MENCARI HILAL: SEDERHANA TAPI KAYA RASA

MENCARI HILAL

Sutradara: Ismail Basbeth

Produksi: MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film Production, Argi Film, Mizan Productions, 2015

mencari hilal

            Face it. Di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, dengan industri film yang menelurkan ‘blockbuster’-nya sampai 3 atau 4 buat menyambut Idul Fitri, kita tak punya film layar lebar yang secara resmi mengetengahkan momen itu. Kalaupun pernah ada, film yang berjudul ‘Malam Seribu Bulan’ itu agaknya benar-benar tak layak baik dari sisi kualitas maupun pengenalan ke banyak orang. Selebihnya, paling satu dua FTV yang juga jelas kualitasnya masih terbatas. Lantas kemana arah genre reliji (kalaupun Anda mau menyebutnya genre) yang jadi sedemikian khas di industri film kita? Rata-rata masih ada di sekedar bungkus kemasan atas genre yang itu-itu saja. Tired ones yang masih tak beranjak dari sekedar kisah cinta atau resepsi-resepsi lain yang senada. Tak lebih.

            ‘Mencari Hilal’ yang jadi bagian dari ‘Gerakan Islam Cinta’ dan ‘Indonesia Tanpa Diskriminasi‘ atas gagasan Haidar Bagir untuk menyebarkan misi menghargai keberagaman Islam yang ada di Nusantara kita agaknya menjadi sesuatu yang spesial karena ia tak berada di kelas penggarapan yang sembarangan. Ada banyak nama-nama baik penggerak sinema kita disana seperti Hanung Bramantyo dan Salman Aristo, walaupun Ismail Basbeth, bagi yang mengenal sepak terjangnya di ranah film indie lewat karya-karya absurd-nya akan membuat sebagian mengerinyitkan kening, membayangkan akan seperti apa gebrakannya di industri layar lebar yang arahnya cenderung komersil dan di atas genre reliji yang memang masih jadi komoditas panas itu. Trailer-nya mungkin sudah terlihat berbeda, tapi hasilnya, jelas masih membuat orang bertanya-tanya.

            Skrip yang ditulis Salman Aristo, Bagus Bramanti dan Basbeth sendiri punya premis sangat simpel. Membenturkan konflik ayah dan anak, antara Mahmud (Deddy Sutomo), lelaki uzur yang benar-benar hidup luarbiasa konsisten di atas ajaran agamanya, dengan Heli (Oka Antara), putra bungsunya, aktivis lingkungan hidup yang cenderung sekuler dan sejak lama pula berseteru dengan Mahmud sampai tak mau pulang ke rumah. Konflik ini berkembang dengan keinginan Mahmud mengulang tradisi pendidikannya semasa di pesantren, melakukan napak tilas pencarian hilal untuk membuktikan kemurnian ibadah, sementara satu-satunya yang bisa menemaninya adalah Heli, yang bukan juga menurut kalau tak mengharapkan paspor dari kakaknya (Erythrina Baskoro) yang bekerja di imigrasi buat berangkat ke Nicaragua dalam gerakan aktivis-nya.

            Jauh dibanding ‘Ayat-Ayat Adinda’ yang memang berdiri di atas segmen pemirsa terbatas dalam membahas aspek-aspek MTQ yang belum juga tentu didalami semua pemeluk agamanya, ‘Mencari Hilal’ memang sangat universal; sekaligus jadi jalan luas untuk memuat pesan-pesan gerakan tadi. Dari masalah Sidang Isbat yang memang sering memusingkan kepala umatnya hingga kritik-kritik sosial lain termasuk penyelewengan agama terhadap alasan politis yang pada akhirnya mengarah pada satu hal terpenting; pengenalan mendalam terhadap Islam demi tujuan-tujuan yang lebih baik. Nanti dululah soal kesepakatan istilah Islam Nusantara, tapi paling tidak bagi sebagian pemeluknya yang sepaham di tengah carut-marut konflik intern yang masih sering terjadi di negeri ini.

            Menyemat semua elemen itu, walau memang benar tak bisa terlepas dari template yang ada dalam ‘Le Grand Voyage’, film produksi gabungan Perancis, Maroko, Bulgaria dan Turki tahun 2004 yang dibesut sutradara Ismaël Ferroukhi, Salman dkk paling tidak melakukan transformasinya dengan aspek-aspek yang cukup cerdas di atas relevansi kuat terhadap isu-isu nasional kita. Tarik ulur konflik antara dua karakter utamanya tak serta-merta menemukan kesesuaian, tak menghakimi, namun dibangun lewat proses timbang terima yang realistis serta sangat wajar menuju akhir perjalanan dengan sepenggal twist yang luarbiasa menyentuh tanpa harus merengek-rengek. Dan isu-isu lokal itu memang begitu bekerja membuat kita berkaca atas konflik-konflik intern yang terjadi disini, melihat balik hubungan kita terhadap sosok penting bernama Ayah yang sering kali kita abaikan atau malah sebaliknya, sementara dialog-dialog penuh makna spiritualnya tak sepenuhnya preachy, tapi tetap bisa membuat kita mempertanyakan sejauh mana kita menjalankan kepercayaan atas batasan-batasan kompromistis yang ada. It’s still a father to son road movie dengan konflik mirip antara ayah kaffah dengan anak sekuler, memang, selain keberadaan ‘Le Grand Voyage’ yang masih tergolong ‘one of a kind’, belum lagi soal kesamaan pandangan terhadap asimilasi budaya-budaya berbeda, dari bahasa hingga tradisi, sepanjang perjalanan melintasi Eropa hingga Mekah sebagai titik akhirnya, namun toh ‘Le Grand Voyage’ pada dasarnya bercerita tentang perjalanan haji dalam garis ibadah yang berbeda.

            Adalah Basbeth yang kemudian menggerakkan similaritas itu dengan pendekatan filmis berbeda dan membuatnya lebih kaya akan rasa. Dalam detil-detil lebih, shot-shot Basbeth memang lebih cenderung mendekati sinema Iran yang meski tak statis tapi punya sisi minimalis dan kesederhanaan yang beda. Apalagi sinematografi Satria Kurnianto, DoP-nya di ‘Another Trip to the Moon’ begitu berhasil merekam sudut-sudut Yogyakarta  untuk penekanan eksotisme lokal yang kuat sekaligus ikut menjadi karakter penting dalam cakupan pendekatan storytelling-nya sebagai sebuah road movie tanpa pernah membuatnya seperti kanvas yang terlalu banyak mendapat polesan visual. Penyuntingan Wawan I. Wibowo juga punya sinergisme yang baik dengan style Basbeth, begitu pula tata artistik dari Allan Sebastian dan scoring Charlie Meliala. Theme song yang ditulis oleh Charlie, Leilani Hermiasih bersama Sabrang ‘Noe’ Panuluh juga jadi kekuatan spesial yang membalut semua keindahan teknis itu di guliran kredit akhirnya.

            Di atas semuanya, tentulah jalinan chemistry antara Deddy Sutomo dan Oka Antara sebagai penggerak utama ‘Mencari Hilal’ untuk bisa tampil begitu memikat di sepanjang durasinya. Akting Deddy yang kuat, mungkin satu yang terbaik dalam rentang panjang karirnya setelah kembali tampil sebagai aktor utama, mengingatkan kita bahwa ia adalah salah satu aktor terbaik negeri ini – serta emosi yang sangat terjaga dari Oka tanpa harus jatuh ke reaksi-reaksi akting bombastis di kebanyakan dramatisasi film kita, memberi sinergi kuat ke gaya penceritaan Basbeth. Believable, natural, and even restrained at times, tapi tak pernah kehilangan rasa. Pemeran-pemeran pendukungnya, dari Rukman Rosadi, Torro Margens (credited as Toro Margens), Erythrina Baskoro hingga talent-talent lokal yang mengisi extras pun ter-handle dengan begitu baik dengan pengaturan porsi realis serta komikal yang seimbang. Ini nyaris tanpa cacat, tanpa sekalipun ada tampilan extras yang mengganggu di keseluruhan filmnya.

            Akhirnya, lagi-lagi kita harus kembali ke resepsi publik dalam persyaratan lengkap sebuah film agar benar-benar menjadi media yang membutuhkan pemirsanya. Mungkin benar bahwa pendekatan berbeda ini bisa jadi gebrakan dalam menjembatani pemirsa serius ke komersil, namun agaknya masih terlalu jauh buat menarik garis ke harapan-harapan tampilan baru sinema kita nantinya. Dengan jumlah DCP/layar cukup berimbang pada film-film lebaran tahun ini, ‘Mencari Hilal’ sayangnya tak disambut dengan resepsi sama besar ke para pesaingnya. Pujian yang begitu gencar di sosmed dengan dukungan solid Hanung, SalmanBasbeth serta kebanyakan pekerja film yang sampai mau menulis review untuk menyambung benang promosinya tetap nyaris tak berarti apa-apa. Kita mungkin masih perlu waktu untuk menemukan cahaya kecil bermakna besar seperti Mahmud dan Heli di akhir perjalanan mereka dalam nasib film kita, tapi mari tak berhenti memberi apresiasi walau masih seujung jari. Satu yang jelas, tak setiap hari kita bisa mendapatkan film nasional sebaik ini, apalagi yang bisa jadi tontonan wajib di setiap momen Lebaran. ‘Mencari Hilalmemang sederhana, tapi tak sekalipun kehilangan rasa. (dan)

~ by danieldokter on July 18, 2015.

2 Responses to “MENCARI HILAL: SEDERHANA TAPI KAYA RASA”

  1. […] Read the full review here […]

  2. […] MENCARI HILAL (MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film Productions, Argi Film, Mizan Productions; ISMAIL […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: