GANGSTER: QUITE A NEW BREED TO INDONESIAN ACTION COMEDY GENRE

GANGSTER

Sutradara: Fajar Nugros

Produksi: Starvision, 2015

gangster

            Oke. Sebagai salah seorang sineas yang sering punya lebih dari satu film dalam setahun, Fajar Nugros mungkin menanggung beban cukup berat dibalik pandangan sebagian penyuka maupun pelaku film Indonesia atas kiprahnya di industri ini. Mostly, karena ia memang berada di jalur komersil dengan film-film yang lebih public-friendly ketimbang critically acclaimed. Ini, bagi sebagian kalangan tadi, memang dianggap bagaikan dosa besar, saat seorang sineas mereka lihat lebih jadi alat buat produser demi semata-mata jualan mereka. Apalagi di era sosmed dimana tanggapan-tanggapan muncul ke depan publik sudah nyaris tanpa sensor, kadang malah menjurus ke act of bullying.

              Tapi apakah ada yang salah dengan ini? In terms of selling, dimana film menjadi komoditas publik yang memang tak berniat masuk ke ranah-ranah terlalu artsy, tentu tidak. Walau satu dua karyanya bukan tergolong bagus, dan sebagian yang lain masih rata-rata punya kelemahan di sebagian sisi, toh ia masih punya estetika dan aspek sinematis lain jauh lebih dibanding sejumlah sineas lain yang bahkan melihat namanya saja, sebagian dari kita sudah malas menonton filmnya.

            Karya terbarunya, ‘Gangster’ memang sejak awal sudah terlihat agak berbeda. Selain berani masuk ke genre action yang sinema kita sekarang sudah punya standar setinggi ‘The Raid’ sehingga sulit tertandingi terutama dalam hal keterbatasan bujet, dalam kerjasama ke-sekian kalinya dengan Starvision, lineup ensemble cast-nya juga menarik. Yayan Ruhian, Dian Sastro, Lukman Sardi, Dede Yusuf, Agus Kuncoro, Dwi Sasono, meski sebagian tak lebih dari sekedar cameo, sedikit banyak sudah menunjukkan kelas yang lebih luas dalam sasaran pangsanya.

             Dan oke, ini mungkin tak sepenuhnya relevan, bukan juga pembelaan, secara tak semua orang mau tahu dengan proses awalnya, namun skrip awal Jujur Prananto yang memang lebih bernuansa komedi di atas judul ‘Gangster in Love’, dirombak sedemikian rupa oleh Nugros membentuk blend yang cukup fresh dalam penggabungan kedua genre tadi. Oh ya, walau sudah sering ada di luar apalagi Asia, dalam sinema kita, ini masih tergolong baru. Selagi action scenes-nya terlihat digarap cukup serius – meski jelas belum setaraf ‘The Raid’, mostly bukan dibangun secara komedik bahkan menunjukkan graphic violence dalam batasan tertentu, komedinya berjalan di atas sebuah signature dalam kebanyakan film-film komedi Starvision; chaos comedy atau comedy of errors yang mengantarkan keseluruhan plot-nya bersama, tak ketinggalan, sejumlah kritikan-kritikan sosial.

               Mimpi Jamroni (dewasanya diperankan Hamish Daud), preman kampung di sebuah desa lembah Gunung Merapi Yogyakarta sudah lama pupus bersama kepergian Sari (dewasanya diperankan Eriska Rein), gadis yang dicintainya sejak kecil, mengikuti orangtuanya ke ibukota. Sebelum ayahnya, Tohari (Gunawan Maryanto), meninggal, barulah Jamroni mengetahui kalau selama ini Sari selalu menitipkan surat yang disita Tohari, sekaligus kenyataan bahwa ia adalah seorang anak angkat. Meninggalkan kampungnya, Jamroni pun mengadu nasib di Jakarta sambil mencari identitas asli dan menemukan Sari. Namun sejumlah peristiwa membuat ia berurusan dengan keluarga mafia Hastomo (Agus Kuncoro) lewat putrinya, Retta (Nina Kozok) yang tengah minggat karena menolak dijodohkan secara paksa dengan putra mafia pendiri ormas saingan Hastomo, Amsar (Dwi Sasono). Di tengah kejaran pembunuh-pembunuh bayaran sewaan Amsar, Sueb (Ganindra Bimo), tangan kanan Amsar Hanna (Kelly Tandiono) hingga Bang Jangkung (Yayan Ruhian), Retta justru meminta Jamroni menyamar menjadi kekasih pilihan yang dipertahankan mati-matian oleh istri Hastomo, Astuti (Dominique Sanda) yang sedang sakit-sakitan.

              Di atas comedy of errors yang sudah terlihat jelas dari plot itu, dan memang sebagian besar bekerja dengan baik lewat skrip kolaborasi Jujur dan Nugros, Nugros untungnya tak menggagas adegan-adegan aksi serta laga dalam ‘Gangster’ jadi sepenuhnya mengikuti genre komedi. Menyemat cukup banyak adegan-adegan aksi dengan graphic violence serius ke tengah-tengahnya, sementara campuran aksi dan komedi yang jelas sulit seluruhnya bisa dihindari, dibentuk dengan bagus lewat interaksi cast yang menarik. Satu diantaranya melibatkan Dwi Sasono dan Agus Kuncoro, dan highlight paling menarik tentulah three-way stylish fight yang penuh sentilan antara Dian SastroYayan Ruhian dan Kelly Tandiono.

              Oke. Dalam skup sinema luar terutama HK tahun 80-90an, bahkan India sejak era 70an hingga sekarang, ini jelas bukan hal yang aneh. Namun dalam sinema kita yang bukan tak juga punya lineup film-film yang menggabungkan aksi dengan komedi namun jatuhnya kerap lebih komedi ketimbang action termasukComic 8, this is very unlikely. ‘Gangster’ pun sesungguhnya belum benar-benar sempurna, terutama dalam beban beratnya mengusung koreografi yang bisa sangat pas dilakonkan ensemble cast yang rata-rata bukan real fighters, tak seperti ‘The Raid’, bukan pula dengan tight editing dari Yoga Krispratama atau tata suara Khikmawan SantosoMuhammad Ikhsan Sungkar yang seharusnya bisa membuat fighting scenes-nya jauh lebih bertenaga, but surprisingly, mashup-nya bekerja cukup baik menggabungkan dua genre tadi terhadap pace filmnya yang mengalir lancar. Ada twist yang walau penting dalam menggaris konklusinya sebagai sebuah setup dan membuka kemungkinan sekuel yang lebih badass, namun tergelar dengan storytelling yang agak terburu-buru sambil memupus rumbling action sebagai potensi klimaks yang bisa jauh lebih seru, memang, tapi tak sampai merusak keseluruhan filmnya.

              Di departemen akting, walau belum benar-benar sempurna membentuk perpaduan antara aksi – drama dan komedi, Hamish Daud masih menunjukkan potensinya sebagai lead lewat kualitas screen presence yang dimilikinya, sementara chemistry-nya dengan Nina Kozok, meski tak kelewat erat, tetap punya sparks yang menarik. While on the action part, baik Ganindra Bimo, Andrea Dian, Kelly Tandiono dan Dian Sastro tampil dengan gestur cukup proporsional bersama aksi Yayan Ruhian dan Dede Yusuf yang jauh lebih senior dalam urusan ini.

          Masih ada Dominique Sanda yang sudah cukup lama absen serta Lukman Sardi yang muncul sekelebat sebagai karakter bernama Mat Killer di post credits-nya, meninggalkan Eriska Rein yang tak mendapat porsi lebih pantas, namun kredit terbaiknya agaknya harus diberikan buat Agus Kuncoro dan mostly Dwi Sasono. Bukan hanya dalam adegan-adegan yang menyemat interaksi mereka dengan menarik, being there and back again, melepas atribut komedi di film maupun sitkom dan menjelma jadi psychotic dengan luwes di sejumlah scene dengan graphic violence, Dwi adalah pemenangnya disini. Tak ada yang terlalu spesial dari tata teknis lain, termasuk sinematografi Padri Nadeak ataupun scoring Andhika Triyadi, tapi juga bukan berarti jelek atau merusak blend keseluruhannya.

               So, with its hit and miss, ‘Gangster’ jelas bukan berada di sejumlah pengikut-pengikut genre aksi sinema kita dengan status gagal. Ia tak sepenuhnya sempurna melemparkan aksi ke tengah-tengah komedi, memang, tapi dalam blend rumbling actions meets comedy of errors-nya, Nugros cukup berhasil meracik sebuah blend baru percampuran dua genre ini sebagai sesuatu yang terlihat baru dalam sinema kita. Quite a new breed to our action comedy genre. (dan)

~ by danieldokter on August 31, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: