NO ESCAPE: PROVOCATIVELY XENOPHOBIC BUT TERRIFYINGLY SUSPENSEFUL

NO ESCAPE

Sutradara: John Erick Dowdle

Produksi: Bold Films, Brothers Dowdle Productions, The Weinstein Company, 2015

no escape

            Oh yeah. Premis fiktif tentang sekelompok orang, reporter, keluarga ataupun individu yang terperangkap dalam situasi politik genting negara dunia ketiga memang bukan baru sekali ini. Buat penggemar suspense action sejenis, yang paling lekat dalam ingatan mungkin ‘Fatal Vacation’, film Hong Kong tahun 1989 yang sangat disturbing hingga mengubah total image komedian Eric Tsang ke tengah-tengah kisah sekelompok turis yang terjebak di tengah kelompok pemberontak Filipina.

           ‘No Escape’ datang dengan premis yang mirip walaupun jelas bukan jiplakan atas template yang sudah-sudah. Namun yang membuatnya spesial adalah sineas yang berada di belakang filmnya. John Erick Dowdle, yang bersama saudaranya Drew Dowdle dibalik bendera The Brothers Dowdle, yang sebelumnya sudah kita lihat di ‘Quarantine’, ‘Devil’ dan ‘As Above, So Below’, ternyata memberikan sentuhan baru terhadap apa yang sudah dimiliki ‘No Escape’. Hasilnya memang mengundang sejumlah kritikan terhadap bagaimana mereka menggambarkan pihak antagonis yang menyangkut etnis walaupun set Kamboja-nya (yang agak disamarkan) dipindahkan ke Chiang Mai, Thailand sebagai lokasi syuting. It’s indeed, inevitable, but then again, ‘No Escape’ memang tak pernah dimaksudkan menjadi propaganda-propaganda politis, melainkan murni sebuah action suspense dalam nafas yang paling khas yang dimiliki Dowdle.

            Jack Dwyer (Owen Wilson), seorang mekanik ahli asal Amerika, sebenarnya sudah siap menjalankan tugas barunya di perusahaan asing di sebuah negara Asia Tenggara. Namun membawa serta keluarganya; Annie (Lake Bell), istri dan putri kecilnya; Lucy dan Beeze (Sterling Jerins & Claire Geare), Jack sama sekali tak menyangka situasi politik di negara itu justru menempatkan mereka semua dalam bahaya besar tepat keesokan hari setelah mereka mendarat disana. Bersama seorang ekspatriat Inggris misterius, Hammond (Pierce Brosnan) yang ditemuinya di perjalanan berikut kontak lokalnya Kenny (Sahajak Boonthanakit), Jack harus menempuh segala cara untuk menyelamatkan diri dan keluarganya untuk bisa keluar hidup-hidup dari amukan pemberontak yang siap merencah-rencah semua warga asing disana.

            Yes, it’s that simple, klise dari segala sisi genre atau template premisnya, and somewhat ridiculous, too, dalam menggelar jalan-jalan sempit buat menyelamatkan para karakter utamanya. Belum lagi masalah one-dimensional local characters dan kecenderungan xenophobia hingga membuat turis asing yang hendak bertolak ke negara-negara Asia Tenggara jadi ketakutan luarbiasa. Tapi apa yang dilakukan The Brothers Dowdle meng-handle skrip simpel mereka ke tengah pace directing oleh John Erick dalam ‘No Escape’, harus diakui luarbiasa efektif melebihi puluhan bahkan ratusan film horor beberapa tahun belakangan ini. Level skill yang memang sudah mereka miliki dalam US remakeQuarantine’, semakin intens di ‘Devilas almost a single set horror dan membuat ‘As Above, So Below’ menjadi salah satu found footage yang sangat layak buat disaksikan. Seriously.

            Dengan semua elemen teknis yang ada, tampilan gahar dari sinematografi Léo Hinstin, taut pacing dan slick editing dari Elliot Greenberg, plus scoring dari Marco Beltrami dan Buck Sanders, serta masih ditambah oleh akting Wilson, Bell, dua pemeran putrinya bersama seluruh extras yang tampil, Dowdle berhasil menempatkan pemirsanya ke dalam sebuah rollercoaster of intense fear seolah benar-benar berada di tengah chaos yang digambarkan dalam filmnya. Mungkin juga ada relevansi kedekatan yang membuat kita gregetan luarbiasa dengan guliran adegan yang dibesut nyaris tanpa ampun, luarbiasa tega mempermainkan nasib karakternya dalam memicu intensitas adrenalin dan rasa takut. Bahkan karakter komikal yang diperankan Brosnan, tetap dengan Bond signature, bersama Boonthanakit, tanpa juga memerlukan gelaran graphic violence kelewat berlebihan namun lebih melulu mengandalkan rasa, tak lantas berarti menurunkan intensitas suspense-nya barang sedikit pun.

           So, disitu, ‘No Escape’ memang menjadi sajian yang sangat spesial. Premis yang tak lagi baru namun berhasil diletakkan di atas tendensi-tendensi ‘how far would you go to protect your loved ones‘ seperti yang kita lihat di trailer-nya. A never before seen cinematic experience, yang walaupun cenderung berupa feel bad movie serta luarbiasa unpleasant, satu yang sulit sekali buat bisa diulangi lagi, works scarier than any horror ever before. An ultimate example of very effective directing, sekaligus mungkin membuka mata banyak orang atas kiprah The Brothers Dowdle di film-film yang lebih berskala besar nantinya. Provocatively xenophobic, but also terrifyingly suspenseful. (dan)

~ by danieldokter on September 13, 2015.

One Response to “NO ESCAPE: PROVOCATIVELY XENOPHOBIC BUT TERRIFYINGLY SUSPENSEFUL”

  1. Selama nonton, perasaan yang timbul mirip banget seperti waktu sd diwajibkan nonton film G30S PKI……,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: