FANTASTIC FOUR: THIRD TIME’S NOT A CHARM

FANTASTIC FOUR

Sutradara: Josh Trank

Produksi: 20th Century Fox, Marvel Entertainment, Constantin Film, Marv Films, Robert Kulzar Productions, TSG Entertainment, 2015

fantastic four

            Oh yeah. Semua pasti sudah mendengar carut-marut yang ada dibalik kasus ‘Fantastic Four’ versi terbaru yang belum juga selesai dengan testimoni-testimoni kedua belah pihak dan pemberitaan baru yang terus dilansir tanpa kejelasan nasib sutradara Josh Trank terhadap kemungkinan tuntutan pihak Fox.  Cercaan banyak pihak baik fans maupun non-fans berbulan-bulan lalu dari usaha ketiga kalinya mengangkat ensemble superheroes ini ke layar lebar (Pertama oleh Roger Corman (1994), a version which never saw the light of day, serta dua instalmen dari Fox di tahun 2005, yang walau sesuai dengan source tapi kebanyakan mendapat review negatif hanya semata karena light and fun), akhirnya berujung pada status box-office flop dan ‘critically-panned movies’, salah satu yang terbesar dalam genre-nya.

            Mengacu semata pada analogi ukuran, kasus Trank vs Fox ini sebenar-benarnya seolah kasus cicak vs buaya, hanya saja disini, sang buaya terlalu percaya pada cicak yang baru menelurkan satu film bagus lewat debutnya, itu pun bersama Max Landis, ‘Chronicle’ (2012), sementara cicaknya, memang kedengaran agak sakit jiwa. While the cast is another matter, effort Trank mengubah sosok Johnny Storm, the most lovableFantastic Fourpersonnel, ke etnis african-american Michael B. Jordan bersama pasangan layar lebarnya Miles Teller sebagai Reed Richards (Mr. Fantastic), sejak lama sudah dianggap sebagian orang terutama fans-nya sebagai satu kesalahan fatal. Belum lagi, tak peduli sebagian yang lain mengelu-elukan film superhero bernuansa dark and gritty, sesungguhnya melawan nafas asli source material-nya; Marvel’s First Family rekaan Stan Lee dan Jack Kirby yang memang punya light weight dan colorful tone.

            Mereka boleh saja berdalih macam-macam dari ini sepenuhnya mengacu pada modernized re-imaginingUltimate Fantastic Fourcomic version yang tak juga benar, hingga alasan bahwa versi 2015 sama sekali bukan ‘Fantastic Four’ yang dikenal selama ini. Totally loose from any comics. Selagi reboot-nya memang diperlukan sebagai persyaratan agar karakternya tak kembali pada Marvel Studios, dan Trank ternyata tak memberi Fox apa yang mereka mau hingga memicu perombakan ending dengan sejumlah re-shoots, kenyataan yang kita saksikan di layar lebar memang tetap adalah senyata-nyatanya sebuah usaha yang hancur lebur melebihi kesalahan fatal ‘X-Men: Last Stand’ dan mungkin ‘Catwoman’ (if you did consider the movie as a superhero movie).

            Ada sebenarnya adaptasi yang melawan source material, memicu kemarahan fans namun tak dipedulikan oleh non-fans ataupun status pemirsa lainnya dalam cakupan publik yang lebih luas. Bahkan tetap bisa laku di pasaran. Tapi ‘Fantastic Four’ sepenuhnya merupakan kasus berbeda dimana kritikus, fans dan pemirsa rata-rata ada di kursi yang sama. So, sebenarnya dimana letak kesalahan itu?

            ‘Fantastic Four’ 2015 (stylized asFant4stic’ namun tak satupun orang yang peduli), membawa kita ke masa kecil Reed Richards (dewasanya diperankan Miles Teller) di tahun 2007, anak jenius yang berambisi jadi seorang ilmuwan penemu teknologi teleportasi. Semua memandangnya dengan sebelah mata kecuali Ben Grimm (dewasanya diperankan Jamie Bell). Berdua, mereka berhasil membangun prototipenya di usia remaja hingga menarik perhatian Professor Franklin Storm (Reg E. Cathey) dari Baxter Foundation, yang ternyata juga tengah mencoba membangun prototipe sejenis. Merekrut Reed untuk bekerja bersama putri angkatnya, Sue Storm (Kate Mara), Franklin pun mengajak kembali mantan protege-nya Victor Van Doom (Toby Kebbell) yang sudah lebih dulu mendesain prototipe yang mereka namakan ‘Quantum Gate’.

              Disini akhirnya Reed menyadari bahwa titik akhir teleportasinya bukan di negara lain merupakan dimensi paralel yang mereka namakan Planet Zero. Karena itu pula proyek ini mengundang ketertarikan supervisor fasilitasnya, Dr. Allen (Tim Blake Nelson) yang bekerjasama dengan NASA dan pemerintah demi kepentingan menjadikan Planet Zero sebagai sumber baru bumi yang semakin dilanda kerusakan. Putra kandung Franklin, remaja liar Johhny Storm (Michael B. Jordan) kemudian bergabung dengan alasan mendapatkan mobilnya yang ditahan Franklin dalam sebuah insiden balapan. Ketika proyek itu berhasil, Dr. Allen ternyata menolak menggunakan Reed dkk untuk misinya. Mengajak serta Ben, mereka pun diam-diam merancang eksplorasi pribadi ke Planet Zero di luar sepengetahuan Sue dan Franklin. Disinilah semuanya berbalik menjadi kekacauan atas sebuah substansi hijau berenergi luarbiasa yang mereka temukan di Planet Zero dan merubah semuanya dalam tingkat molekul menjadi manusia-manusia berkemampuan luarbiasa. Sementara Victor tak bisa terselamatkan, Reed menyadari tubuhnya bisa memanjang seperti karet, Johnny dilumuri api dan bisa terbang, dan pod Ben yang terpapar batu-batuan Planet Zero menyatu dan membuatnya sebagai manusia berkekuatan batu. Bahkan Sue yang terpapar energinya dari jauh jadi bisa menghilang dan memproduksi medan energi.

              And the film then moved into one year later, sebelum akhirnya berujung pada final showdown yang didasari logika tontonan animasi anak balita, semata-mata buat menyemat syarat wajib superheroes ensemble ini menghadapi Victor yang ternyata selamat dan beralih rupa menjadi Doctor Doom, musuh terkuat mereka sekaligus salah satu dalam keseluruhan Marvel Universe, tapi disini tak pernah sekuat itu dengan durasi pertarungan kurang dari 10 menit. Dan tentu saja, proses assemble dimana mereka semua, yang pada awalnya depresi luarbiasa akhirnya bisa tertawa bahagia bersama dibalik moral keluarga yang, oke, ini memang kedengaran agak nasionalis. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

              So what wasFantastic Fourlack of ? Excitement? Checked. Pace? Checked. Exciting final battle? Checked. CGI effects? Digagas diatas much lower cost efforts dengan teknologi yang dinamakan cloud rendering dari OTOY company, walau ada bantuan Weta Digital dan Moving Picture Company? Checked. Chemistry? Checked. Character Development? Actually, a very poor one. Checked. Lengkap sudah.

                 Dan yang paling bertanggung jawab terhadap hal itu jelas adalah Josh Trank. Sebagai penggagas yang juga berada dibalik skrip awal yang kemudian dibantu Simon Kinberg dan Jeremy Slater, bahkan Matthew Vaughn yang ikut direkrut menjadi produsernya, somehow kita bisa melihatnya semata-mata karena Trank diminta untuk menyutradarai ‘Fantastic Four’, bukan benar-benar memahami source material-nya. Walau inovasi dalam konsepnya bisa terlihat, apa yang dilakukan Trank terhadap perubahan characters origin dan proses-prosesnya, walaupun di atas alasan sebuah complete reboot, adalah sesuatu yang hampir sama sekali minus perhitungan. Dan oh ya, meski ini akan sulit dimengerti kalangan non-fans, no matter how good B. Jordan is (not here, though)you don’t do that ethnic change to Johhny Storm, for sure. Terhadap Ben Grimm mungkin masih bisa, tapi sekali lagi, tidak terhadap Johnny Storm.

               Lagi, ia harusnya menyadari bahwa dalam rombakan karakter dan proses dalam sebuah origin story se-kompleks itu, meski lagi-lagi di atas alasan greater science dan insipirasi-inspirasi relevan terhadap style body horror-nya David Cronenberg yang mungkin muncul sebatas ide-ide teleportase ke ‘The Fly‘ atau secuil lainnya terhadap ‘Scanners‘, apa yang ia lakukan, termasuk dengan mentransformasikan keberadaan kekuatan kosmik intergalaksi dalam origin story kepada dimensi paralel dan mostly sosok Franklin Storm yang dibangun sedemikian penting bak mentor yang lebih sakti adiguna dari Mr. Miyagi, memisah-misah interkoneksi masing-masing karakter termasuk Johnny Storm (Human Torch) yang hanya mengenal Ben Grimm (The Thing) sebatas sebelum insiden aslinya terjadi, keseluruhan plot-nya akan lebih cocok untuk diwujudkan ke dalam TV series berdurasi paling tidak 200 jam.

                Disitulah kemudian, entah atas ulah re-shoots atau Trank sendiri sejak awal, munculnya ide “One Year Laterstorytelling itu jadi sedemikian berantakan. Apalagi, plothole sebesar ‘quantum gate hole‘ yang ada dalam sebatas deretan kata untuk mempersingkat durasi itu turut menjadi garis penting untuk menyemat berbagai subplot lain bahkan membangun motivasi tiap-tiap karakternya yang jadi terlihat serba buru-buru dan sama sekali tak didasari development yang baik. Sementara sinematografi dari Matthew Jensen pun tak menyisakan excitement apa-apa kecuali kontinuitas shot yang berantakan bersama kerja departemen yang lain yang asal jadi saja (wig Kate Mara adalah salah satunya), konflik intern antar karakter ini masih ditambah lagi, lagi dan lagi, sebelum akhirnya kita menyadari durasinya hanya cukup untuk menyemat final showdown dengan keberadaan Doctor Doom sebagai villain legendaris ensemble characters ini. Itupun dengan tampilan Doom dibalik makeup dan CGI effects yang sangat payah.

               And yes, it’s not more than 10 mins, logika childish itu lantas menghujam bersama final battle-nya. Di atas CGI / VFX berantakan, sama sekali tak seru, tanpa pula mengemas detil-detil kekuatan tiap personilnya yang sebenarnya sangat krusial ditampilkan dalam batasan adaptasi ‘Fantastic Four’. Belum lagi alasan tak jelas untuk membuat atmosfer unnecessary dark and gloomy-nya dari awal. Bukan hanya berpotensi memicu eyesore, seolah mau menunjukkan begitu depresifnya karakter-karakter ini seolah menganggap kekuatan mereka adalah sebuah kutukan, tapi tidak diatas cara yang benar, tanpa skrip berisi characters turnover yang baik tapi malah secara dangkal dipenuhi dengan dialog-dialog cheesy, preachy, sok asyik serta pretensius alaBersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh’ tadi. Bahkan di assemble epilogue-nya yang dimaksud sebagai sebuah setup menarik tapi hancur lebur, konsep bumi tak ubahnya seperti Planet Zero, dan seakan lupa dengan kompleksnya konflik interkarakter tadi, tanpa justifikasi ke karakter yang sudah dibangun sedemikian penting (oh, yeah, at least one funeral scene will be necessarily needed, seriously), semua karakternya langsung bisa bersalaman bahkan mulai towel-towel sana-sini sambil terbahak-bahak. Bah.

            So yes. Tak salah memang kalau sampai Stan Lee-pun menolak muncul sebagai cameo seperti kebiasaannya. Ini memang sedemikian parahnya, membuat bahkan versi Corman yang katanya begitu memalukan sampai dimusnahkan (namun masih menyisakan bootleg version yang tersebar kemana-mana sampai sekarang) kelihatan seimbang dan orang-orang yang menganggap versi 2005-nya sampah menyadari kekeliruan mereka. Kalaupun masih mau disebutkan, ‘Fantastic Four’ 2015 ini hanya menyisakan scoring yang lumayan dari Marco Beltrami dan Phillip Glass, serta sepenggal adegan Reed Richards dengan relevansi kuat kemampuan super-nya dan selama ini hampir tak pernah kita lihat dalam komik-komiknya. Selebihnya, tak ubahnya seperti nama planet di dimensi paralel yang mereka sebut tadi. Zero. Sifatnya pun sama. Like a cosmic catastrophe, this is disastrous. Dengan potensi kerugian lebih dari 60 juta USD, entah apa alasan Fox selain menahan franchise-nya ke sebuah sekuel, tapi yang jelas untuk kali ini, third time’s not a charm. Definitely not a charm. (dan)

~ by danieldokter on August 13, 2015.

One Response to “FANTASTIC FOUR: THIRD TIME’S NOT A CHARM”

  1. menarik juga filmnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: