THE AGE OF ADALINE : A BEAUTIFULLY MOUNTED MODERN FAIRYTALE

THE AGE OF ADALINE

Sutradara: Lee Toland Krieger

Produksi: Lakeshore Entertainment, Sidney Kimmel Entertainment, RatPac-Dune Entertainment, Lionsgate, 2015

the age of adaline

            Tak banyak mungkin film yang terlihat seperti adaptasi novel, padahal bukan. ‘The Age of Adaline’ adalah salah satunya. Premisnya sebagai sebuah romantic fantasy, modern fairytale atau apapun istilah yang Anda inginkan, yang memang semakin jarang dibuat Hollywood, sudah terdengar menarik sejak jauh-jauh hari. Dan ada nama Blake Lively dan Harrison Ford pula disana. Sementara Ford tak perlu lagi ditanya, meski belum punya rekor terlalu besar di luar serial TV ‘Gossip Girl’ yang melambungkan namanya, dan mungkin bagi sebagian orang, ‘Green Lantern’, Lively punya lead actress classic persona dengan ekspresi membius yang membuat tampilannya cukup layak buat ditunggu.

            Di sisi lain, ia tetap tak bisa menghindari feel buat terlihat seperti film-film adaptasi novel roman Nicholas Sparks, yang semakin dipertegas dengan salah satu scriptwriter-nya, J. Mills Goodloe yang baru saja menulis ‘The Best of Me’ yang sangat amburadul tahun lalu. Tapi toh ada yang lain dari premis tadi. Dan ekspektasi itu juga masih punya distraksi dari nama sutradara Lee Toland Krieger yang dua film sebelumnya, ‘The Vicious Kind’ dan ‘Celeste and Jesse Forever’ adalah Sundance indie hit. So, pertanyaannya adalah sejauh mana keseimbangan elemen-elemen itu bisa menciptakan sesuatu yang berbeda?

            ‘The Age of Adaline’ membawa kita ke sebuah prolog yang dibalut dengan gaya noir mystery ke sentuhan thriller tentang seorang wanita bernama Adaline Prescott (Blake Lively) yang mengalami fenomena aneh setelah sebuah kecelakaan yang dialaminya hampir 80 tahun lalu. Selamat dari kejadian itu, Adaline menemukan dirinya berhenti menua di usia 29 dengan ekses menyimpan rahasia kondisi tersebut lekat-lekat. Hidup berpindah-pindah dan berganti identitas sambil tetap membina hubungan dengan dua orang terdekatnya, pianis buta (Lynda Boyd) dan putrinya yang kini berusia fisik jauh lebih tua, Flemming (Ellen Burstyn), Adaline akhirnya tak bisa menolak perasaannya terhadap Ellis Jones (Michiel Huisman), lelaki yang tak sengaja ditemuinya di sebuah pesta perayaan akhir tahun. Namun tepat di saat Adaline merasa ini adalah saatnya untuk menghentikan petualangannya, rahasia terhadap kondisi itu kembali menyeruak kala Ellis membawa Adaline ke rumah orangtuanya (Harrison Ford & Kathy Baker).

            Sentuhan fantasi yang meski sangat mengingatkan ke sejumlah film berpremis mirip dibalik persoalan age & immortality dalam paradoks waktu, yang paling dekat adalah ‘Somewhere in Time’-nya Christopher Reeve & Jane Seymour (1980, Jeannot Szwarc) namun memang punya batasan beda dan sangat tak biasa, memang menjadi salah satu potensi utamanya. Namun skrip yang ditulis Goodloe dan Salvador Paskowitz, yang sudah memulai aspek-aspek storytelling-nya dengan sangat baik lewat penyutradaraan Krieger di bagian-bagian awal, sayangnya tak bisa cukup konsisten di second act yang sedikit terjebak ke tipikalitas film-film romance ala Nicholas Sparks berikut feel adaptasi novel tadi, disamping lemahnya penampilan Michiel Huisman (‘Game of Thrones’) sebagai male lead dalam menyamai persona Lively yang begitu kuat meng-handle karakter sentralnya. Rasanya ‘The Age of Adaline’ tak akan bisa sebaik ini dengan kandidat pemeran awalnya yang kabarnya ada di nama Katherine Heigl ataupun Natalie Portman. Sementara Ellen Burstyn, meski tampil cukup singkat, jelas tetap sangat memberi impresi mendalam.

            Untungnya, bangunan konflik itu kembali membaik saat skripnya berbelok menuju third act yang memunculkan karakter William Jones, diperankan cukup luarbiasa oleh Harrison Ford dalam salah satu penampilan terbaiknya dalam beberapa tahun terakhir. Meski terlihat santai namun tak pernah sekalipun meninggalkan penekanan karakter lewat pengucapan dialog-dialog dengan intonasi khas-nya, Ford membentuk benang merah plot yang sangat konsisten dengan ketepatan pemilihan cast sosok muda William yang diperankan Anthony Ingruber dibalik kemiripan fisik bahkan ekspresi yang nyaris sama dengan Ford muda di awal-awal popularitasnya. Penyelesaiannya boleh jadi juga se-klise film-film adaptasi Sparks dan hampir sepenuhnya kehilangan sentuhan indie Krieger seperti yang kita lihat dalam dua karya sebelumnya, namun chemistry ensemble terutama Lively dan Ford memang berhasil membuat ‘The Age of Adaline’ jadi terasa begitu hidup.

            Dan jangan lupakan sisi teknisnya. Membentuk atmosfer romance yang luarbiasa kuat dibalik rentang penceritaan panjang dengan segala konflik di dasar ranah fantasinya, sinematografi David Lanzenberg menjadi salah satu elemen terkuat bersama desain produksi berikut scoring Rob Simonsen yang selama ini lebih dikenal lewat karya-karya additional atau kolaborasinya dengan komposer Mychael Danna di ‘(500) Days of Summer’ dan ‘The Life of Pi’. Di tangan mereka, ‘The Age of Adaline’ terlihat bagai sebuah lukisan cantik diatas sebuah kanvas klasik dengan detil-detil color palettes yang menciptakan penekanan berbeda, yang membuat kita tak lagi peduli dengan sejumlah kekurangannya. A beautifully mounted modern fairytale yang jelas tak boleh dilewatkan begitu saja oleh penggemar genre-nya. (dan)

~ by danieldokter on July 12, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: