JENDERAL SOEDIRMAN: STILL A TECHNICALLY WELL-MADE WAR BIOPIC

JENDERAL SOEDIRMAN

Sutradara: Viva Westi

Produksi: Padma Pictures, Markas Besar TNI AD, Yayasan Kartika Eka Paksi, 2015

jenderal soedirman

            Dari sejumlah potensi terbesar nama tokoh-tokoh bangsa ini buat diangkat menjadi sebuah biopik layar lebar, ‘Jenderal Soedirman’ jelas jadi salah satu yang sangat ditunggu. No, kita tak sedang bicara tentang sejarah disini, namun bukan hanya karena gelar kemiliteran masa itu yang menyematkan istilah Panglima Besar di depan namanya, tapi memang sosoknya memegang peranan sangat penting dalam sejarah pasca kemerdekaan bangsa kita. Pernah dihidupkan dengan baik walau dituding sebagian orang masih terkait kepentingan pemerintahan masa itu oleh Deddy Sutomo lewat ‘Janur Kuning’ (Alam Rengga Surawidjaja, 1979) sosoknya memang belum lagi pernah menjadi sorotan sentral di film-film epik sejarah kita.

            Begitupun, ‘Jenderal Soedirman’, as a straight title yang diusung film ini memang bukan sepenuhnya merupakan biopik murni yang berfokus ke kronologi kehidupan Soedirman dari lahir hingga tutup usia di usia yang masih sangat muda. Diproduksi dengan dukungan penuh TNI AD, ia hanya menyorot bagian terpentingnya dalam sejarah kita. Perang Gerilya yang digagas Soedirman sebagai reaksi atas pelanggaran sepihak Belanda atas persetujuan gencatan senjata lewat perjanjian Renville dengan Agresi Militer II ke Yogyakarta. So, wujudnya memang lebih cenderung berupa war biopic ketimbang whole life biopic.

            Pelanggaran perjanjian gencatan senjata diikuti Agresi Militer II oleh Jenderal Simons Spoor (Eric Van Loon) terhadap Yogyakarta yang kala itu menjadi ibukota Republik jelas lagi-lagi menimbulkan kekacauan di masa-masa awal pasca kemerdekaan Indonesia. Dengan Soekarno (Baim Wong) dan Hatta (Nugie) yang diasingkan ke Pulau Bangka, sementara Tan Malaka (Mathias Muchus) mulai menggencarkan paham politiknya di tengah-tengah kekacauan ini, Jenderal Soedirman (Adipati Dolken) tetap teguh mempertahankan Indonesia. Memimpin Tentara Nasional-nya dalam kondisi tak prima, ia melancarkan perlawanan lewat perang gerilya terhadap Belanda.

            Oh ya, plot yang diusung ‘Jenderal Soedirman’ memang cukup hanya sampai disana, sebagai bagian terpenting dari perjuangan Soedirman bagi Indonesia. Sebuah kisah heroisme di atas taktik perang gerilya yang berujung pada Perjanjian Roem-Royen dimana Belanda yang sudah kepayahan menghadapi perlawanan militer dan rakyat kita akhirnya bersedia mengakui kedaulatan RI. Tak ada yang salah dengan hal itu sebagai pilihan pembuatnya, namun sayangnya, skrip yang ditangani Tubagus Deddy bersama sutradara Viva Westi (sebelumnya juga menggarap biopik SoekarnoKetika Bung di Ende’ yang akhirnya ditayangkan untuk konsumsi layar kaca) tak benar-benar berhasil meletakkan fokus di kronologi sempitnya buat memaksimalkan penjelasan penting dibalik eksistensi penting Soedirman secara menyeluruh.

            Di atas kepentingan teratas interpretasi personal penggagasnya dalam mengangkat sebuah biopik, mereka memang sudah menyemat beberapa subplot penting yang selama ini mungkin luput dari pengamatan banyak orang, terutama soal kepentingan politik dan ekonomi negara lain terhadap nasib negara kita dibalik penyalahgunaan dana untuk perang, juga terhadap beberapa tokoh penting dibalik peristiwa berikut motivasi-motivasi di tengah interaksi itu. Ada Soekarno – Hatta (yang tetap terasa tak terlalu convincing di tangan Baim Wong dan Nugie), Tan Malaka yang diperankan dengan bagus oleh Mathias Muchus untuk menggagas perbedaan paham-paham politik yang ada pada saat itu hingga menyisakan relevansi hingga jauh setelahnya, serta Lukman Sardi sebagai penyiar RRI Jusuf Ronodipuro atau Landung Simatupang sebagai Oerip Soemohardjo walau dua yang terakhir ini screen time-nya seolah tak berarti, nyaris sama seperti Annisa Hertami yang hanya muncul sekelebat sebagai istri Soedirman.

              Namun ketimbang mengarahkan fokusnya ke sisi paling menarik dalam pilihan-pilihan gerilya dibalik taktik perang yang membuat sosok Soedirman menjadi Soedirman yang kita kenang hingga sekarang, Deddy dan Westi sayangnya lebih memilih penceritaan multikarakter yang malah menyerempet ke komedi komikal ala pertunjukan ketoprak, padahal juga bukan dimaksudkan sebagai parabel buat memperkuat penokohan karakter sentralnya. Di tengah tokoh-tokoh nyata pendukung pasukannya seperti Nolly / Tjokropranolo yang seakan diinterpretasikan se-flamboyan nama panggilannya oleh Ibnu Jamil, Suparjo Rustam (Surawan Prihatnolo K.A.), Hanum Faeni (Ahmadulloh) dan Utoyo Kolopaking (Abdus Samad), skrip itu malah sibuk menampilkan bukan lagi hanya satu-dua karakter komikal, tak cukup hanya Karsani (Gogot Suryanto) yang seolah jadi saksi sejarah dari sisi sipil, tapi menambah seabrek dari Aceng (Angga Riyadi), Kunto (Anintriyoga Dian P.), Kusno (Ahmad Ramadhan A.) diantaranya.

               As the overall result, walaupun ada tendensi yang terlihat buat memberi penekanan kolaborasi militer dan sipil dalam perang gerilya Soedirman ini, yang terjadi adalah distraksi komedik serta komikal yang sebenarnya sangat unnecessary dalam sebuah war biopic, lain halnya kalau ‘Jenderal Soedirman’ memang menyemat riwayat titular character-nya secara komplit. Belum lagi gestur-gestur karakter-karakter komikal ini di tengah adegan perang yang sangat mengganggu di tengah aspek-aspek lain yang tergarap cukup baik bersama supervisi militernya secara langsung, dan kenyataan bahwa dialog-dialognya kadang terasa terlalu kaku. Stilted and unconvincing.

              Dan hal paling krusial yang diusung paling berat oleh Adipati Dolken sebagai lead-nya, sayangnya juga tak sepenuhnya sempurna. Benar memang, Adipati sudah terlihat sangat berusaha bertransformasi ke peran dengan bobot jauh lebih serius dari film-filmnya sebelumnya. Secara fisik, ia juga bukan sama sekali tak punya kemiripan raut wajah dengan sosok Soedirman yang selama ini kita tahu. Namun akting cukup baik itu tetap belum cukup kuat untuk memberi presentasi terpenting yang diperlukan dibalik aspek-aspek yang seharusnya tergambarkan pada sosok asli Soedirman. Selain cenderung terlihat kelewat depresif lewat gestur dan intonasi yang sudah terlihat diusahakan semirip mungkin ketimbang sesosok komando militer hebat di tengah tekanan, Adipati tak bisa benar-benar bersinergi dengan perannya hingga meninggalkan tampilan stylish khas Soedirman yang terus dipertahankan oleh departemen tata kostumnya dengan baik, hanya jadi sekedar simbol tampilan tanpa bisa bicara lebih.

               However, satu kelebihan yang tetap harus diakui tampil dengan baik di atas semuanya adalah tata teknisnya. Penggarapan teknis ini memang menunjukkan bahwa ‘Jenderal Soedirman’ tak digarap dengan sembarangan. Ada kesan megah dari sinematografi yang dibesut oleh Frans X.R. Paat serta tata suara dari Phil Judd, sementara scoring Iwang Noorsaid dan penyuntingan Sastha Sunu juga patut diberi kredit bersama penggarapan efek berikut penggunaan CGI yang mengiringi banyak adegan-adegan perangnya. Walau tetap masih menyisakan beberapa sekuens yang tak sepenuhnya rapi terutama dalam sebagian tampilan ledakan, secara keseluruhan, ada sinergi bagus dalam tampilan adegan-adegan perang itu dalam penekanan ‘Jenderal Soedirman’ sebagai sebuah war biopic. Though not thoroughly well told or acted with its hit and miss, sisi teknis ini jelas adalah kemenangan buat ‘Jenderal Soedirman’. (dan)

~ by danieldokter on August 30, 2015.

One Response to “JENDERAL SOEDIRMAN: STILL A TECHNICALLY WELL-MADE WAR BIOPIC”

  1. Jujur, kecewa dengan film ini. Risetnya tidak mendalam, atau memang sudah riset tapi sengaja dihilangkan peran tokoh2 yang sangat penting dalam perjalanan hidup Pak Dirman.
    Tan Malaka sengaja digambarkan antagonis disini, begitu juga Bung Karno sengaja digambarkan tidak mau ikut berjuang dilapangan pertempuran bersama Pak Dirman.
    Sementara orang2 terdekat Pak Dirman yang ikut bergerilya sengaja dihilangkan. Contohnya Komandan Pengawal Resimen Pak Dirman yaitu Letkol Suadi yang begitu amat familiar dengan senjata M1 standgun dan tatapan mata elang serta baret hitamnya.
    Jelas film ini terdistorsi. Atau kurang riset atau bagaimana saya gak ngerti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: