. Jangan lupa juga American born Korean model dan komedian Hana Mae Lee yang tetap diperlakukan sebagai distraksi komediknya.

             Diatas semuanya, kekuatan yang masih sangat dipertahankan di ‘Pitch Perfect 2’ tentulah referensi musiknya. Tampil dengan power sama dahsyatnya lewat aransemen-aransemen baru di tangan duo produser pop/RnB The Underdogs (drummer Harvey Mason, Jr. & RnB producer/songwriter Damon Thomas) serta additional scoring dari Mark Mothersbaugh, adegan-adegan acapella fights-nya bahkan melebihi aca-awesome-ness di film pertama, dengan lagu-lagu lintas generasi dari ‘What’s Love Got to Do with It’ ke hip hop hits ’90 ke awal 2000-an; ‘This is How We Do It’, ‘Doo Wop (That Thing)’, ‘Bootylicious’ ke ‘Thong Song’. Masih ada everlasting classics seperti ‘You Can’t Hurry Love’ dan ‘Lady Marmalade’, HansonsMMMBop’ hingga ‘80s highlight dengan tribute sama kuat ke The Breakfast ClubsDon’t You (Forget About Me) (Simple Minds)’ di film pertama; ‘80s anthemic rock-ballad classicWe Belong’ dari Pat Benatar buat mengisi salah satu montage terheboh Rebel Wilson dan Adam DeVine sekaligus pengantar medley di klimaksnya. Ain’t nothing like a song that struck you with your favorite classics, dan ini benar-benar dipertahankan Banks dan timnya dengan kuat.

           And surprisingly, Banks ternyata benar-benar bisa menerjemahkan musik serta elemen-elemen musikalnya bahkan melebihi Jason Moore di film pendahulunya. Lihat bagaimana ia menyemat studio scene dengan KendrickSnoop Doggs cameo mashup ofWinter Wonderlandand ‘Here Comes Santa Clause’, the aca-awesome Universal fanfare mengiringi bumper kredit awalnya dari John Michael Higgins dan ia sendiri, ataupun penggambaran format Das Sound Machine dengan entertainment showcase lebih dari sekedar kekuatan acapella. Semuanya tergelar dengan sangat asyik, dan ketika closing scene-nya sudah mengakhiri ‘Pitch Perfect 2’ dengan sangat heboh dari stage climax ke Rebel Wilsons explotation, masih ada gempuran comedic scenes yang bergulir di end credits dengan lebih lagi tampilan cameo, dari Blake Shelton, Pharell Williams, Christina Aguilera dan Adam Levine di ajang ‘The Voice’.

            So yes, dengan semua kolaborasi elemen itu, walau hingga saat ini hasil perolehan B.O.-nya sudah jelas menerjemahkan kesuksesan, dua kali lipat melebihi film pertamanya, resepsi ‘Pitch Perfect 2’ mungkin memang masih akan terbagi diantara pemirsa yang lebih mementingkan character-based storytelling, sekedar penyuka komedi termasuk fans Rebel Wilson atau yang benar-benar lebih dalam memahami musik terutama acapella sebagai fokus utamanya. Now if you’re on the last list, ini adalah musical sequel yang benar-benar luarbiasa pecah. Being aca-awesome and also power-packed, hits more than just high notes, ‘Pitch Perfect 2’ is a perfect pitch! (dan)

~ by danieldokter on May 31, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: