IN THE HEART OF THE SEA: A VISUAL GRANDEUR BEYOND THE BIRTH OF A CLASSIC MASTERPIECE

IN THE HEART OF THE SEA

Sutradara: Ron Howard

Produksi: Village Roadshow Pictures, Roth Films, Imagine Entertainment, Warner Bros, 2015

In The Heart 2

            Ada alasan mengapa line pembuka iconic dari karya klasik Herman Melville, ‘Moby-Dick’; ‘Call me Ishmael’ dalam sebuah adegannya merupakan key element dari ‘In The Heart of the Sea’. Oh ya, tak banyak mungkin generasi sekarang, terutama di Indonesia, yang mengenal literatur klasik yang sudah berulang kali diadaptasi ke film dan menginspirasi karya-karya sejenis lainnya ini. Di balik statusnya sebagai sebuah karya klasik dan dedikasi untuk penulis terkenal Nathaniel Hawthorne (‘The Scarlet Letter’) yang sangat dikagumi Melville, terentang sebuah tragedi nyata kapal penangkap Paus, Essex, di Samudera Pasifik tahun 1820, yang lama setelahnya (tahun 2000) dituangkan penulis Nathaniel Philbrick ke source novel berjudul sama buat film ini.

            Jadi memang seperti tagline jualannya, ‘Based on an incredible true story that inspired Moby-Dick’, ‘In The Heart of the Sea’ diangkat dari novel Philbrick – namun menggeser sedikit fokusnya dengan sempalan-sempalan acknowledgement ke karya klasik Melville, bahkan dengan menampilkannya di balik sosok Ben Whishaw di atas tribute-tribute yang tertuang ke keseluruhan skripnya. Sutradara Ron Howard sendiri tak pernah mengetahui kalau ‘Moby-Dick’ diinspirasi dari tragedi Essex hingga aktor Chris Hemsworth, pasca kerjasama mereka dalam ‘Rush’ membawa novel itu ke Howard.

       Perpaduan adaptasi tale of sea adventure dan penggalan biopik Melville-lah yang lantas membuat ‘In The Heart of the Sea’ jadi sebuah kombinasi tak biasa. While packing utama jualannya sebenarnya mirip creature feature alaOrca: The Killer Whale’, produksi 1977 Dino de Laurentiis dan dibintangi Richard Harris, Charlotte Rampling dan Bo Derek – tanpa juga menanggalkan ide-ide laws of nature beyond human struggles serta sebuah survival story, signature Ron Howard membungkusnya dengan halus bersama bro-pic theme yang menyeruak kuat bak sebuah award-quality human drama di antara para karakternya.

            Dibuka dengan usaha Herman Melville (Ben Whishaw) mewawancarai Thomas Nickerson (Brendan Gleeson), once a cabin boy di kapal penangkap Sperm Whale (terjemahan lebih tepatnya bukan Paus Sperma melainkan Paus Penyembur) Essex, sebagai narasumber novelnya, ‘In The Heart of the Sea’ pun membawa kita kembali ke tahun 1820 pada kisah nyata tragedinya, dimana Kapten George Pollard, Jr. (Benjamin Walker), keturunan bangsawan korporasi dagang yang ambisius merekrut anggotanya; kelasi utama Owen Chase (Chris Hemsworth), asisten sekaligus sahabatnya Matthew Joy (Cillian Murphy) termasuk awak kabin Nickerson muda (Tom Holland) yang masih berusia 14 tahun tanpa pengalaman sama sekali, untuk bertolak mengarungi Samudera menangkap paus demi kebutuhan minyak ikan paus yang kala itu menjadi komoditas industri penerangan sebelum petroleum ditemukan. Melawan badai hingga harus berhadapan dengan mitos paus raksasa yang ternyata menjelma jadi mimpi terburuk mereka, terkatung-katung di tengah lautan selama 9 bulan melakukan segala cara agar dapat bertahan hidup.

            Feel adventure blockbuster namun sangat humanis dari nama Rick Jaffa dan Amanda Silver (franchise baru ‘Planet of the Apes’, co-writerAvatarJames Cameron dan ‘Jurassic World’) memang sangat terasa lewat skrip yang dibesut oleh Charles Leavitt dari ‘Blood Diamond’. Namun di tangan Ron Howard dengan signature family entertainment-nya-lah kombinasi banyak elemen sinematis ini benar-benar bergabung begitu padu membentuk blend yang tak biasa. Ada feel creature feature yang tetap ditahan secara halus untuk tak terjebak jadi gambaran-gambaran savage beast dengan mengedepankan ide-ide laws of nature tadi – juga bukan lantas jadi terlalu realistis sehingga terkesan sadistik di balik tema-tema ekstrim soal kanibalisme, sementara survival drama-nya muncul dengan kuat di balik tampilan A-list actors yang membentuk chemistry dengan penataan rapi menuju klimaks dan konklusinya. Di layer paling dasarnya tetap ada sempalan biopik yang walau disini mungkin terjebak jadi segmented berkenaan dengan ketidaktahuan generasi sekarang terhadap ‘Moby-Dick’, tetap jadi salah satu unsur paling menarik.

            Sebagai Pollard, Jr., Benjamin Walker (mengalahkan Benedict Cumberbatch, Tom Hiddleston dan Henry Cavill sebagai kandidat awalnya) yang mungkin tak terlalu diingat lewat kiprahnya dalam ‘Abraham Lincoln: Vampire Hunter’ tampil sangat mencuri perhatian. Skrip Leavitt yang sejak awal terlihat menempatkannya ke ranah antagonis punya sisi turnover dalam konklusi penting soal integrasi dan manhood yang tak bisa tidak harus muncul dalam tema-tema sejenis. Hemsworth mungkin tetaplah Hemsworth dengan typical hunk signature-nya, tapi juga punya kepentingan besar untuk ditempatkan sebagai sentral spotlight-nya sebagai sebuah blockbuster. Dan sementara Cillian Murphy dalam supporting part-nya tetap bisa bergerak dengan leluasa, ada the upcoming Spider-Man, Tom Holland yang mengisi personifikasi Ishmael dalam ‘Moby-Dick’ sebagai Nickerson, rookie cabin boy yang harus tertempa luarbiasa oleh situasi. Di porsi point of view narasi-nya masih ada Ben Whishaw dan Brendan Gleeson yang juga mewarnai ‘In The Heart of the Sea’ dengan kekuatan penuh, begitu pula dengan pendukung lain yang mengisi porsi mereka dengan baik; Gary Beadle sebagai awak kabin William Bond dan Frank Dillane sebagai sepupu oportunis karakter Walker.

            Namun faktor paling dahsyat dari ‘In The Heart of the Sea’ memang adalah eksistensinya sebagai sebuah visual spectacle dalam ranah-ranah teknikal dan set yang dihadirkannya. Sinematografi award winning DoP Anthony Dod Mantle dari film-film Danny Boyle dan memulai kerjasama dengan Howard dalam ‘Rush’ membuat lautan dalam ‘In The Heart of the Sea’ yang dibangun lewat lokasi asli di Canary Island serta kapasitas raksasa water tank di set Leavesden Studio, UK, ikut menjadi karakter inti storytelling dan ide-ide laws of nature-nya dengan sangat hidup bersama editing dari Dan Hanley dan Mike Hill. Sementara CGI dan robotic effect plus VFX lain yang menghadirkan kawanan Paus dan creature utama gigantic sperm whale sebagai metafora ‘Moby-Dick’ oleh Robomoco, Scanline dan Rodeo VFX benar-benar menyajikan paduan visual dengan kualitas luarbiasa breathtaking, apalagi dalam treatment 3D dengan visual depth, eye-popping, too. Departemen makeup-nya juga sangat layak mendapat kredit dengan tahap-tahap perubahan tampilan fisik aktornya.

            Di lini berikutnya masih ada scoring ciamik dari Roque Baños, komposer asal Spanyol peraih Goya Award yang sebelumnya berkiprah dalam ‘Oldboy’ versi Hollywood dan ‘Evil Dead’. Komposisi scoring ini menjadi salah satu bagian terpenting yang membentuk feel dalam keseluruhan paduan elemen yang ada di ‘In The Heart of the Sea’.

            ‘In The Heart of the Sea’ lagi-lagi menunjukkan signature kuat dari Ron Howard di balik nama besar dan sejumlah high profile works dalam filmografinya sebagai sutradara. Tapi semua itu belum akan maksimal kalau pemirsanya tak benar-benar mengenal atau pernah mengeksplorasi lapisan terdalamnya soal kelahiran ‘Moby-Dick’ sebagai sebuah literatur klasik. It might be just a gigantic and thrilling sea adventure to some, tapi akan lebih lagi buat yang mengenal ikon-ikon kebesaran karya Melville tadi. So here’s some advise. Go exploreMoby-Dick first, then watch this movie for the whole essence. A visual grandeur beyond the birth of the classic masterpiece. (dan)

~ by danieldokter on December 7, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: