SAN ANDREAS: TOTAL EXCITEMENT OF A DISASTER PORN

SAN ANDREAS

Sutradara : Brad Peyton

Produksi : New Line Cinema, Flynn Picture Company, Village Roadshow Pictures, RatPac-Dune Entertainment, Warner Bros, 2015

san andreas

            Disaster porn ; dalam berbagai racikan subgenre-nya, agaknya masih tetap jadi komoditas menjanjikan sebagai summer blockbusters. Mau dihajar kritikan pedas dari kritikus sekalipun, atas dasar plot yang tak pernah jadi titik berat jualannya, hasil perolehan B.O.-nya hampir selalu menjanjikan sebagai sebuah jualan sensasi. Apalagi, genrenya memang punya peluang besar untuk mengangkat tema-tema keluarga terhadap bidikan penonton segala usia.

            ‘San Andreas’ ini pun, nevertheless, berdiri diatas kepentingan-kepentingan yang sama. Dan jangan juga terdistraksi dengan nama Toby Emmerich yang memang ada dibalik produksi-produksi New Line. No, meski bernama sama, ia tak punya hubungan apa-apa dengan Roland Emmerich sebagai satu nama yang kapasitasnya dalam genre ini sudah seperti Irwin Allen dulu di era sekarang. Biar begitu, bukan berarti ‘San Andreas’ kalah dari segi kelas produksinya di genre yang sama.

            Opening sceneSan Andreas’ sudah memperlihatkan ketangguhan Raymond ‘Ray’ Gaines (Dwayne Johnson), pilot heli SAR di LA Fire Department, dalam sebuah usaha penyelamatan. Namun kehidupan pribadinya tak mulus. Berada di ambang perceraian dengan istrinya, Emma (Carla Gugino), Gaines mau tak mau harus menyetujui calon suami baru Emma, Daniel Riddick (Ioan Gruffudd) untuk membawa putri kesayangannya, Blake (Alexandra Daddario) dalam sebuah trip ke San Francisco kala sebuah bencana gempa 7.1 SR menimpa Hoover Dam atas prediksi seismologis Lawrence Hayes (Paul Giamatti) dan koleganya, Dr. Kim Park (Will Yun Lee). Bencana itu ternyata tak berhenti disana, karena ekses terhadap patahan San Andreas. California, yang membatasi dua lempeng tektonik terbesar Pasifik dan Amerika Utara sudah siap menimbulkan gempa yang jauh lebih masif lagi. Mengetahui Emma dan Blake terperangkap di dua lokasi berbeda, dari Los Angeles ke San Francisco, Gaines pun memulai usaha penyelamatan pribadi untuk mempertahankan keutuhan keluarganya.

            Oh yeah, seperti disaster porn yang lain, dalam segi plot, skrip ‘San Andreas’ yang digawangi Calrton Cuse, penulis yang paling dikenal dari kiprahnya lewat serial ‘Lost’ pun tak jauh berbeda. Menyorot hanya satu keluarga sebagai karakter utama ditambah beberapa karakter tambahan untuk membangun subplot-subplot komersil soal love interest dalam interaksi-interaksi manusia yang ada di dalamnya, logikanya mungkin tak lebih dari sebuah omong kosong ala Hollywood blockbusters.

       Tak ada juga akting yang perlu diberikan perhatian lebih, begitu juga terhadap motivasi-motivasi serba dangkal yang melulu harus mengarah kepada apa yang diharapkan penonton terhadap nasib karakter-karakter utama itu. Walau kepentingan karakternya jelas ada, Paul Giamatti atau Ioan Gruffudd yang harusnya punya potensi lebih sebagai aktor juga ditempatkan tak lebih sebagai pendukung tak penting dalam kelangsungan storytelling selebihnya. Bersama jualan disaster porn-nya, ini jelas juga merupakan showcase-nya Dwayne Johnson, satu dari segelintir A-list action heroes yang terus bisa bertahan di industrinya sekarang.

            Tapi jangan tanya soal visualnya. Walau latarnya menyemat informasi penting serta bukan tak mungkin terjadi soal ekses patahan lempeng tektonik terhadap bencana masif yang bisa meluluhlantakkan satu benua – namun dalam kepentingan filmis jelas tak berpegang pada akurasi geologis secara ilmiah, VFX yang dibesut oleh Colin Strause, one of the Strause Brothers dari ‘Aliens Vs Predators: Requiem’ dan ‘Skyline’ lewat VFX company mereka, Hydraulx, yang sebelumnya sudah punya rekor panjang dari ‘The Day After Tomorrow’ hingga adaptasi-adaptasi Marvel (‘Fantastic Four’, ‘X-Men’, ‘The Avengers’ dan ‘Captain America: First Avenger’, benar-benar tak main-main. Earthquake scenes yang mereka hadirkan dalam ‘San Andreas’ memang dipenuhi oleh never before seen sequences dalam genrenya, melebihi apa yang kita saksikan selama ini, dan meski minus logika, tapi punya detil lebih dalam penggambaran destruksi berikut device atau rescuing vehicle yang mereka pilih. Dengan kekuatan itu, thrilling factor yang mau tak mau memegang peran dalam intensitas pace-nya pun menjadi jauh naik, nyaris tanpa jeda dan jauh lebih ketat dari film-film lain dalam genre sejenisnya. Gimmick 3D-nya sendiri tak spesial, tapi punya depth cukup baik untuk penyukanya.

            In addition, masih ada Alexandra Daddario yang tampil stunning sebagai young lead dalam formula-formula klise genrenya. And no, ini bukan saja soal tampilan fisik Daddario yang memang banyak dibicarakan selama karirnya yang masih belum terlalu panjang, namun ia memang selalu punya potensi dan screen presence kuat untuk menyita perhatian penonton terhadap karakter-karakter yang dimainkannya. Selebihnya memang hanyalah ketepatan cast yang memang berada di importance of looks ketimbang akting. Disana, masih ada aktor muda Hugh Johnstone-Burt dan Art Parkinson yang memerankan abang beradik Ben & Ollie dengan cukup menarik dalam distraksi konyol-konyolannya, Carla Gugino, Emmy Award winning Archie Panjabi dari ‘The Good Wife’, dan Kylie Minogue yang mungkin tak dikenali semua orang saking singkat dan nyaris tak berarti.

            So, dari banyak sisi filmis, ‘San Andreas’ memang ada semurni-murninya di kelas summer blockbusters yang menawarkan tak lebih dari sekedar hiburan. Begitupun, bukan berarti ia gagal membidik sasarannya. Paling tidak, diatas semua klise-klise formula genrenya, lewat penyutradaraan Brad Peyton yang sudah sangat naik kelas dari sekuel ‘Cats & Dogs’ dan ‘Journey to the Centre of the Earth’, ‘San Andreas’ punya akurasi dalam chemistry, thrilling pace dan efek visualnya. Dalam persyaratan summer blockbusters, tentu artinya bagus. Total excitement of a disaster porn. (dan)

~ by danieldokter on June 3, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: