PAN: AN AMAZING 3D RIDE THAT CAPTURED ALL THE MAGIC OF NEVERLAND

PAN

Sutradara: Joe Wright

Produksi: Berlanti Productions, RatPac-Dune Entertainment, Warner Bros, 2015

pan

            Ini memang masih terus jadi pola jualan Hollywood selain konsep-konsep franchise continuations. Reboot; a hard one – that took the existing legend back to the very beginning – sebelum awal yang kita kenal selama ini. Dalam kata lain, ‘Pan’ memang seolah jadi prekuel ke source asli karya penulis J.M. Barrie yang pertama kali diangkat ke drama teater tahun 1904 setelah muncul di segmen novel ‘Little White Bird’ (1902), namun melegenda lewat animasi Disney di tahun 1953. ‘Pan’ bukanlah juga adaptasi live action pertama kisah itu. Ada ‘Hook’-nya Steven Spielberg (1993) yang menyambung kontinuasinya, serta ‘Peter Pan’, film Amerika – Kanada karya P.J. Hogan di tahun 2003 dari source expanded novel BarriePeter and Wendy’ (1911) dengan tone lebih serius namun tak jauh lepas dari gambaran fantasi Spielberg dalam desain produksinya.

            Sekarang, giliran Joe Wright yang membawa origin story baru ke legendary tale-nya. Dengan skrip yang ditulis Jason Fuchs yang mengawali karir scriptwriting-nya dari ‘Ice Age: Continental Drift’ ke adaptasi terbaru ‘Wonder Woman’, ‘Pan’ digagas sebagai awal baru yang unik di atas tone buddy movies yang menempatkan Peter Pan dan archenemy-nya, Captain Hook, masih dalam satu kubu melawan villain baru Blackbeard yang diperankan Hugh Jackman. Merupakan lompatan cukup besar dari Wright setelah ‘Pride & Prejudice’ versi 2005, ‘Atonement’, ‘The Soloist’, ‘Hanna’ dan ‘Anna Karenina’ yang cukup jauh dari status big budget / studio blockbusters, tak heran kalau audiens yang memuja pencapaian artistiknya di film-film tadi sejak awal sudah melemparkan cibiran ke kiprahnya disini.

          And unfortunately panned by critics, too, diatas alasan-alasan sama serta konsep Wright menciptakan ‘Pan’ baru diatas penggabungan banyak blockbuster-blockbuster raksasa jadi satu (oh yeah, critics never liked the idea of rolling all blockbusters into one), perolehan B.O.-nya baik domestik dan internasional juga sangat jauh dari yang diharapkan dibanding bujetnya yang tak main-main, sejumlah 150 juta dolar AS. Becoming this year’sThe Lone Rangeror maybeJohn Carter’, apakah benar ‘Pan’ sejelek itu?

         ‘Pan’ dimulai dengan dark tone yang sangat Joe Wright dari period drama di setting WW2. Peter bayi (usia anak-anaknya diperankan Levi Miller) ditinggalkan Mary (Amanda Seyfried), ibunya di depan sebuah panti asuhan yang dikelola Suster Barnabas (Kathy Burke). Disana, Peter yang tumbuh bersama sahabatnya, Nibs (Lewis MacDougall) dibalik harapan atas surat peninggalan sang ibu seketika mendapatkan kenyataan bahwa anak-anak penghuni panti asuhan itu diculik secara misterius ke atas sebuah kapal bajak laut yang bisa melayang terbang di angkasa. Terpisah dengan Nibs, Peter akhirnya mengetahui bahwa anak-anak ini dijadikan budak di sebuah dunia awang-awang bernama Neverland oleh bajak laut kejam Blackbeard (Hugh Jackman). Berkenalan dengan James Hook (Garrett Hedlund), pria oportunis yang sejak lama menjadi bagian dari budak-budak Neverland, Peter kemudian mulai menyadari takdirnya di atas sebuah ramalan tentang ‘The Boy who could Fly’ yang akan jadi seorang Pan, penyelamat bagi penduduk lokal hutan Neverland yang terjajah oleh pertambangan Blackbeard; yang dikepalai Chief Great Little Panther (Jack Charles) bersama putrinya, Tiger Lily (Rooney Mara). Peter awalnya berusaha menolak takdir ini, namun menemukan kenyataan bahwa ibunya juga berada disana dalam usaha perlawanan terhadap Blackbeard, ia pun menerima tawaran Hook dibalik agenda tersembunyi bersama partner-nya, Smee (Adeel Akhtar) sekaligus membantu perjuangan Tiger Lily dan sukunya. And the adventure begins.

          Oh ya. Wright dan Fuchs memang membangun origin baru Peter Pan diatas konsep blockbusters mash-up ke excitement factors-nya. Sebut semua; ada Indiana Jones dan adventure genre sejenis, ‘Pirates of the Caribbeanand other pirate stories, creature features alaJurassic World’, native wars alaAvatar’ atau ‘Pocahontas’, Harry PotterSupermanother superheroes and all the chosen one premise hingga buddy movie genre bahkan lengkap dengan post apocalyptic reigns alaMad Max’ dengan grunge era – awkwardnessSmells Like Teen Spirit’-nya Nirvana, melintasi ruang dan waktu secara random, namun sebenarnya juga memuat salah satu konsep origin adaptasinya sebagai teater musikal sekaligus apa yang sudah dibesut Wright di beberapa filmnya. A concept that critics hated the most, serupa tapi tak sama dengan ‘Transformers’ terakhir, tapi dibalut dengan desain produksi raksasa dan 3D treatment efektif – satu yang terbaik di tahun ini bersama ‘The Martian‘ dan ‘The Walk‘ berturut-turut, buat menciptakan exciting ride yang luarbiasa seru.

         However, tak peduli konsep ini dianggap dangkal oleh sebagian orang, apalagi diatas nama Joe Wright buat penikmat-penikmat film yang jauh lebih cerewet, ia dan Fuchs sebenarnya tak pernah main-main menangkap esensi source asli J.M. Barrie hingga animasi klasik Walt Disney yang paling memorable ke tengah-tengah penceritaannya. Karakter-karakter itu memang dirombak secara berbeda dari semua pengetahuan orang terhadap kisah Peter Pan, tanpa signature green costumes bahkan topi yang muncul sebagai kejutan singkat, but if you really knew Peter Pans tale, tetap punya sparks ke signature-signature komikal penting dalam karakterisasi asli hingga ke memorable dialogue lines-nya – termasuk kait legendaris Captain Hook yang memang hanya bisa dikenali lewat permainan trivia yang asyik dalam menelusuri detil-detilnya.

          Diatas semua, satu yang terpenting, ada magical spirits Neverland dan esensi fantasinya yang menyeruak dengan kuat ke tengah-tengah tiap elemen yang ada, all that makes Neverland ‘A’ Neverland we knew and loved all these times. Disitu pula, semua elemen-elemen klasik kisahnya, Lost Boys, Jolly Roger Ship, karakter-karakter inti hingga Tinkerbell yang ditampilkan dalam salah satu highlight terbaiknya, plus other creatures seperti The Never Bird, Tick Tock the Crocodile hingga Mermaids yang diperankan lebih dari satu Cara Delevingne bermunculan satu-persatu menambah excitement factors bersama keindahan visual dari desain produksi jempolan, sinematografi John Mathieson & Seamus McGarvey berikut komposisi scoring John Powell di sepanjang durasinya.

           Di deretan cast-nya, Levi Miller juga berhasil menghidupkan karakter Peter Pan dengan detil-detil tahapan pengembangan karakter serta sejumlah homage-nya, jauh lebih baik ketimbang Jeremy Sumpter di versi 2003 P.J. Hogan. Sebagai Blackbeard yang dibangun dengan signature Hook yang kita kenal selama ini, Hugh Jackman pun secara komikal tampil dengan proporsional. Sementara Rooney Mara yang sempat diserang oleh pemirsa domestik AS atas penempatan cast yang mengalihkannya dari native choice, tetap muncul dengan sparks menarik menokohkan Tiger Lily.

          Masih ada karakter paling dikenal dalam kisahnya, the fat & bearded Mr. Smee, not yet a pirate, yang diperankan oleh Adeel Akhtar, karakter tambahan anakbuah Blackbeard, Bishop yang diperankan oleh Nonso Anonzie, serta Kwahu yang diperankan aktor Korsel Na Tae-joo dari ‘The Kick’, bahkan Amanda Seyfried yang hampir tak terlihat dibalik polesan CGI, namun yang paling mendominasi layar adalah Garrett Hedlund sebagai cikal-bakal archenemy Peter Pan. Walau sering terlupakan sebagai aktor potensial, tampilan fun, tough and wise-ass young Hook dengan nods ke Indiana Jones-nya meyakinkan kita bahwa Hedlund seharusnya sangat layak mengisi karakter kuat di franchise-franchise fantasi Hollywood.

             So, if you really knew the source, ‘Pan‘ sama sekali bukan sebuah pengembangan yang gagal. Walau bermain dengan konsep new beginning and fresh setup to existing legend tadi, Wright dan Fuchs sebenarnya sudah menunjukkan bahwa selain membangun visi-visi fantasinya seperti karakter Pan a.k.a. The Boy who wouldn’t Grow Up, mereka sangat mencintai esensi source, elemen-elemennya, and most of all, Neverland. Dan semua kecermatan ini masih dibalut lagi dengan nonstop action ride yang seru dari awal ke klimaks dengan intensitas excitement yang terus meningkat bersama visualisasi – VFX fantastis plus impressive depth and popped-out 3D. Sayang sekali kalau pada akhirnya ‘Pan’ harus menyerah buat berada di deretan rekor flop blockbuster-blockbuster Hollywood dan artinya menghilangkan harapan penyukanya untuk melihat kelanjutan setup menuju ke awal serta karakter-karakter sentral yang kita kenal. Namun buat yang tak peduli dengan segala tetek-bengek itu dan benar-benar menyukai source dan instalmen-instalmennya, do trust me. ‘Pan’ really offers a truly amazing 3D ride that never stopped capturing all the magic of Neverland! (dan)

~ by danieldokter on October 13, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: