PIZZA MAN : A FRESH IDEA IN INDONESIAN RARE CHAOS COMEDY

PIZZA MAN 

Sutradara: Ceppy Gober

Produksi: Renee Pictures, 2015

pizza man

            Niat Gandhi Fernando dengan Renee Pictures-nya untuk terus berproduksi di industri film kita agaknya patut lebih dihargai. Dengan PH masih berusia sangat muda, muncul lewat ‘The Right One’ (2014) yang belum terlalu baik, lantas ‘Tuyul: Part 1’ yang baru tayang beberapa bulan lalu, meski masih punya kekurangan dalam penggarapan keseluruhan, Gandhi sudah menunjukkan peningkatan secara konsisten terutama di segi ide. Dan satu lagi, selagi kebanyakan PH lain muncul lewat genre yang itu-itu saja dari satu produksi ke produksi lainnya,  tiga produksi Renee secara berturut memang ada di various genres.

            Dari promonya sendiri, kita sudah tahu bahwa ‘Pizza Man’ adalah sebuah komedi. Tapi ini memang sedikit berbeda. Di luar pendekatan chaos comedy, comedy of errors atau apapun sebutan yang Anda sukai, skrip yang ditulis oleh Gandhi dan R. Danny Jaka Sembada (‘Modal Dengkul’) memang punya garis batas jelas sebagai adult comedy dengan joke-joke ofensif yang mungkin masih jarang tersentuh oleh film-film komedi lain, apalagi dengan fokus yang lebih feminis, ke tiga wanita sebagai lead-nya. Tapi tentu tak mengapa, secara di tengah anjloknya antusiasme penonton film nasional, kita memang terus perlu ide-ide berbeda untuk bisa mendobraknya kembali.

            Tiga sahabat yang tinggal bersama, Olivia (Joanna Alexandra), Nina (Karina Nadila) dan Merry (Yuki Kato) masing-masing punya masalah dengan lelaki yang membuat mereka berada di puncak kesabarannya. Untuk melampiaskan dendam, pada suatu malam mereka membuat rencana gila untuk memperkosa seorang lelaki secara random, namun secara tak terduga, ulah Nina dan Merry justru mengakibatkan kekacauan beruntun atas seorang pengantar pizza bernama Adam (Gandhi Fernando).

            Now look at that plot. Sebuah premis yang memang sudah jelas mengarah ke sebuah chaos comedy yang tak biasa dan masih jarang dalam film-film kita. Mostly sangat, sangat nakal. Tapi jangan buru-buru menuduhnya berupa sebuah dukungan terhadap rape jokes seperti yang diributkan sebagian orang, karena latar karakternya sebenarnya sudah menjelaskan motivasi yang justru berisi protes sosial terhadap dominasi kaum pria dalam pertentangan-pertentangan gender. In terms of comedy, ini tentu sah-sah saja. Seperti yang dulu pernah dilakukan dengan ‘Senjata Rahasia Nona’-nya Garuda Film yang disutradarai Henky Solaiman, namun bukan berarti punya plot sama.

            Dan plot itu memang digagas Gandhi dan Danny, entah sengaja atau tidak, dengan referensi yang sangat terasa bercampur baur antara konsep-konsep komedi trio ala Warkop dengan inversi gender dan offensive jokes serta plot ala ‘The Hangover’ dalam chaotic setup-nya. Meski bukan sama sekali berarti ikut-ikutan, separuh akhir ‘Pizza Man’ memainkan settingnya diatas hospital scenes, mirip seperti ‘Atas Boleh Bawah Boleh’-nya Warkop, namun tentu saja dengan step-step komedi yang berbeda. Apapun itu, dalam batasan referensi, ini cukup fresh, dan mereka terlihat punya usaha lebih untuk menyusun interaksi kekacauannya dengan cukup rapi. Apalagi tampilan komedinya memang secara berani memasukkan joke-joke ofensif dari bahasa hingga elemen-elemen seks dan narkoba yang nakal tapi masih ada dalam batas-batas yang relevan.

           Memerankan tiga female lead-nya, Joanna, Karina terutama Yuki Kato juga menampilkan comedic chemistry yang cukup baik. Bagian-bagian awal yang serba nakal itu mungkin masih terasa agak canggung, namun menuju paruh masa putarnya, chemistry ini terus meningkat semakin lepas. Sementara sebagai supporting cast-nya, Babe Cabiita, Chika Waode, Kemal Palevi, Dennis Adhiswara, Dhea Ananda hingga Henky Solaiman bisa mengisi tiap-tiap comedic timing-nya dengan cukup pas.

          Okay, mungkin masih ada sedikit dramatic turnover yang terlepas agak berlebih hingga menurunkan pace komedinya, namun tetap punya arah untuk penjelasan karakter dalam konklusinya, begitu juga joke-joke lain yang masih bertabur hit and miss di sejumlah comedic scenes-nya. Tetap, paling tidak, Ceppy Gober sebagai sutradara yang sebelumnya menyutradarai ‘Modal Dengkul’, terlihat cukup paham untuk tak menitikberatkan bangunan chaos comedy-nya pada interaksi karakter dan comedic setup-nya, bukan semata-mata pada slapstick plays atau elemen-elemen malas lain seperti cartoonish sound effects. This is a fresh idea in Indonesian rare chaos comedy. Tak sempurna, namun masih punya sisi hiburan yang terjaga. Boleh. (dan)

~ by danieldokter on June 16, 2015.

One Response to “PIZZA MAN : A FRESH IDEA IN INDONESIAN RARE CHAOS COMEDY”

  1. bang daniel, bisa nggak tambahin film bollywood juga;,,,,, paling tidak 1 kali dlm 1 bulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: