COMIC 8: CASINO KINGS PART 1; THE BIGGER SCALE OF ANOTHER SETUP

COMIC 8: CASINO KINGS PART 1

Sutradara: Anggy Umbara

Produksi: Falcon Pictures, 2015

comic 8 casino kings part 1

            Sebagai sineas yang masih tergolong baru, Anggy Umbara tak serta-merta meletakkan kesuksesan di ranah industrinya. Walau usahanya untuk membuat sesuatu yang berbeda sejak awal sudah terlihat, bahkan oleh pihak ekshibitor sendiri, ‘Mama Cake’ masih dianggap sebagai anomali dalam kelas produknya. Tapi untunglah Falcon Pictures, satu PH yang juga lumayan punya visi baik dalam mendobrak stagnansi genre di film kita, terus memberikan dukungan buat Anggy. Film keduanya, ‘Coboy Junior The Movie’ punya cara yang unik untuk memberikan sorotan berbeda terhadap boy band yang tengah populer, serta laku pula di pasaran. Tapi puncaknya jelas ‘Comic 8’.

            Begitu cermat memanfaatkan popularitas trend standup comedian / komika dalam sebuah genre mishmash yang selain seru, lucu sekaligus laku, juga masih jarang-jarang ada di film kita dalam nafas film-film ayahnya, sineas Danu Umbara, walau masih punya beberapa haters, ‘Comic 8’ harus diakui meletakkan standar baru dalam industri film kita. So, memang tak ada alasan untuk tak melanjutkan setup kuat yang sudah digelar Anggy di konklusi pengujung film itu.

            Trailer dan gelaran promonya sejak jauh-jauh hari sudah sangat mengundang antusiasme lebih lagi, bahkan dari kalangan di luar penyuka komika dengan ensemble support dari seabrek standup comedian tambahan dari Pandji Pragiwaksono, Sacha Stevenson, Soleh Solihun, Asep Suaji, Akbar Kobar, Adjis Doaibu, Uus, Temon, Cak LontongBoris Bokir, Lolox, Gita Bhebita, Mo Sidik hingga Jovial dan Andovi da Lopez dan masih banyak lagi, aktor-aktor aksi terkenal lintas generasi, diantaranya Barry Prima, George Rudy, Willy Dozan sampai Donny Alamsyah, Hannah Al Rashid dan Yayan Ruhian, plus Lydia Kandou (oh ya, Lydia juga pernah jadi action icon lewat ‘5 Cewek Jagoan’ yang disutradarai Danu Umbara), Prisia Nasution, Dhea Ananda, Sophia Latjuba, Agus Kuncoro, Gandhi Fernando dan Ray Sahetapy yang ikut menjadi highlight. Masih ada pula Joe P Project, Boy William, Agung Hercules, Candil, Ence Bagus dan Nikita Mirzani yang kembali mengulang peran mereka.

            8 personil dalam ensembleComic 8’ yang sudah direkrut menjadi agen rahasia khusus dibawah pimpinan Indro Warkop dan asistennya (Ge Pamungkas); Ernest (Ernest Prakasa), Kemal (Kemal Palevi), Arie (Arie Kriting), Babe (Babe Cabiita), Bintang (Bintang Timur), Fico (Fico Fachriza), Mongol (Mongol Stres) dan Mudy (Mudy Taylor) kini diserahi misi menyamar menjadi komika demi menemukan seorang komika misterius yang menjadi penghubung ke criminal mastermind yang bernama The King dibalik keberadaan kasino rahasia paling spektakuler di Asia. Selain harus menghadapi misi ini, mereka juga masih berada dalam incaran kepolisian (Boy William dan Dhea Ananda; replacing Nirina), interpol Singapura (Prisia Nasution) serta berbagai kawanan penjahat dan pembunuh yang sayangnya keseluruhannya baru akan kita saksikan di Part 2-nya di Februari 2016 nanti.

            There you go. Inilah resiko yang ditanggung ‘Comic 8: Casino Kings’ atas keputusan akhir Falcon membaginya menjadi dua bagian dengan rentang yang cukup lama. Bukan semata karena jarak itu berpotensi membuatnya kehilangan momen, tapi yang paling dasar, penceritaan back and forth secara non-linear yang memang tetap dipertahankan, membuat excitement-nya seakan terlalu ditahan untuk benar-benar meledak di bagian keduanya nanti. Apa yang kita saksikan disini, dari racikan aksi bercampur komedinya, lagi-lagi balik menjadi sebuah awal walau eksistensi benang merahnya ada sebagai sekuel, Belum lagi banyaknya star studded cast yang belum muncul disini, sementara beberapa masih hanya sebatas teaser. Mau tak mau, Part 1 ini lagi-lagi lebih hanya berupa sebuah setup ketimbang satu cerita utuh yang sebenarnya sudah lama ditunggu-tunggu apalagi dengan trailer-nya yang cukup heboh itu.

            Begitupun, bukan berarti bagian pertama ini sepenuhnya kehilangan highlight-nya sebagai sebuah hiburan yang dilepas di masa-masa libur lebaran. Paling tidak, main ensemble yang memang sudah dibangun dengan karakterisasi, ciri khas komedi masing-masing komika serta chemistry kuat dari film pertamanya sudah menjadi fokus excitement utamanya bersama dukungan tokoh-tokoh baru yang berseliweran di sepanjang film terutama Prisia Nasution dengan dialek Malay-Singapore meyakinkan hingga benar-benar kelihatan seperti aktor impor,  Hannah Al-Rashid serta Sophia Latjuba. Ketiganya adalah tampilan yang paling mencuri perhatian disini. Masih ada soal hit and miss di comedic showcase-nya, apalagi dengan tambahan seabrek komika yang muncul. Satu yang memang sulit dihindari dari genre ini berdasar soal like and dislike ke comedic pattern masing-masing, namun ensemble itu benar-benar bekerja dibalik homage lebih lagi, bukan hanya ke profesi mereka yang masih terus menciptakan trend di industri hiburan kita, dan tak pula sekedar di end credits gimmick-nya. Sementara bagi aktor-aktor pendukung selebihnya, juga dipenuhi trivia ke film-film populer lainnya.

            Dan bagusnya, Anggy bersama kru-nya memang membawa sekuel ini ke presentasi yang lebih lagi, sangat niat, dibandingkan film pertamanya. Walau skrip dari Anggy dan Fajar Umbara terasa tak spesial terlebih karena pembagian dua bagian itu, ada grand looks yang sangat mewah dari tampilan keseluruhannya termasuk dari sinematografi Dicky R. Maland, action yang lebih seru (walaupun teaser ke bagian keduanya tetap terlihat jauh lebih seru lagi) serta tentu saja kehebohan yang cukup spektakuler dengan permainan efek spesial creature feature buaya-buaya animatronics dari Epics FX Studio yang meski tak seluruhnya rapi namun sudah cukup mumpuni diantara yang ada di film kita sekarang. Editing yang berpindah dari Bounty Umbara ke Andi Mamo masih setia mengikuti pakem non linear film pertamanya, namun secara keseluruhan, didukung oleh tim tata busana serta tata rias serta tata artistik dari Dicky Kadarhariyawan sudah bisa melepasnya dari homage ke banyak style film luar ke ciri khas sendiri yang hanya dimiliki ‘Comic 8’, yang kini jelas sudah menjadi sebuah franchise lokal yang kuat.

            So yes, ‘Comic 8: Casino Kings Part 1’, walaupun terlihat lagi-lagi sebagai setup panjang yang sama sekali tak utuh, memang punya segudang syarat untuk menjadi produk yang laku di tengah-tengah sulitnya film kita menemukan penontonnya. Presentasi yang seru, lucu, bertabur bintang serta terlihat megah di atas sejumlah effort-nya. Paling tidak ini bisa menjadi gambaran formula yang sekarang masih dicari-cari produser kita di atas gebrakan Anggy dengan gagasannya, namun begitu, tetap memerlukan inovasi lebih untuk membuatnya bisa ada di kelas yang sama. Mari tunggu sehebat apa Anggy menyelesaikan wrapping keseluruhannya di ‘Comic 8: Casino Kings Part 2’ Februari nanti. (dan)

~ by danieldokter on July 26, 2015.

2 Responses to “COMIC 8: CASINO KINGS PART 1; THE BIGGER SCALE OF ANOTHER SETUP”

  1. manteb reviewnya, ada yg sedikit menggelitik nih, Sophia Latjuba terlalu banyak senyum sebagai The King yg konon susah tertawa dan sampai minta dibuat sayembara supaya tertawa…. hehehehe….

  2. […]            Kedua, di genre comics showcase. Okay, ‘Comic 8: Casino Kings’ is another matter, dan kita masih harus menunggu bagian keduanya tahun depan. Namun membawa […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: