CATATAN AKHIR KULIAH: A LIFE COMEDY WITH HALF-BAKED CONCEPT

CATATAN AKHIR KULIAH

Sutradara: Jay Sukmo

Produksi: Darihati Films, 2015

catatan akhir kuliah

            Sekali waktu dulu dikenal sebatas selebtwit, fenomena stand-up comedian, comics, komika atau apapun sebutannya, sekarang sudah menjadi komoditas yang cukup kuat bersama perkembangan socmed di industri film kita. Perjuangannya bukan tak panjang. Diawali oleh Raditya Dika yang bukan juga langsung sukses dengan satu film, kini pengikut-pengikutnya mulai bermunculan. Dari sekedar penghias, bahkan menjadi comedic lead di genre-nya.

             Bagi para penggagasnya, terutama rumah produksi kita yang memang senang membidik novel yang rata-rata penulisnya bukan juga berada jauh dalam circle sejenis, prosesnya memang seolah jadi lebih mudah. Isinya pun kebanyakan ada dalam pakem yang sama. Ngalor-ngidul komedi berupa sketsa-sketsa tulisan yang kemudian dirangkum ke konklusi yang lagi-lagi kalau tak bicara soal hidup, ya cinta. Begitupun, ada sisi positif yang jelas disana. Bukan boro-boro memotivasi, tapi yang jelas, sama seperti lawakan seorang stand-up comedian yang tengah beraksi di depan panggung, sebagian besar konfliknya jadi terasa akrab buat banyak pemirsa yang mengalami problem-problem sama dari kreatornya. Next step, tinggal cari beberapa yang pas buat cast-nya, dan tambahkan aktor-aktor yang sudah lebih punya pengalaman buat side characters-nya. Like it or not, most of them, now works.

             Bertolak dari salah satu maupun sebaliknya dalam konsep jualan, ‘Catatan Akhir Kuliah’ juga diangkat dari novel komedi berjudul sama karya Sam Maulana. And no, ini sama sekali tak punya hubungan dengan ‘Catatan Akhir Sekolah’-nya Hanung Bramantyo. Menyemat ide tentang karakter-karakter utama yang harus struggling dengan masa-masa akhir perkuliahan mereka sambil sedikit banyak bicara soal cinta tadi, ‘Catatan Akhir Kuliah’ yang ditulis seolah sebagai memoir Sam sendiri yang telat lulus dari perkuliahannya di IPB (Institut Pertanian Bogor), memang terlihat punya konsep yang menarik.

              Ia menggerakkan kehidupan karakter-karakter itu di atas sebuah metafora skripsi dari bab yang satu ke bab lainnya; dari pendahuluan hingga daftar pustaka. Itu juga mungkin yang mendorong keberanian Darihati Films sebagai rumah produksi baru, dengan nama-nama yang terdengar baru pula di kredit produksinya, berani mengangkatnya ke layar lebar. Namun sebaik apa konsep itu bisa mereka tuangkan ke dalam visualisasinya, itu selalu jadi hal paling krusial dalam gambaran terbesarnya, tetap sebagai sebuah adaptasi novel.

          Tiga sahabat yang saling terhubung di masa-masa awal perkuliahan mereka; Sam Maulana (Muhadkly Acho), Sobari (Ajun Perwira) dan Ajeb (Abdur Arsyad), membuat ikrar buat menyelesaikan kuliah dan wisuda di waktu yang sama. Namun kenyataan itu berkembang lain seiring dengan kehidupan pribadi mereka masing-masing. Sam ternyata tertinggal dari dua sahabatnya. Tak kunjung sidang akibat revisi demi revisi skripsinya, Sam malah makin sibuk dengan perjuangan cintanya. Dari Wibi (Elyzia Mulachela) yang memilih setia dengan kekasihnya di kampung halaman, hingga Kodok (Anjani Dina) yang keburu jadian dengan Iwan (Andovi da Lopez). Kekecewaannya akhirnya membuat Sam makin terpuruk, kehilangan sahabat-sahabatnya, hingga di satu titik terbawah, ia kembali mencoba bangkit.

              Dari skrip yang digarap oleh Johansyah Jumberan (sekaligus produsernya), seperti apa yang kita baca dari sejumlah press release-nya, ‘Catatan Akhir Kuliah (CAK)’ memang berhadapan dengan resiko klise pemain-pemain baru dalam industri film layar lebar. Seolah terlalu berambisi merangkum semua tanpa fokus jelas dalam jualannya, mereka menjual ‘CAK’ dengan sebutan genre komedi motivasi yang bahkan perlu dijelaskan dengan penampilan khusus Mario Teguh. Tak sepenuhnya salah, memang, tapi masing-masing elemen itu sayangnya justru terkesan tumpang tindih dan kerap mem-blur-kan fokusnya untuk bisa berdiri dengan jelas di genre komedi, drama atau juga selipan-selipan motivasi tadi. Padahal dalam banyak contoh, apa yang ditampilkan Jay Sukmo dan rekan-rekannya disini lebih mirip sebuah life comedy dimana elemen-elemen drama dan komedinya seharusnya bisa dengan sendirinya membentuk balance yang pas asal skrip dan keseluruhan penggarapannya benar-benar kuat.

                Berhadapan dengan masalah utama itu, penggarapan teknisnya sebenarnya tak jelek. Jay Sukmo dalam debut penyutradaraan layar lebarnya pun sudah terlihat punya kekuatan di bagian-bagian awal. Satu nilai lebih yang tergelar dalam ‘Catatan Akhir Kuliah’ memang ada di penggambaran dunia perkuliahan yang terasa otentik, wajar dan tak mengada-ada buat membangun konfliknya. Detil-detil aspek yang diangkat dari kehidupan sekitar karakternya, masing-masing dengan pengenalan yang lancar plus selipan-selipan komedi bersama chemistry tiga karakter utamanya, juga bagus. Begitu pula konflik-konflik skripsi yang akrab ke banyak orang sambil diiringi screen presence Aida Nurmala yang kuat. Hanya saja, skrip Johansyah masih belum bisa sepenuhnya membangun balance yang bagus terhadap elemen-elemen yang ada setelahnya.

               Dari sketsa-sketsa menarik soal perkuliahan itu, memasuki paruh masa putarnya, ‘CAK’ seolah kehilangan fokus dengan melulu mengarahkan konfliknya ke soal-soal percintaan dengan karakter Sam yang di-setup jadi galau luarbiasa, dengan akting Muhadkly yang cenderung kelewat depresif hingga membuat kita sulit berempati pada karakternya sebagai lead yang paling berfungsi menggerakkan film secara keseluruhan. Berpanjang-panjang di second act yang jadi sedikit draggy ini, walau masih diwarnai dengan penampilan menarik Anjani Dina serta Budi Doremi yang juga menyumbangkan lagu-lagunya sebagai nilai tambah ‘CAK’, penyelesaiannya pun tak lagi bisa terlalu menyelamatkan wrapping finale yang seharusnya bisa jauh lebih cantik serta menyentuh dalam menyemat metafora skripsi dengan penceritaan bab demi bab yang sudah diperjelas dengan visual menarik itu. Ini yang paling disayangkan, bahwa konsep menarik yang walau bisa terlihat jelas itu pada akhirnya jadi terasa half-baked untuk benar-benar masuk ke dalam storytelling-nya.

             However, kelemahan di dramatisasi itu memang masih bisa tertutupi dengan selipan-selipan komedi yang cukup segar serta penggarapan yang lumayan . Kita masih tetap bisa tertawa di cukup banyak adegan sambil mengingat kembali konflik-konflik perkuliahan yang sedikit banyak pasti punya kesamaan dengan keseharian banyak pemirsa yang tengah ataupun pernah duduk di bangku kuliah mereka. Walau masih punya kekurangan, tanpa harus spesial dijual dengan embel-embel motivasi pun, ‘Catatan Akhir Kuliah’ masih tetap bisa berdiri sebagai sebuah life comedy yang beda. Down to earth, dan juga thoughtful. (dan)

~ by danieldokter on August 11, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: