ANT-MAN: THE TRUE CORE OF MARVEL’S HEARTS

ANT-MAN

Sutradara: Peyton Reed

Produksi: Marvel Studios, Walt Disney Studios Motion Pictures, 2015

ant-man

            Seperti ‘Guardians of the Galaxy’, kecuali Marvel comics-enthusiasts, tak banyak orang yang tahu siapa ‘Ant-Man’. Jadi apa sebenarnya alasan Kevin Feige menempatkannya sebagai penutup MCU (Marvel Cinematic Universe) Phase Two, itu yang menjadi pertanyaan besar walaupun arah pengembangannya nanti sudah banyak dilansir di social media. Satu yang unik, tetap berada dalam garis konsep Kevin Feige yang sangat visioner membangun universe-nya di atas perbedaan genre dari tiap instalmennya, rasa penasaran itu sudah muncul kala nama Edgar Wright dan Joe Cornish dikabarkan ada di belakangnya. Bukan terlalu mengejutkan memang, karena visi fantasi dibalik keterkaitan hubungan kedua sineas itu, walau cenderung absurd, memang sudah terlihat tak hanya dari ‘Three Flavours Cornetto Film Trilogy’-nya, tapi juga terentang baik dari ‘Scott Pilgrim vs. The World’-nya Wright, ‘Attack the Block’-nya Cornish bahkan ke yang jauh lebih mainstream, ‘The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn’, sebagai co-writers.

            But do know this. Wright dan Cornish memang sudah lama menulis treatment terhadap superhero Marvel ini sejak rencana pembuatannya dipegang Marvel bersama Artisan Entertainment, studio independen yang digandeng Lionsgate di tahun 2003. Persetujuan Feige ke proyek ini di tahun 2006 juga yang lantas mungkin membuat Wright akhirnya hengkang dari kursi sutradara, atas visi awal bahwa ‘Ant-Man’ akan menjadi bagian terpisah sepenuhnya dari film-film superhero Marvel, walau tetap ada di kredit produser eksekutif serta skrip yang akhirnya membawa serta Adam McKay dan Paul Rudd untuk menginjeksikan feelFrat Pack’s Apatow Chapter’ ke dalam plot yang masih setia berdiri di atas pitch awal Stan Lee di pengujung ’80-an dengan similaritas konsep ke Disney’sHoney, I Shrunk The Kids’. Disitulah akhirnya finalisasi pemilihan Peyton Reed sebagai sutradara jadi terlihat sangat beralasan. Walau filmografinya kebanyakan berada di ranah komedi hingga rom-com, dari ‘Bring It On’ ke ‘Yes Man’, jangan lupa bahwa Reed ada dibalik ‘Back to the Futureanimated series dan TV remakeThe Love Bug’ dengan penekanan smaller class family fantasy-nya.

            So yes. Ketika visi Feige atas genre mash-up instalmen-instalmen MCU itu masih sangat terasa, ‘Ant-Man’ pada dasarnya lebih dari sekedar heist movie. Konsep pemilihan cast Marvel yang jarang-jarang memaksa aktor pilihannya berubah menjadi ini-itu tapi lebih dibangun atas tipikalitas karakter-karakter mereka di filmografi masing-masing, mostly the well-known ones, dalam kemiripan besar atas pemilihan Robert Downey, Jr. sebagai Tony Stark / Iron Man, itulah yang terlihat dengan Paul Rudd yang masuk sampai ke treatment plot-nya. Merubah sedikit timeline karakter asli komiknya ke Scott Lang’s ‘Ant-Man 2.0’ sementara the original Hank Pym ditempatkan ke komposisi awal S.H.I.E.L.D. dengan pilihan aktor senior buat Michael Douglas, Rudd yang kita lihat disini adalah Rudd dalam universe Apatow’s Frat Pack, dan jelas ditambah ‘Honey, I Shrunk The Kids’-esque bersama father to daughter drama yang solid di cakupan family genre-nya.

          This is, nevertheless, unique, meski bukan juga tak punya resiko. Jauh dari gigantic atau spectacular feel yang ada di sepanjang MCU, ini nyaris seperti low key composition yang membuatnya cenderung juga ada di ranah film keluarga, dan itu sudah terlihat dari ending trailer-nya yang memang punya kekuatan lebih. Itu mungkin yang jadi alasan mengapa treatment atas perilisannya tak seheboh instalmen-instalmen lain termasuk di Indonesia, meski pihak Marvel lokal harus mengakui, prediksi mereka salah besar.

            ‘Ant-Man’ membawa kita kembali ke tahun 1989 dimana ilmuwan Hank Pym (Michael Douglas) memilih keluar dari S.H.I.E.L.D. saat Howard Stark (John Slattery) mencoba mereplikasi teknologi ‘Pym Particles’ ciptaannya yang dianggap Pym bisa beresiko sangat berbahaya. Namun di masa sekarang, ketika penerus perusahaan sekaligus protege-nya, Darren Cross (Corey Stoll) berhasil menemukan dan meneruskan teknologi itu bersama putri Pym, Hope van Dyne (Evangeline Lilly), Pym mau tak mau harus merancang sebuah rencana untuk menggagalkannya. Meski Hope berusaha meyakinkannya, sambil menyimpan rapat-rapat trauma masa lalu yang membuat Pym kehilangan istrinya, Janet Van Dyne (Hayley Lovitt), ia memilih seorang maling underdog Scott Lang (Paul Rudd) yang tengah berada di tengah masalah perebutan hak asuh putrinya, Cassie (Abby Ryder Fortson), dengan mantan istrinya, Maggie (Judy Greer) serta pasangan barunya, petugas polisi Paxton (Bobby Cannavale). Merekayasa sebuah perampokan yang melibatkan mantan tim Lang; Luis (Michael Peña), Dave (Tip “T.I.” Harris) dan Kurt (David Dastmalchian), Lang yang awalnya menolak terpaksa menyetujui keputusan Pym menempuh takdir barunya sebagai Ant-Man. Bukan semata untuk menghentikan Cross yang keluar jalur dengan warisan penemuan itu sebagai Yellowjacket yang lebih sempurna, namun berkaca pada hubungan Pym dan Hope; Lang siap menempuh resiko apapun hanya buat satu hal. Untuk kembali memenangkan hati Cassie.

            So you see. Disitulah ‘Ant-Man’ lantas menjelma dengan full hearts dalam MCU. Bahkan melebihi action seru dengan VFX memikat ala ‘Honey, I Shrunk The Kids’ yang digarap ILM dengan teknologi jauh lebih update lagi dengan transformasi ukuran dan pasukan semutnya – namun tetap terasa ditekan jauh lebih personal dari film-film lain di universe-nya, ‘Ant-Man‘ adalah sebuah langkah baru yang menyeruak begitu kuat di wilayah yang selama ini belum pernah tergali sedemikian dalam dari instalmen-instalmen Marvel. Bukan berarti film-film Marvel selama ini meninggalkan heart factor-nya, tapi dengan hubungan-hubungan personal ayah yang berjuang mati-matian buat anak perempuannya, ‘Ant-Man’, akan membuat mata pemirsanya berkaca-kaca dibalik kacamata 3D yang mereka kenakan untuk melihat detil shrinking – blew up beserta atmosfer sekeliling dari sinematografi Russell Carpenter secara jauh lebih baik.

            Sementara style Wright dan Cornish sangat terlihat di banyak sisi storytelling-nya, salah satu yang terkuat pastilah di visualisasi penceritaan Luis dkk yang memang menempatkan Peña sebagai comedic scene-stealer terkuat sekaligus menjelaskan mengapa tampangnya berbeda sendiri di deretan wajah dalam poster itu, yang meski repetitif tapi tetap membuat kita ketagihan, family adventure alaHoney, I Shrunk The Kids’-nya membentuk blend yang sempurna ke tengah-tengah heist theme dan awkward comedy McKayRudd di film-film Apatow. Sementara di inti terkuatnya, ada father to daughter drama yang merefleksikan interaksi Pym – Hope ke Lang – Cassie dengan chemistry yang begitu mencuri hati. Tak mudah untuk menyatukan elemen-elemen itu dalam sebuah racikan yang sangat padu, tapi ‘Ant-Man’ berhasil menemukan jalannya.

            Dalam interkoneksi universe-nya pula, sebagai penutup Phase Two, gimmick-gimmick-nya tak kalah juara. Selain menyemat aksi awal ‘Ant-Man’ dengan hint-hint yang luarbiasa menarik ke S.H.I.E.L.D., The Avengers, satu karakter baru paling lekat ke source aslinya (walaupun ada modifikasi disana) serta keseluruhan MCU, dari main scenes hingga ke mid-credits dan after credits, semua gimmick ini adalah satu yang terbaik dalam histori instalmen-instalmennya.

            Di departemen cast, ‘Ant-Man’ juga punya sinergi kuat untuk menyatukan elemen-elemen itu. Selagi Rudd seolah memainkan karakter tipikalnya dengan awkward sensitivity yang kita saksikan sejak ‘The Object of My Affection’ ke tampilannya di deretan film-film komedi ala Apatow, apalagi di sebuah funny romance scene di pengujung film itu – but somehow, bisa begitu solid menciptakan karakter Scott Lang; Michael Douglas, Evangeline Lilly hingga Bobby Cannavale dan Judy Greer pun ada di wilayah yang sama. Keren luarbiasa. Sebagai villain, Corey Stoll seems never like a big factor dalam tampilan komikalnya, apalagi Martin Donovan, namun Stoll tetap bisa menciptakan feel personal dalam final showdown yang seru di tengah-tengah distraksi Marvel meminjam karakter ‘Thomas the Tank Engine’ yang makin menambah excitement factor buat para pemirsa belia-nya. Selebihnya tentulah comedic chemistry Peña, T.I. dan Dastmalchian, heart stealing acts Abby Ryder Fortson, dan tak ketinggalan, Anthony Mackie dan sebuah kejutan after credits di benang merah universe-nya.

            So that’s it. Dalam kekuatan berbeda dari ‘Guardians of the Galaxy’, ‘Ant-Man’ lagi-lagi sudah menunjukkan kedigdayaan Marvel dalam bentukan karakter sekaligus pengenalannya secara ultimate. Mereka tak butuh tahapan-tahapan sulit untuk sebuah establishment, tapi cukup hanya dengan kekuatan konsep. Dalam durasinya yang tak sampai dua jam, karakter ini sudah menjelma menjadi favorit baru para pemirsanya. Wujudnya boleh kecil, even tiny, tapi dalam konsep-konsep superhero konvensional, the heart, is bigger than ever. Sekali lagi, bukan berarti instalmen-instalmen Marvel selama ini tak punya hati, tapi seperti Pym’s subatomic particles dengan kapabilitas luarbiasa yang ada di dasar terdalam dari kisahnya, ‘Ant-Man’ adalah inti terkuatnya. The true core of Marvel’s hearts. (dan)

~ by danieldokter on July 22, 2015.

2 Responses to “ANT-MAN: THE TRUE CORE OF MARVEL’S HEARTS”

  1. Yes, this is fun family movie….. suka buuuanget!

  2. […] ANT-MAN […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: