SPL 2: A TIME FOR CONSEQUENCES (杀破狼2) ; NO HOLDS BARRED ACTION OVER A TWIST OF FATE TALE

SPL 2: A TIME FOR CONSEQUENCES (杀破狼2) 

Sutradara: Cheang Pou-soi

Produksi: Sun Entertainment Culture Ltd, Sil-Metropole Organisation, Bona Film Group, Maximum Gain Kapital Group, Bravos Pictures, 2015

SPL2

            Tak banyak mungkin penonton kita yang tahu ‘SPL: Sha Po Lang’ (Wilson Yip, 2005) yang juga dirilis internasional dengan judul ‘Kill Zone’ dengan Donnie Yen, Sammo Hung, Simon Yam dan Wu Jing di deretan cast-nya. Tapi untuk penggemar Donnie Yen dan film-film laga Hong Kong, meski tak mencetak rekor apapun dalam pencapaian box office yang cukup lumayan, di luar dua versi ending yang banyak dibicarakan, film itu berdiri sebagai salah satu film aksi terbaik yang pernah dimiliki sinema mereka, sekaligus salah satu film terbaik Donnie Yen dalam sejarah karirnya. Judul ‘Sha Po Lang’ / ‘Saat Po Long‘ sendiri, in case you’re wondering what it is, secara filosofis mengarah ke tiga bintang dalam Chinese Astrology yang menentukan kepribadian dan mengontrol nasib seseorang, masing-masing untuk membunuh, menghancurkan dan ketamakan.

            Rencana sekuelnya pun sudah sejak lama digagas sebelum akhirnya mengalami berbagai perubahan, dari skrip pertama yang akhirnya berubah menjadi apa yang kita saksikan dalam ‘Fatal Move’ (2008) yang dibintangi Sammo Hung, Simon Yam dan Wu Jing tanpa keterkaitan plot/karakter, serta sempat pula dikabarkan bakal berlanjut dengan Sammo Hung dan Wu Jing mengulang karakter mereka dari film pertama.

              Namun akhirnya, baru beberapa bulan setelahnya di akhir 2013 muncul kabar bahwa sekuelnya akan berlanjut menggamit Tony Jaa dan Wu Jing dalam plot yang sepenuhnya baru, dengan sutradara Cheang Pou-soi yang mulai mendapat sorotan besar sebagai cult director yang gemar menyajikan kesadisan emosional tak kepalang tanggung dalam ‘Dog Bite Dog’ dan ‘Shamo’, tapi tahun kemarin tersandung kritikan luarbiasa lewat ‘The Monkey King’ yang jauh dibanding film-film itu.

              So, selagi ini memang jadi bagian dari sederet usaha Jaa untuk kembali ke format awalnya dalam ‘Ong Bak’ sekaligus mendobrak dunia internasional setelah kegagalan beberapa filmnya bersama ‘Skin Trade’ dan kemunculannya kemarin di ‘Furious 7’, bagi Cheang sendiri, ‘SPL 2’ juga merupakan sebuah return-to-form chance. Begitupun, walau tak berhubungan dengan film pertamanya, ‘SPL 2’ yang diberi judul ‘A Time For Consequences’ memang masih berada tak jauh dari seputar template-template klise film aksi ‘cop vs crook’, walaupun mungkin jauh lebih menjelaskan makna yang terkandung dalam judul filosofis tadi.

                 Bekerja sebagai sipir penjara Thailand, Chatchhai (Tony Jaa) yang tengah berusaha mencari uang tambahan serta melacak donor untuk transplantasi sumsum tulang putrinya (Unda Kunteera Yhordchanng, Thai child star) yang menderta leukemia, secara tak sengaja bertemu dengan polisi undercover Chan Chi-kit (Wu Jing) yang terpaksa dilempar ke penjara Thailand setelah jatuh menjadi pecandu narkoba dalam usahanya membongkar sindikat penjualan organ Mr. Hung (Louis Koo). Paman sekaligus atasan Kit, Chan Kwok-wah (Simon Yam) yang khawatir dengan keselamatan penyamarannya menyusul ke Thailand tanpa mengetahui penjara itu merupakan back-up sindikat Hung lewat kepala sipir keji Ko Chun (Zhang Jin). Selagi Hung tengah berada dalam usaha penculikan paksa adiknya Man-Piu (Jun Kung) sebagai satu-satunya donor jantung yang cocok buat dirinya juga terbang ke Thailand, Chai akhirnya mengetahui bahwa Kit ternyata adalah donor sumsum tulang yang dicarinya selama ini. Pusaran takdir ini pun berputar diantara para manusia dengan masing-masing tujuan itu.

                 So you see, menyemat filosofi dalam astrologi Cina yang digunakan sebagai judul untuk sebuah crime story over characters’ destinies itu, skrip yang ditulis oleh Cheang bersama Jill Leung dan Huang Ying memang secara terus terang menggunakan dasar permainan takdir untuk membentuk plotnya. Twist of fate yang memang tanpa bisa dihindari akan jatuh ke satu kebetulan ke kebetulan lain, jauh lebih obvious dari film pertamanya sekaligus bisajadi terasa sangat ridiculous, namun bukan berarti tak punya konsep dalam sebuah penceritaan berikut bangunan tiap karakternya. Masalahnya hanya satu, kepentingan utama ‘SPL 2’ tetaplah ada dalam bangunan aksi yang sudah diterjemahkan dengan jelas lewat deretan cast-nya, dari Tony Jaa, Wu Jing hingga Max Zhang Jin (both were wushu former athletes) yang kemarin baru muncul dalam versi baru Huang Fei HungRise of the Legend’.

              You may call it a rare anomaly, tapi skrip itu memang cermat sekali menggagas interweave karakter-karakter tadi dalam putaran permainan takdir yang mereka hadirkan. Bukan tak ada plothole yang menyeruak menjadi pertanyaan, namun bahkan dengan lebih dan lebih lagi side characters sebagai benang merah tambahan untuk saling mempertemukan mereka, almost works like magic, finalnya seolah jadi sebuah life stage yang menggetarkan tanpa lagi ada elemen-elemen yang terasa mengganggu. Luarbiasa well-written sekaligus berbalik menciptakan character-arcs begitu kuat dalam memberikan keberpihakan pada pemirsanya, rooted for every main characters, semua dengan detil motivasi yang jelas secara manusiawi; dan ini satu yang terpenting.

               Di saat film action lain kepayahan menyemat sempalan drama buat berjalan tak menurunkan pace aksinya, every dramatic setups di ‘SPL 2’, bahkan melodramatic scenes yang diselipkan ke tengah-tengah violent and bloody action sequence-nya bisa menjelma jadi amunisi ampuh untuk membuat tiap pukulan di adegan aksinya jadi terasa semakin eksplosif dibalik intensitas emosi dan pacuan adrenalin yang makin memuncak menuju klimaksnya. Tanpa pernah juga melupakan sisi fun-nya dalam sebuah film aksi dengan two iconic male action leads. Ini jelas jarang-jarang terjadi.

             Setelah sederet film terakhirnya tergolong mengecewakan karena effort-effort berlebihan, Tony Jaa really returns to his top form, bahkan membuat penampilannya yang lumayan di ‘Furious 7’ dan ‘Skin Trade’ jadi tak ada apa-apanya. Chemistry father to daughter-nya dengan Unda Kunteera Yhordchanng yang tampil sangat mencuri hati terjalin dengan kuat tanpa juga memerlukan terlalu banyak adegan dramatik. Begitu juga dengan Wu Jing yang belum pernah terlalu berhasil di film-film solonya. Menggantikan Andy On yang kabarnya keluar di saat-saat terakhir, Max Zhang Jin menjadi opponent yang luarbiasa tangguh buat mereka. Louis Koo, walaupun dibalut ridiculous wig, tetap mampu memerankan villain mengerikan dibalik fisik karakternya yang lemah sekaligus memberikan brother vs brother sparks bersama Jun Kung di tengah-tengah klimaksnya. Tapi dalam soal akting, yang terbaik adalah Simon Yam terutama dalam chemistry uncle to nephew-nya dengan Wu Jing. As one of his best badass roles, bahkan melebihi karakterisasi mirip yang ditampilkan Anthony Wong dalam ‘Infernal Affairs‘, tiap ledakan emosinya bisa memberikan penekanan karakterisasi sangat admirable dan membuat penonton gregetan menunggu nasibnya.

              And yes, in action terms, adegan-adegan laga yang digagas oleh action director/choreographerstunt coordinator Nicky Li a.k.a. Li Chung-chi dari film-film Hollywood Jackie Chan ke ‘The White Storm’ dan ‘Ip Man: Final Fight’ apalagi dengan sinematografi Kenny Tse (‘Unbeatable’), tight-pace editing David M. Richardson (‘Exiled’ & ‘Drug War’; dua judul ini sudah jelas menunjukkan kelasnya ada dimana) yang membagi porsi laga Jaa dan Wu Jing secara proporsional tanpa satu melebihi yang lain, and mostly, scoring Ken Chan dan award-winning composer Chan Kwong-wing (‘Infernal Affairs Trilogy’, ‘Bodyguards & Assassins’ & ‘The Last Tycoon’, diantaranya) diiringi komposisi-komposisi klasik, tentu saja serba ekstrim dan overblown. Tapi intensitasnya jangan ditanya. Menanjak lagi dan lagi dengan banyaknya never before seen action sequence dari tiap action set pieces detil termasuk prison riot hingga ke no holds barred final showdown dengan salah satu klimaks terbaik yang ada di sinema mereka, bukankah ini yang kita harapkan ketika menyaksikan sebuah film laga, terlebih dengan deretan cast yang menjanjikan itu?

               So be it. Dengan elemen-elemen juara yang dimilikinya diatas twist of fate dramatic plot dipenuhi filosofi (lihat bagaimana Cheang Pou-soi menyemat hope symbols bersama scene pengiring final showdown-nya) yang berpotensi melemahkan banyak film-film lain terutama di genre aksi – namun disini berbalik menjadi tightly engaging, di tangan Cheang dan timnya, ‘SPL 2’ bisa menemukan racikan yang tepat. Heart punching, nerve wrecking and also bone crunching, siap-siap menahan nafas menyaksikan adegan laga dengan mata berkaca-kaca diamuk sisi dramanya. Ada banyak film aksi yang bagus, namun tak semuanya bisa punya kualitas itu sekaligus. Luarbiasa. (dan)

~ by danieldokter on June 26, 2015.

One Response to “SPL 2: A TIME FOR CONSEQUENCES (杀破狼2) ; NO HOLDS BARRED ACTION OVER A TWIST OF FATE TALE”

  1. […] SPL II: A TIME FOR CONSEQUENCES […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: