PIXELS: STILL A FUN TRIBUTE TO THE ‘80s ARCADE ERA

PIXELS

Sutradara: Chris Columbus

Produksi: Happy Madison Productions, 1492 Pictures, Columbia Pictures, 2015

Pixels

            Mostly for the ones who lived up the golden age of arcade video games, dari game console ’80-an masa Atari ke Nintendo hingga arcade yang disini sering disebut dengan ‘ding-dong’ dulunya, ‘Pixels’ memang hadir dengan konsep yang sangat menyenangkan. Diangkat dari semi-animated short Perancis berjudul sama besutan Patrick Jean (2010), walau skripnya ditulis oleh Tim Herlihy, kolaborator setia Adam Sandler sepanjang karirnya, ‘Pixels’ yang disutradari Chris Columbus memang sejak awal agak berbeda dengan showcase Sandler lainnya.

            Pasalnya satu. Sebagai salah satu pionir yang punya jasa begitu besar di genre-nya dalam membawa kolega-kolega ‘Saturday Night Live’-nya ke puncak popularitas mereka, like a good big brother, tak peduli sebanyak apa haters-nya terutama dari kalangan kritikus, film-film Sandler sebelumnya rata-rata punya brand besar dibalik namanya. Bukan berarti Sandler tak pernah bermain sebagai bagian dari ensemble comedy, namun lewat promo-promonya, ‘Pixels’ memang jarang terlihat mengedepankan jualannya sebagai film Sandler. Instead, sesuai source itu,  karakter-karakter game legendaris terutama Pac-Man seolah jadi ‘bintang’ dalam konsepnya. Okay, pihak Sony-Columbia mungkin punya alasan tersendiri, namun paling tidak, keberaniannya tampil di tengah pertarungan summer blockbusters tahun ini, tetaplah sebuah effort.

            Sam Brenner (Adam Sandler) yang kini berprofesi sebagai petugas instalasi elektronik sudah lama melupakan impiannya sebagai arcade gamer jempolan di masa kecilnya setelah dikalahkan oleh Eddie Plant (Peter Dinklage) saat bersaing dalam gameDonkey Kong’ di kejuaraan dunia arcade game. Namun ketika dunia terancam oleh serangan alien dengan pola sama ke karakter-karakter video game vintage sekaligus punya kaitan terhadap kejuaraan masa kecil itu, sahabatnya sesama gamers, Will Cooper (Kevin James) yang kini menjabat sebagai Presiden AS meminta Brenner berkolaborasi bersama pasukannya. Walau kerap dilecehkan oleh petinggi-petinggi militer terutama Admiral Porter (Brian Cox) dan Letkol Violet Van Patten (Michelle Monaghan) yang diam-diam saling suka dengannya, Brenner tak bisa menolak permintaan Cooper. Menyambangi kolega masa kecil mereka, gamer geek Ludlow Lamonsoff (Josh Gad) yang terobsesi pada karakter Lady Lisa dari game ’80-an fiktif ‘Dojo Quest’ hingga Eddie Plant yang terpaksa mereka bebaskan dari penjara dengan syarat pembebasan pajak dan kencan bersama Serena Williams (petenis Afrika-Amerika) atau Martha Stewart (seleb kuliner dan kerumahtangga-an Amerika), Brenner dan Cooper pun membuktikan bahwa mereka adalah pilihan yang lebih tepat untuk menghadapi serangan karakter-karakter videogames ini. Dari Guam ke Agra, London, New York hingga Washington DC, dari ‘Galaga’, ‘Centipede’, ‘Tetris’, ‘Pac-Man’, hingga ‘Space Invaders’ yang memporakporandakan sasarannya menjadi pixels, ujungnya ‘Donkey Kong’ kembali jadi babak final penentuan semuanya. Hanya saja, kali ini bukan lagi buat Brenner dan rekan-rekannya, tapi demi menyelamatkan dunia.

            Menyelam lebih jauh menelusuri homage ke masa keemasan arcade era lebih dari apa yang dilakukan Disney lewat ‘Wreck-it Ralph’ tempo hari dan memang lebih fokus ke pop culture AS ’80-an yang kerap jadi trademark showcase Sandler, ‘Pixels’ sebenarnya punya potensi sangat besar buat jadi juara di luar pertarungan franchise blockbuster musim panas. Apalagi, Chris Columbus jelas jadi jaminan buat visi-visi fantasinya dalam skup hiburan keluarga selama ini. Seperti mengulang lagi ‘80s golden age lewat gimmick tambahan di atas teknologi zaman sekarang, ‘Pixels’ memang punya dayatarik luarbiasa.

            Sayangnya, kolaborasi ini memang tak membentuk blend sempurna diantara family-oriented fantasy Columbus dengan jokes ala Sandler. Skrip yang ditulis oleh Tim Herlihy sebagai penulis yang paling mengenal Sandler bersama Timothy Dowling sudah terlihat mencoba menyesuaikan sickjokes-nya ke ruang lingkup Columbus, bahkan Sandler mengajak serta istrinya Jackie dan kedua anaknya Sadie & Sunny serta ponakannya Jared. Namun bukannya jadi sesuatu yang baru, kelucuan-kelucuannya jadi sangat tertahan meninggalkan sosok Sandler agak sulit buat sepenuhnya jadi lovable lead baik di setup dan turnover karakternya diantara kolega-kolega langganannya, kali ini plus Josh Gad yang menempati generasi paling muda hingga Peter Dinklage sebagai unlikely pairing dalam ensemble-nya.

              Sementara sempalan romance yang mengedepankan chemistry utama Sandler – Monaghan serta tambahan ke masing-masing personilnya (Kevin JamesJane Krakowski ataupun Josh GadAshley Benson) juga gagal menyamai kualitas film-film Sandler maupun sentuhan Columbus, tapi lebih serba canggung dibalik potensi yang tak tergali sekedar tempelan.

        Sudah begitu, harus diakui pula, bahwa durasi begitu singkat namun punya konsep padat dalam source-nya, tak sepenuhnya bisa terulang dalam setting yang jauh lebih serba gigantis. Bukan secara teknis penggarapannya gagal. Tapi walaupun shot-shot DoP kawakan Amir Mokri yang tetap bagus bersama permainan CGI dan scoring Henry Jackman di tengah segala macam elemen gimmick hingga pixelated attack-nya, terutama showdown awal yang diiringi vintage classic rockWorking for the Weekend’-nya Loverboy, ‘Pac-Manmontage, pun adegan klimaks menerjemahkan stage demi stageDonkey Kong’ yang cukup seru, kadar excitement-nya tak seefektif source asli yang benar-benar serba minimalis.

               However, ‘Pixels’ tak lantas jadi sepenuhnya gagal sejelek kebanyakan resepsi negatifnya. Sandler dan tim-nya tetap dengan juara mengetengahkan ‘80s homage dari nods ke tiap-tiap pop culture-nya, dari penempatan lagu-lagu vintage pengisi soundtrack seperti Tears for Fears’ ‘Everybody Wants to Rule the World’ ataupun Spandau Ballet’s ‘True’ versi India yang mengiringi adegan Tajmahal’s ‘Arkanoid’ yang kocak hingga cameo-cameo tampilan icons yang disemat ke peringatan alien di atas serangan mereka terhadap bumi. Ada Madonna, Ronald Reagan, ‘Fantasy IslandTV series hingga fictional ‘80s British A.I. Max Headroom (tetap digawangi aktor Matt Frewer) dan Daryl Hall & John Oates (Hall & Oates). Nobody nailed the ‘80s pop culture like Sandler & co., ini selalu benar, serta masih ada penampilan spesial Lainie Kazan, Sean Bean, Dan Aykroyd serta cameo Serena Williams, Martha Stewart sampai Toru Iwatani, kreator Pac-Man selagi karakter aslinya diisi oleh Denis Akiyama buat meramaikan ensemble itu.

              Selebihnya tentulah homage, trivia atau apapun sebutannya, terhadap golden age of arcade video games yang memang dengan menarik tergelar di sepanjang film, jauh melebihi segala kekurangan yang ada. Biar kadar excitement-nya tetap tak bisa menyamai source-nya yang singkat tapi luarbiasa padat termasuk di penempatan ‘Space Invaders’ yang tak mendapat posisi se-terhormat source tadi, seabrek video game berbeda produsen dari Atari sampai Nintendo di bawah brand Namco, incl.Galaga’, ‘Arkanoid’, ‘Centipede‘, ‘Defender’, ‘Frogger’, ‘Joust’, ‘The Smurfs‘ dan tentu saja dua bintang utamanya, ‘Pac-Man’ dan ‘Donkey Kong’, jelas sudah menjadi ultimate tribute ke salah satu kultur pop legendaris bagi generasi ’80-an. Semua dibahas diatas nods serta hints ke pattern serta taktik-taktik aslinya, membuat sebagian dari kita begitu ingin kembali merasakan tiap detil memori saat teknologi benar-benar belum secanggih sekarang. Berdiri di tengah-tengah kerumunan arcade menunggu giliran atau tenggelam dalam excitement memainkan video game vintage rumahan.

                 Dengan dua kekuatan yang sudah melebihi kekurangan-kekurangan yang ada, ‘Pixels’ sungguh tak sejelek ulasan-ulasan yang membombardirnya habis-habisan apalagi bila hanya semata didasari kebencian berlebih terhadap style komedi Adam Sandler. This is still a fun tribute to the ‘80s arcade era, and if you really lived up the decade, go insert some coins and playPixelsup to the high score! (dan)

~ by danieldokter on August 4, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: