MINIONS : A JUMBO-SIZED ANNOYING BUT FUN MADNESS

MINIONS

Sutradara: Pierre Coffin & Kyle Balda

Produksi: Illumination Entertainment, Universal Pictures, 2015

minions

            Okay. Bagi sebagian orang, yellow little creatures bernama ‘Minions’ yang pertama kali dikenalkan lewat ‘Despicable Me’ (2010) sebagai kreasi Pierre Coffin dan Chris Renaud dari Illumination Entertainment ini boleh jadi annoying setengah mati dan dianggap sangat kekanak-kanakan. Tapi lihat kenyataannya. Tak ada yang menyangka kalau setelah sekuelnya di tahun 2013, ‘Despicable Me 2’, franchise-nya begitu melejit jadi salah satu karakter animasi paling dikenal orang terutama anak-anak di seluruh dunia. Seperti nama aplikasi game-nya, ‘Minion Rush’, demam ‘Minions’ ini memang sempat membuat rush lewat gimmick fastfood figures-nya dengan angka penjualan tak main-main sebagai collector’s items termasuk lewat lelang.

            Now the continuation is avoidable, sejak ‘Despicable Me 2’, termasuk lewat after credit scene-nya, kita sudah tahu bahwa petualangan mereka akan berlanjut ke sebuah prekuel/spinoff berjudul ‘Minions’ yang dirilis tahun ini. Oh ya, sambutannya yang lebih besar di Asia dan sejumlah negara membuat tanggal rilisnya lebih cepat sebulan daripada di AS, dan disini (termasuk Malaysia dan Singapura), malah menggeser ‘Inside Out’-nya Pixar demi perhitungan kesuksesan yang berbeda. Entah iya atau tidak, mungkin ada juga faktor penghormatan garis darah Coffin yang punya ibu seorang penulis terkenal Indonesia, NH Dini. Jadi dimana sebenarnya letak keberhasilan itu? Despite the looks and the owned-universe yang sampai menciptakan bahasa sendiri buat dialog-dialognya, no matter how childish, konsep yang mereka ciptakan untuk karakternya memang punya batasan yang sangat jelas, dan belum pernah ada sebelumnya. Tiny yellow creatures yang tak pernah berhenti mencari seorang villain hebat sebagai majikan mereka. Oh yes, ini memang menarik.

            ‘Minions’ pun berpindah jauh sebelum apa yang kita saksikan dalam ‘Despicable Me’, before Gru and the orphan girls. Menyemat asal-usul Minions yang sudah ada sejak awal zaman lewat narasi yang disuarakan aktor Geoffrey Rush, berkembang dari organisme satu sel demi tujuan mengabdi pada seorang majikan jahat, mereka hidup dari zaman ke zaman, berinteraksi dengan dinosaurus-dinosaurus dan manusia gua prasejarah, menjadikan Pharaoh, Dracula hingga Napoleon sebagai majikan yang secara tak sengaja selalu berujung kekacauan sampai akhirnya terdampar di benua Antartika. Menjelang akhir era ’60-an, kegagalan mendapatkan majikan baru yang membuat mereka mengalami depresi akhirnya didobrak oleh minion bernama Kevin yang memutuskan keluar untuk mencari despicable master bersama dua volunteer badung Stuart dan Bob yang masih bocah. Bertualang di New York, mereka menemukan sasaran baru bernama Scarlet Overkill (disuarakan Sandra Bullock), seorang female supervillain yang kemudian memperalat Kevin-Stuart dan Bob mencuri mahkota Ratu Elizabeth II (Jennifer Saunders) di London. Bersama misi itu, kelangsungan eksistensi Minions pun ikut dipertaruhkan.

            Penned by Brian Lynch (‘Hop’, ‘Puss in Bootsand short animatedMinions Mayhem‘) sebagai scriptwriter baru yang menggantikan duo penulis ‘Despicable Me’, Cinco Paul & Ken Daurio, ide gila tentang asal-usul ‘Minions’ ini dipindahkan dari rentetan sejarah ‘world’s greatest villains’ ke setting tahun 1968 dalam nafas retro crime fantasy dari spy action ke campy sci-fi era itu. Ini mau tak mau harus diakui sangat fresh dan memang dipenuhi banyak referensi. Bukan hanya soal genre film yang memasukkan tema-tema spy action ke campy superhero seperti ‘Fantastic Argomana.k.aHow to Steal the Crown of England’ (1967) dibalik tema yang sama, gadget tech dan demam robot, tapi juga rock history incl. The Beatles’ ‘Abbey Roadclassic scene ke legenda ‘Sword in the Stone’ yang melatarbelakangi setting London-nya, tetap dengan tokoh-tokoh legendaris yang hidup di zamannya.

           Sementara, di lini paling dasar, kelucuan-kelucuannya jelas tak lari dari resep baku Minions dalam franchise-nya. Menggamit pasangan baru Kyle Balda buat menggantikan Chris Renaud (tetap mengisi sebagian suara Minions), Coffin memang terlihat tahu sekali resep kesuksesan franchise-nya ada dimana. Kacau balau, tolol dan tanpa arah, tapi juga sekaligus fun luarbiasa. Bahasa-bahasa Minions yang digagas menyentil banyak world languages hingga banyak dibuatkan kamus sendiri termasuk Indonesia dimana pemirsanya dihebohkan dengan dialog ‘Terima Kasih’ yang terdengar jelas itu digabungkan dengan vintage music reference dari KC & The Sunshine Band, Rick SpringfieldDonovan, Aerosmith, The Kinks, The Who hingga The Doors dan Jimi Hendrix di deretan OST-nya, hingga referensi Van Halen di salah satu highlight scene Stuart dan gitarnya. Scoring dari Heitor Pereira yang sudah ada sejak instalmen pertamanya juga memberikan sentuhan yang bagus. Gimmick 3D-nya secara keseluruhan cukup baik, namun sayangnya tak benar-benar bisa memberikan excitement lebih di adegan-adegan serunya.

             Satu lagi, tentu saja deretan voice cast-nya. Sandra Bullock dan Jon Hamm mungkin belum begitu maksimal menyuarakan pasangan Scarlet dan Herb the inventor, not sounds so evil, tapi ada Michael Keaton dan Alison Janney sebagai Nelson family yang meski terbatas di supporting characters tapi hadir dalam salah satu adegan paling menarik, Jennifer SaundersSteve Coogan dan Hiroyuki Sanada serta tentu Geoffrey Rush sebagai narator – dan Coffin sendiri, menyuarakan sekaligus Kevin, Stuart dan Bob.

            So go call it what you want. Tapi yang jelas, dibalik kecerobohan serta ketololan Minions yang selalu jadi jualan utama dalam sisi fun comedy-nya, Coffin dan timnya bukan berarti tak merancang karakter-karakter Minions ini dengan kecermatan lebih dari karakterisasi hingga potensi besar jualan merchandise-nya dalam detil-detil berbeda yang sangat bisa dikenali, apalagi dalam penggunaan referensi-referensinya. Bahkan benang merah franchise-nya dengan karakter yang sudah kita kenal selama ini pun disiapkan dengan sangat menarik di pengujung film serta post credit scenes-nya. Oh yes, pemirsa dewasa mungkin terkadang masih ribut mempersoalkan storytelling lebih dalam lewat sebuah family-oriented animated movie, but do know this. Always look to your little loved ones, untuk menilai seberapa besar sebenarnya fun factor yang dimiliki sebuah tontonan animasi segala umur. Dengan segala mishmash khasnya, ‘Minionsis a jumbo-sized annoying but fun madness! (dan)

~ by danieldokter on June 18, 2015.

One Response to “MINIONS : A JUMBO-SIZED ANNOYING BUT FUN MADNESS”

  1. Bagi sebagian orang, yellow little creatures bernama ‘Minions’ yang … bbobminions.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: