EVEREST: VISUALLY IMPRESSIVE BUT WITH THIN NARRATIVE

EVEREST

Sutradara: Baltasar Kormákur

Produksi: Cross Creek Pictures, Walden Media, Working Title Films, Universal Pictures, 2015

everest

            Apapun topiknya, a disaster event based on true story selalu jadi potensi besar buat sebuah blockbuster; dan ini, bahkan belum tentu datang satu dalam setahun. In those elements, kisah drama pendakian gunung tentu juga jadi salah satu ultimate source-nya. Menggamit judul ‘Everest’, benar bahwa film ini memang mengambil tragedi nyata pendakian gunung itu oleh dua kelompok pendaki di tahun 1996, yang lewat salah satu kronika-nya, buku berjudul ‘Into Thin Air: A Personal Account of the Mt. Everest Disaster’ yang ditulis oleh Jon Krakauer, salah satu saksi nyata dan pelaku kelompok pendakian tersebut, sempat diadaptasi ke film untuk konsumsi TV berjudul ‘Into Thin Air: Death on Everest’ oleh Robert Markowitz setahun setelahnya. It’s not bad, tapi tentu dalam keterbatasannya sebagai sebuah made for TV-movie.

            However, Baltasar Kormákur, sutradara asal Islandia yang sudah go-international ke Hollywood lewat ‘Contraband’ dan ‘2 Guns’ (dua-duanya adalah showcase Mark Wahlberg) bukan menggunakan source yang sama persis. Menambahkan banyak sudut pandang dari memoir-memoir lain, pita rekaman termasuk salah satu film dokumenter IMAX tentang Everest dari David Breashers yang selain salah satu produser dan ditampilkan di filmnya (diperankan Micah Hauptman) juga berada di tengah-tengah kejadian itu.

         Yang lebih menarik tentulah bahwa ini secara statusnya merupakan Hollywood blockbusters (dengan co-production bersama Inggris lewat Working Title Films) dan sebuah showcase dengan star-studded ensemble cast. Walau karakter utamanya diserahkan pada Jason Clarke sebagai Rob Hall, salah satu dari dua pemimpin grup ekspedisinya, ada nama-nama lain yang jauh lebih besar dari Josh Brolin, Jake Gyllenhaal, John Hawkes, Sam Worthington, Emily Watson, Robin Wright dan Keira Knightley, plus Martin Henderson yang karirnya agak terlupakan sejak ‘Torque’. Masih kurang? Di kredit skripnya ada nama William Nicholson, two times Oscar nominee dari ‘Shadowlands’ dan ‘Gladiator’ serta Simon Beaufoy, Oscar – Golden Globe & BAFTA Winner dari ‘Slumdog Millionaire’. Jadi jangan heran kalau pertanyaan yang muncul dibalik template-nya yang beda adalah ‘Will Everest be the next Titanic?’. Oh, wait. Nanti dulu.

             Mount Everest, May 1996. Dua kelompok ekspedisi, Adventure Consultants yang dipandu oleh Rob Hall (Jason Clarke) dan Mountain Madness yang dipandu oleh Doug Hansen (Jake Gyllenhaal) mengadakan pendakian gunung untuk menaklukkan puncak Everest. Diantara orang-orang yang dipandu Hall dan asistennya Andy Harris (Martin Henderson) dan Guy Cotter (Sam Worthington), ada dr. Beck Weathers (Josh Brolin) yang juga seorang pendaki senior, Doug Hansen (John Hawkes), seorang petugas pos dari kalangan biasa dengan mimpi besarnya, jurnalis adventurer Jon Krakauer (Michael Kelly) dan Yasuko Namba (Naoko Mori), pendaki wanita Jepang yang tengah mencoba memecahkan rekor setelah menaklukkan 6 dari ‘The Seven Summits’. Malangnya, di hari itu situasi tak berpihak pada mereka. Terdampar di daerah death zone atas kondisi yang ada melebihi perkiraan waktu dan persediaan oksigen yang tak tertangani dengan benar, dibantu oleh penanggungjawab basecamp Helen Wilton (Emily Watson), tenaga medis Dr. Caroloine MacKenzie (Elizabeth Debicki) plus kontak jarak jauh dengan istri Hall, Jan (Keira Knightley) yang urung berangkat karena mengandung anak mereka, manusia-manusia ini harus berjuang di batas tipis antara hidup dan mati.

          Tak pernah ada yang salah dengan sebuah pilihan. Although sounds like a huge blockbuster, satu yang juga diharapkan banyak orang dari kesan yang muncul dari press release termasuk trailer-nya, Kormákur memang bukan Roland Emmerich ataupun James Cameron. Memilih menyajikan tragedinya secara mendalam dengan kecenderungan besar menampilkan realita ketimbang pendekatan-pendekatan bombastis, the result is like a ‘two sides of coin’. Jangan tanya pencapaian teknisnya, karena di tangan DoP Salvatore Totino dari ‘The DaVinci Code’ dan ‘Angels & Demons’, visual dalam menyajikan panorama megah dari bagian-bagian awal eksotisme Nepal hingga fenomena alam yang ada di dalamnya, ‘Everest’ memang layak sekali mendapat treatment large format screens hingga tampilan 3D dengan depth yang cukup luarbiasa detil. Namun di sisi lain, tampilan efek yang memilih ‘realita’ itu juga membuatnya terasa kurang bahkan nyaris sama sekali tak punya momen-momen spektakuler yang secara visual punya rasa lebih untuk menempatkan pemirsanya ke tengah-tengah bahaya besar yang dialami para karakternya. Yes, it looks scary, tapi tak sekali pun mencapai taraf ketegangan snow mountain climbing thrillers seperti ‘Cliffhanger‘, ‘The Eiger Sanction‘ bahkan ‘Vertical Limit‘.

               Dan biar digawangi oleh William Nicholson dan Simon Beaufoy sebagai scriptwriter, ‘Everestalso suffers from it. Nicholson dan Beaufoy memang sudah terlihat mencoba menyelipkan subplot-subplot personal dari karakternya untuk membuat ‘Everest’ bekerja dalam tiap layer penyajian emosinya, hingga menambahkan karakter-karakter keluarga beberapa karakter tadi dengan penempatan cast bintang berkredibilitas tak main-main. Kormákur malah masih menyemat lagi karakter-karakter tambahan seperti guide lokal Ang Dorjee yang diperankan pemeran lokal Nepal Ang Pula Sherpa yang sebenarnya masih cukup bisa memberikan POV berbeda dalam pengisahannya. Namun secara keseluruhan, yang terjadi diantara detil-detil penggambaran karakter itu justru serba kosong, dan tak juga kunjung membaik hingga epilog berisi aftermath dari event-nya bergulir ke depan pemirsanya.

               Bukan aktor-aktor A-list itu bermain tak bagus, tapi kesalahan utamanya ada pada sisi naratif dan storytelling yang terasa tak bisa berpadu memindahkan fokus dari satu karakter ke karakter lainnya dengan lancar. Bahkan Scott Fischer, salah satu karakter terpenting dari kelompok ekspedisi yang sama penting dalam kisah nyatanya, yang diperankan oleh Jake Gyllenhaal, terasa nyaris tak punya arti dan hampir sepenuhnya tertutupi oleh karakter-karakter dari kelompok ‘Adventure Consultants’. Editing dari Mick Audsley tak mampu menolong pace penceritaan ini, baik di sisi dramatis dan adventurous-nya. Yang terjadi pada akhirnya adalah ‘Everest’ seolah menyia-nyiakan A-list ensemble cast-nya untuk bisa saling mengisi dalam membangun emosi. Bahkan scoring dari Dario Marianelli pun tak lagi bisa memperkuat bangunannya dari sisi itu. Beberapa momen-momen yang berpotensi untuk membuat kita peduli dengan perjuangan hidup dan mati karakternya, at least seperti yang kita rasakan saat menyaksikan ‘Alive‘-nya Frank Marshall dalam beberapa similaritas elemen dramatisasi, termasuk satu yang paling kuat diantara Clarke dan Knightley di bagian-bagian menjelang akhir, seringkali hanya lewat begitu saja.

               So, indeed, ’Everest’ memang terasa bagai sebuah missed opportunity buat Baltasar Kormákur dalam attempt terbesar transformasi karirnya di ranah yang jauh lebih luas – that includes Hollywood – dan ini sayang sekali. Menyisakan hanya visual yang secara keseluruhan memang impresif, namun juga tanpa garis batas ketegangan spesial ; satu titik pencapaian yang bisa membuat penontonnya menahan nafas merasakan rekonstruksi tragedi nyata yang seharusnya sangat diperlukan dalam showcase-showcase seperti ini, ’Everestfailed to reach its peak. Visually impressive, but unfortunately, thin narrative. (dan)

~ by danieldokter on September 24, 2015.

2 Responses to “EVEREST: VISUALLY IMPRESSIVE BUT WITH THIN NARRATIVE”

  1. Saya udah baca tentang tragedi Everest 1996 a while ago, jadi udah tahu siapa yg akan selamat dan enggak. Ekspektasinya tentu filmnya bakal lebih character-driven, eh ternyata nggak terlalu. Karakternya mostly one-dimensional. Dan belum ditambah over-exposured ke gunungnya. Cukup kecewa dgn hal ini, tp overall, secara teknis film ini mantap.
    Bisa bayangin kalau ini ditonton di layar kecil, pasti rasanya kayak nonton Gravity tanpa thrill. IMO sih ya.
    Great review, Doc!

  2. […] Read the full review here. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: