SICARIO: THE LURKING BEAST WITH JUST A FEW STRIKES

SICARIO

Sutradara: Denis Villeneuve

Produksi: Black Label Media, Thunder Road Pictures, 2015

sicario

            On a piece of paper, trailerSicario’ yang sangat gencar hadir menjelang perilisannya, diatas ide soal drug cartels yang ditransformasikan ke modern warfare alaZero Dark Thirty’ dan film-film gulf war serius sejenisnya, terlihat serta kedengaran sangat badass. Juga posternya. Belum lagi porsi heroine Emily Blunt di tengah-tengah sosok-sosok se-gahar Josh Brolin dan Benicio del Toro. But hey, ini filmnya Denis Villeneuve, vanguard director yang selalu menyampaikan konsepnya dengan bold ketimbang komersil, walaupun satu karyanya, ‘Prisoners’, sebenarnya tak lari terlalu jauh dari konsep baku thriller Hollywood. Lagi, ‘Sicario’ adalah selected movie yang berkompetisi untuk meraih Palme d’Or di Cannes tahun ini. Jadi agaknya kita mesti membuang jauh-jauh gambaran sebuah action showdown yang mengarah ke film-film perang serba seru itu jika tak mau merasa tertipu setelahnya.

            Dan memang benar adanya, bahwa ternyata keseruan yang ditampilkan di trailer itu memang sudah mencakup semua action scenes yang ada dalam ‘Sicario’. Lupakan juga badass poster-nya. The truth, ‘Sicario’ memang adalah senyata-nyatanya sebuah showcase ala Villeneuve yang lebih menyelam ke feel konsepnya, ones that really getting on your nerves – sepanjang Anda adalah pemirsa serius yang tak sekedar datang ke bioskop untuk mencari suguhan hiburan atau seru-seruan. Judul yang dalam bahasanya punya makna ‘hired gunman’ atau pembunuh bayaran itu memang berputar-putar buat menjelaskan lapis demi lapis sosok monster dalam penggambaran tiap karakter untuk mengarah ke satu yang paling sentral; se-menakutkan istilahnya sendiri.

            ‘Sicario’ pun dibuka dengan terbukanya sebuah penculikan mengerikan di Chandler, Arizona, oleh Special Weapons and Tactics Team FBI dengan agen wanita Kate Macer (Emily Blunt) dan partner-nya, Reggie Wayne (Daniel Kaluuya) sebagai fokusnya. Disinyalir sebagai aktivitas kartel obat bius di daerah perbatasan, Kate seketika direkomendasikan atasannya, Dave Jennings (Victor Garber) untuk bergabung dengan tim gabungan CIA – Departemen Pertahanan di bawah pimpinan Matt Graver (Josh Brolin). Walau tak sepenuhnya mengetahui detil operasinya, Kate setuju bergabung di atas idealismenya buat menuntaskan kasus yang mengarah ke bos kartel bernama Manuel Diaz (Bernardo P. Saracino). Dalam misi itu ia lantas bertemu dengan Alejandro Gillick (Benicio del Toro), agen operatif Matt yang punya akses penuh ke jaringan tersangkanya. Berkali-kali Kate merasa tertipu atas cara kerja Matt dan timnya yang seakan terus menyimpan sesuatu darinya tapi terus memberi ruang lebih, hingga batas benar atau salah semakin kabur sekaligus menempatkan idealismenya dalam bahaya besar yang tak pernah ia sadari.

            Skrip yang ditulis oleh Taylor Sheridan memang terasa sangat sejalan dengan bold storytelling Villeneuve sebagaimana di film-filmnya yang lain; dari ‘Incendies’ bahkan ke ‘Enemy’ yang agak surealis. ‘Sicario’ boleh jadi terasa slowburn buat banyak pemirsanya, tapi jauh di lapisan paling dasarnya, Villeneuve dan Sheridan membangun pengenalan karakternya secara efektif di atas tahapan-tahapan yang tertata dengan sangat rapi menuju konklusi-konklusi ‘creating orders‘ yang senada dengan film Indonesia ‘3‘ barusan, bahkan saat mereka menyelipkan karakter Reggie, officer Silvio (Maximiliano Hernandez) atau Ted yang diperankan Jon Bernthal, coming almost out of nowhere menjelang perempat akhirnya sebagai distraksi. Penceritaan itu bergerak seakan penuh teka-teki di atas bangunan atmosfer creepy yang sangat cermat digagas Villeneuve dan Sheridan sebagai thriller yang kadang menjurus ke psychological horror dengan kontinuitas jelas ke ultimate opening scenes tadi.

            Disitu pula, semua elemennya bekerja dengan efektif buat memperkuat tiap fondasinya. Ada scoring Jóhann Jóhannsson yang punya feel mirip dengan komposisi Embie C. Noer di ‘Pengkhianatan G-30S PKI’ ; yes, it’s that creepy, sementara penampilan tiga pentolannya memberi batasan-batasan berbeda. Emily Blunt memang tak pernah terlalu diserahi predikat heroine seperti yang terbaca di trailer-nya, namun tampil dengan hidden fear yang luarbiasa kuat, sementara Josh Brolin – sesantai karakter Graver, walau pada akhirnya tak juga diberi sparks buat meledak atas picuan sumbunya sejak awal, punya penekanan penuh sebagai mastermind penuh perhitungan. Namun juaranya adalah Benicio del Toro. Memerankan Gillick dengan gestur dan sorot mata misterius untuk menerjemahkan makna yang terkandung dalam pilihan title-nya, ia menjadi kunci buat feel dan atmosfer ‘Sicario’ secara keseluruhan lewat sejumlah highlight scenes yang sulit buat dilupakan. Like a beast lurking in the darkness dan membuat pemirsa yang mau mengikuti alur ceritanya dengan serius tetap berada dalam kondisi alert dan penuh rasa was-was. Ini penampilan terbaik dalam sejarah karirnya sejak ‘Traffic’ dimana del Toro sukses melibas semua A-list actors yang muncul dalam ensemble cast-nya.

            Sementara faktor yang juga sama kuatnya datang dari sinematografi Roger Deakins. Melebihi notable works dalam kolaborasinya bersama Villeneuve di ‘Prisoners’, Deakins seolah menjadi mata buat para pemirsanya dalam penceritaan ‘Sicario’ secara sangat monstrous, beastly dan luarbiasa liar. Walau showdown climax di terowongan itu bukan juga punya taraf keseruan ala action blockbusters, lihat berapa banyak ultimate shots yang dikerahkannya disana, semua dengan keunikan yang belum pernah kita saksikan di pengadeganan-pengadeganan sejenis.

            Though however, pilihan Villeneuve memang lagi-lagi harus berhadapan pada kadar keseriusan penonton buat mau mengikuti jalan pikirannya. ‘Sicario’ pada akhirnya memang jadi sebuah karya yang sangat terdistraksi oleh trailer dan promo-promo lain termasuk posternya. Bahwa ide out of the box buat mentransformasikan drug cartels ke combat warfare itu memang tak tergelar seseru idenya, itu juga memang sangat sulit buat ditampik. Tapi lagi, pilihan Villeneuve buat membidik kedalaman rasa, jelas tak salah. It was indeed like a lurking beast, but with just a few strikes. Kuncinya adalah seberapa dalam Anda sebagai pemirsanya mengerti pendekatan-pendekatan Villeneuve di film-filmnya, dan sayang sekali, itu terbatas hanya buat beberapa segmen tertentu. (dan)

~ by danieldokter on October 12, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: