INSIDE OUT: DEDICATED TO KIDS, BUT WORKS BEST AS PARENTING COMPANIONS

INSIDE OUT

Sutradara: Pete Docter

Produksi: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios, 2015

inside out

            Mungkin kita harus tahu terlebih dahulu, bahwa apa yang dilakukan Pete Docter (bersama Ronnie del Carmen, juga co-director-nya) terhadap ‘Inside Out’ sebagai salah satu kontender terbaik Pixar menurut banyak critics maupun fanboys-nya, walau sekilas terlihat sangat inovatif, tak sepenuhnya orisinil. Toh dalam konteks film, ini bukan hal besar selama masih ada argumen-argumen dibalik presentasi yang memang bukan sepenuhnya sama. However, tema-tema ‘What is actually happened inside your body ?as a science fantasy, walau tergolong jarang, sudah punya sejumlah karya-karya memorable. Ada ‘Fantastic Voyage’, medical scifi 1966 karya Richard Fleischer, ‘Innerspace’ sebagai comedized version yang terinspirasi darinya, dan ‘Osmosis Jones’, diantaranya.

            Dalam konteks lebih sempit, ones that move inside someone’s head, ‘Inside Out’ sempat pula dituding publik Jepang memplagiasi manga series terkenal mereka ‘Nonai Poison Berry’ yang juga sama-sama diangkat menjadi film di tahun ini dengan judul ‘Poison Berry in My Brain’. Belakangan muncul lagi tanggapan bahwa manga ini malah dianggap terinspirasi oleh sitkom Amerika ‘Herman’s Head’ (Fox, 1991-1994) yang memang tak jauh-jauh lari dari premis ‘Inside Out’, tentang sejumlah karakter sebagai personifikasi emosi tokoh utamanya. Sebutannya berbeda, namun mengarah ke penelusuran emosi-emosi yang mirip.

          Sementara Docter, menepis hal ini, mengatakan bahwa idenya muncul dari pengamatannya terhadap perkembangan kepribadian putrinya, yang lantas membuat Docter berkonsultasi dengan beberapa psikolog ternama soal kaitan emosi manusia dengan teori-teori neuropsikologis. Okay, kita mungkin tak akan pernah tahu kebenarannya, namun lagi; dalam banyak permasalahan yang sama, Disney termasuk Pixar sendiri memang sudah sejak lama dituding banyak pihak mencomot sana-sini ide-ide yang sudah ada, baik dari negaranya maupun dari luar, mostly dibalik kecintaan luarbiasa John Lasetter dan kru Pixar terhadap Ghiblis Hayao Miyazaki dan kultur anime Jepang lainnya. Lagi-lagi, kesamaan ide selalu punya batasan untuk bisa benar-benar dianggap sebagai act of plagiarism, sementara inspirasi, selalu sah-sah saja.

            Apapun itu, penelusurannya sebenarnya lebih terletak pada proses storytelling serta visualisasi yang mereka tampilkan atas ide-ide yang sama tadi. Disitu, ‘Inside Out’, lewat skrip yang ditulis sendiri oleh Pete Docter bersama Meg LeFauve dan Josh Cooley, memang harus diakui sangat inovatif membangun kompleksitas prosesnya yang jelas terlihat luarbiasa rumit untuk menyemat konklusi berbeda dari judul-judul yang disebutkan diatas. Seperti apa yang ditampilkan dalam guliran kredit akhirnya, “This is dedicated to our kids. Please don’t grow up, ever”, pada akhirnya ‘Inside Out’ memang justru jadi dipenuhi antitesis terhadap sasaran dedikasi itu sendiri. Seolah berupa curhatan orangtua sebagaimana pengamatan Docter terhadap perubahan yang terjadi dalam proses tumbuh kembang putrinya, yang juga jadi parenting problems banyak orangtua lain yang pusing tujuh keliling menghadapi pendewasaan anak mereka.

              Bertolak dari sini, mungkin, poin yang lebih krusial adalah sejauh mana mereka bisa menjaga batas-batas keseimbangan ‘Inside Out’ yang, sekompleks apapun plot-plot serta imajinasi Pixar selama ini, tetap berada dibalik bandrol Disney sebagai konsumsi segala umur. Oh ya, sebagian dari kita memang sudah tahu jawabannya, termasuk alasan yang ada dibalik mengapa jadwal rilisnya di luar Amerika akhirnya tergeser dengan eksistensi ‘Minions’. Toh ini bukan problem pertama yang dihadapi Pixar atas kompleksitas ide-ide ‘out of the box’-nya dalam ranah animasi. Keberhasilan yang dulu sudah pernah mereka capai lewat ‘Monsters, Inc.’ maupun ‘Up’ (keduanya adalah hasil penyutradaraan Docter), tapi jelas, bukan ‘Brave’.

                Sebagaimana bunyi tagline ‘Meet the Little Voices Inside your Head’ dan apa yang sudah tergelar jelas dari dua trailer yang diiringi nomor rock klasik ‘Sweet Emotions’-nya Aerosmith maupun ‘More than a Feeling’-nya Boston itu, ‘Inside Out’ pun membawa kita pada 5 karakter yang menjadi personifikasi emosi utama dalam benak seorang gadis 11 tahun bernama Riley (Kaitlyn Dias), yang harus menghadapi kepindahan keluarganya dari Minnesota ke San Francisco bersama penurunan ekonomi orangtuanya (Diane Lane & Kyle McLachlan). Ada Joy (Amy Poehler), Sadness (Phyllis Smith), Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black) dan Disgust (Mindy Kaling) yang saling berinteraksi di Headquarters (sebutan buat pikiran sadar Riley) dimana elemen-elemen memori dengan beda warna tiap emosi itu saling berganti menuju pusat penyimpanan ingatan jangka panjang sementara pusat memori sebagai elemen terpenting-nya menghubungkan headquarters ke 5 situs penentu kepribadian Riley; Family, Friendship, Honesty, Goofball serta Hockey yang jadi aktifitas kegemarannya. Sejak awal, Joy selalu menjaga inti memori Riley dengan kebahagiaan, namun ulah Sadness membuat ia dan Joy terdampar ke labirin memori jangka panjang dengan kesulitan besar mencapai Headquarters kembali. Satu-satunya yang bisa membantu mereka kembali adalah Bing Bong (Richard Kind), sahabat imajiner Riley yang sejak lama terlupakan dan menempati situs ingatan yang terbuang, sementara tanpa Joy, baik Fear, Anger dan Disgust kelimpungan mengatur emosi Riley. Dampaknya adalah kepribadian Riley yang seketika mengalami perubahan besar dibalik kekacauan demi kekacauan yang mulai mengganggu hubungan Riley dengan orangtuanya.

               So you see. Mungkin gampang menyemat ide 5 karakter sebagai personifikasi emosi di dalam otak seorang anak terhadap audiens dalam segala lapisan umur. Itu simpel saja. Tapi menelusuri segala kompleksitas konflik-konflik serta proses pengaturan terhadap kehidupan Riley yang kita saksikan di layar lebar lewat sebuah panel beserta memory orbs dan aspek-aspeknya, jelas tidak. While some grown up kids (maybe even more than Riley’s age, outside US) or adults might get that, terlebih yang benar-benar penikmat film dalam klasifikasi serius atau gemar menyelami proses-proses memori ataupun punya latar belakang medis, psikologi atau psikiatri, pertanyaan bagi penonton lain, dewasa sekalipun, dengan mindset simpel bahwa animasi adalah hiburan termasuk yang menemani putra-putri kecilnya adalah ‘Seberat itukah kita harus menyelami plot dibalik tampilan cartoonish – animated segala umur?’. Bahkan kalau dikatakan mengikuti keseriusan produk-produk Ghibli yang selalu punya subtext lebih dalam karya-karyanya, apa yang ditampilkan Miyazaki bersama protege-protege-nya, tak pernah sampai se-kompleks ini.

                However, terlepas dari sana, bagi penonton yang benar-benar bisa menangkap keseluruhan plot-nya, apa yang dilakukan Docter bersama timnya memang merupakan kombinasi inovasi imajinasi tinggi, storytelling dan visualisasi yang harus diakui, cukup luarbiasa. Walau tetap mengharuskan pemirsanya tak berpaling barang sekali pun agar benar-benar dapat mengikuti naik turun storytelling-nya yang punya kecerdasan lebih itu, tampilan desain produksi dan animasinya yang tetap ada di batasan child-friendly, luarbiasa colorful pula buat mematok simbol-simbolnya, kapasitas para voice cast hingga scoring cantik dari Michael Giacchino, walau tetap tak benar-benar jadi sepenuhnya universal buat semua kalangan umur, paling tidak cukup berhasil memberikan rentang lebih lebar bersama sejumlah adventurous scene-nya yang cukup seru untuk bisa dinikmati lebih banyak kalangan pemirsa.

                 Sementara fanboys mungkin sibuk ingin menonton ulang buat mengulik trivia-trivia atau easter eggs dari tiap produk terkenal Pixar yang ditampilkan, termasuk sebuah referensi menarik ke ‘Chinatown’-nya Roman Polanski, dengan elemen-elemen tadi, Docter mampu menyemat esensi terdasar dari konklusinya dengan cantik dan luarbiasa dipenuhi emosi. Dimulai dengan tiap-tiap emosi yang tergambar dalam karakterisasinya secara bergantian (oh yes, we also get angry and disgust seeing Sadness at many times), momen-momen yang kita saksikan di 20 menit akhir ‘Inside Out’ merupakan rollercoaster of emotions yang rasanya takkan lagi mungkin menyisakan pertahanan buat menghindari airmata yang berjatuhan dibalik kacamata 3D yang kita kenakan. Di titik ini, sebagaimana Joy dan Sadness membangun kerangka-kerangka konklusi itu, ‘Inside Out’ memang bekerja sebagai parenting companions buat para orangtua untuk lebih bisa mencoba mengerti perubahan-perubahan emosi anaknya, and so the other way around dalam hubungan-hubungan intern anak dan orangtua. At least, the idea of ‘Please don’t grow up, ever’, works. Apalagi buat orangtua yang merasa sudah benar-benar kehilangan anaknya yang beranjak dewasa dibalik kesalahan-kesalahan komunikasi, atau sebaliknya. Itu pun, kalau memang belum terlambat.

               Lagi-lagi, yang menjadi permasalahan adalah sisanya. The fact that Docter madeInside Outas a DisneyPixars animated filmdedicated to kids’ dengan garis bawah tebal di sebutan ‘kids’, kenyataannya memang tak seperti itu. Unfortunately, extraordinary high concept serba kompleks yang menjadi dasar plot-nya memang tetap jadi betul-betul mustahil untuk dipahami semua kalangan umur terutama anak berusia lebih dini yang datang bersama orangtuanya buat menyaksikan apa yang biasa mereka dapatkan dari produk-produk Disney. Jangan heran kalau begitu lampu bioskop menyala, sebagian tujuan dedikasi itu malah didapati orangtuanya tertidur lelap di samping mereka. This is one of Pixar’s top form, mungkin benar, tapi tidak sebagai sepenuhnya sebuah family movies. Works as parenting companions it is, but dedicated for (all) kids, it is not. (dan)

~ by danieldokter on August 20, 2015.

3 Responses to “INSIDE OUT: DEDICATED TO KIDS, BUT WORKS BEST AS PARENTING COMPANIONS”

  1. Really nice review Dan. Jadi film ini ditujukan buat anak tapi sebenarnya juga untuk orangtua. Hanya saja too boring untuk orang tua mengikutinya hingga akhir? Hmmm.

  2. @febrian: anaknya yg tertidur lelap bukan orangtuanya. Anak usia dini sebagian bakal bosan.

    “sebagian tujuan dedikasi itu malah
    didapati orangtuanya tertidur lelap
    di samping mereka”

    tujuan dedikasi = anak2
    didapati orangtuanya = orangtua mendapati bahwa..
    = orangtua mendapati bahwa anak mereka tertidur lelap di samping mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: