99% MUHRIM: GET MARRIED 5 ; A SLIGHTLY DIFFERENT TURN OVER THE SAME PATTERN

99% MUHRIM: GET MARRIED 5

Sutradara: Fajar Bustomi

Produksi: Starvision, 2015

get married 5

            Dalam perkembangan film kita sejak bangkit kembali dari mati surinya, kita memang belum punya terlalu banyak franchise. Salah satu yang masih terus bisa bertahan sekaligus sebagai yang terkuat, pastilah ‘Get Married’. Tak mudah memang buat franchise layar lebar bisa bertahan mencapai instalmen ke-5-nya, namun walaupun dengan pencapaian naik turun yang tetap tak bisa menyaingi baik balance antara resepsi kritikus dengan publik yang sama bagusnya dengan perolehan penonton ke film pertama, sepak terjangnya mungkin cukup layak buat dihargai.

            Dalam perkembangan itu, pola-pola ‘Get Married’ harus diakui sebenarnya masih berada disitu-situ saja. Walau di instalmen terakhir fokus terhadap dua karakter utama yang memegang kendali ceritanya; naik turun hubungan Mae dan Rendy yang terus berganti-ganti pemeran hingga akhirnya menetap di Nino Fernandez yang mulai muncul di film kedua, mulai dicoba bergeser ke Jali dan Sophie (Ricky Harun & Tatjana Saphira yang menggantikan Kimberly Ryder dari instalmen ke-3), namun sebenarnya karakter-karakter baru ini tetap ada dalam batasan side characters yang jelas tak bisa sekuat trio Desta-Ringgo-Amink atau duo Jaja MihardjaMeriam Bellina yang memang harus diakui merupakan persyaratan wajib franchise-nya. Sementara, salah satu faktor terkuat mengapa ‘Get Married’ bisa jadi sebesar itu, chaos comedy bercampur drama keluarga yang berdiri dengan solid di atas sentilan-sentilan kritik sosialnya, mulai makin berkurang. So, mau dibawa kemana lagi plot instalmen ke-5 ini?

            Starvision ternyata cukup pede meneruskannya dengan sebuah pendekatan trend. Oh ya, maksudnya genre reliji, yang terserahlah bila sebagian orang bilang itu bukan genre tapi memang jadi fenomena tersendiri di perfilman kita. Walau nafas relijinya bukan tak ada sejak instalmen pertama yang nyata-nyata dilepas sebagai blockbuster lebaran, kini menambah judul “99% Muhrim” di depan titel franchise-nya sendiri (okay, ini harus diakui cheesy dan semata untuk alasan jualan karena fokusnya justru tak mengarah pada Mae dan Rendy tapi lebih pada Jali dan Sophie; kini diperankan Anggika Bolsterli), ‘Get Married 5’ bukan juga berarti benar-benar banting stir kesana.

              Genre-nya sebenarnya tak berubah, hanya saja, ada mashup tema reliji yang disempalkan ke dalam mishmash elemen yang sudah-sudah antara chaos comedy dan drama hubungan keluarga yang herannya hampir selalu bisa menyentuh karena dekat sekali dengan keseharian budaya kita. Pertanyaannya sekarang adalah sejauh mana skrip Cassandra Massardi dan penyutradaraan Fajar Bustomi bisa meng-handle percampurannya terutama dalam membangun satu lagi persyaratan wajibnya; sentilan-sentilan dalam nafas kritik sosial yang selalu ada sebagai latar belakang franchise ini. Sepenuhnya mengikuti trend atas nama jualan, atau tetap mempertahankan kenapa ‘Get Married’ tetap menjadi ‘Get Married’?

                Di tengah usia pernikahan mereka yang sudah berjalan cukup lama, keluarga Mae (Nirina Zubir) dan Rendy (Nino Fernandez) yang kian mapan dan dikaruniai 3 orang anak membuat Mae menjelma menjadi seorang sosialita selayaknya ibu-ibu muda zaman sekarang, sementara Rendy sudah bersiap memboyong mereka pindah atas tawaran kerja di Los Angeles. Namun hubungan mereka kembali diuji kala Bu Mardi (Meriam Bellina) berada dalam kondisi koma akibat serangan begal. Mae seketika tergerak melihat Babe (Jaja Mihardja) dan anak-anaknya berdoa buat keselamatan Bu Mardi, menyadari selama ini ia hampir sama sekali meninggalkan ibadah bahkan tak bisa membaca Al Quran. Sementara Sophie yang memasuki titik jenuh hubungan kawin gantungnya dengan Jali (Ricky Harun) justru terinspirasi dari niat awal Mae dan memilih mengenakan hijab. Bukan hanya Mami Rendy (Ira Wibowo) yang lantas menyambutnya dengan histeris karena menyangka Sophie terpengaruh gerakan radikal, tapi diatas semua, bagaimana Mae benar-benar bisa meyakinkan Rendy atas pilihannya ini.

             Memasukkan elemen reliji ke dalam plot yang terlihat hampir tak punya jalan buat kemana-mana lagi ini, ternyata penyutradaraan Fajar atas skrip Cassandra bisa membuat ‘Get Married’ tetap berjalan di track-nya yang biasa. Walau jalinan komedi dan dramatisasinya kadang terasa tumpang tindih menyemat mishmash itu, bahkan kerap nyaris beberapa kali jatuh terlalu melodramatik, hal paling baik dalam ‘Get Married 5’ adalah sentilan-sentilan social critics-nya bisa berpadu dengan baik bersama elemen reliji tadi.

             Konflik yang dipaparkan dalam skrip Cassandra memang harus diakui punya keakraban luarbiasa dengan fenomena yang kita lihat di sekitar kita sehari-hari sekarang ini, dari soal hidayah berikut alasan-alasan lain yang membuat sebagian orang seketika berpindah jalur, pesantren kilat, ustadz seleb (diperankan Fathir Muchtar) hingga arisan pengajian dibalik tendensi-tendensi sosialita bisa cukup menampar; sementara di luar soal agama, isu-isu masyarakat hingga soal begal yang disemat dalam nafas komedik tetap muncul secara bergantian. Walau tak sepenuhnya membentuk blend serapi film pertamanya, ini sungguh bukan usaha yang gagal; apalagi konsekuensi-konsekuensinya tak lantas digelar secara klise dan serba ujug-ujug menuju happy ending, tapi rata-rata melewati proses-proses storytelling dan character turnover yang wajar. Bagusnya, semua di atas nafas komedi ala ‘Get Married’ biasanya, mostly a chaos, sesekali bisa menggila, sambil diselingi dengan dramatisasi yang kebanyakan tetap bisa menyentuh tanpa harus jadi berlebihan.

           Chemistry yang terjalin diantara cast-nya juga tetap berjalan dengan baik, mungkin karena franchise ini memang sudah berhasil menciptakan beberapa trademark dalam karakterisasinya; seperti Babe dan Bu Mardi (Jaja dan Meriam) yang tetap membagi balance drama dan humornya dengan hidup. Nirina tetap begitu masuk ke karakter Mae dan Rendy bersama Nino, dan Ricky Harun tetap memerankan Jali dengan konsisten bersama pendatang baru Anggika Bolsterli yang bisa menggantikan Tatjana sebagai Sophie dengan cukup baik.

              Cukup disayangkan memang Desta dan Ringgo tak lagi muncul, menyisakan Amink yang tak juga terlalu jadi fokus, namun tambahan sejumlah komika sebagai penghias sesuai trend yang ada sekarang; Kemal Palevi, Pandji Pragiwaksono, Abdur Arsyad, Adjis Doaibu, Uus, Andovi dan Jovial da Lopez, Gofar Hilman, meski punya hit and miss, cukup bisa memberi warna pada penggemar mereka masing-masing bersama supporting cast selebihnya seperti Ence Bagus, Joe P. Project plus penyiar – presenter Dimas Danang dan Imam Darto yang sedang berada di puncak kepopuleran mereka.

            Terakhir, tentu saja sentuhan spesial yang juga menjadi sudah seperti menjadi salah satu nyawa dari franchise-nya sendiri; keikutsertaan Slank, yang bukan saja menyumbangkan lagu-lagu mereka tapi juga berada dibalik komposisi scoring-nya. Theme song yang merupakan single Ramadhan yang baru dilepas Slank tahun ini, ‘Halal’, memang terasa benar-benar masuk ke plot-nya secara keseluruhan, sekaligus jadi theme song yang sama kuat ke rendition mereka di lagu ‘Pandangan Pertama’ dalam film pertama. Ini sama sekali bukan instalmen yang gagal karena masih bisa berdiri dengan kuat di elemen-elemen juara franchise-nya. Slightly different turn, but over the same strong pattern. (dan)

~ by danieldokter on August 10, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: