AYAT-AYAT ADINDA: A SIMPLE MESSAGE WITH DEEPER EFFORTS

AYAT-AYAT ADINDA

Sutradara : Hestu Saputra

Produksi : MVP, Mizan Productions, Dapur Film, Argi Film, Studio Denny JA, 2015

ayat-ayat adinda

            Pemerhati film Indonesia sudah mendengar ini sebelumnya, bahwa ada rencana Haidar Bagir sebagai penggagas ‘Gerakan Islam Cinta’ untuk mengkampanyekan misi mereka tentang ajakan untuk menghargai keberagaman dalam Islam melalui media film, dan tidak hanya satu. Bekerjasama dengan Hanung BramantyoDapur Film, Mizan Productions, Denny JA, Argi Film dan MVP, ‘Ayat-Ayat Adinda’ adalah film pembukanya. Kendalanya tentu ada. Selain masalah keragaman yang masih sulit sekali buat disatukan, perbedaan persepsi dan latar belakang budaya terhadap aliran-aliran berbeda ini memang kerap membuat pertentangannya menjadi hal sensitif buat dibahas.

            Disitulah Salman Aristo sebagai penulis skrip sekaligus salah satu produsernya mungkin punya konsep berbeda untuk menyampaikan misi ini. Apa yang menjadi dasar tema keluarga dalam nafas reliji di ‘Ayat-Ayat Adinda’ memang simpel, namun latar yang disematkan Salman ke dalam konflik tambahannya terlihat sekali mencoba menghindari kontroversi, apalagi karena ada nama Hanung disini. Masalahnya sekarang, sebaik apakah Hestu Saputra bisa mengemas pola itu untuk bisa berjalan bersama diatas sebuah penceritaan yang kuat? Dan oh ya, ‘Ayat-Ayat Adinda’ tetap punya resiko ke segmentasi terhadap pangsa pemirsanya. Bukan lantas ia tak bisa jadi sebuah pesan universal, namun detil-detil elemen yang mereka gunakan dalam bangunannya, mau tak mau juga tak semudah itu dicerna penonton lain, bahkan mungkin dari kalangan relijinya sendiri yang bisajadi belum sepenuhnya memahami soal lantunan ayat-ayat suci. Ini kenyataan.

            Walau Adinda (Tissa Biani Azzahra) memiliki suara luarbiasa merdu, ayahnya, Faisal (Surya Saputra) yang bekerja sehari-hari sebagai seorang tukang daging, melarang keras Adinda menjadi tim qasidah di sekolahnya. Lebih dari sekedar permintaan buat Adinda untuk hanya fokus ke pelajaran sekolah, ternyata ada sorotan masyarakat yang dihindari Faisal atas kepercayaan keluarga mereka yang sudah membuat mereka, termasuk istrinya, Amira (Cynthia Lamusu) dan putra sulungnya (Moh. Hasan Ainul) terpaksa hidup berpindah-pindah selama ini. Sementara, bagi Adinda yang belum sepenuhnya mengerti pandangan-pandangan itu, hanya ada satu cara untuk memenangkan kebanggaan keluarganya. Didorong oleh dua sahabatnya, Adinda memberanikan diri untuk diam-diam mengikuti perlombaan MTQ yang justru menimbulkan polemik lebih lanjut diantara masyarakat sekitarnya.

            Dalam bangunan nafas relijinya, mungkin tak ada yang lebih baik dari premis seorang anak kecil yang ingin mendapatkan kebanggaan orangtua lewat lafal ayat-ayat suci Al-Quran. Begitu simpel dan digagas dari sudut pandang anak-anak yang penuh dengan kepolosan, ini sudah menjadi nilai lebih; bahwa film reliji di sinema kita tak harus terus-terusan mengetengahkan konflik-konflik cinta secara klise. Salman sudah mengemas bagian ini dengan sangat baik, dimana tiga tokoh belianya termasuk Badra Andhipani Jagat yang berperan sebagai Fajrul, apalagi Tissa Biani. Menampilkan akting yang sangat natural dengan pendalaman luarbiasa melantunkan ayat-ayat suci itu dalam elemen tema perlombaan MTQ, yang mungkin belum pernah menjadi sorotan di satu pun film reliji kita, Tissa melakonkan karakter Adinda dengan kekuatan tak main-main sebagai sentralnya.

            Namun masalah mendasar ‘Ayat-Ayat Adinda’ ada pada latar konfliknya sendiri. Walau kita bisa sangat mengerti alasannya untuk menghindari kontroversi dan tuduhan-tuduhan keberpihakan, Salman terpaksa menahan konflik sensitif ini berada di garis simbolik tanpa pernah terus-terang dalam penceritaannya. Alasan itu memang tak salah, namun hanya menyemat satu kata ‘sesat’ yang beberapa kali muncul dalam dialog sementara penggambaran adegannya juga berpotensi mendistraksi maknanya, ia tak bisa sepenuhnya membentuk blend yang bagus dengan kisah polos dari sudut pandang anak-anak tadi.

         Belum lagi soal detil-detil elemen cara-cara melagukan lafal ayat suci yang dianggap lazim, yang memang segmental dan pada akhirnya harus terbentur dengan adegan-adegan perlombaan MTQ – yang malah diiringi scoring atau lagu, bahkan ke solusinya yang terkesan terlalu dangkal lewat peran Kyai Taufik – tetap diperankan dengan bagus dan penuh wibawa oleh aktor senior Deddy Sutomo. Masih ada selipan-selipan konflik lain yang tak tertata dengan baik termasuk soal obat-obatan yang lagi-lagi agak salah kaprah dari sisi medis, tanpa sekalipun bisa lari dari template klise ending tema-tema kompetisi dengan larangan orangtua yang bisa mencair dibalik keteguhan sikap karakter utamanya.

            Begitupun, ‘Ayat-Ayat Adinda’ bukan lantas menjadi film yang gagal. Sisi teknisnya yang tampil dengan sangat cemerlang sedikit banyak bisa menutupi kelemahan penceritaan tadi. Mengetengahkan eksotisme kehidupan karakternya di setting Yogyakarta yang terekam dengan baik dari sinematografi M. Fauzi Bausad, keunggulan utama ‘Ayat-Ayat Adinda’ adalah kekuatan cast, yang justru datang dari aktor-aktor tak terlalu dikenal di luar Surya Saputra, Cynthia Lamusu hingga Sitoresmi Prabuningrat yang juga bermain cukup baik, seperti Marwoto, Yati Pesek, Candra Malik dan Susilo Nugroho yang lebih dikenal di TVRI Yogyakarta dengan nama Den Baguse Ngarso dan kemarin baru muncul dalam film pendek ‘Lemantun’. Wonderfully well acted, penyutradaraan Hestu juga menunjukkan peningkatan cukup besar dengan caranya meng-handle pemeran-pemeran latar yang memang mendominasi storytelling lewat adegan-adegan perlombaan.

            Pada akhirnya, walaupun dengan dua elemen penceritaan utama yang tak bisa menyatu dengan sempurna, ‘Ayat-Ayat Adinda’ tetap bisa menyampaikan misinya dengan cukup baik. Meski tak terus terang dan belum tentu juga disepakati semua pemirsanya, pesan-pesan tentang penerimaan terhadap keragaman aliran tetap bisa terbaca dibalik satu hal yang sebenarnya jauh lebih universal; perjuangan seorang anak untuk meraih kebanggaan orangtuanya. Setuju atau tidak, let’s just stick to that. (dan)

~ by danieldokter on June 15, 2015.

One Response to “AYAT-AYAT ADINDA: A SIMPLE MESSAGE WITH DEEPER EFFORTS”

  1. boleh ya mas tukerin link blog.
    link saya di iza-anwar.blogspot.com

    terima kasih salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: