THE HUNGER GAMES: MOCKINGJAY – PART 2; NOT A VERY SATISFYING FINALE

THE HUNGER GAMES: MOCKINGJAY – PART 2

Sutradara: Francis Lawrence

Produksi: Color Force, Lionsgate, 2015

Mockingjay Part 2

            Sebagai penerus terkuat YA adaptation setelah ‘Twilight’, ‘The Hunger Games’ karya Suzanne Collins sampai sudah ke serial finalnya. Menjadi bagian kedua dari instalmen buku terakhirnya, ‘Mockingjay’, wajar juga kalau ia menjadi sebuah film yang sangat ditunggu, apalagi setelah ‘Mockingjay Part 1’ diakui banyak penonton hingga fans bukunya, cukup mengecewakan. Pace yang berjalan seolah terseok-seok demi trend membagi dua bagian final dari sebuah adaptasi menjadi sasaran kritikan banyak orang.

            ‘Mockingjay – Part 2’ pun berlanjut dari ending bagian pertamanya dimana Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) yang baru saja sembuh dari serangan Peeta Mellark (Josh Hutcherson) yang dipengaruhi oleh pihak Capitol, tetap ingin meneruskan misinya untuk membunuh Presiden Snow (Donald Sutherland). Walau misi ini ditentang oleh Presiden para pemberontak di Distrik 13; Alma Coin (Julianne Moore), keberadaannya sebagai simbol pemberontakan – The Mockingjay, membuat Katniss nekat menyelusup bergabung bersama Squad 451 – bersama Gale (Liam Hemsworth), Cressida (Natalie Dormer), Pollux (Elden Henson), Finnick dan Peeta – diantaranya, di tengah pernikahan Finnick (Sam Claflin) dan Annie Cresta (Stef Dawson) untuk menyusup ke Capitol. Usaha ini tentu tak berjalan semudah itu dengan serangan ‘Pods’ hasil rekaan para gamemaker atas perintah Snow. Berujung pada sebuah tragedi yang membuat Katniss semakin murka, ia justru menyadari adanya sebuah konspirasi dari rencana panjang suksesi pemerintahan Panem ini. Kini, di tengah rencana Hunger Games baru yang membalik pesertanya dari Capitol dan hari eksekusi Presiden Snow, Katniss pun dipaksa untuk mengambil keputusan terbaik buat masa depan Panem sekaligus dirinya sendiri.

            ‘Mockingjay – Part 2’ sayangnya tak benar-benar bisa mengubah pakem permainan akhir franchise-nya dari kesalahan yang mereka lakukan di bagian pertama dengan berpanjang-panjang menyemat seolah prolog dan memaksa bagian kedua ini penuh sesak dipadati oleh twist and turn ke konflik final source-nya. Bersama skrip yang dibesut oleh Peter Craig dan Danny Strong, sutradara Francis Lawrence lagi-lagi terlihat bingung membangun setup yang seharusnya sudah dimulai dari bagian pertama secara perlahan dengan sematan-sematan adegan aksi tanpa juga memberikan re-introduksi padat ke seabrek karakter-karakternya.

       Subplot-subplot lovestory yang sudah dibangun kuat sejak instalmen awalnya pun jadinya tak bisa terbagi rapi dengan subtext suksesi politik, diktatorial dan simbol-simbol perlawanan di tengah penceritaan tumpang tindih tadi hingga tetap terasa sangat tak konsisten pace-nya di tiap bagian, dan ini punya dampak membuat sejumlah karakter penting di balik nama-nama besar pemerannya, dari Hutcherson, Hemsworth, Claflin, Jena Malone ke nama-nama senior dari Elizabeth Banks, Jeffrey Wright, Stanley Tucci, Woody Harrelson, Julianne Moore hingga the late Phillip Seymour Hoffman yang masih terus tampil jadi sangat tersia-sia.

            However, sematan adegan aksi di instalmen final ini memang cukup bekerja menggenjot adrenalin, dan di balik action signature Francis Lawrence yang terlihat jelas, satu yang terbaik dari keseluruhan franchise-nya, namun sayangnya lagi-lagi harus berhadapan pada aftermath conclusion yang tidak bisa tidak harus hadir sebagai sebuah penuturan antiklimaks. Jennifer Lawrence masih tampil sangat kuat sebagai Katniss Everdeen dengan citranya sebagai Oscar winner, namun sayang para pendamping utamanya justru semakin melemah karena skrip yang tak memberi kesempatan lebih pada mereka, kecuali mungkin Donald Sutherland sebagai Snow.

            So it all depends. Bagi fans yang benar-benar menangkap inti dari subtext yang ada pada source-nya lebih dari sekedar seru-seruan belaka, ‘Mockingjay – Part 2’ tetap bisa menyampaikan itu, pun dengan kekuatan lead Lawrence sebagai tokoh sentralnya. Namun sayangnya, balance dari elemen-elemen yang ada sangat tak berimbang untuk bisa disebut sebagai sebuah pamungkas adaptasi yang memuaskan. Ini masih lebih baik dari ‘Mockingjay – Part 1’ tapi jauh berada di bawah instalmen terbaiknya, ‘The Catching Fire’ – one that raised the bar to the franchise. Not a very satisfying finale. Apa boleh buat. (dan)

 

~ by danieldokter on December 6, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: