JURASSIC WORLD: THE ULTIMATE RIDE TO RELIVE WONDERS

JURASSIC WORLD

Sutradara: Colin Trevorrow

Produksi: Amblin Entertainment, Legendary Pictures, Universal Pictures, 2015

Jurassic World 2

            In terms of cinematic wonders, tak banyak film yang benar-benar monumental. ‘Jurassic Park’ (1993) jelas adalah satu diantaranya. Not just a total spectacle, salah satu mahakarya Steven Spielberg yang diangkat dari novel berjudul sama karya Michael Crichton itu juga merubah standar penggunaan efek visual serta keseluruhan industrinya dalam kelas blockbuster. Sayang, dua sekuelnya, ‘The Lost World: Jurassic Park’ (1997; masih digawangi Spielberg) dan ‘Jurassic Park III‘ (2001; beralih ke Joe Johnston)’ tak lagi punya kekuatan yang sama.

            Tenggelam ke dalam development hell lebih dari satu dekade meninggalkan publisitas rencana demi rencana, ‘Jurassic Park IV’ (belakangan berganti menjadi ‘Jurassic World’) akhirnya dipublikasi tak lama sebelum re-release versi 3DJurassic Park’ menyambut 20th anniversary-nya dilepas tahun 2013 lalu. Menggamit Legendary Pictures sebagai co-financier-nya, Spielberg yang hanya duduk di kursi produser menyerahkan penyutradaraannya pada Colin Trevorrow dari sebuah light-indie time travel comedySafety Not Guaranteed’ atas saran Brad Bird (juga menampilkan suaranya bersama Trevorrow disini). Rick Jaffa dan Amanda Silver dari franchisePlanet of the Apes’ baru menulis skripnya bersama Trevorrow dan partner-nya di ‘Safety’, Derek Connoly. Ini tentu bukan sebuah estafet yang mudah mengingat rentang waktu panjang dimana generasi penonton pun sudah berganti, apalagi ekspektasi-ekspektasi yang ada terhadap sebuah cinematic legend se-monumental ‘Jurassic Park’.

            22 tahun setelah insiden di film pertama, taman rekreasi ‘Jurassic Park’ kini sudah berganti menjadi ‘Jurassic World’ di Isla Nublar namun dikembangkan jauh lebih besar oleh pemilik baru yang ditunjuk John Hammond, Simon Masrani (Irrfan Khan). Zach dan Gray Mitchell (Nick Robinson & Ty Simpkins), dua kakak beradik yang tengah berada disana buat mengunjungi bibi mereka, Claire Dearing (Bryce Dallas Howard), operation managerJurassic World’ terpaksa berhadapan dengan insiden baru yang diakibatkan dinosaurus hybrid hasil rekayasa genetik Indominus Rex dengan kekuatan tak terkira, yang dirancang Dr. Henry Wu (B.D. Wong) demi kelangsungan kesuksesan taman rekreasinya. Also entering the scene, pelatih velociraptor Owen Grady (Chris Pratt) yang dipercaya Masrani dan pernah berhubungan dengan Claire, asistennya Barry (Omar Sy), tech operator Lowery Cruthers (Jake Johnson) serta Vic Hoskins (Vincent D’Onofrio), kepala perusahaan sekuriti InGen yang punya maksud lain dibalik keterlibatannya di sana. Sekali lagi, dinosaurus-dinosaurus hasil rekayasa genetik ini harus menghadapi insting mereka di tengah ancaman terhadap semua pengunjung akibat ambisi manusia-manusia di belakangnya.

            So what’s so good aboutJurassic World’? Jawabannya adalah semuanya. Tapi diatas kesuksesan jauh melebihi dua instalmen sebelumnya, lini terkuat yang mendasari ‘Jurassic World’ adalah respek dan kecintaan orang-orang yang ada dibalik pengembangan sekuelnya. Oh yes, ini memang masih bergerak tak jauh dari template wajib soal-soal ‘Survival of the Fittest’ dibalik metafora kontradiksi kepunahan dinosaurus dan ambisi manusia serta tentu saja resep-resep baku summer blockbuster dari sisi thrilling adventure ke survival game-nya, lengkap dengan pameran VFX dan CGI yang tetap digawangi ILM (Industrial Light & Magic) dan Phil Tippett sebagai supervisi teratasnya.

            Namun kemasan keseluruhannya dirancang dengan sangat cermat oleh Trevorrow dan timnya. Selagi ide Jaffa dan Silver menggagas hybrid dinosaur sebagai villain baru yang jauh lebih mengerikan, elemen-elemennya dibangun Trevorrow dan Connoly dengan homage penuh respek terhadap pencapaian Spielberg di awal franchise-nya. Lihat bagaimana mereka mengemas scientific revolutions secara detil terhadap eksistensi ’Jurassic World’ yang dilengkapi dengan teknologi sangat relevan – mulai dari modified trains, rides dan device-device lainnya termasuk holographic display dan segala amunisi bahkan playground area penuh product placement sangat rapi, tapi tak sekalipun meninggalkan trivia ke tiap elemen penting yang selama ini kita lihat dari instalmen ke instalmen dalam franchise-nya. Tampilan-tampilan dinosaurus lama serta barunya adalah keunggulan lain lagi, yang semuanya digagas berdasar kecintaan penuh atas detil-detil creatures arc yang sudah ada dalam franchise-nya.

            Disitu pula, bukan berarti lantas plotnya menjadi terpinggirkan sebagai elemen tak penting seperti dikeluhkan banyak pengamat yang kelewat serius dengan tetek-bengek storywise things. Walau masih tak jauh beda dengan elemen-elemen sebelumnya, skrip Trevorrow dan timnya melakukan inversi yang cerdas diatas keberadaan masing-masing dinosaur creatures dengan penekanan penting dan repetisi relevan terlebih terhadap para fans franchise-nya, termasuk dengan hubungan manusia dengan velociraptors yang sudah kita saksikan lewat trailer-nya. Tiap homage itu bisa menciptakan cinematic magic yang sama terhadap apa yang kita rasakan saat pertama kali menyaksikan ’Jurassic Park’ dulu; dari gate opening, every ride scenes, survival runs hingga dino-battles sebagai klimaks ke closing scenes penuh trivia ke salah satu adegan paling legendaris di ’Jurassic Park’; semua dibalik komposisi scoring baru Michael Giacchino yang tetap menggunakan main themes legendaris milik John Williams, serta sinematografi John Schwartzman (yes, ada pengaruh film-film Michael Bay dari keterlibatannya di ’Armageddon’ ataupun ’Pearl Harbour’) yang di tiap sisinya punya penerjemahan blockbusters yang seru. Tak ada yang terlalu spesial dari gimmick popped-up 3D-nya, but nevertheless, punya depth details yang juga sangat bekerja menambah excitement-nya.

            Cast-nya, di sisi lain, juga punya kekuatan luarbiasa untuk instalmen terbaru ini. Paduan Chris Pratt dan Bryce Dallas Howard yang dibangun dengan trivia-trivia ke adventure fantasy genre, terutama Pratt yang meyakinkan kita bahwa ia sangat punya persona humoric badass Indiana Jones, menciptakan chemistry sangat menarik dengan Dallas Howard sebagai main lead-nya. Nanti dulu soal suspension of disbelief ke hal-hal seperti high heels yang banyak dibicarakan itu, tapi jauh dari sekedar damsels in distress, Dallas Howard juga meng-handle banyak survival scenes-nya dengan gestur yang sangat seru.

             Sebagai karakter-karakter child friendly-nya, Ty Simpkins dan Nick Robinson mungkin tak sekuat Joseph Mazello dan Ariana Richards, tapi berganti ke brother to brother relationship sebagai kebalikan dari interaksi karakter Dallas Howard ke Judy Greer yang memerankan ibu mereka, mereka tak juga gagal menempatkan screen presence-nya ke tengah-tengah petualangan ini. Masih ada dukungan kuat dari nama-nama lain di ensemble cast-nya, dari Jake Johnson, Omar Sy, Irrfan Khan, B.D. Wong sebagai satu-satunya penghubung ke instalmen lamanya hingga Vincent D’Onofrio yang sudah lama tak tampil sekuat ini.

            So, don’t listen to any negative critics terutama bila Anda merupakan orang-orang yang dulu mengalami euforia ’Jurassic Park’ beserta segala cinematic experience-nya yang penuh keajaiban itu. Dengan gagasan-gagasan juara ini, walaupun ia tak punya momentum yang sama dengan ’Jurassic Park’ sebagai sci-fi adventure ber-taglineAn Adventure 65 Million Years in the Making’, ’Jurassic World’ adalah sekuel yang dalam banyak sisi berbeda punya kekuatan yang sama, juga sebuah love letter penuh respek yang mengingatkan kita agar tak pernah lupa terhadap apa yang sudah dicapai Spielberg dengan ’Jurassic Park’ dan segala keajaibannya dalam sejarah sinema. The Ultimate Ride to Relive Wonders! (dan)

Jurassic World 1

~ by danieldokter on June 11, 2015.

2 Responses to “JURASSIC WORLD: THE ULTIMATE RIDE TO RELIVE WONDERS”

  1. Ada pernyataan dari karakter Claire yang sempat menyinggung tentang generasi sekarang yang biasa saja melihat wujud dinosaurus. Mungkin karena itulah alasan ditampilkannya Indominus Rex. Tapi reaksi penonton kayaknya tetap asyik. Para penonton di sekeliling saya, terutama penonton cewek, masih histeris sambil teriak-teriak atau nutup mata.😀

  2. […] JURASSIC WORLD […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: