MAZE RUNNER: THE SCORCH TRIALS; AN ACTION-PACKED SEQUEL OF THE BETTER YOUNG ADULTS ADAPTATION

MAZE RUNNER: THE SCORCH TRIALS

Sutradara: Wes Ball

Produksi: Gotham Group, Temple Hill Entertainment, 20th Century Fox, 2015

the scorch trials

            Although recognized as a trend, tak banyak juga Young Adults (YA) adaptations yang benar-benar berhasil baik dari critics dan box office reception sekaligus. ‘The Maze Runner’ (2014) yang diangkat dari novel trilogi besutan James Dashner oleh sutradara Wes Ball mungkin tak punya profil sehebat para pesaingnya. Di tengah kombinasi aktor-aktor muda dengan aktor senior sebagai salah satu pola jualannya, nama-nama yang ada pun tak spesial. Hanya ada Patricia Clarkson diantara pemeran-pemeran belia yang walau sudah punya karir sebelumnya, mostly di layar kaca, masih sama-sama relatif belum begitu dikenal. Tapi hasilnya ternyata adalah kebalikannya.

         Tak hanya muncul sebagai adaptasi dystopian adventure yang selain engaging dalam pengenalan plot serta karakter-karakternya, gelaran aksinya punya pace yang lebih asyik ketimbang banyak YA adaptations lain yang dirilis diantaranya. Dengan resepsi bagus dan box office yang mencapai 300 juta dolar AS dari bujet sekitar sepersepuluhnya, pengembangan ke sebuah sekuel jelas sangat layak. Wes Ball yang tetap memegang kursi penyutradaraan bersama penulis skrip T.S. Nowlin yang tertinggal dari tiga penulis instalmen pertamanya tetap mempertahankan kekuatan utama dalam gelaran pace tadi. Persis seperti tagline-nya, ‘The Maze was just the Beginning’, mereka melanjutkan petualangan para Gladers melawan organisasi misterius WCKD (WICKED) yang sudah muncul sebagai konklusi di pengujung film pertamanya. Comes with a promise to a bigger adventure, tentunya, ada sedikit resiko terhadap fans yang merasa adaptasi ini melenceng dari source aslinya, though that is simply another matter, karena fans novel dan film-nya juga masih cukup berimbang.

             Berhasil melarikan diri dari labirin yang menyekap mereka selama ini, The Gladers yang dipimpin oleh Thomas (Dylan O’Brien) bukan lantas selamat sepenuhnya. Bersama anggotanya yang tersisa, Teresa (Kaya Scodelario), Newt (Thomas Brodie-Sangster), Minho (Ki Hong Lee), Frypan (Dexter Darden) dan Winston (Alexander Flores), mereka dibawa ke sebuah fasilitas dimana mereka berjumpa dengan sekelompok survivor lain dari labirin berbeda. Oleh Mr. Janson (Aidan Gillen), fasilitas itu seolah menjadi sebuah safe haven yang melindungi mereka dari WCKD dan pentolannya, Ava Paige (Patricia Clarkson). Namun kecurigaan Thomas, yang kemudian dibantu oleh Aris Jones (Jacob Loftland) menemukan kenyataan sebaliknya. Dengan sebuah siasat, Thomas pun membawa rekan-rekannya melarikan diri ke luar fasilitas – padang pasir tandus bernama The Scorch – yang tanpa mereka sadari, menyimpan berbagai bahaya lebih besar lagi. Dari kelompok pemberontak yang dipimpin Jorge (Giancarlo Esposito) dan Brenda (Rosa Salazar) dibalik maksud mereka menemukan titik akhir penyelamatan bernama The Right Arm, makhluk-makhluk zombie infeksius bernama The Cranks dan tentu saja pasukan Janson dan Ava yang tak begitu saja bersedia melepaskan mereka.

            Oh yeah, Wes Ball memang benar-benar menyadari kekuatan utama yang ada dibalik keberhasilan ‘The Maze Runner’. A fast-paced concept yang ditransformasikan sepenuhnya ke tema games of survivors di sekuel ini. Skrip T.S. Nowlin pun begitu. Tak perlu berlama-lama mengulang pengenalan karakternya, ‘The Scorch Trials’ langsung meletakkan mereka ke tengah-tengah medan petualangan yang lebih luas dari single set labirin yang ada di film pertamanya. Bujet yang meningkat hampir dua kali lipatnya secara efektif oleh tim desain produksinya untuk menyemat dystopian desert set dengan art department dan sempalan-sempalan efek yang makin baik dari kemunculan creature-creature baru menggantikan ‘The Grievers’ di film pertama.

              Jangan lupakan juga dalam keberhasilan elemen pace itu, sama seperti ‘The Maze Runner’, ada kerja editor senior nominee Oscar Don Zimmerman yang sudah malang-melintang di sejumlah film-film signature ’80-an-nya Sylvester Stallone (‘Rocky III-IV’ & ‘Over The Top’ ke deretan genre action dan family movies Hollywood. Sementara sinematografi DoP asal Hungaria Gyula Pados dari ‘Predators’ juga berhasil mengantarkan feel  dan intensitas yang tepat ke petualangan di atas set yang lebih meluas dari instalmen pertamanya.

           Bersama penampilan Dylan O’BrienThomas Brodie-SangsterKi Hong Lee yang kian maju ke depan sebagai pentolan utama franchise-nya, Nowlin juga menyuntikkan dinamika ke female character yang diperankan Kaya Scodelario yang tak banyak berfungsi di film sebelumnya, serta Rosa Salazar yang muncul cukup menarik perhatian sebagai Brenda dibalik penekanan ke sosok heroine-nya. Selebihnya adalah tambahan nama-nama lebih senior yang sudah lebih dikenal seperti Aidan Gillen, Lily Taylor, Barry Pepper, Giancarlo Esposito dan Alan Tudyk buat mengimbangi Patricia Clarkson.

          So, dalam deretan sekuel yang berhasil melebihi pendahulunya, ‘The Scorch Trials’ jelas adalah salah satunya. Walau mungkin tak terlalu spesial di pengembangan karakter berjumlah cukup banyak ala adaptasi novel, serta lagi-lagi masih memegang posisi beresiko sebagai instalmen kedua yang sangat bergantung ke sekuel selanjutnya, raising the bars loud and fast, ‘The Scorch Trialswill get you right in the middle of its game. An action-packed sequel from the better YA fantasy adaptation. Seru! (dan)

~ by danieldokter on September 21, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: