TERMINATOR GENISYS : GOOD ACTION, BAD CONTINUITY

TERMINATOR GENISYS

Sutradara: Alan Taylor

Produksi: Skydance Productions, Paramount Pictures, 2015

terminator genisys

            Oh yeah. Jangan bilang kalau kelangsungan franchiseTerminator’ tak menjadi sesuatu yang tetap ditunggu-tunggu bagi banyak orang. Bahkan di usia Arnold Schwarzenegger yang sudah sangat menua pun, penampilannya dalam action blockbuster, jelas masih punya potensi. Namun masalahnya klise. Sebuah franchise klasik yang sudah gagal beberapa kali menyajikan instalmen yang layak, jelas juga punya resiko untuk bisa bangkit lagi. Tentu tak semua usaha itu gagal, tergantung seberapa kuat keseimbangannya bisa menciptakan fresh excitement buat generasi pemirsa baru sekaligus fans setia-nya. While homage ke jejak-jejak kebesarannya, itu sebenarnya hanya berupa bonus.

            Now let’s take a short look. Semua pasti setuju kalau karya James Cameron di tahun 1984 itu begitu berhasil menciptakan standar baru untuk sebuah sci-fi action sekaligus melambungkan nama Schwarzenegger ke puncak popularitasnya. Lantas lihat apa yang dilakukan Cameron tujuh tahun kemudian lewat sekuelnya, ‘Terminator 2: Judgment Day’ atau yang lebih populer dengan sebutan ‘T2‘ di tahun rilisnya. Hampir mirip seperti apa yang dilakukannya dalam franchise ‘Alien’, Cameron merubah template-nya dari pendekatan horror ; yang membuat pemirsanya merasa begitu bergidik melihat cat and mouse thrills sewaktu Terminator memburu karakter-karakter manusianya ; ke sebuah action futuristik yang sangat fun serta jauh lebih eksplosif. Semua digagas dibalik kreatifitas storyline yang lantas membalik karakterisasi Schwarzenegger jadi sejalan dengan statusnya sebagai Hollywood’s action icon.

            Namun sayang, berselang 12 tahun sesudahnya, ‘Terminator 3: Rise of the Machines’ yang memang dilepas di saat karir Schwarzenegger mulai ngos-ngosan di tengah perubahan trend film aksi, tanpa campur tangan Cameron pula, dibawah penyutradaraan Jonathan Mostow, gagal menyambung kesuksesan itu. Kesalahan fatalnya adalah tak ada karakter utama yang bisa menyaingi karakter-karakter inti sebelumnya, dan lagi, sudah terlalu banyak ripoffTerminator’, -Tor-Tor yang lain (including our ownLady TerminatorakaPembalasan Ratu Laut Selatan’) yang menggunakan template sama pada fondasi bangunan aksinya. Sutradara McG masih mencoba meneruskannya lewat ‘Terminator Salvation’ di tahun 2009 dengan sisa-sisa legacy storyline-nya, namun lagi-lagi gagal. Lupakan dulu tampilan Schwarzenegger CGI yang lebih terasa menggelikan ketimbang convincing itu, atau juga paduan Christian BaleSam Worthington yang tak sepenuhnya jelek, tapi pola yang sudah berubah total benar-benar nyaris menghapus tiap benang merah ke nyawa franchise-nya. Di luar itu, series-nya yang sempat dibuat Fox Network, ‘Terminator: The Sarah Connor Chronicles’ (runs from 2008-2009), adalah masalah lain lagi yang tentu kelewat panjang kalau mau dibahas.

            Kini, menyerahkan skripnya ke sutradara – scriptwriter Patrick Lussier yang selama ini lebih dikenal lebih ke film-film aksi kelas B (‘Drive Angry’ dan ‘Dracula 2000franchise) serta Laeta Kalogridis; produser –scriptwriter yang mungkin lebih punya rekor bagus lewat ‘Shutter Island’ serta produser eksekutif ‘Avatar’ yang masih terhubung dengan Cameron, mereka menggagas sebuah kebangkitan terhadap franchise-nya. Alan Taylor dari ‘Thor: The Dark World’ didapuk menjadi sutradaranya setelah Rian Johnson, Dennis Villeneuve (intriguing) serta Ang Lee (oh, please) sempat dipertimbangkan sebagai kandidat. Dengan kembalinya Schwarzenegger, ini tentu punya dayatarik lebih. And no, it’s not a reboot, walaupun tetap ragu-ragu untuk memproklamirkannya sebagai straight sequel.

           Lebih tepatnya, mereka menyebut ‘Terminator Genisys’ sebagai sebuat retroactive continuation, something that stands as the alteration to fix the wrong step in the previous installment, or at least they thought so. Yang lebih terlihat adalah usaha untuk membuat universe bolak balik perjalanan waktu dalam template-nya menjadi lebih simpel lewat alternate timeline, yang mungkin memang diperlukan terutama bagi generasi pemirsa sekarang serta kabarnya akan menjadi awal trilogi baru. Rasa penasaran itu mulai beralih ke ekspektasi kala trailer-nya dirilis ke publik. Not so well received, but at least, ada homage yang jelas ke apa yang sudah dicapai Cameron lewat dua instalmen awal franchise-nya.

            ‘Terminator Genisys’ pun memulai kisahnya di tahun 2029 setelah serangkaian recapJudgment Day’, kala John Connor dewasa (now played by Jason Clarke) masih tetap berada dalam peperangan mesin lawan umat manusia setelah kehancuran peradaban di tahun 2017. Untuk mencegah ulah Skynet merubah sejarah dibalik sebuah peringatan misterius tentang eksistensi Genisys, lagi-lagi lewat mengirim T-800 ke L.A. tahun 1984 untuk membunuh Sarah Connor (now played by Emilia Clarke yang memang sedikit banyak punya kemiripan fisik dengan Linda Hamilton muda), John pun merancang pertahanan. Selain dengan menghancurkan mesin waktu milik Skynet, mengirim tangan kanannya, Kyle Reese (now played by Jai Courtney) ke tahun yang sama. Namun target L.A. 1984 bukanlah seperti yang mereka (atau kita; terhadap apa yang ada di instalmen pertama franchise-nya) perkirakan sebelumnya. Kyle bersama Sarah dan T-800 yang sudah dimodifikasi (Arnold Schwarzenegger) pun terus melanjutkan misi mereka mencegah kehancuran peradaban serta menghancurkan Skynet di tengah timeline yang sudah berubah berikut kejaran T-1000 (Lee Byung-hun) dan sebuah ancaman baru yang tak pernah mereka perkirakan sebelumnya.

            There you go. Di tengah retroactive continuation ini, yang pada dasarnya merupakan modifikasi dari storyline orisinil versi 1984-nya, Taylor membangun ‘Terminator Genisys’ dengan sejumlah penyesuaian yang bisa ia lakukan, terutama terhadap cast dan trend aksi dalam cakupan teknisnya. Hasilnya adalah hit and miss. Ada homage yang bagus, memang, dari adegan-adegan wajib di tiap instalmennya, termasuk classic quoteI’ll be back” ke memorable 1984 set plus scoring baru Lorne Balfe yang tak menanggalkan main theme orisinil Brad Fiedel, juga explosive action serta efek yang walaupun tak lagi menawarkan sesuatu yang baru namun harus diakui masih berada di batas eksistensinya sebagai summer blockbuster ride yang seru serta penuh kemeriahan, terutama dalam konteks cinematic experience dengan berbagai gimmick lain dari 3D, IMAX hingga 4DX.

            Namun salahnya, walau James Cameron terlibat cukup banyak dalam pengembangannya, Lussier dan Kalogridis, kalaupun tak mau dibilang kurang punya respek dan rasa cinta terhadap franchise-nya, tak cukup cermat menggagas modifikasi baru yang mau tak mau jadi melontarkan banyak pertanyaan ‘mengapa begini atau begitu’ di tengah konsistensi yang terus terang agak berantakan terhadap instalmen-instalmen sebelumnya, terutama terhadap sosok T-800 yang kini dipanggil ‘Pops’ (pembuat teks kita menerjemahkannya sebagai ‘kakek’, yeah, right) oleh Sarah Connor.

                 Selain tak memberi batasan jelas yang mana harus dipertahankan atau dilupakan dibalik bolak-balik kisah perjalanan waktu itu, mereka seakan mencoba berjalan terus diantara ketidakjelasan penuh keraguan itu. The result is the two sides of coins. Bersama generasi baru pemirsanya, sekilas recap di bagian awal itu mungkin sudah cukup buat menganggap ‘Terminator Genisys’ bisa jadi awal baru yang berdiri sendiri, namun bagi pemirsa dengan ingatan melekat ke dua instalmen awalnya yang punya status klasik, mostly para fans setianya, ‘Terminator Genisys’ hanya bisa meninggalkan kesan yang jelas tak bagus bagi kontinuitas franchise-nya. That they, these people, termasuk Taylor yang ternyata jelas terlihat tak secinta itu terhadap franchise-nya, gets all the characters wrong. Mau meluruskan, hasilnya justru makin berantakan.

            Bukan Emilia Clarke dari ‘Game of Thrones’ tak bermain bagus sebagai Sarah Connor baru, terlebih dengan similaritas fisiknya dengan Linda Hamilton. Namun di tangannya, Sarah Connor berubah menjadi sesosok heroine yang lebih terlihat playful ketimbang bagian dari ekses perang atau resistensi yang tangguh. Arnold Schwarzenegger yang sudah terlihat begitu menua dibalik penjelasan kulit organik yang membungkus sosok cyborg-nya juga tak bisa melawan penuaan usia pun begitu. Okay, though looks a bit too old, bukan ia tak lagi sama sekali menyisakan dayatarik lewat salah satu karakter paling memorable yang pernah ia perankan dalam sejarah karirnya ini, namun feel badass-nya tetap saja jauh berbeda. Apalagi skrip Lussier – Kalogridis justru menempatkannya dalam selipan humor yang selama ini belum pernah ada dalam franchise-nya, entahlah untuk pertimbangan rating PG-13 yang terus terang mengganggu. Rasanya mungkin lebih baik mereka menggunakan Schwarzenegger versi CGI yang tampil di adegan awalnya ketimbang memilih jalan terus dengan fisik asli yang kita lihat di sepanjang film.

            Sebagai John Connor, walaupun ini jadi salah satu peralihan karakter paling fatal dalam ‘Terminator Genisys’ terutama terhadap real fans franchise-nya, walau didistraksi dengan, well, not bad but unnecessary makeup, Jason Clarke masih bisa meng-handle turnover karakternya dengan cukup baik. Masih ada akting J.K. Simmons yang seperti biasa, cukup mencuri perhatian sebagai karakter baru Detektif O’Brien ; serta Lee Byung-hun sebagai T-1000. Meski masih jauh di bawah Robert Patrick di ‘T2’, dengan perawakan tipikalnya, Byung-hun masih bisa tampil cukup meyakinkan. Namun Jai Courtney memang tak cukup kuat memerankan Kyle Reese. Dengan tampilan fisiknya, tak ada yang salah dengan screen presence-nya membawakan adegan-adegan aksi. Hanya saja, seperti apa yang terjadi dalam ‘A Good Day to Die Hard’, apalagi bila dibandingkan dengan Michael Biehn dulunya, nyaris tak ada sparks emosi yang tertinggal dari karakternya. Terakhir, tentu saja satu karakter baru yang diperankan Matt Smith dari ‘Doctor Whoseries, yang tampaknya bakal disiapkan sebagai new villain dalam pengembangannya nanti.

            So okay, walau James Cameron secara resmi memberikan pernyataannya bahwa ‘Terminator Genisys’ layak menjadi official third installment dari franchise ini, respek yang diberikan Lussier, Kalogridis dan Taylor memang hanya sampai sebatas tahapan atmosfer permukaannya saja. Pada kenyataannya, semua fans franchise-nya akan tahu bahwa mereka masih tak cukup cermat juga penuh cinta mengulik kedalaman karakterisasi ciptaan Cameron dan Gale Anne Hurd ini. Tak konsisten pula dengan ‘T2’ bila ini dianggap sebagai kelanjutannya, sementara masih terlalu bergantung dengan previous events-nya juga untuk disebut sebagai the whole new setup maupun berlindung dibalik istilah alternate universe. Tak salah kalau mengatakan ‘Terminator Genisys’ jauh lebih baik ketimbang instalmen ke-3 dan ke-4-nya walaupun yang terakhir ini mungkin hanya ada di masalah atmosfer franchise-nya saja, tapi ini jelas bukan sebuah kontinuitas yang bagus secara keseluruhan. Action excitement sebagai summer blockbuster ride, namun tak lebih dari itu. Good action, bad continuity. (dan)

~ by danieldokter on June 29, 2015.

One Response to “TERMINATOR GENISYS : GOOD ACTION, BAD CONTINUITY”

  1. nampaknya keren sekali dan pasti seru, soalnya terminator sebelumnya aja sudah seru abis. tapi gak tau lagi dan wajib ditonton nih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: