3 (ALIF – LAM – MIM ): A BOLD, DARING AND ASTOUNDING INDONESIAN DYSTOPIAN ACTION

3 (ALIF – LAM – MIM )

Sutradara: Anggy Umbara

Produksi: FAM Pictures, MVP Pictures, 2015

alif lam mim 2

            Dari deretan sutradara muda di industri sinema kita, Anggy Umbara adalah salah satu yang paling visioner sekarang ini. Gen-X, vanguard, atau apapun sebutannya, dalam ranah-ranah berbeda, Anggy jelas punya konsep beda dalam membangun signature-nya. Lihat lompatan jauhnya dari karya layar lebar pertamanya, ‘Mama Cake’ diikuti ‘Coboy Junior the Movie’ dan dwilogi ‘Comic 8’ yang belum lagi bakal berakhir. Walau tak semua orang bisa klik dengan style penyutradaraan dan caranya bercerita, ia selalu bermain dalam eksplorasi genre, punya konsep komersil yang kental (walau lagi-lagi, batasan komersil ini sangat relatif buat penonton serta sinema kita yang masih sangat dipengaruhi trend) hingga satu yang paling spesial; satu sisi yang juga diselaminya selama ini dalam grup musik cadasnya, Purgatory. Dakwah.

            Di ‘3’, judul yang akhirnya jadi pilihan official menggantikan sub-judul awalnya, ‘Alif – Lam – Mim’ yang sudah mengarah kesana, quite obviously, ia lagi-lagi mendobrak sebuah stagnansi genre yang ada. Boro-boro action yang sejak ‘The Raid’ belum lagi bisa punya tandingan dibalik ketidaksanggupan bujet rata-rata film kita yang masih terus berjuang dengan jumlah penonton, ia melangkah dengan subgenre dystopian action dibalik set (semi) futuristik lengkap dengan pilihan CGI action dalam blend/perpaduan yang pas. Tapi satu yang paling spesial dari semuanya justru tema yang tak pernah terbersit dari promo atau trailer-nya. Oh ya, di saat beberapa sineas lain menelusuri dua sisi trend reliji antara bermain aman atau menjual kontroversi, Anggy malah menutupi dakwahnya dibalik visi yang unik sekaligus punya relevansi masalah bangsa ini. Yes, it’s a preach, tapi sama sekali tak terjebak jadi preachy.

            Menggelar plot-nya di set Jakarta tahun 2036; ‘3’ dengan cepat memetakan sebuah chaos concept lewat visual dan penceritaan ke hadapan pemirsanya. Ini memang kedengaran kurangajar dan mungkin menimbulkan pertanyaan bahwa ‘agama’ dalam benak Anggy hanya punya satu penerjemahan terhadap kepercayaannya. Indonesia yang sudah menjadi negara liberal dengan sebentuk fobia terhadap agama lewat trauma yang berujung ke sebuah revolusi lantas mempertemukan tiga tokoh utama yang datang dengan riwayat persahabatan dari asal yang sama; sebuah padepokan silat Al-Ikhlas dengan ajaran agama yang kental namun sudah terpinggirkan dalam perjalanan nasib masing-masing. Ada Alif (Cornelio Sunny), aparat negara idealis dengan strong code of conduct, Herlam/Lam (Abimana Aryasatya) yang memilih berjuang lewat tulisan-tulisannya sebagai seorang jurnalis, serta Mimbo/Mim (Agus Kuncoro) yang tetap memilih meneruskan ajarannya di padepokan sepeninggal guru mereka (Cecep Arif Rahman). Ketiganya kini dihadapkan pada sebuah pilihan untuk mempertahankan kebenaran masing-masing kala bukti-bukti dari sebuah insiden bom mengarah ke padepokan yang sekaligus jadi titik asal-usul mereka.

            Satu kekuatan terbesar dari konsep premis ‘3’ adalah Anggy bersama Bounty dan Fajar Umbara yang membesut skripnya tak lantas harus bermuluk-muluk berfantasi di atas set futuristiknya. Ide itu mereka pindahkan dengan fondasi berisi relevansi kuat tentang carut-marut tudingan agama serta intrik politik yang sudah sehari-hari kita hadapi dengan keakraban luarbiasa, sementara plot multikarakter itu dibalut dengan layered twists yang masih jarang-jarang tereksplor oleh banyak penulis kita. Lantas konklusinya, walaupun bisa mendiskreditkan satu instansi di atas tendensi dakwah berisi pembelaan terhadap kebenaran versi Anggy, jadi dasar yang luas buat menyelipkan dinamika konflik yang sangat kaya dalam perpaduan genre-nya. Ada drama, aksi hingga sparks of love motivations yang menyeruak sangat kuat dalam tiap sisi penceritaan dan bangunan karakter-karakternya, yang digagas AnggyBounty dan Fajar dengan tampilan dual language bak film-film negeri tetangga. Walau bagi sebagian pemirsa ini bisajadi terasa kurang nyaman, namun ini adalah visi mereka membentuk arenanya. Tapi mereka memang kelihatan benar-benar menguasai tempo permainan untuk mempertahankan intensitas pace-nya hingga ke klimaks dengan diverse showdown dan permainan setup yang pas untuk lagi-lagi membuka kemungkinan sebuah franchise, bahkan kala harus tega menempatkan tokoh-tokoh utamanya dalam pilihan hidup dan mati diantara idealisme, cinta dan persahabatan.

            Disitu, interaksi karakter-karakter ini berpadu dalam sebuah interkoneksi kuat dengan motivasi dan pilihannya masing-masing. Cornelio Sunny tampil dengan powerful screen presence dalam debut peran utamanya di layar lebar setelah tampil mencuri perhatian dalam drama indieThe Sun, the Moon and the Hurricane’ tempo hari. Walau masih terasa agak lemah di bagian-bagian awal, gesturnya memerankan Alif semakin membaik serta dibarengi dengan choreography handling yang meyakinkan. Sebagai Mim yang harus beraksi dibalik jubah gamis bak seorang martial arts fighter, Agus Kuncoro juga tak kalah bagus. Namun yang terbaik dari ketiganya adalah Abimana Aryasatya. Menyuntikkan heart factor lebih ke karakter Lam, walau tetap dengan signature acts-nya yang sangat terasa, ia berhasil menciptakan balance yang kuat ke tengah-tengah tiga tokoh sentral ini.

            Supporting characters-nya pun hampir kesemuanya dibangun dengan kuat dan bukan asal lewat. Ada Donny Alamsyah, T. Rifnu Wikana, Verdi Solaiman, Arswendy Nasution (credited as Arswendy Bening Swara) serta Piet Pagau sebagai Kol. Mason dibalik costume nods yang kuat ke ‘Street Fighter’, aktor cilik Bima Azriel serta dua female lead; Prisia Nasution dan Tika Bravani yang tak lantas terjebak ke penokohan ala damsels in distress, namun bekerja sama kuat sebagai karakter latar dalam memperkuat motivasi Alif – Lam bahkan Mim. Cecep Arif Rahman mungkin masih terasa agak lemah dalam intonasi dialog walaupun tetap terlihat badass di tengah action scenes yang melibatkan dirinya, tapi scene stealer terkuat dalam deretan supporting characters ini adalah Tanta Ginting yang lagi-lagi menunjukkan sparks yang tepat saat diserahi peran-peran yang tak harus mendominasi layar.

            Selebihnya adalah penataan teknis yang juga membentuk blend cukup baik dengan pilihan Anggy dkk terhadap setting-nya secara keseluruhan. Memang benar bahwa adegan aksi yang hampir sepenuhnya berpegang pada camera tricks dan penggunaan efek serta mungkin, bagi sebagian orang, overused slo-mo, mostly if some of you think ‘The Matrix’ or Yuen Woo Ping kind of action sudah bukan lagi jadi trend yang asyik, masih menyisakan keinginan buat bisa jadi lebih lagi terutama dalam practical stunts, combat fight yang lebih realistis ataupun gory attempts yang lebih total. Namun lagi, ini adalah sebuah pilihan dibalik keterbatasan dan sama sekali tak dibesut asal-asalan. Sebagian besar koreografi aksi, pace editing Bounty Umbara serta efek visual dari Tommy Sukowati dan Benny & Kuntz masih sangat tertata dengan bagus, seru serta stylish, begitu pula visualisasi set futuristik dari tata kamera Dicky R. Maland, desain produksi dan tata artistik Anto Wahid yang jelas memberi batasan dalam tampilan gadget serta sisi interior set-nya. Scoring dari AL serta tata suara dari Khikmawan Santosa juga patut diberi kredit lebih dalam bangunan keseluruhannya.

            Tapi memang, ‘3’ menjadi begitu luarbiasa dari kekuatan konsep serta gambaran distopia masa depan yang sangat taktis buat memuat penggabungan elemen beragam serta berani dari kisah-kisah persahabatan, cinta, intrik politik, gelaran action seru hingga selubung dakwah yang tergelar sangat rapi tanpa sekalipun terasa preachy. Even some flaws won’t stop it from becoming a bold, daring and astounding dystopian action, dan ini adalah effort pertama yang sangat, sangat admirable dalam industri film kita. Ada banyak film yang bagus, namun yang bisa hadir sebagai benchmark dalam tema dan stagnansi genre film kita yang isinya kebanyakan itu ke itu saja, tak setiap saat bisa kita dapatkan. Sayang sekali pada akhirnya animo penonton kita masih seakan belum siap menerima pembaharuan itu, tapi ‘3’ jelas adalah sebuah awal yang mengagumkan! (dan)

~ by danieldokter on October 7, 2015.

2 Responses to “3 (ALIF – LAM – MIM ): A BOLD, DARING AND ASTOUNDING INDONESIAN DYSTOPIAN ACTION”

  1. Reblogged this on Shine like a moon and commented:
    Ini baru review!! cadas!

  2. […] 3 (ALIF – LAM – MIM) (FAM Pictures, MVP Pictures; ANGGY […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: