BATTLE OF SURABAYA: ADMIRABLE EFFORTS THAT STILL NEED A LOT OF IMPROVEMENTS

BATTLE OF SURABAYA

Sutradara: Aryanto Yuniawan

Produksi: Amikom Yogyakarta, MSV Pictures, 2015

Battle of Surabaya

            Oh ya, meski sebagian dari kita tahu, ada begitu banyak pergerakan dan semangat-semangat tinggi di sinema animasi kita, faktanya, film animasi Indonesia masih jadi hal langka dalam industrinya secara keseluruhan. Dengan jumlah yang masih bisa dihitung dengan jari sejak kebangkitan kembali film kita di awal 2000-an, menyisakan hanya ‘Meraih Mimpi’ (2009; yang biar dikerjakan oleh animator-animator kita dari Infinity Frameworks yang berlokasi di Batam namun sebenarnya lebih berupa versi dub dari film SingapuraSing to the Dawn’), berikut tiga instalmen ‘Petualangan Singa Pemberani’-nya Paddle Pop saja yang lebih dikenal, sementara selebihnya ‘Janus dan Prajurit Terakhir’ (2003), ‘Homeland’ (2004) dan ‘Petualangan Si Adi’ (2013) seakan hilang ditelan zaman, ini jelas cukup menyedihkan.

            ‘Battle of Surabaya’, yang dibandrol sebagai Indonesia 2nd feature animated film (kurang jelas film yang mana yang pertama mereka maksudkan) dan dirilis untuk menyambut perayaan 70 tahun kemerdekaan kita, sebenarnya punya kans besar sebagai pendobrak bagi industrinya. Betapa tidak, kalau sejak sebelum dirilis, trailer-nya sudah mendapat sejumlah acknowledgement; nominee Best Foreign Animation Awards dalam event Golden Trailer Awards 2014, People’s Choice Awards di International Movie Trailer Festival 2013, beberapa penghargaan animasi lain bahkan jadi film pertama yang dilirik distribusi internasionalnya oleh Walt Disney regional Asia Pasifik.

            Animasi yang produksinya melibatkan 180 animator, sebagian besarnya dari kampus Amikom Yogyakarta ini memang terlihat sangat menarik walaupun nuansanya yang sangat Jepang seolah kehilangan ciri untuk menampilkan ciri khas kita sendiri. Sayang sekali di luar perilisan companion children book yang menjadi salah satu syarat mutlak promosi film animasi, celah promosi lain yang mereka lakukan untuk menyemat manifestasi semangat itu dengan bandrol-bandrol ‘karya anak bangsa’, meski bukan sepenuhnya salah juga, malah berujung ada pem-bully-an di sosmed. Namun apapun itu, mereka memang sudah melakukan langkah yang berani merilis filmnya bertepatan dengan ‘Inside Out’ karya Disney-Pixar yang jadi hit animasi dimana-mana, dan menggandeng pula dua pengisi suara yang sedikit banyaknya bisa memberikan kesan bahwa ‘Battle of Surabaya’ bukan animasi yang sekedar sambil lewat saja. Reza Rahadian dan Maudy Ayunda.

            Berlatar peristiwa 10 November 1945, ‘Battle of Surabaya’ memfokuskan plot-nya terhadap Musa (disuarakan oleh Andromeda / Musa kecil dan Ian Saybani / Musa dewasa) di tengah kedatangan kembali tentara Sekutu yang ditumpangi Belanda ke Surabaya pada Insiden Bendera di Hotel Yamato. Bersama perlawanan rakyat Indonesia, terutama arek-arek Suroboyo yang disemangati oleh Residen Soedirman (Guritno) beserta tokoh-tokoh penting seperti Moestopo (Jumali), Gub Soerjo (Hermano) dan Bung Tomo (Ernanta Kusuma), Musa menjalani takdirnya sebagai kurir surat sekaligus kode rahasia dalam perjuangan itu. Bersahabat dengan Yumna (Maudy Ayunda) yang menarik perhatiannya sejak kecil namun menyimpan sebuah misteri dibalik pergerakan klan Kipas Hitam, organisasi paramiliter bentukan Jepang, juga seorang tentara bernama Danu (Reza Rahadian), Musa dengan teguh melakukan tugas mulia ini dibalik segala resiko termasuk keselamatannya sendiri.

            No, meski mungkin dianggap kehilangan ciri, sebagaimana elemen-elemen dunia animasi kita yang lain dari komik hingga film, tak ada yang terlalu salah dari usaha sutradara-penulis Aryanto Yuniawan dan rekan-rekannya mengambil template anime Jepang. Teknik animasi-nya pun, asalkan Anda bukan benar-benar pelaku atau penikmat tingkat tinggi produk-produk inspiratornya, sudah terlihat sangat baik dalam batasan-batasan yang ada. Hanya saja, mungkin ‘Battle of Surabaya’ mereka gagas dengan referensi kelewat tinggi ke produk-produk Ghibli karya Hayao Miyazaki sampai ke detil-detil bentukan karakter hingga sebagian penceritaan, set dan pengadeganannya.

            Begitupun, mereka tetap terlihat berusaha menyatukan style anime tadi dengan nuansa lokal dari dialog-dialog serta iringan soundtrack yang diisi oleh Maudy Ayunda, Angela Nazar, Pasha UnguAfgan dan Sherina ke dalamnya. Toh latar penceritaan historikal-nya dengan sendirinya memang sudah menarik beberapa garis pembeda yang cukup jelas, apalagi ada usaha-usaha menyemat detil bagus percampuran kultur lewat voiceover yang diisi oleh talenta-talenta lintas bangsa. Lagi-lagi, ini memang tak bisa benar-benar bisa membentuk blend yang sempurna, dimana melihat wajah-wajah karakter ala anime berbahasa lokal, apalagi dialek Suroboyo beberapa karakternya tetap serasa menyaksikan anime Jepang yang di-dubbing bahasa Indonesia di TV.

            Kekurangan yang paling krusial dalam ‘Battle of Surabaya’ justru ada pada skrip yang ditulis oleh Aryanto bersama produser M. Suyanto. Sisi latar sejarahnya bisa tersampaikan dengan baik secara kronologis dari awal kemerdekaan Indonesia di tengah (seharusnya) fokus utama kisah Musa, apalagi sematan-sematan pesan ‘There’s no glory in war’ yang mereka gagas dengan cukup berani sebagai sebuah tontonan animasi segala umur dengan konklusi menyayat, mengingat ini memang sangat mengikuti gaya Ghibli yang hampir tak pernah mengedepankan fun factor dibalik tampilan animasi yang lazim disebut kartun bagi sebagian orang.

              Tapi sayangnya, fokus storytelling terpenting di bagian fiktif Musa jadi terasa agak tertinggal, dan efeknya ada pada presentasi emosi yang seharusnya benar-benar bisa tercapai dengan baik di pengujungnya. Bukan saja soal hubungannya dengan perwira Jepang yang disuarakan oleh Tanaka Hidetoshi, keluarga serta Danu dimana persahabatan mereka semestinya jadi titik penting di adegan klimaksnya yang cukup dipenuhi aksi, satu-satunya yang tetap bisa terbangun dengan betul-betul baik adalah chemistry-nya dengan Yumna yang disuarakan Maudy Ayunda.

                Di luar kekurangan-kekurangan itu, tanpa pula harus didistraksi dengan ajakan-ajakan berlebih untuk menonton karya anak bangsa, ‘Battle of Surabaya’ jelas tetap sangat layak buat dihargai lebih. Meski sedikit kehilangan ciri, kita tetap bisa melihat usaha yang cukup solid dalam tatanan animasi yang ditampilkan, bahkan mungkin sedikit melebihi beberapa animasi layar lebar yang sudah-sudah tadi, dan tata teknis pengiringnya, terutama scoring dari Brama Shandy, M.L. Chandra dan Meka Tri berikut lagu-lagu soundtrack pengiringnya juga cukup baik. An admirable efforts that still need a lot of improvements, namun sebagai penggerak awal penyambung nafas karya-karya sinema animasi kita, ini sudah lebih dari sekedar cukup. Sebaiknya talenta-talentanya tak lantas berhenti sampai disini saja. (dan)

~ by danieldokter on August 26, 2015.

2 Responses to “BATTLE OF SURABAYA: ADMIRABLE EFFORTS THAT STILL NEED A LOT OF IMPROVEMENTS”

  1. Sebagai penggiat animasi. Untuk 3 tahun produksi seharunya teknik animasi nya lebih-lebih baik dari yang tayang. jadi menurut saya unsur2 pemahaman bahwa kita baru memulai tak apalah, oh saya sih udah oke kok dengan ini, dll. Itu gak masuk akal.
    Kita lihat serial adit sopo jarwo. Animasi nya lebih dari BOS bukan. Nah berarti seharunya kita sudah bisa. Jika dibanding dgn durasi. 5 serial tv durasi nya sama dengan durasi movie. Dan itu tidak sampai 3 tahun. Namun bukan berarti bikin movie setahun cukup. Lihat lagi bahwa kualitas movie dan serial jelas beda. dan itu berpengaruh dari durasi produksinya.

  2. Film nya sangat menarik Gan, Apakah ada kelanjutan film Battle of Surabaya,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: