PAPER TOWNS: THE JOHN HUGHES-ESQUE FASCINATING TEEN FLICK

PAPER TOWNS

Sutradara: Jake Schreier

Produksi: Fox 2000 Pictures, Temple Hill Entertainment, TSG Entertainment, 20th Century Fox, 2015

paper towns

            Jauh dari sekedar financial success film-filmnya di era ’80-an ke awal ’90-an, ada alasan mengapa genre teen movies begitu melekat ke sosok John Hughes. Ia mungkin bukan satu-satunya, tapi jelas satu yang terbaik, yang bisa menangkap jiwa paling dalam dari genre-nya lewat esensi-esensi berbeda baik lewat elemen drama, komedi bahkan lebih lagi. A real pioneer in the genre, hingga membuat film-film remaja yang terus mengalami perubahan trend dalam lintas waktu setelahnya kerap kembali melihat ke karya-karya Hughes. But do note this, baik sekedar reference, homage ataupun imitating, hanya segelintir yang bisa benar-benar menyamai pencapaiannya.

            However, ‘Paper Towns’ sebenarnya tak sekalipun dijual seperti itu dalam promosi manapun. Ia tetap berpegang pada kredibilitas nama John Green, salah satu penulis teen novels terdepan saat ini, yang tahun lalu baru menelurkan film adaptasi novelnya ‘The Fault in Our Stars’ ke tengah-tengah persaingan teen movies era sekarang. Hanya saja, betapapun bagusnya penelusuran novel dan adaptasinya, mostly for its fans, ‘The Fault in Our Stars’ tak bisa berpaling dari persepsi disease-porn yang diusungnya sebagai effort terendah dalam manipulasi melodramatik, in terms of romance movies.

            Masih berkolaborasi dengan duo penulis Scott Neustadter dan Michael H. Weber dalam ‘The Fault in Our Stars’ namun sebenarnya jauh lebih layak diingat lewat kerja mereka di ‘(500) Days of Summer’ ataupun ‘The Spectacular Now’, adaptasi terbaru dari karya John Green tahun 2008 yang berjudul sama, ‘Paper Towns’ menggamit sutradara Jake Schreier dari film indieRobot and Frank’ (2012). Dari sisi konten dalam tema remaja-nya, ‘Paper Towns’ memang jauh lebih subtle dari sekedar disease porn dan hal-hal sejenis yang diusung ‘The Fault in Our Stars’. Ada elemen-elemen misteri dan road trip yang mendasari sebuah lovestory tentang pencarian diri di tengah nafas remaja yang sangat kuat, while the choice of cast, adalah sebuah bonus yang tak disangka bisa menampilkan kualitas screen presence yang sama sekali tak main-main dalam penekanan genre-nya.

            ‘Paper Towns’ dibuka dengan sebuah fast-paced and fascinating prologue, one of the best there is, yang langsung menyelam masuk ke hati pemirsanya. Diatas sebuah narasi tentang crush at first sight Quentin ‘Q’ Jacobsen (dewasanya diperankan Nat Wolff), seorang bocah di Orlando, Florida terhadap Margo Roth Spiegelman (dewasanya diperankan Cara Delevingne), gadis tetangga penggemar hal-hal berbau misteri yang menjadi sahabat selama masa kecilnya, termasuk kala mereka menemukan jasad seorang lelaki yang bunuh diri dan mulai mengubah semuanya. Jurang ini kian melebar menenggelamkan harapan Q yang masih terus mencintai Margo kala memasuki usia remaja mereka di SMU, selagi Q berkembang jadi nobody dibalik persahabatannya dengan Ben Starling (Austin Abrams) dan Marcus ‘Radar’ Lincoln (Justice Smith) yang bernasib sama, Margo justru jadi ratu sekolah yang dipacari oleh Jase (Griffin Freeman), hi-school hunk sekaligus bersahabat dengan cewek-cewek populer. Namun semuanya kembali berubah dengan petualangan satu malam dimana Margo kembali datang dalam kehidupan Q dan membangkitkan mimpi yang selama ini dipendamnya; jadi bagian dari setiap mystery clue yang ditinggalkan Margo bagi orang-orang terdekatnya. Now how far would you go for someone you loved?

            Sekilas, ‘Paper Towns’ memang tak jauh beda dengan seabrek film remaja lain tentang cinta, persahabatan dan pencarian jatidiri. Namun penceritaan yang dibangun lewat skrip Neustadter – H. Weber itu memang tergelar diatas sebuah puzzle berisi petualangan penuh misteri yang secara lebih lagi menyemat banyak elemen-elemen genre-nya – termasuk satu yang paling wajib soal house party or high school prom yang kini sudah jadi milik semua lapisan – buat menjelaskan simbol yang terkandung dalam judulnya. Esensi novel yang mungkin tak serta-merta mudah dipindahkan ke layar lebar, apalagi diwarnai detil-detil multikarakter yang saling terhubung satu dengan yang lain.

           Namun storytelling Schreier membuktikan bahwa ia adalah seorang pencerita yang hebat. 30 menit awal yang luarbiasa menarik dan diakhiri dengan salah satu scene paling jagoan dibalik alunan versi instrumental love balladThe Lady in Red’-nya Chris de Burgh itu tak lantas padam saat core of adventures dengan multitendensi itu dimulai dengan elemen dan pendekatan yang, oh yeah, membuat kita serasa menyaksikan sebuah meta John Hughesesque dari film-film andalannya, tapi digagas dengan atmosfer yang sangat update ke trend yang ada sekarang.

              Sebut yang mana saja; ‘Sixteen Candles’, ‘Pretty in Pink’, ‘The Breakfast Club’, ‘Ferris Bueller’s Day Off’ dengan semua sisi thoughtful yang tak harus melulu berakhir dengan happy ending, hingga feel road movie dari film-film Hughes yang lebih cenderung ke family comedy seperti ‘Vacationseries ataupun ‘Planes, Trains and Automobiles’, semua ada disini. Teen awkwardness, their innocence, and other dynamics termasuk scoring (dari musisi post-rock/trip-hop Son Lux) dan soundtrack yang menyatu dengan pengadeganannya – tanpa melupakan sisi fun-nya lewat sempalan-sempalan komedi yang digagas dengan mindset serba remaja namun tak sekalipun jatuh menjadi lebay, tertuang dengan sedemikian baik menuju konklusi tentang pencarian jatidiri, a love lost and found dan ‘how far would you go for someone you loved’ yang cukup jarang kita temukan di film-film remaja era sekarang.

                Dan jangan lupakan kekuatan yang muncul lewat deretan cast-nya. Meski mungkin hanya punya Cara Delevingne yang belakangan sangat naik daun, atau bagi sebagian, aktor/musisi all-rounder Nat Wolff dari duo Nat & Alex Wolff dan juga muncul di ‘The Fault in Our Stars’, cast lain dalam ensemble characters-nya; Austin Abrams, Justice Smith, Halston Sage dan Jaz Sinclair benar-benar menyuguhkan interaksi begitu memorable hingga mungkin nantinya layak jadi ‘the new packs of this generation’ yang dulunya hanya bisa lahir dari tangan Hughes lewat The Brat Pack buat generasinya. Sparks dalam chemistry mereka, terutama antara Delevingne dan Wolff juga mengalir dengan menggetarkan menjelaskan makna ‘crush’ sedalam dan sekuat film-film Hughes tanpa harus menghilangkan tampilan ringan khas remaja-nya, membawa pemirsanya terhanyut dalam teen dynamics mereka masing-masing, baik yang sudah dilalui atau justru tengah berlangsung. Ada pula bonus cameo menarik buat penggemar adaptasi ‘The Fault in Our Stars’.

                So yes, apalagi dalam detil-detil elemen subgenre-nya, tak banyak memang film remaja dengan kualitas sebaik, se-kaya dan se-lengkap ‘Paper Towns’. Menjadikan soundtrack sebagai salah satu jiwa terkuatnya, also by characters, ones that define their generations. Gets all the awkwardness, fun and innocence of youth over its simple but thoughtful plot, ‘Paper Townsreally hits all John Hughes’ rightest notes and plays like one. Fascinating! (dan)

~ by danieldokter on September 2, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: